Perjumpaan Iman: Dari Wina sampai Tebuireng

Pada awal Agustus lalu, Pax Romana-ICMICA (International Catholic Movement for Intellectual and Cultural Affairs), satu organisasi intelektual mondial, berhimpun di Wina, ibu negeri Austria. Dihadiri cendekia dari 35 negara—termasuk Indonesia—dialog antarkeyakinan (interfaith dialogue) menjadi salah satu isu yang menyedot perhatian di forum itu. Austria, yang baru merayakan seabad masuknya Islam, kerap disebut tanah ”paling inspiratif” di Eropa untuk hubungan antarkeyakinan. Batu sendi kesuksesan mereka adalah pendidikan interfaith sejak dini. Di Indonesia, upaya ini digiatkan sejumlah padri pendidik di Ordo Serikat Yesus. Calon-calon imam Yesuit dikirim menempuh live-in di sejumlah pesantren. Tempo melaporkan dari Wina, Jakarta, Jombang, dan Yogyakarta.

Senin, 3 September 2012

DI ruang Seminarium I, Universitas Wina, Greg Soetomo menayangkan rangkaian slide itu di depan sebagian peserta konferensi internasional Pax Romana-ICMICA. Tema konferensi—Time of Crises, Time to Share Vision and Actions; Searching for New Paradigms—rupanya menarik banyak peminat juga. Para filsuf, ekonom, teolog, antropolog, analis sosial, bahkan profesional semacam dokter dan insinyur dari 35 negara sudi melakukan perjalanan pribadi untuk h

...

Berita Lainnya