Disrupsi Zaman Dulu - Arsip - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Arsip 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Disrupsi Zaman Dulu

INDUSTRI tengah menyongsong revolusi 4.0.

i Disrupsi Zaman Dulu
Disrupsi Zaman Dulu

Revolusi yang dimulai dengan temuan komputer dan Internet itu kini sudah merambah big data dan robot. Di media massa, disrupsi semacam itu rupanya dimulai pada awal 1990-an. Tempo melaporkan perkembangan baru dalam jurnalistik itu dalam artikel berjudul “Wartawan Vs Komputer” pada edisi 23 April 1994.

Di Amerika Serikat, wartawan tak lagi menulis berita karena para editor lebih percaya kepada Sportswriter, program komputer yang dijual seharga US$ 100. Pemilik media senang memakai program ini karena bisa berhemat. Bandingkan dengan menggaji wartawan US$ 1.500 per bulan. “Sportswriter memang tidak ideal, tapi bagi koran kecil seperti Humphrey Democrat, program komputer ini sangat membantu,” kata Donald Zavadil, pemimpin redaksi dan pemilik mingguan di Nebraska itu, yang bekerja berdua dengan istrinya.

Zavadil memilih komputer semata-mata karena alasan praktis ekonomis: murah dan efisien. Ia tidak bicara soal mutu karya komputer yang, menurut Dean Backes, “membosankan karena terasa seperti mengulang-ulang”. Backes adalah penulis rubrik olahraga di Humphrey Democrat yang posisinya “diserobot” Sportswriter. “Tulisan saya jelas lebih bagus,” ujarnya.


Tentu tak ada yang meragukan Backes. Namun kebagusan artikel yang ditulis manusia, menurut para pemilik koran, tak sebanding dengan ongkos yang dikeluarkan untuk itu. Mereka pun berpaling pada Sportswriter, yang “dipekerjakan” sebagai “penulis” olahraga di 80 koran di pedalaman Amerika Serikat. “Cukup mengkhawatirkan, ya?” kata Don Skwar, penanggung jawab rubrik olahraga Boston Globe, harian yang terkenal sebagai gudang penulis olahraga termasyhur di Amerika. “Dalam 40 atau 50 tahun mendatang, jangan-jangan komputer akan menjadi redaktur olah-raga.”

Roger Helms, sang pencipta Sports-writer, justru tak merasa khawatir. “Saya kira komputer tak mungkin menggantikan manusia sebagai penulis,” ucap Helms, yang sebetulnya menciptakan Sportswriter sebagai program untuk belajar menulis. “Saya semula berharap, setelah menggunakan program ini 10-50 kali, orang menjadi terampil menulis liputan olahraga yang benar, dan tak perlu mengandalkan program ini lagi,” tuturnya kepada Tempo.

Siapa sangka, bos-bos koran lokal justru memakainya untuk tujuan lain. Helms merancang programnya dalam komputer Apple yang dilengkapi perangkat Hypercard. Program yang hanya dirancang untuk menulis liputan bola basket dan sepak bola Amerika Serikat (semacam rugbi) itu mengharuskan pemakainya memasukkan sejumlah data penting: nama tim, skor setiap kuartal, tempat pertandingan, nama pemain yang menonjol, komentar, serta nama pelatih setiap tim. Bila data itu dimasukkan, dalam sekejap komputer akan menambahkan kata-kata di antara data tersebut hingga menjadi tulisan “Yang masih kalah dibanding tulisan reporter pemula, tapi lebih bagus ketimbang tulisan anak SLA yang bekerja sebagai tenaga lepas,” kata Keith Isley, redaktur Chariton Leader dan Herald Patriot dari Iowa.

Para pemakai Sports-writer biasanya menyerahkan formulir kepada para pelatih tim untuk diisi, lalu formulir itu dikirim kembali ke penerbit dengan faks. Data di formulir lalu dimasukkan ke komputer dan tulisan segera siap dicetak. “Dengan sedikit penyuntingan, rata-rata hanya dibutuhkan 15 menit,” Donald Zavadil menambahkan.

Penyuntingan memang dimungkinkan karena program Sportswriter menawarkan beberapa pilihan, kendati tak terlalu banyak. Struktur tulisan sangat sederhana, dengan lead (awal) tulisan yang menyebutkan lokasi pertandingan, diikuti ringkasan skor setiap kuartal dan jumlah bola yang keluar. Komentar pelatih juga dimasukkan. Sportswriter ternyata populer di kalangan pelatih. “Kami tak pernah lagi mengalami salah kutip,” kata Mark Otmeir, pelatih tim bola basket sekolah menengah atas di Humphrey. “Kami juga tak pernah lagi mendapat kesulitan karena memaki wasit.”

Yang tidak tertawa adalah para penulis yang digantikan oleh Sportswriter. Selain sumber nafkahnya dirampas, kariernya terancam. Namun, suka atau tidak, potensi komputer—untuk jurnalistik—sudah berkembang lebih jauh. Kantor berita niaga Bloomberg L.P. di New York juga mengandalkan komputer untuk melaporkan perkembangan harga saham secara periodik.

Perusahaan Individual Inc di Cam-bridge, Massachusetts, telah memanfaatkan komputer untuk membaca ribuan artikel koran, majalah, serta kantor berita, lalu meringkas dan mengirim faksnya setiap hari kepada 3.600 pelanggan. Semua dilakukan secara otomatis. Dengan otomatisasi, tampaknya pekerjaan jurnalistik bisa bergeser menjadi pekerjaan mesin. 

 


 

Artikel lengkap terdapat dalam Tempo edisi  23 April 1994. Dapatkan arsip digitalnya di:

https://store.tempo.co/majalah/detail/MC201212060051/siapa-pembobol-sebenarnya-jb-sumarlin-korupsi-bapindo-bapindo

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-09-30 17:52:47

Ekonomi Indonesia

Arsip 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB