Arsitektur 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Membiarkan Barang Bekas Bersolek

Materi bekas mampu memberi karakter unik pada bangunan. Rempah Rumah Karya membuktikan bangunan lestari tak harus mahal. Bangunan ini mungkin menjadi karya arsitektur di Indonesia yang terbanyak menggunakan bahan bekas pakai.

i

PAULUS Mintarga, 46 tahun, masih tidak percaya dengan hasil rancangannya, Rempah Rumah Karya, di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Bangunan itu lebih mirip instalasi seni ketimbang karya arsitektur. Potongan-potongan material yang biasanya tidak mungkin terpakai lagi terlihat membentuk gudang itu. ”Saya biarkan material-material itu bersolek sendiri,” katanya.

Pada awal Juli, gudang itu dibuka untuk umum, sekaligus dimanfaatkan sebagai workshop dan tempat berkumpul para profesional di bidang industri kreatif. Acara pembukaan juga menampilkan pameran produk desain dan seni kontemporer untuk menunjukkan keinginan Rempah Rumah Karya dalam mengembangkan kekayaan kreativitas serta keahlian lokal.

Rempah Rumah Karya berdiri di lahan sekitar 2.000 meter persegi. Paulus bereksperimen dengan barang-barang tersisa di dalam gudangnya. Semua berawal pada satu setengah tahun lalu, ketika kontrak di gudang lama hampir habis. Pengusaha furnitur dan kontraktor ini harus memutar otak untuk memindahkan barang-barang yang mayoritas potongan kayu dan sisa material bangunan lainnya tersebut.


Untungnya, ketika itu ia baru membeli tanah di Desa Gathak, Gajahan, Colomadu, Karanganyar, dari seorang teman. Lahannya masih asri. Di bagian timur dan barat terhampar sawah. Perkampungan penduduk berjajar di utara dan selatan rumahnya. Paulus melihat ada potensi dari lahan itu. Letaknya pun hanya sekitar tiga kilometer dari gudang lama.

161835346127

Ia kemudian tertarik bereksperimen dengan material bangunan bekas dan yang tersisa dalam gudangnya. Ada potongan-potongan pipa berbentuk C atau disebut CNP bekas yang ia peroleh dari seorang teman di Semarang. Jumlahnya banyak dengan panjang bervariasi. Paulus bersama empat anggota stafnya memetakan berapa macam sudut dan sambungan pada potongan besi itu. ”Kami berhasil membuat empat alternatif,” ujarnya.

Setelah terpilih satu yang paling sesuai, ia menyambung semua potongan pipa itu, tanpa perlu memotong, menjadi kurva tertutup untuk dua rangka bangunan kembar. Bentuknya menyerupai sayap burung yang memanjang. ”Jumlah pipanya pas, tidak lebih atau kurang,” kata lulusan Teknik Sipil Universitas Negeri Sebelas Maret, Solo, ini.

Potongan-potongan kayu tidak terpakai dari workshop mebel miliknya di Solo ia tempel menjadi dinding bangunan, sehingga tampak seperti anyaman. Pada kulit bangunan juga terlihat kreasinya dalam memasang jendela-jendela dan batu bata bekas yang tampak seperti kepingan puzzle.

Paulus sebenarnya tak ingin bangunan itu mendapat cap ramah lingkungan. Yang hendak ia capai hanya efisiensi dan optimalisasi material bekas pakai. ”Saya berpikir praktis dan efektif, tidak mengikat pada konsep green,” katanya. Menurut dia, setiap lahan dan material memiliki keunikan sehingga seorang arsitek sebaiknya membebaskan saja kemauan mereka seperti apa.

l l l

Minat Paulus pada dunia arsitektur dan material bekas bermula pada 2000. Ia terpicu ajakan seorang teman di Jakarta untuk membangun sebuah rumah. Ia terinspirasi oleh eksperimen beton ekspos karya rancangan arsitek Jepang, Tadao Ando.

Ia sempat tidak percaya diri, mengingat latar belakang pendidikan dan profesinya ketika itu, sebagai kontraktor dan perajin interior. Namun karya arsitektur pertamanya itu berhasil dan sampai sekarang ia terus mendesain bangunan. Karyanya di Hotel Turi, Solo, dan Restoran Gourment Garage, Jakarta, kental akan nuansa kayu bekas yang ramah lingkungan.

Ia mengaku banyak pula terinspirasi oleh arsitek Adi Purnomo. Gayanya yang membiarkan material bergerak dengan bentuk bangunan yang sederhana, menurut dia, sama dengan arsitek lulusan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, itu.

