Asa Baru Karier Sascha - majalah.tempo.co

Olahraga 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Asa Baru Karier Sascha


Menjuarai ATP Finals setelah mengalahkan petenis nomor satu dunia, karier petenis muda Jerman, Alexander Zverev, diprediksi kian cemerlang.

Gabriel Wahyu Titiyoga

Edisi : 15 Desember 2018
i Petenis Jerman, Alexander Zverev, mengangkat trofi ATP di London.
Petenis Jerman, Alexander Zverev, mengangkat trofi ATP di London.

 

Masih tersendat di Grand Slam.

Alexander Zverev baru berusia 21 tahun 7 bulan saat menjejakkan kakinya di laga puncak ATP Finals di London, Inggris, bulan lalu. Dia menjadi petenis termuda di kontes penutup rangkaian turnamen Asosiasi Tenis Profesional itu dalam satu dekade terakhir. Dia tak begitu difavoritkan dalam laga itu mengingat lawannya adalah petenis nomor satu dunia asal Serbia, Novak Djokovic.

Djokovic lebih diunggulkan karena dikenal gigih, punya stamina luar biasa, dan bisa mengembalikan servis sekeras apa pun. Dia keluar sebagai pemenang dalam final Grand Slam terlama, 5 jam 53 menit, saat menghadapi Rafael Nadal dalam Australia Terbuka 2012. Petenis 31 tahun itu juga sudah 14 kali menjuarai Grand Slam. Toh, Djokovic akhirnya keok di tangan Zverev dua set langsung dengan skor 6-4 dan 6-3.

Kemenangan perdana di ATP Finals menjadi penanda penting dalam karier Zverev sejak terjun menjadi petenis profesional pada 2013. Apalagi, dalam turnamen itu, dia sudah mengalahkan dua petenis papan atas: John Isner dan Roger Federer. ”Senangnya bukan kepalang. Ini gelar terbesar yang pernah kudapat,” ujar petenis yang akrab disapa Sascha itu seperti ditulis ESPN.

Sascha bahkan menjadi petenis Jerman pertama yang menjuarai ATP Finals setelah Boris Becker mendapatkan gelar serupa di Frankfurt, 23 tahun lalu. Ia puas bisa mengalahkan Djokovic, yang tampil brilian dalam enam bulan terakhir serta memboyong trofi Grand Slam Wimbledon dan Amerika Serikat Terbuka. ”Dia nyaris tak pernah kalah dan aku senang sekali dia kehilangan pertandingan yang satu ini,” ujar Sascha, berseloroh.

Hasil ini mengulang kesuksesan Sascha menundukkan Djokovic dalam Italia Terbuka pada Mei tahun lalu. Ini salah satu turnamen Masters 1000 yang prestisius karena berada satu tingkat di bawah Grand Slam. Dunia tenis terperenyak atas kemenangan Sascha karena dia baru tampil pertama kali di level ini, sementara Djokovic sudah bermain 44 kali.

Keberhasilan di ATP Finals membuat pamor Sascha kian melejit. Ia memiliki prestasi paling kinclong di antara deretan Next Generations—julukan kelompok petenis muda bertalenta berusia di bawah 23 tahun. Sascha sudah mengoleksi 10 gelar kategori tunggal dan menempati peringkat keempat dunia. Dia pun dinobatkan sebagai atlet Jerman terbaik bulan lalu. ”Teknik dan sikapnya sangat baik. Aku ingin dia menjadi petenis nomor satu,” kata Federer.

Mantan petenis profesional Australia, Mark Philippoussis, mengatakan Sascha memiliki kualitas dan kemampuan lengkap yang diperlukan untuk menjadi petenis terbaik dunia. “Jika aku diminta memilih satu petenis, dialah orangnya,” ucap Philippoussis seperti ditulis Tennis World, Senin pekan lalu.

ALEXANDER ZVEREV

Prestasi yang diraih Zverev di usianya yang begitu muda membuatnya digadang-gadang bisa mematahkan dominasi Djokovic, Federer, Rafael Nadal, dan Andy Murray. Dijuluki Big Four, mereka sudah menguasai olahraga ini dalam 15 tahun terakhir. Bila digabungkan, keempatnya menjuarai 54 dari 63 turnamen Grand Slam.

Sebelumnya, tak pernah ada petenis yang begitu tangguh dalam durasi selama itu. Federer bahkan memegang rekor pemenang terbanyak dengan 20 gelar juara Grand Slam, delapan di antaranya diraih di Wimbledon. Januari lalu, pada usia 36 tahun, Federer masih mampu menjuarai Australia Terbuka dan kini berada di peringkat ketiga daftar petenis terbaik ATP.

