Arsip 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Televisi Republik Indonesia Rasa Asing

TELEVISI Republik Indo-nesia (TVRI) kembali geger. Pasalnya, Dewan Pengawas TVRI memberhentikan sementara Direktur Utama Helmy Yahya pada Kamis, 5 Desember 2019. Helmy melawan. Menurut bekas pembawa acara kuis ini, langkah Dewan Pengawas TVRI cacat hukum dan tidak memiliki dasar. “Saya tetap Direktur Utama TVRI,” katanya.

i 26 Agustus 1972
26 Agustus 1972

Anggota Komisi I Bidang Penyiaran Dewan Perwakilan Rakyat, Sukamta, mengatakan kisruh di TVRI itu merupakan akumulasi dari berbagai persoalan. Salah satu persoalan yang menjadi sorotan adalah kebijakan direksi TVRI membeli program asing senilai sekitar Rp 1 triliun. Program siaran asing memang selalu menjadi hal yang sensitif di TVRI. Pasalnya, sebagai stasiun televisi pelat merah, TVRI seolah-olah memiliki tanggung jawab lebih untuk mengutamakan siaran yang mengandung unsur nasionalisme, termasuk mengutamakan program produksi dalam negeri.

Majalah Tempo edisi 26 Agustus 1972 menurunkan berita berjudul “TVRI: Kurang ‘RI’?”, yang mengulas persoalan program asing yang membanjiri siaran TVRI. Saat itu, TVRI baru berumur 10 tahun. Pada usia yang relatif muda itu, banyak masalah yang dihadapi lembaga penyiaran publik ini, dari kualitas sumber daya manusia, peralatan, manajemen, anggaran, sampai persoalan gedung.

Gedung TVRI memang dibangun dengan tergesa-gesa demi mengejar Asian Games. Konon, seorang ahli asing diminta Menteri Penerangan Maladi membangun studio dalam waktu enam bulan. Ia menolak: ia butuh 4 tahun. Tapi, karena dipaksakan, dibangunlah studio 14 x 8 meter itu dalam waktu enam bulan. Selanjutnya dibangun studio kedua pada 1967, yang dipergunakan sebagai pusat pelatihan dan perekaman acara-acara tertentu.


Persoalan biaya juga terus membelit TVRI. Pada 1971, misalnya, pemerintah menganggarkan Rp Rp 650 juta untuk TVRI. Duit tersebut dialokasikan 30 persen untuk pembiayaan siaran, 35 persen untuk pembiayaan teknis, dan 25 persen untuk pembiayaan umum, termasuk gaji pegawai, sehingga gaji pegawai TVRI rata-rata hanya Rp 7.000 per bulan. “Memang kami belum mampu memberikan gaji dan honor yang tinggi,” ujar Direktur TVRI Soemartono, kala itu.

161894004655

Masih rendahnya kualitas sumber daya manusia juga menyebabkan program yang dibuat TVRI kurang bagus. Sering kali hasil pengambilan gambar kurang memuaskan. Seperti pada siaran acara pengibaran bendera pusaka di hari peringatan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1972. Karena kesalahan dalam pengambilan gambar, upacara yang rapi itu menjadi tampak mencong-mencong di layar televisi.

Siaran acara pidato juga sering membebani pemirsa. Misalnya acara pidato Sekjen Rukminto Hendraningrat di acara ulang tahun ASEAN. Siaran itu tidak diimbangi dengan visualisasi kegiatan dan prestasi ASEAN sehingga menjadi membosankan. Siaran berita juga tidak dilengkapi dengan cukup visualisasi peristiwa sehingga terus-terusan menampilkan wajah penyiar yang sedang membaca teks berita.

Jajaran manajemen di TVRI masih kurang kreatif dan kurang berani dalam membuat program acara sendiri. Sekitar 35,5 persen program siaran di TVRI diisi film yang semuanya film asing dan menggunakan bahasa asing, sehingga saat itu muncul ungkapan bahwa “TVRI kurang RI”.

Menyajikan program atau acara buatan luar negeri tentu ada manfaatnya. Masalahnya, program asing itu terlalu banyak dan tidak ada upaya dari TVRI untuk memproduksi program atau acara sendiri semisal membuat film anak-anak. Selain itu, porsi acara asing yang berlebihan itu menutup peluang para seniman dan tenaga kreatif Indonesia untuk membuat serta menampilkan karya mereka. Bahkan banjir program asing itu membuat para karyawan bagian produksi terpaksa “menganggur” dan menghabiskan waktu mereka untuk main domino.

Maraknya program asing ternyata juga tidak menyebabkan tingkat kepuasan pemirsa meningkat. Berdasarkan angket yang diadakan TVRI sendiri, hanya 16,2 persen pemirsa yang menyatakan puas terhadap acara-acara di TVRI. Jumlah pemirsa yang menyatakan tidak puas mencapai 18,1 persen. Sedangkan sisanya, sekitar 56 persen, menyatakan cukup.

Benarkah segala kekurangan itu lantaran faktor uang? «Tidak,» kata Dewi Rais, seorang pengisi acara di TVRI. Menurut dia, TVRI hanya belum menempatkan orang pada posisi yang tepat. TVRI memiliki pegawai yang banyak, tapi buruk di manajemen. Akibatnya, kurang penemuan baru dan kurang kesempatan untuk pengembangan bakat-bakat kreatif yang ada di TVRI.   

 


 

Artikel lengkap terdapat dalam Tempo edisi  26 Agustus 1972. Dapatkan arsip digitalnya di:

https://majalah.tempo.co/edisi/114/1972-08-26


Reporter Tempo - profile - https://majalah.tempo.co/profile/tempo?tempo=161894004655


Televisi Republik Indonesia | TVRI

Arsip 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.