Paulus mengambil nama rempah pada gudang barunya supaya bangunan bisa menarik perhatian orang sekitar. Hal ini sesuai dengan filosofi rempah, yang pernah menjadi magnet para penjajah dari Eropa untuk datang ke bumi ini.

Menurut dia, konsep bangunan ramah lingkungan tidak perlu memakai teknologi dan material mahal. Konsep hijau seharusnya diukur dari bisakah material diperoleh dari lingkungan sekitar. ”Kalau hanya bisa dimanfaatkan sebagian orang, apakah relevan?” kata ayah satu anak ini.

Ia juga melihat masyarakat Indonesia sebenarnya memiliki budaya kerajinan yang kuat. Karya arsitektur dan benda-benda seni budayanya kaya akan keterampilan pertukangan. ”Potensi itu seharusnya bisa dimanfaatkan,” katanya. Sayangnya, keahlian itu lama-lama hilang karena pengaruh teknologi ”modern”.

Karena itu, ketika menempel potongan kayu-kayu bakar di dinding, ia membebaskan para tukang berkarya. Awalnya mereka berpikir begitu serius dan memasang terlalu rapat sehingga terlihat sangat rapi. ”Saya minta mereka memasang acak dan bebas saja,” ujar Paulus. Toh, kata dia, lubang-lubang pada dinding tidak menjadi masalah, malah bisa untuk sirkulasi udara. Hasilnya, kayu-kayu tampak seperti anyaman dinding bambu.

Eksperimen juga ia lakukan pada atap. Sak semen bekas ia lapisi dengan aspal dan ijuk menjadi pengganti genting. Sampai sekarang uji coba ini belum sepenuhnya berhasil. Kadang-kadang atap masih bocor karena terlalu ”artistik”, kemiringannya beragam, sehingga perlu ditambah pelapis lagi.

Bangunan itu pun memakai bambu bekas pada pelat lantai yang dilapisi plesteran semen. Pada bagian atas, Paulus menambah anyaman bambu untuk memperkuat beban bergerak. Ia sampai sekarang masih berusaha mencari komposisi yang sesuai agar material bisa menyatu dengan sendirinya. ”Rempah Rumah Karya memang sengaja menjadi tempat eksperimen material bangunan,” ujar Paulus.

Dari fondasi, rangka, hingga pelapis bangunan, ia memakai material seringan mungkin. Konstruksi yang ringan, menurut dia, tidak melukai tanah dan cocok untuk daerah rawan gempa. ”Fondasi tidak perlu heboh mengguncang bumi,” kata Paulus. Ia enggan menyebutkan harga pembangunan gudang yang memakan waktu setahun itu. ”Ini tidak lebih mahal daripada rumah pada umumnya,” ujarnya.

l l l

Paulus bukan orang pertama yang memakai barang-barang bekas dalam bangunan. Beberapa arsitek nasional pernah melakukan hal serupa. Sebut saja karya Ridwan Kamil pada Rumah Botol. Sebanyak 30 ribu botol kaca bekas minuman energi tersusun menjadi dinding. Warna cokelat pada kacanya membuat bagian luar dinding seolah-olah seperti kayu dan memberi efek teduh pada bagian dalam rumah.

Arsitek lulusan Institut Teknologi Bandung, Yu Sing, 35 tahun, juga sering memakai material bekas. Pencetus konsep rumah murah ini baru saja menyelesaikan tiga proyek renovasi rumah di Jakarta. Sebagian materialnya ia peroleh dengan membeli bongkaran bangunan lama.

Sebagai contoh, lihatlah Puzzle House­ di kawasan Jakarta Barat. Bangunan ini awalnya hanya satu lantai saja. Tapi, karena bangunan berada di kawasan banjir, Yu Sing menaikkan bangunan menjadi dua lantai. ”Lantai bawah hanya menjadi gudang,” katanya.

Ia memakai genting lama bangunan sebagai pelapis dinding. Ada pula koleksi botol-botol bir bekas milik penghuni rumah yang menjadi dinding penyekat. Rangka-rangka bambu untuk memasang dinding ia manfaatkan kembali menjadi pelapis lantai dan dinding.

Yu Sing mengaku suka memakai genting bekas bongkaran rumah tua. Selain harganya hanya seperlima hingga seperenam dari genting baru, kondisinya masih banyak yang layak pakai. Karakter barang-barang bekas itu, menurut dia, yang memberi roh ke dalam bangunan. ”Membuat rumah tidak gersang,” ujarnya.

Sorta Tobing


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161835346127



Arsitektur 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.