Yang Dilarang Dan Belum Terang - Agama - majalah.tempo.co ‚Äč

Agama 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Yang Dilarang Dan Belum Terang


Buku dengan judul "sabda allah yang diwahyukan menurut agama Kristen & agama islam" karangan Pater Adolf P. Heuken SJ. Dilarang beredar oleh Kejagung karena tulisan & lukisan tidak sesuai dengan ajaran Islam.(ag)

Administrator

Edisi : 18 Agustus 1979
i
LAGI sebuah buku dilarang. Kejaksaan Agung, akhir bulan lalu melarang beredar buku karangan Pater Adolf P. Heuken SJ, Sabda Allah yang diwahyukan --Menurut Agama Kristen dan Agama Islam. Ini buku terbitan yayasan Katolik Cipta Loka Caraka, Jakarta, dipimpin Pater Heuken sendiri bekerjasama dengan Penerbit Nusa Indah di Endeh, Flores. Yang menarik: buku itu dilarang sebelum benar-benar diedarkan -- bahkan sebelum sampai ke MAWI (Majelis Agung Waligereja Indonesia), seperti dikatakan Dr. Riberu, Kepala Bagian Dokumentasi dan Penerangan di sana. Tak seorang pun sudah benar-benar melihatnya -- kecuali para karyawan cetak di Endeh. Pater Heuken sendiri yang di hari 6 Agustus tampak di Kejaksaan Tinggi Jakarta memenuhi panggilan pihak resmi itu, menyatakan tidak tahu bagaimana buku yang belum beredar sudah dilarang -- tidak seperti biasanya. Tetapi Kejaksaan Agung memang hanya membenarkan tindakan kejaksaan di Flores sana, yang tentunya sudah tahu sebelumnya isi buku tersebut. Dalam pertimbangan Surat Keputusan Jaksa Agung disebut, buku Sabda Allah antara lain mengandung tulisan dan lukisan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, dapat menimbulkan gangguan terhdap ketertiban umum dan seterusnya. Tetapi tulisan yang mana? Gambar yang mana? Pater Heuken sendiri menanyakan itu kepada pihak Kejaksaan yang memanggilnya. Tentu saja tak diperoleh jawaban, karena yang ingin diketahui kejaksaan di Jakarta itu dari sang pastor hanya: apakah bukunya itu beredar di Jakarta. Dan setelah itu sang pastor pulang ceat-cepat. Wajah Nabi Tapi kalangan Cipta Loka Caraka bisa mengabarkan bahwa buku Heuken tersebut ada mencantumkan reproduksi lukisan tentang Nabi Muhammad yang dibuat para pelukis Islam sendiri dari Turki atau Mesir, yang diambil pengarang dari satu buku tentang seni lukis. Namun wajah Nabi di situ tertutup cadar. Mungkinkah itu yang menyebabkan orang di Ende tidak terima? Buku itu sebenarnya kecil saja. Konon hanya 50 folio, berisi beberapa materi keimanan antar agama secara sangat populer untuk lingkungan Katolik. Ia merupakan salah satu saja dari hasil penerbitan sebuah yayasan yang mula-mula hanya bergerak untuk buku-buku renungan atau doa, lalu berkembang dengan buku-buku keagamaan populer dan masalah sosial. Jumlah cetak Sabda Allah pun konon kecil: 4.000 eksemplar. Pokok isinya, kira-kira: perbedaan pengertian 'sabda Allah' dalam Yahudi, Islam dan Kristen. Agama pertama dan kedua menyatakan bahwa sumber sabda adalah Kitab (Taurat dan Qur'an). Agama Kristen mengartikan 'Sabda' itu sebagai Yesus itu sendiri, dan bukan Bibel. Ini dianggap penting, agar orang "jangan salah kriteria" dalam memandang agama lain, seperti dimaksud Dr. Riberu ketika mengomentari maksud penulisan buku seperti itu. Yang menarik adalah komentar Kardinal Darmoyuwono -- dalam satu acara di Semarang. Setelah