Vaksin AstraZeneca

  • Ancaman Gelombang Ketiga
    Internasional

    Ancaman Gelombang Ketiga

    Angka penularan Covid-19 kembali meningkat dalam jumlah besar di Eropa. Suplai vaksin tersendat setelah India menahan pengirimannya demi memenuhi kebutuhan dalam negeri.

  • Herd Immunity Bukan Tujuan Utama Vaksinasi
    Wawancara

    Herd Immunity Bukan Tujuan Utama Vaksinasi

    Ketua Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) Sri Rezeki Hadinegoro mengatakan vaksinasi Covid-19 di Indonesia berjalan cukup lancar walaupun masih mengalami kendala keterbatasan stok vaksin. Tingginya angka kematian Covid-19 pada warga lanjut usia membuat pemerintah mengubah urutan kelompok prioritas penerima vaksinasi. Atas saran ITAGI, lansia yang semula berada di tahap keempat dimajukan ke tahap kedua bersama pelayan publik. Menurut Sri Rezeki, tujuan utama vaksinasi Covid-19 adalah mengurangi tingkat kematian, bukan sekadar mencapai herd immunity. Dalam penanganan pandemi Covid-19, ITAGI terlibat menyusun peta jalan vaksinasi dan memberikan sejumlah rekomendasi kepada Kementerian Kesehatan.

  • Terganjal Fatwa dari Proklamasi
    Laporan Utama

    Terganjal Fatwa dari Proklamasi

    Upaya pemerintah agar Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa halal vaksin AstraZeneca tak berhasil. Di tengah upaya lobi, pengurus MUI disebut meminta posisi komisaris badan usaha milik negara. Pemerintah pun menggandeng organisasi keagamaan di daerah untuk mendukung kehalalan vaksin. Berkejaran dengan waktu kedaluwarsa, pemerintah memetakan daerah yang lebih terbuka menerima vaksin AstraZeneca.

  • Tarik-Ulur Vaksin Inggris
    Laporan Utama

    Tarik-Ulur Vaksin Inggris

    Vaksin AstraZeneca menjadi sorotan setelah sejumlah negara Eropa menangguhkan penggunaannya. Sempat dipersoalkan kehalalannya di Indonesia.

  • Vaksin AstraZeneca Tidak Mengandung Babi
    Wawancara

    Vaksin AstraZeneca Tidak Mengandung Babi

    Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia menyatakan vaksin AstraZeneca haram karena diduga memanfaatkan enzim tripsin yang berasal dari babi dalam proses pengembangbiakan virus corona. Fatwa itu berbeda dengan keputusan Badan Pengawas Obat dan Makanan. Kepala BPOM Penny Kusumastuti Lukito mengatakan enzim tripsin sudah hilang dalam tahap pembuatan vaksin sehingga BPOM menganggap produk akhir vaksin AstraZeneca tidak mengandung babi. Menurut Penny, pemerintah memang sudah memiliki vaksin halal, Sinovac, tapi jumlahnya tak cukup untuk menciptakan herd immunity sehingga pemerintah harus menggunakan berbagai vaksin, termasuk AstraZeneca.

  • Enak Dibaca dan Perlu

    Berlangganan

    Dapatkan diskon 45% di setiap pembelian paket berlangganan TEMPO.

    Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

    4 artikel gratis setelah Register.