Wawancara 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Indonesia Belum Punya Masterplan Pariwisata

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio:

i Wishnutama Kusubandio. TEMPO/Tony Hartawan
Wishnutama Kusubandio. TEMPO/Tony Hartawan

PENGALAMAN pemerintah Thailand mempromo-sikan wisata lewat sajian kuliner membetot perhatian Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio. Sepanjang 2018, Negeri Gajah Putih menggaet 38,3 juta wisatawan mancanegara, menempatkannya sebagai negara yang paling banyak dikunjungi turis asing di Asia Tenggara. Sedangkan Indonesia hanya bertengger di urutan keempat, setelah Malaysia dan Singapura.

Menurut Wishnutama, kesuksesan Thailand mendatang-kan pelancong adalah buah kegigihan pemerintahnya dalam menyokong pengembangan industri kuliner di luar negeri sejak akhir 1980-an. “Mereka secara masif membangun restoran-restoran Thailand yang berkelas di seluruh dunia,” katanya dalam wawancara khusus dengan Tempo, Senin, 2 Desember lalu. Dari perkenalan dengan cita rasa makanan itulah, dia melanjutkan, turis dari berbagai negara berbondong-bondong mengunjungi Thailand.

Maka, saat ditunjuk menggantikan Arief Yahya, Wish-nutama langsung tancap gas menyiapkan strategi pengembangan pariwisata. Namun betapa terkejutnya dia saat mendapati kementerian yang dia pimpin ternyata tidak memiliki rencana induk pariwisata nasional. “Thailand, Malaysia, dan Uni Emirat Arab saja punya masterplan sampai 40 tahun ke depan,” ucap pria 49 tahun itu.

Sejak dilantik pada 24 Oktober lalu, Wishnutama telah mengunjungi Bali, Mandalika, dan Labuan Bajo. Ia mengatakan tugas barunya menyuguhkan tantangan yang jauh berbeda. Selain mengunjungi berbagai daerah tujuan wisata, ia mesti mengembangkan ekonomi kreatif yang dampaknya bisa dirasakan penduduk lokal.


Kepada wartawan Tempo, Mahardika Satria Hadi, Hus-sein Abri Dongoran, dan Aisha Shaidra, Wishnutama men-jelaskan beberapa hal, antara lain strategi baru menggaet pelancong asing. Ia juga menuturkan pentingnya infrastruktur, promosi digital, dan peleburan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) untuk mengerek naik industri pariwisata sebagai sumber devisa terbesar. Wawancara tambahan dilakukan lewat pesan WhatsApp pada Sabtu, 7 Desember lalu.

Bagaimana Anda memenuhi target mendatangkan 18,5 juta turis mancanegara tahun depan?

161843467821

Menciptakan daya tarik. Kita selama ini lebih banyak mempromosikan yang given, yang sudah ada. Ke depan, budaya harus ditonjolkan. Budaya kita adalah daya tarik yang penting. Kalau tidak begitu, akan sama saja. Jumlah wisatawan enggak naik banyak.

Tapi tahun ini target belum tercapai.

Dari target 18 juta, sudah ada 13,6 juta wisatawan sampai Oktober lalu. Saya perkirakan ada sekitar 16,4 juta turis luar negeri ke Indonesia sampai akhir tahun ini.

Apa yang membuat jumlahnya tidak sesuai dengan ekspektasi?

Banyak event yang justru membuat orang enggan datang ke Indonesia. Salah satunya pemilihan umum. Kalau agak gaduh dan ramai, orang melihat berita jadi mikir lagi untuk ke sini. Walaupun kejadiannya bukan di daerah yang akan mereka kunjungi, orang menggeneralisasi itu terjadi di Indonesia. Lalu ada bencana alam dan travel warning. Banyak sekali travel warning dari pemerintah negara-negara yang menjadi target wisatawan mancanegara kita. Itu agak menghambat.

(Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, Australia, Kanada, Inggris, Amerika Serikat, dan Belanda mengeluarkan anjuran perjalanan bagi warganya yang ingin atau akan berkunjung ke Indonesia pada Mei lalu. Anjuran tersebut dikeluarkan sebagai imbas dari kerusuhan yang terjadi seusai pengumuman hasil pemilihan presiden.)