mengingatkan buku itu "bukan bersifat ilmiah", dengan kata lain tak dimaksud sebagai telaah theologis mendalam, Kardinal menyebut pelarangan buku itu, yang mula-mula dilakukan di Flores, "kemungkinan besar karena kurangnya konsultasi sehingga menimbulkan kesalahan redaksional." Padahal, isi karangan Heuken itu sebenarnya bisa dikembangkan untuk diskusi intern -- "dengan menghapus kalimat serta masalah yang kurang benar." Ordo Jesuit Mungkinkah pelarangan itu sebenarnya -- kalau saja orang tidak mengingat alasan resmi pihak kejaksaan -- disebabkan oleh sesuatu yang doktriner theologis di kalangan Katolik sendiri? Tidakkah terlalu dicari-cari, menghubungkan pemaparan theologis dalam buku kecil itu dengan kenyataan bahwa, misalnya, Heuken adalah seorang Jesuit, sedang Uskup di Ende dari Ordo SVD? Uskup di Ende memang punya hak imprimatur untuk meluluskan atau tidak sebuah buku yang menyangkut dogma yang diterbitkan di wilayahnya -- tentu saja sebelum turun ke mesin cetak. Akan hal konsultasi dengan kalangan Islam, kalaupun penting ada diceritakan bahwa sebenarnya naskah Heuken itu pernah ditunjukkan kepada seorang sahabatnya, dosen IAIN Bandung, yang dikenalnya waktu mereka bertemu di sebuah pesantren di Jawa Barat. Dosen itu menyatakan: yang mengenai Islam sudah benar, memang begitu. Entah siapa nama dosen tersebut. Kalau tak salah ini buku keempat yang dilarang Kejaksaan Agung sejak 1966 --setelah pelarangan beredar buku pleidoi tokoh mahasiswa Heri Akhmadi kemarin. Yang agak disayangkan ialah karena orang tidak tahu alasannya secara konkrit -- berbeda misalnya dengan pelarangan buku Kenneth Cragg. The Call of The Minaret (Azan, Panggilan dari Menara Mesjid) yang diterjemahkan dengan ruwet oleh M. Rasjad St. Sulaeman SH BPK Gunung Mulia. Jakarta, 1973). Buku ini baru dilarang diedarkan Maret 1979 (!), dengan kata lain setelah orang membacanya. Mustahil Padahal tidak selamanya kalangan sesuatu agama menuntut pembreidelan buku dari agama lain -- betapapun mereka sangat berkeberatan. Memang ada permintaan, misalnya, agar buku terjemah Qur'an H.B. Jassin ditarik dari peredaran. Ada juga himbauan Prof. Rasjidi yang kurang-lebih sama kepada Departemen Agama, terhadap buku sebuah karangan Dr. Harun Nasution, Rektor IAIN Jakarta. Namun kedua-duanya (kebetulan) di kalangan sendiri. Sebab pernahkah terdengar himbauan untuk melarang buku Etika Kristen Dr. J. Verkuyl misalnya, yang banyak bicara tentang Islam? Sedang terhadap buku Prof. Slamet Muljana, Runtuhnya Majapabit dan Munculnya Kerajaan-Kerajaan Islam di Nusantara, yang dilarang Kejaksaan Agung dahulu, Prof. Rasjidi (yang terkenal polemis itu) lebih menginginkan materi-materi sejarah kontroversial dalam buku itu didiskusikan -- dan bukan dilarang. Dan bagaimana dengan buku-buku perbandingan agama, khususnya dari kalangan Islam? Mustahil periulisan-silang antar agama akan selama-lamanya dipenuhi hal-hal yang melulu 'hangat", dan bukan telaah yang kompleks. Mustahil bahwa sifat studi antar agama tidak akan mengalami perkembangan -- juga ke arah dialog yang mendalam dan saling mengerti, walaupun tak saling setuju. Orang toh -- bukan dengan pelarangan -- akan menjadi makin dewasa.

Agama 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.