Virus Misterius Menyerang Italia - Arsip - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Arsip 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Penyakit Gelap di Italia

Penyakit pernapasan yang disebabkan oleh serangan virus pernah mewabah di Italia.

i 24 Februari 1979
24 Februari 1979
  • Seperti virus corona di Wuhan, virus misterius pernah melanda Italia. .
  • Belum ada obat yang bisa menyembuhkannya.
  • Hanya dikenal sebagai .

KOTA Wuhan di Provinsi Hubei, Cina, tiba-tiba menjadi perhatian seluruh dunia dalam beberapa pekan terakhir. Penyebabnya adalah wabah penyakit gangguan pernapasan yang disebabkan oleh coronavirus. Virus yang menginfeksi hidung, sinus, dan tenggorokan bagian atas ini menyebabkan setidaknya 6.000 orang terinfeksi, 132 di antaranya meninggal.  

Virus corona memiliki pola penyebaran yang mirip dengan virus influenza, yaitu melalui batuk dan bersin penderita yang terinfeksi. Virus menyebar di udara sehingga orang yang berada di sekitarnya akan mudah tertular. Hingga Januari 2020, sejumlah negara telah mengevakuasi warga mereka yang berada di Cina serta mengambil sejumlah langkah pencegahan penyebaran virus tersebut.

Kepanikan akibat munculnya wabah penyakit pernapasan yang disebabkan oleh virus juga pernah mencuat pada 1979. Majalah Tempo edisi 24 Februari 1979 menurunkan artikel berjudul “Virus dalam Gaya Italia” yang mengulas munculnya wabah penyakit pernapasan akibat serangan virus di Italia yang menyebabkan negara-negara lain panik.


Saat itu, Kota Napoli sedang diserang wabah penyakit yang belum diketahui bagaimana cara menyembuhkannya. Masyarakat di sana hanya mengenalnya sebagai “Penyakit Gelap” yang sangat menular. Sebagian besar penderita adalah bayi dan anak-anak. Sebanyak 66 orang meninggal akibat penyakit tersebut. Bila terkena wabah itu, orang akan mengalami demam, napas tersengal, dan kejang.

Pada akhir Januari 1979, para dokter di Napoli mengira penyakit itu disebabkan oleh vaksinasi tetanus yang kurang baik, suatu bakteri aneh, atau sekadar virus flu biasa. Mereka tadinya mencoba menangani sendiri. Tapi jumlah penderita meningkat terus.

Dokter Giulio Tarro, yang mengepalai bagian virologi di Rumah Sakit Cotugno di Napoli, menyalahkan cara koleganya memberikan diagnosis selama ini. Ia juga mengecam sikap pemerintah Italia yang enggan meminta bantuan negara lain dalam mengatasi wabah penyakit tersebut.

Tarro, salah seorang ahli virus di Italia, mengatakan dia baru belakangan diminta meneliti penyakit tersebut. Dia berpendapat bahwa apa yang membunuh bayi-bayi itu semacam syncytial virus. Walaupun yakin akan diagnosisnya, Tarro masih belum menemukan apa yang bisa menyembuhkan infeksi virus itu, yang biasanya menyerang pada musim dingin. “Bayi di bawah usia setahun gampang sekali terkena penyakit tersebut,” katanya.

Setelah wabah penyakit terus meluas dan adanya tekanan dari Badan Kesehatan Sedunia (WHO), pemerintah Italia akhirnya memutuskan meminta bantuan para ahli dari negara lain. Para ahli virus dan epidemi pun didatangkan dari berbagai negara, antara lain ahli dari Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan Yugoslavia. Di Amerika saat itu memang sudah mulai dikembangkan suatu vaksin untuk melawan syncytial virus—virus yang menyerang saluran pernapasan—tapi masih dalam tahap percobaan pada binatang.

Dokter Adolfo Ruggiero, kepala unit perawatan intensif di Rumah Sakit Santobono, Italia, mengatakan untuk sementara pihaknya hanya bisa berharap musim dingin segera berlalu sehingga “Penyakit Gelap” itu bisa berkurang akibat cuaca hangat. “Penyakit ini tak akan segera lenyap. Mungkin ia berkurang setapak demi setapak bulan depan, dan kita tak akan terlepas dari gangguannya sampai cuaca hangat kembali,” ujarnya.

Pernyataan Ruggiero mengacu pada analisis sementara bahwa penyakit tersebut muncul dan mewabah saat musim dingin tiba. Ia juga berpatokan pada pengalaman di Inggris, yang pernah mengalami wabah penyakit serupa pada musim dingin 1971 yang berangsur hilang ketika memasuki musim semi.

Namun tampaknya wabah “"Penyakit Gelap” di Napoli itu bukan hanya dipicu cuaca dingin. Hasil riset tim WHO pada pertengahan Februari 1979 menyatakan penyakit itu juga disebabkan oleh kemiskinan, kekurangan gizi, dan permukiman yang padat di Napoli. Tingkat kematian bayi di Napoli memang terbilang yang tertinggi di seluruh Eropa Barat.

Para orang tua setempat, yang tidak berpendidikan, sering terlalu lambat membawa anak-anak mereka ke rumah sakit. “Sekali jatuh pingsan, sedikit sekali kesempatan menyelamatkan anak-anak itu,” ucap dokter Marguerita Pereira dari London, anggota tim WHO.

Penanganan wabah penyakit itu pun makin sulit karena buruknya sistem kesehatan di Napoli. Para dokter di sana segan bila dipanggil ke rumah pasien biasa. Rumah sakit juga memiliki ambulans terbatas sehingga banyak pasien tidak bisa dibawa ke rumah sakit.

Pernyataan Pereira itu tampaknya didengarkan pemerintah Italia. Departemen Kesehatan di Roma berjanji mengerahkan sejumlah ambulans tentara untuk membawa para pasien ke rumah sakit. “Jika perlu, pemerintah akan memakai dokter-dokter tentara dalam melawan penyakit ini,” kata Menteri Kesehatan Italia Tina Anselmi.

 


 

Artikel lengkap terdapat dalam Tempo edisi  24 Februari 1979. Dapatkan arsip digitalnya di:

https://majalah.tempo.co/edisi/1882/1979-02-24

 

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-10-22 08:32:49

Italia Cina | Pemerintah Cina Penyakit

Arsip 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB