Bahasa 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Benih Bening Lobster, Benur

Ada kemungkinan penambahan kata “bening” di belakang kata “benih” mengacu pada fisik bibit lobster. Penampakannya memang bening, bahkan cenderung transparan. Tentu saja orang pertama yang mengenalkan benih bening lobster yang tahu definisi persisnya.

i Benih Bening Lobster, Benur
Benih Bening Lobster, Benur

Samsudin Adlawi*

PADA 24 November 2020 malam, tim Komisi Pemberantasan Korupsi melakukan operasi tangkap tangan terhadap Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo.

Mendadak sontak peristiwa itu menjadi tema paling ngetren. Hal tersebut terus menjadi pokok bahasan di media cetak dan media sosial, sejak penangkapan menjelang dinihari sampai berhari-hari berikutnya.


Selain tokoh utamanya (Menteri Edhy Prabowo), ada yang ikut tenar dalam peristiwa penangkapan di Bandar Udara Soekarno-Hatta itu. Meski berkelindan dengan kasus yang dituduhkan kepada Menteri Edhy, penumpang tenar tersebut bukan dari golongan manusia, melainkan berasal dari keluarga besar ikan. Namanya benih bening lobster.

161893911595

Dalam laporan utama majalah Tempo edisi 30 November-6 Desember 2020, yang bertajuk “Para Perompak Benur”, benih bening lobster berulang-ulang disebut. Pun di media yang lain. Halaman Ekonomi & Bisnis Kompas edisi 1 Desember 2020 memuat kepala berita (lead) dengan kalimat: “Penyelundupan Benih Bening Lobster Ditengarai Masih Terjadi”.

Jauh-jauh hari sebelum penangkapan Menteri Edhy, nama benih bening lobster juga digunakan sejumlah media. Pada edisi 25 September 2020, SuaraNTB.com memuat berita dengan judul “Harga Benih Bening Lobster Anjlok”. Tempo.co edisi 21 Juni 2020 juga memakai sebutan benih bening lobster untuk judul beritanya: “KKP Jelaskan Tata Kelola Penangkapan Benih Bening Lobster”.

Namun tidak semua media memakai padanan sebutan baby lobster itu. Jawa Pos, misalnya, masih setia menggunakan benur daripada benih bening lobster.

Selain sudah termaktub dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), benur memang sangat karib di telinga khalayak. Berbeda dengan benih bening lobster. Boleh dibilang benih bening lobster merupakan istilah baru. Wajar jika benih bening lobster masih terasa asing di telinga. Bahkan ia hingga sekarang belum tercantum dalam KBBI.

Saya sudah menelusuri KBBI edisi V dan KBBI dalam jaringan, tapi tidak berhasil menemukan lema benih bening lobster. KBBI memang menampilkan gabungan kata pada lema “benih”. Walakin yang termaktub di sana hanya benih benar, benih bersih, benih murni, dan benih sehat. Keempat macam benih itu terkait dengan tanaman. Tidak satu pun yang berhubungan dengan binatang, khususnya lobster dan/atau udang.

Saya kurang tahu persisnya kenapa orang memakai istilah benih bening untuk bibit lobster. Ada kemungkinan penambahan kata “bening” di belakang kata “benih” mengacu pada fisik bibit lobster. Penampakannya memang bening, bahkan cenderung transparan. Tentu saja orang pertama yang mengenalkan benih bening lobster yang tahu definisi persisnya.

Lain halnya dengan benur. KBBI sudah mencatatnya dengan dua arti yang sangat jelas, yakni 1. benih udang yang hampir tidak kasatmata dan 2. anak udang windu. “Benur lobster” berarti benih lobster atau anak lobster. Lobster sendiri, dalam KBBI, merupakan udang laut, berwarna hitam kebiru-biruan, berkaki delapan, dan mempunyai sepasang sepit yang besar. Lobster disebut juga sebagai udang karang karena hidup di perairan terumbu karang.

Bicara soal benur, saya langsung teringat nama Hasnan Singodimayan. Beberapa tahun lalu, budayawan senior Banyuwangi, Jawa Timur, yang kini berusia 89 tahun itu memberi tahu saya. “Istilah benur itu saya yang membuat,” kata Hasnan dalam obrolan santai di sela-sela acara budaya.

Awalnya saya sangsi terhadap kebenaran pengakuan Hasnan itu. Namun, setelah ia menjelaskan bahwa benur adalah akronim dari benih urang, baru saya percaya. “Urang” adalah bahasa Osing yang artinya udang. Orang Jawa juga menyebut udang dengan “urang”.

Keyakinan saya atas klaim Hasnan sebagai penemu istilah benur kian mantap setelah tahu latar belakang pekerjaannya. Hasnan tercatat menjadi pegawai negeri sipil pada 1965, sebagai petugas teknis di Dinas Perikanan Kabupaten Banyuwangi.

Hasnan bercerita, saat menjalankan tugas di Selat Bali sisi Banyuwangi, ia menemukan ribuan bayi udang, tapi tidak tahu apa namanya. Sebagai petugas perikanan, ia merasa tertantang untuk mencari tahu nama bayi udang tersebut. Ia bongkar kamus bahasa Jawa dan bahasa Indonesia, nama anak udang tidak ada. “Yang ada anaknya bandeng, nener,” ucap Hasnan.

Penulis tujuh novel itu berpikir keras, mencari nama yang cocok untuk nama bayi udang. Singkat cerita, Hasnan akhirnya menemukan istilah benur. “Yang merupakan akronim dari ‘benih urang’ atau ‘benih udang’.”

Benar, di balik sebuah peristiwa selalu ada hikmah yang bisa diambil. Pun dalam dugaan korupsi terkait dengan ekspor benur lobster oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo. Kasus yang ditangani KPK itu tidak hanya menimbulkan kerugian uang negara miliaran rupiah, tapi juga punya andil memperkaya istilah dalam bahasa Indonesia, yakni benih bening lobster. Dan, pastinya, penyusun KBBI tahu apa yang harus dilakukan terhadap benih bening lobster.

*) DIREKTUR JAWA POS RADAR BANYUWANGI, PENYAIR

Reporter Tempo - profile - https://majalah.tempo.co/profile/tempo?tempo=161893911595


kolom bahasa

Bahasa 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.