Nyanyi Lirih di Rumah Sitorus - Nasional - majalah.tempo.co

Nasional 3/5

Sebelumnya Selanjutnya
text

Nyanyi Lirih di Rumah Sitorus


Bupati Bantul mencabut izin mendirikan bangunan Gereja Pantekosta. Ada tekanan massa.

Tempo

Edisi : 9 Agustus 2019
i Kebaktian yang dipimpin Pendeta Tigor Yunus Sitorus, di Sedayu, Bantul, Yogyakarta/ANBTI Yogyakarta
Kebaktian yang dipimpin Pendeta Tigor Yunus Sitorus, di Sedayu, Bantul, Yogyakarta/ANBTI Yogyakarta

BERTEMPAT di kantor Kepolisian Sektor Sedayu, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu siang, 24 Juli lalu, pertemuan antara perwakilan warga Dusun Bandut Lor, Desa Argorejo, dan perwakilan Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Immanuel Sedayu berlangsung sengit. Kepala Kepolisian Sektor Sedayu Komisaris Sugiarta beberapa kali mencoba mendingin-kan suasana.

Kepada Tempo, Sugiarta bercerita bahwa semua perwakilan warga Bandut Lor berkukuh menolak kehadiran gereja di wilayah itu. Ketua Rukun Tetangga 34 Samsuri menunjukkan surat pernyataan tahun 2003. Ditandatangani Pendeta GPdI Tigor Yunus Sitorus, surat itu menyebutkan rumah Sitorus tak akan dijadikan tempat ibadat. “Gereja harus dipindahkan,” kata Sugiarta menirukan ucapan Samsuri, Rabu, 7 Agustus lalu.

Samsuri mengusulkan peribadatan Gereja Pantekosta dipindahkan ke tempat lain. Ditemui di rumahnya, Samsuri mengakui soal sikapnya. Dia menganggap Sitorus membangun gereja tanpa setahu tokoh masyarakat. “Di sini 98 persen muslim. Cuma keluarga dia yang Kristen,” ujar Samsuri.

Menurut Sugiarta, penolakan serupa disampaikan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Bantul periode 2009-2014 dari Partai Keadilan Sejahtera, Arif Har-yanto, yang tinggal di Bandut Lor. Dimintai tanggapan, Arif—terpilih lagi sebagai anggota DPRD 2019-2024—membenarkan ikut mendampingi warga Bandut Lor. Tapi dia membantah turut merekomendasikan pemindahan lokasi gereja. Sedangkan Sitorus dalam pertemuan itu berkukuh bahwa gereja yang didirikannya sudah memiliki izin mendirikan bangunan (IMB) dari Pemerintah Kabupaten Bantul pada Januari 2019.

Sugiarta mengatakan pertemuan itu merupakan inisiatif Kepala Kepolisian Resor Bantul Ajun Komisaris Besar Sahat Marisi Hasibuan setelah dua hari sebelumnya Dusun Bandut Lor dipenuhi spanduk ber-isi penolakan terhadap gereja. Tulisan berwarna merah di kain putih itu antara lain berbunyi “Pak Bupati, kami mohon kebijaksanaan untuk mencabut IMB gereja cacat hukum” dan “Demi toleransi, kami menolak IMB gereja”. Menurut Sugiarta, spanduk itu dibentangkan sekitar pukul tiga dinihari. Satuan Polisi Pamong Praja kemudian menurunkan spanduk tersebut.

Meski pertemuan di Kepolisian Sektor Sedayu berakhir tanpa kesepakatan, dua hari kemudian Bupati Bantul Suharsono mencabut IMB gereja. Suharsono beralasan gereja itu satu bangunan dengan rumah Pendeta Sitorus. “Gereja tidak boleh dijadikan tempat tinggal,” ujarnya. Dalam penjelasannya secara tertulis kepada Gubernur Yogyakarta, Suharsono menyebut alasan lain pencabutan izin, yakni gereja itu tidak berciri rumah ibadat jika dilihat dari luar. Selain itu, jemaat gereja itu bukan penduduk desa setempat dan tak beribadat secara rutin.

Setelah izin dicabut, jemaat Gereja Pantekosta menumpang beribadat di Gereja Kristen Jawa yang berjarak sekitar satu kilometer dari rumah Pendeta Sitorus. Juru bicara GPdI Immanuel Sedayu, Agnes Dwi Rusjiyati, mengatakan pihak gereja akan menggugat keputusan Suharsono ke pengadilan tata usaha negara.

Spanduk penolakan warga Dusun Bandut Lor, Desa Argorejo terhadapa penerbitan IMB Gereja Pantekosta di Indonesia Immanuel Sedayu/ANBTI Yogyakarta

Pendeta Sitorus membangun rumahnya pada 2003 dan berniat menjadikannya gereja. Tapi banyak penduduk menolak. Bahkan sekelompok orang merobohkan rumahnya. Melaporkan kejadian tersebut kepada ketua RT, Sitorus malah disodori surat pernyataan yang menyatakan dia tidak akan menjadikan rumah itu tempat ibadat. “Saya terpaksa menandatangani surat itu,” ujar Sitorus.

