Runtuhnya Otoritas Pengetahuan - majalah.tempo.co ​

Buku 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Runtuhnya Otoritas Pengetahuan


Sisi gelap Internet yang mencemaskan: orang hanya percaya kepada berita yang mereka suka. Tak ada lagi cerdik cendekia.

Tempo

Edisi : 23 Juni 2018
i Runtuhnya Otoritas Pengetahuan
Runtuhnya Otoritas Pengetahuan

BERITA Siska Nur Azizah dan Dita Siska Millenia-mahasiswi dan siswi kelas XII pondok pesantren yang ditangkap Detasemen Khusus Antiteror-terpapar paham radikal berbasis dogma agama melalui Telegram kian mengukuhkan tesis Tom Nichols: di zaman Internet, tak ada lagi otoritas yang mengendalikan pengetahuan. The Death of Expertise menganalisis dengan telak isu lama yang berkembang liar di zaman media sosial: setiap orang terjangkit efek Dunning-Kruger dan bias konfirmasi pada segala hal.

Internet tak lagi menjadi sarana demokrasi informasi, tapi justru menjadi malapetaka karena membutakan orang hingga mereka tak lagi ragu terhadap segala berita. Di Internet, mereka kritis bukan pada fakta, melainkan karena keyakinannya, sementara yang lain bingung dan tersesat dalam belantara informasi faktual dan berita rekayasa. Semua centang-perenang ini diamplifikasi para pengidap efek Dunning-Kruger, mereka yang merasa benar oleh pengetahuan yang keliru.

Siska hanya satu contoh. Komunitas bumi datar dan gerakan antivaksin adalah gejala lain meruyaknya kepercayaan terhadap informasi berdasarkan keyakinan, bukan bukti-bukti empiris. Nichols mengutip pernyataan seorang pembuat hoaks yang menyebarkan informasi bahwa cokelat bisa membuat langsing. "Sasaran utamanya adalah para jurnalis yang malas melakukan verifikasi sehingga mereka mengutip berita itu mentah-mentah dan menyebarkannya," kata Nichols (halaman 162).

Setelah berita cokelat itu menyebar, pengguna media sosial terbelah antara yang percaya, ragu-ragu, dan menolaknya. Mereka pun bertengkar untuk sebuah informasi yang tak jelas sehingga mengabaikan informasi ilmiah tentang benar-tidaknya cokelat membuat langsing dari sebuah lembaga kredibel. Takhayul telah mengalahkan suara para ahli.

Nichols banyak mengutip hasil penelitian dan referensi kejadian yang membelah publik Amerika Serikat padahal tak jelas dasarnya. Buku ini memang banyak mengambil contoh di Negeri Abang Sam, terutama setelah Donald J. Trump terpilih menjadi presiden.

Trump contoh bagus bagaimana efek Dunning-Kruger dan bias konfirmasi menjangkiti semua orang tanpa pandang bulu: ia menuduh media menyebarkan hoaks dan fake news jika informasinya tak menguntungkan kebijakannya. Pendeknya, semua hal yang merugikan Trump akan dia sebut hoaks dan palsu.

Pembahasan Nichols jadi terasa dekat karena ia mengurai sebuah gejala umum bagaimana manusia mengunyah informasi yang meruyak di dunia maya. Seperti Siska, kita tersesat di Google karena pembuatnya memakai mesin algoritme yang mengurutkan informasi berdasarkan kata kunci dan popularitas web. Siska mendapatkan berita yang mendukung kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dari web afiliasinya karena organisasi ini paham bagaimana memakai Internet untuk propaganda.

Dalam timbunan informasi, pada akhirnya orang akan seperti Trump: hanya percaya kepada berita yang mereka suka. Mereka akan ragu terhadap sebuah informasi bukan karena seharusnya mereka melakukannya, tapi karena tak suka informasinya. Dasarnya bisa macam-macam: pilihan politik, fanatisme agama, identitas, atau keberpihakan. Dalam hal ini, tulis Nichols, orang liberal dan konservatif sama saja.

Otoritas keilmuan pun runtuh karena masyarakat berubah dalam mencerna informasi, tapi di sisi lain lembaga pendidikan juga kian tak dipercaya. Ada gejala umum kampus dan akademi gagal menanamkan ilmu logika dan semangat ilmiah untuk ragu terhadap pelbagai hal. Otoritas pengetahuan dan keilmuan pun runtuh, di luar soal bahwa para ahli juga kerap bikin kesalahan ilmiah, karena orang lari ke Internet yang tak membedakan informasi sumir dan kredibel.

Demokrasi dan melimpahnya informasi malah menjadi malapetaka bagi umat manusia. Buku ini membuat panduan klasik dari Mohammad Hatta dalam buku Jalan ke Arah Ilmu Pengetahuan jadi terasa usang. Menurut Hatta, ada tiga jalan mencapai ilmu: cerita orang tua, pengalaman sendiri, dan keterangan orang lain. Di zaman Internet, ketika semua orang bisa memproduksi informasi, keterangan orang lain malah bisa menjerumuskan kita ke lembah salah sangka.

Untuk mencegahnya, Nichols menyarankan kita tetap rendah hati menerima informasi seraya skeptis dan curiga agar kita terdorong terus menguji sebelum mempercayainya. Otoritas keilmuan, di kampus, media massa, dan lembaga lain, harus tampil menyuarakan yang benar agar publik punya acuan mempercayai sepotong informasi.

Bagja Hidayat


The Death of Expertise: The Campaign Against Established Knowledge and Why it Matters

Penulis: Tom Nichols

Penerbit: Oxford University Press, 2017

Tebal: xv + 252 halaman



Buku 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.