Princen

Minggu, 23 April 2000

HARI-hari ini saya teringat Princen. Sudah beberapa lama saya tak melihatnya: seorang dengan tubuh yang guyah di kursi roda, dengan cuping hidung yang diperban, dengan suara yang melemah—tapi dengan sebuah sejarah hidup yang mengingatkan saya pada ombak. Ombak itu selalu menghempas ke tubir cadas: sejarah pilihan-pilihan yang berulang. Seperti gerak yang seakan-akan rutin, tapi tiap kali datang dengan dorongan yang kuat—lebih kuat dar...

Berita Lainnya