Bahasa 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Nama Mendadak Islami

Aris Setiawan*

i Nama Mendadak Islami
Nama Mendadak Islami

 

Media sosial sempat dihebohkan oleh isi ceramah Ustad Rahmat Baequni, yang menjelaskan soal nama-nama pulau di Indonesia yang berasal dari bahasa Arab. Disebutkan bahwa Jawa berasal dari kata Al-Jawwu, Sumatera dari Asyamatiro, Borneo (Kalimantan) dari Barru’un, Makassar dari Kassaro yu kassiru, dan Maluku dari Jaziratul Muluk. Bahkan Papua Nugini, yang mayoritas penduduknya tak beragama Islam, berasal dari Billadul nurul islami. Nama-nama kearab-araban itu tentulah memiliki makna masing-masing.

Walaupun nama Jawa (juga pulau lain) telah eksis jauh sebelum Islam datang ke Tanah Air, menghubungkannya dengan terminologi bergaya kearab-araban seolah-olah mendesak dilakukan agar hidup terasa lebih religius—kata lain dari “islami”. Praktik semacam itu begitu mudah dijumpai akhir-akhir ini. Gaya retoris dengan mengutamakan konsep othak-athik gathuk tanpa disertai kajian yang kuat tentu menjadi berbahaya manakala hal itu dipandang sebagai kebenaran tunggal.


Geliat untuk mengislamkan Indonesia, terutama dalam konteks kebudayaan, sejatinya telah berlangsung lama. Peristiwa itu ditandai lewat hal yang paling elementer, yakni persoalan “pemberian nama”. Dalam pertunjukan wayang kulit, misalnya, praktik pengubahan nama-nama tokoh wayang menjadi lebih islami dilakukan sebagai upaya agar pertunjukan itu dapat diterima di kalangan muslim. Geertz (1960) menjelaskan bahwa makin banyaknya orang Indonesia mendatangi Arab berimbas tidak hanya pada perubahan struktur kelas sosial religius bernama abangan, santri, dan priayi, tapi juga berdampak pada pergeseran sisi kultural.

161813825153

Lakon-lakon wayang yang awalnya sangat pekat berbau sinkretis berubah menjadi lebih islami. Setelah peristiwa G-30-S PKI meletus, gelagat agar menjadi manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa makin kencang diembuskan. Pembangunan musala dan masjid berlangsung secara masif di setiap sudut kampung. Nama-nama anak Indonesia turut berganti menjadi lebih kearab-araban. Nama yang awalnya digunakan sebagai penanda jejak kultural kedaerahan (asal-muasal) berganti agar dapat menjelaskan posisi penting religius seseorang. Pemberian nama bermisi mimpi dan cita-cita mulia.

Sumarsam lewat tulisannya berjudul “A Preliminary Report on Javanese Wayang and Islamic Dakwah” (2013) menjelaskan, nama-nama wayang kemudian disesuaikan agar terasa lebih islami, sekaligus dinarasikan bahwa wayang dan Islam adalah dua entitas yang tak dapat dipisahkan. Sosok Semar dipandang berasal dari kata Samir yang artinya “teguh pada pendirian”, Petruk dari Fatruk yang berarti “tinggalkanlah (keburukan)”, Bagong dari Albagho yang artinya “terjela”, dan Nala Gareng dari Nala Khoiron yang berarti kebaikan. Demikian pula Janaka (Arjuna) berasal dari kata Janatuka yang artinya “surga”.

Tidak cukup dalam konteks pemberian nama tokoh, judul lakon wayang secara vulgar juga dikontekstualkan dengan Islam. Yudistira, saudara tertua dari Pandawa, dalam sebuah epos dikisahkan tidak dapat mati kendati sudah renta, sementara saudara-saudaranya telah berada di surga. Ia memegang satu pusaka penting, sebuah kitab, yang namanya tak pernah dimengerti. Para dewa berseru bahwa Yudistira dapat meninggal bila memahami nama pusaka yang digenggamnya itu.

Singkat cerita, Yudistira berkelana hingga tiba di tanah Jawa. Berjumpalah dia dengan Sunan Kalijaga. Nama pusaka itu dibaca dan diartikannya, yang tidak lain adalah dua kalimat syahadat. Pusaka itu bernama Jamus Kalimasadha. Setelah membaca dua kalimat syahadat, Yudistira meninggal dengan tenang dan bahagia.

Nama Jamus Kalimasadha dimunculkan dengan hasrat mengislamkan manusia Jawa. Para wali menggunakan wayang dengan berolah kreatif membuat nama dan lakon yang menggugah hati, sementara pada hari ini kita disuguhi peristiwa serupa tapi cenderung banal. Gajah Mada, misalnya, dicoba dibaca dalam konteks religius menjadi Gaj Ahmada. Tentu saja hal itu menuai polemik.

Agama mengajarkan kearifan hidup, yang berpegang pada kejujuran, untuk menghargai dan berempati kepada sesama. Agama tidaklah merusak. Sudah selayaknya upaya islamisasi juga dilakukan dengan bijak, sebagaimana kisah-kisah indah jejak persentuhan antara Islam dan kebudayaan di negeri ini. Dan yang lebih penting lagi adalah hasrat untuk membaca dan berilmu.

Barangkali hanya sekadar mengganti nama. Namun, tanpa ikhtiar yang berlandaskan kebenaran dan intelektualitas, seberapa pun tingkat religiositas dan keimanan Anda, hal itu akan menjadi percuma dan berujung pada kesia-siaan semata.

*) Pengajar di Institut Seni Indonesia Surakarta

Reporter Tempo - profile - https://majalah.tempo.co/profile/tempo?tempo=161813825153



Bahasa 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.