Sejauh ini baru Sascha yang bisa membuat para petenis top itu kelimpungan, termasuk memaksa Nadal bermain lima set selama nyaris empat jam di Australia Terbuka pada Januari lalu. Sascha berpeluang kembali mengalahkan para kampiun tenis itu ”Dia petenis terbaik saat ini yang bisa melakukannya,” kata Philippoussis.

Musim kompetisi 2019 menjadi kesempatan Sascha untuk meraih gelar juara Grand Slam. Delapan titel Grand Slam dalam dua tahun terakhir diambil oleh Federer,- Djokovic, dan Nadal. Terakhir kali petenis yang berhasil mendapatkan trofi Grand Slam perdananya adalah Marion Cilic pada 2014. Nadal yakin Sascha bisa menjuarai Grand Slam dalam dua tahun. ”Jika dia gagal di Grand Slam, kalian boleh menyebutku tak tahu apa-apa soal tenis,” ucap Nadal.

Karier Sascha melesat cepat. Pada 2015, dia sudah berada di peringkat ke-83 dan menjadi petenis termuda yang bisa menembus daftar 100 petenis terbaik dunia. Dia bahkan menjadi petenis di luar Big Four yang mengantongi tiga gelar juara turnamen Masters.

Dukungan keluarga berperan besar dalam karier Sascha. Orang tuanya, Alexander dan Irina, adalah petenis top pada 1980-an di Uni Soviet. Sama-sama berasal dari Sochi, mereka meraih sukses dalam karier tenis masing-masing dan bergabung dengan CSKA Moscow, yang dikelola militer Uni Soviet. Namun prestasi pasangan itu di kancah tenis dunia, seperti dilaporkan majalah online 1843 pada Agustus lalu, ternyata seret.

Sejak kecil, olahraga tenis menjadi dunia Sascha. Dia kerap menemani kakaknya, Mischa, bertanding di berbagai negara. Mischa bergaul dengan para petenis muda yang kelak menjadi bintang, seperti Djokovic, Nadal, dan Federer. Seperti Mischa, Sascha berlatih tenis bersama Alex.

tabel

Meski tubuhnya menjulang hingga 1,98 meter, Sascha ternyata gesit. Aktif bermain hoki es dan sepak bola kala remaja meningkatkan kelincahannya. ”Aku belum pernah melihat pemain setinggi itu bisa lincah bermain sejak era Marat Safin,” kata Jez Green, pelatih fisik Sascha. Safin, yang dua kali menjuarai Grand Slam, memiliki tinggi 1,93 meter. Sebelum melatih Sascha, Green menangani Murray, yang tingginya 1,9 meter.

Sascha dulu tergolong petenis kurus dan tak berotot. Padahal para petenis jangkung perlu memperkuat tubuh untuk mengimbangi momentum besar yang mereka terima ketika bergerak cepat di lapangan. Green berkonsentrasi memperbaiki fisik dan otot Sascha begitu bergabung dengan tim petenis itu pada 2013.

Empat tahun lalu, bobot tubuh Sascha hanya 75 kilogram dan beban yang bisa diangkatnya hanya 40 kilogram. Pada Juli tahun lalu, berat tubuhnya sudah 85 kilogram dan maksimal beban yang bisa diangkatnya mencapai 150 kilogram. Perubahan fisik itu berdampak besar di lapangan. Selain kian lincah, pukulannya kian berbahaya. Sascha bisa melepaskan servis dengan kecepatan lebih dari 220 kilometer per jam.

Menuai segudang prestasi, Sascha masih terhambat di Grand Slam. Dari 17 kali penampilannya di Grand Slam sejak 2014, prestasi terbaiknya hanya mencapai perempat final di Prancis Terbuka pada Juni lalu. Philippoussis mengatakan gaya bermain Sascha bisa menjadi penyebab penampilannya di Grand Slam kerap macet. ”Dia terlalu jauh dari baseline,” ujarnya.

Kini kurang dari enam pekan Sascha akan berlaga dalam Australia Terbuka, yang digelar pada 14 Januari 2019. Boris Becker menyebutnya sebagai laga besar yang dinanti-nanti. ”Jika dia bisa menaklukkan Djokovic dan Federer lagi di turnamen yang lebih besar, dunia akan punya bintang baru,” kata Becker seperti dilaporkan Strait Times.

GABRIEL WAHYU TITIYOGA (REUTERS, ATP, TENNIS365, THE TELEGRAPH, ESPN, THE NEW YORK TIMES)



Olahraga 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.