1/0

text

Cerita Pekerja Indonesia di Saudi: Gaji Tak Dibayarkan, Jika Pulang Kena Penalti

Para pekerja migran Indonesia di Kota Taif, Arab Saudi terkena dampak pandemi Covid-19 sejak Maret 2020. Mereka ditelantarkan perusahaan yang tak memenuhi hak para pekerja migran sesuai dengan kontrak yang disepakati.

26 April 2021


BELUM satu tahun bekerja di sebuah restoran di Kota Taif, Arab Saudi, Henry Gunter Manik mesti menelan pil pahit. Dampak pandemi Covid-19 yang membayangi seluruh dunia turut menghantam tempat ia bekerja. Pada Maret 2020, Arab Saudi memberlakukan lockdown dan pembatasan sosial yang mengakibatkan restoran tempat Henry bekerja tutup.

Bersama 29 pekerja migran Indonesia yang bekerja di restoran itu, Henry memutuskan bertahan. "Kami tidak makan dan tidak digaji sekitar 3-4 bulan," ujar Henry kepada Tempo pada Maret 2021 di rumahnya di Tangerang, Banten.

Pada Agustus 2020, Henry memutuskan pulang ke Indonesia. Ia meminta bantuan KJRI untuk membantu kepulangannya. Henry tak perlu membayar penalti karena sudah bekerja selama setahun. Tapi ia mesti membayar sendiri tiket pesawat. 

Tiba di Indonesia, Henry menghadapi masalah serupa. Ia menjadi pengangguran. Di tengah pandemi, kata dia, pekerjaan sulit didapatkan. Henry harus mengencangkan ikat pinggang untuk memenuhi kebutuhan sehari-sehari dia bersama istri dan tiga anak yang masih sekolah. "Saya sekarang akan coba membuka usaha di rumah. Modalnya pinjam ke saudara," kata Henry.

Basuki Wiroso, pekerja migran lainnya, masih bertahan di Taif walahpun hingga Maret 2021 gajinya tak kunjung dibayarkan te. Ia sebenarnya berharap pemerintah Indonesia memulangkannya dan perusahaan tempatnya bekerja membayar gaji yang belum dibayarkan. "Kalau berhenti sebelum kontrak ada penalti. Harus membayar 10 ribu riyal untuk iqamah (izin tinggal) plus denda. Totalnya bisa Rp 60 juta. Duit dari mana?" ujar Basuki kepada Tempo. Dia dan Henry datang ke Arab Saudi pada awal tahun lalu lewat jasa sebuah agen resmi tenaga kerja.

Menurut Basuki, dia telah mengadukan persoalan tersebut ke perwakilan Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) di Saudi hingga ke Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI). KJRI sempat membantu, namun nasibnya tak berubah. 

Basuki dan Henry tidak sendiri. Banyak pekerja migran Indonesia bernasib serupa. Sejauh ini dari 3,7 juta pekerja migran Indonesia yang resmi terdaftar, sebanyak 1.610 orang mengadukan nasibnya kepada pemerintah Indonesia. Diperkirakan, jumlah mereka yang terdampak jauh lebih besar.

Simak video lengkapnya.

 

2021-09-16 18:39:51


1/0


Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.