Arsip 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Nasib Mantan Kombatan

GERAKAN kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) rontok digempur pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat dan milisi Kurdi, Maret lalu. Sejumlah warga negara Indonesia yang bergabung dengan gerakan tersebut memilih pulang ke negeri sendiri. Nasib mereka persis dengan mantan kombatan Afganistan pada 1994 yang diulas dalam artikel Tempo berjudul “Dakwah Dulu, Sebelum Jihad”.

i Tempo Doeloe
Tempo Doeloe

Di sebuah rumah sederhana yang terletak di tepi jalan belum beraspal, di pinggiran Yogyakarta, tampak 20 anak muda bersila. Mereka duduk membentuk lingkaran (halaqah). Sebagian besar di antaranya berjubah putih, berjanggut, dengan dahi menghitam. Kelompok ini asyik berdiskusi untuk membentuk sebuah yayasan yang bergerak di bidang penerbitan buku dan buletin bernapaskan Islam.

Pemimpin kelompok ini—dijuluki imam—seorang bertubuh tegap, usianya sekitar 40 tahun. Sebut saja namanya Abu Nidlom. “Yayasan ini kami perlukan untuk menggiatkan dakwah,” kata sang imam. Kelompok ini menamakan diri pengajian Aqidah Salafiyah. Mereka bertujuan hidup konsekuen seperti para sahabat pada zaman Rasulullah, 14 abad yang lalu, termasuk dalam cara berpakaian.

Di mata kelompok ini, Abu Nidlom, sarjana ushuluddin Universitas Ibnu Saud, Arab Saudi, amat berwibawa. Itu bukan hanya karena titel kesarjanaannya, tapi juga pengalamannya. Abu Nidlom pernah malang-melintang menjadi sukarelawan di Afganistan. Perkenalannya dengan gerakan mujahidin pimpinan Rasul Sayaf bermula ketika ia masih menjalani pendidikan di Riyadh pada 1985.


Sejak itulah ia meyakini perlunya pemuda Islam angkat senjata melawan tentara Uni Soviet. Atas jasa seorang pejabat di Arab Saudi, Nidlom dikirim ke markas latihan militer mujahidin di Peshawar, Pakistan. Kemudian pria bercambang dan berjanggut tebal dengan sorot mata tajam tapi murah senyum ini berkali-kali maju ke front pertempuran di Afganistan. Ia pernah menggunakan senjata berat antipesawat, mortir, dan bazoka buatan Soviet.

161820598170

Sekitar setahun terlibat di Afganistan, pada 1986 ia kembali ke Indonesia. Ia lalu merintis pengajian di daerah pinggiran, berdakwah. Nidlom mengaku sempat pula mengirim lima sukarelawan dari Yogyakarta dan 13 sukarelawan dari Solo—dengan biaya dari jemaah pengajian—pergi ke Afganistan. Akibatnya, Abu Nidlom dituduh sebagai tokoh Islam militan, dan harus hidup dengan berpindah-pindah karena dicari-cari aparat keamanan.

Kini, di tengah ramainya anak muda mendaftar untuk menjadi sukarelawan di Bosnia, Abu tampak tenang-tenang saja. Padahal jumlah relawan asal Indonesia yang pergi ke Afganistan melalui Malaysia itu mencapai ratusan. “Saya sementara ini pilih di sini saja, membina akidah umat, membina anak-anak,” ucapnya. Sikap yang mirip muncul dari seorang—yang mengaku—eks mujahidin Afganistan lain.

Abu Hamid, 35 tahun (juga bukan nama sebenarnya), teman kuliah Abu Nidlom di Arab Saudi, tak ingin lagi menjadi mujahidin. Abu Hamid, yang kini pengajar sebuah pesantren di sebuah kota di dekat Yogyakarta, malah mengaku menyesal menjadi mujahidin. Mengapa? Ia kesal melihat betapa setelah Afganistan bebas dari Uni Soviet yang terjadi adalah saling bunuh di antara para mujahidin.

Ini terjadi, menurut Abu Hamid, karena akidah Islam di kalangan mujahidin itu masih dangkal. Ia ingat betul, ketika bertempur di negeri itu, ternyata banyak sekali mujahidin yang suka datang ke kuburan mencari berkah. Bahkan, dia menambahkan, tak sedikit mujahidin yang mengenakan kalung dengan bandul berhiaskan gambar raja-raja setempat sebagai azimat.

Belajar dari situ, Abu Hamid, bersama sejumlah mujahidin lain, akhirnya memilih jalan dakwah untuk memperkuat akidah umat. Seorang mantan mujahidin, teman Abu Hamid, punya sikap sama. Achmad Faiz (ini nama sebenarnya), sang mantan yang kini menetap di Solo, Jawa Tengah, menanggapi bergeloranya semangat anak muda untuk menjadi sukarelawan itu dengan biasa-biasa saja. “Ya, kami dukung karena solidaritas saja,” tuturnya.

Menurut penuturan para eks mujahidin itu, sukarelawan asal Indonesia ini lebih dulu dilatih kemiliteran di sebuah kota kecil di semenanjung. Latihan tampaknya dilakukan dengan sembunyi-sembunyi. Mereka belajar menggunakan senjata dan berlatih perang bersama para pelatih yang merupakan veteran perang Afganistan. Para pelatih itu, selain asal Indonesia, datang dari Turki, Afganistan, dan Pakistan.

 


 

Artikel lengkap terdapat dalam Tempo edisi  24 Oktober 1992. Dapatkan arsip digitalnya di:

https://majalah.tempo.co/edisi/1144/1994-02-26


Reporter Tempo - profile - https://majalah.tempo.co/profile/tempo?tempo=161820598170


Daerah Istimewa Yogyakarta

Arsip 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.