Sejak peristiwa itu, Sitorus tak lagi menggelar ibadat di rumahnya secara terbuka. Menurut Agnes Dwi Rusjiyati, ibadat tetap rutin diadakan tanpa musik. Sekitar 50 anggota jemaat Pantekosta pun menyanyikan pujian dalam volume lirih. Jika muncul tekanan dari penduduk sekitar, ibadat dihentikan sementara.

Kesempatan mendirikan gereja datang ketika Bupati Bantul Suharsono menerbitkan Peraturan Bupati Nomor 98 Tahun 2016 tentang Pedoman Pendirian Rumah Ibadat. Aturan itu membuka peluang bagi penerbitan izin rumah ibadat yang sudah berdiri sebelum 21 Maret 2006, tanggal keluarnya Surat Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama, Pemberdayaan Forum Kerukunan Umat Beragama, dan Pendirian Rumah Ibadat.

Sitorus mengurus IMB gereja pada 2017. Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Bantul Buchori Muslim mengatakan lembaganya mengeluarkan rekomendasi penerbitan IMB karena Gereja Pantekosta sudah mendapat izin dari kelurahan dan kecamatan. Gereja pimpinan Sitorus pun masuk daftar rumah ibadah yang mendapat IMB bersama 726 masjid, 15 gereja Katolik, 24 gereja Kristen, serta 4 pura. IMB yang ditandatangani Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Bantul Sri Muryuwantini terbit pada 15 Januari 2019.

Sejak itu, jemaat Gereja Pantekosta beribadat dengan terbuka. Tetangga Sitorus, Idawati, mengatakan rumah di sebelahnya setiap Ahad kedatangan puluhan mobil dan orang dari luar dusunnya. “Sebelumnya enggak ada. Tahu-tahu kok ramai,” ujar Idawati. Calon anggota DPRD Bantul, Arif Haryanto, yang tinggal di sekitar gereja itu, mengatakan warga RT 34 menumpahkan kegusarannya dalam rapat pada 6 Juli lalu. Sitorus dihubungi untuk hadir. “Kami kaget ketika dia bilang IMB rumah ibadah sudah terbit,” ujar Arif.

Menurut Arif, penduduk di sekitar gereja itu kian gelisah. Tiga hari setelah rapat RT tersebut, Camat Sedayu Fauzan Mu’arifin mengundang semua pihak yang berselisih. Perundingan yang diwarnai teriakan sejumlah orang agar IMB dicabut itu buntu. Belakangan, 80 kepala keluarga menandatangani surat yang ditujukan kepada Bupati Bantul supaya meninjau ulang penerbit-an IMB Gereja Pantekosta.

Malam setelah pertemuan tersebut, sekelompok orang berpakaian dan bersorban putih mendatangi gereja. Datang dengan enam mobil, mereka menyatakan menolak keberadaan gereja. Namun polisi dan anggota komando rayon militer mencegah terjadinya kekerasan. Kepala Kepolisian Sektor Sedayu Komisaris Sugiarta mengidentifikasi mereka sebagai anggota organisasi yang kerap bertindak intoleran. “Organisasi massa ini sering membuat ulah,” ujarnya. Sejumlah pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bantul menyebutkan organisasi itu adalah Front Jihad Islam (FJI).

Dihubungi lewat telepon, Ketua FJI Abdurrahman membantah mengerahkan massa ke Gereja Pantekosta. Namun dia mengakui sempat hadir di lokasi tersebut. “Saya datang untuk mengisi pengajian di masjid. Sudah rutin dakwah di sana,” kata Abdurrahman. Dia membantah tudingan bahwa FJI merupakan organisasi intole-ran. “Kami organisasi dakwah.”

Bupati Bantul Suharsono membantah ada intimidasi dari kelompok tertentu sehingga dia mencabut IMB Gereja Pantekosta. “Pencabutan itu berdasarkan temuan kami bahwa Gereja Pantekosta tak memenuhi syarat,” ujar Suharsono, yang pada pemilihan Bupati Bantul 2015 diusung Partai Gerakan Indonesia Raya, PKS, Partai Kebangkitan Bangsa, dan Demokrat.

Berbeda dengan Suharsono, Wakil Bupati Abdul Halim Muslih mendukung Gereja Pantekosta menggugat ke PTUN. Halim, yang mengaku tak dilibatkan dalam rapat pembahasan pencabutan IMB, mengatakan Gereja Pantekosta sudah memiliki izin yang sah yang dikeluarkan pemerintah Bantul. “Semestinya sudah tidak ada masalah lagi,” kata Halim.

Pramono (Jakarta), Pito Agustin Rudiana, Shinta Maharani (Yogyakarta)


Nasional 3/5

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.