Apa rencana Anda untuk mengatasi hal tersebut?

Membuat daya pikat tambahan. Misal­nya, yang sering disebut Presiden Joko Widodo soal kalender acara, acara yang kita bikin sendiri, atau menyelenggarakan perhelatan internasional di Indonesia. Lalu industri wisata MICE (meeting, incentive, convention, and exhibition), itu juga menciptakan daya tarik tersendiri. Dua hal itu bisa menjadi penyelamat untuk mendapatkan devisa negara dari pariwisata pada 2020.

Apa pesan khusus Presiden kepada Anda?

Pak Jokowi berpesan agar ekonomi krea­tif bisa dirasakan masyarakat daerah. Event diperbagus. Kalau perlu bikin aca­ra tahunan sehingga pariwisata bisa men­ja­di sumber devisa tertinggi. Tahun ini pari­wisata sudah mendatangkan US$ 20 miliar.

Indonesia diperkirakan terkena dampak perlambatan ekonomi global tahun depan. Bagaimana pengaruhnya terhadap pariwisata?

Belajar dari krisis di Amerika Serikat, saat terjadi kredit macet perumahan pada 2008, semua industri mengalami kesulitan, kecuali hiburan, khususnya wahana wisata, seperti Disneyland dan Universal Studio. Pengunjung mereka justru meningkat. Saat krisis, banyak orang stres dan mencari hiburan untuk dia dan keluarganya. Artinya, ada peluang di sana, dan ada daya tarik yang sangat tinggi. Ini yang harus dilakukan di Indonesia, bagaimana menciptakan daya tarik sehingga orang mau datang ke tempat tujuan wisata kita.

Apa yang sebenarnya menjadi daya tarik wisata di Indonesia?

Enam puluh persennya kultur dan kearifan lokal. Kalau pemandangan yang bagus bisa ada di mana-mana. Tapi, saat wisatawan datang dan melihat keramahan warga lokal, budayanya, pengalaman unik itu yang membuatnya jadi luar biasa.

Bagaimana Anda melihat potensi dari pembangunan lima destinasi “Bali baru”?

Sejauh ini saya sudah ke Mandalika dan Labuan Bajo. Selanjutnya ada Borobudur, Likupang (Manado), dan Danau Toba. Di Mandalika ada MotoGP, yang punya daya tarik luar biasa. Kalau jadi, bisa mendatangkan hingga 150 ribu pengunjung. Makanya kita harus buat pre-event, post-event, dan lain-lain. Lokasinya juga dekat dengan Bali. Bisa pakai kapal, pesawat kecil. Jadi akhirnya punya potensi. Pariwisata bisa hidup karena traffic dan konektivitas. Pengusaha kan menghitung soal investasi.

Dari lima kawasan itu, mana saja yang masuk daftar wisata premium?

Sementara ini Labuan Bajo. Salah satu tugas ke depan enggak melulu soal angka wisatawan, tapi kualitasnya juga penting. Belanja wisatawan asing selama berada di Tanah Air pada 2018 sebesar US$ 1.220 (sekitar Rp 15,8 juta) per kepala per kunjungan (average spending per arrival/ASPA). Ada 15 juta turis mancanegara tahun lalu. Ini harus ditingkatkan. Selandia Baru hanya didatangi 4 juta wisatawan asing, tapi tiap orang menghabiskan US$ 5.000. Jadi memang harus semahal dan selama mungkin.

Berapa nilai yang ditargetkan?

Dalam pikiran saya, US$ 1.400 dalam dua-tiga tahun ke depan. Apalagi sudah ada spesifik di Labuan Bajo yang premium. Hal itu akan berdampak pada ASPA-nya. Ini harus jadi bagian dari strategi. Sebab, kalau wisatawan banyak tapi enggak belanja, kan, sayang juga. Ini turis luar negeri, kita bicara devisa.

Bagaimana sebenarnya konsep wisata premium?

Artinya, pengeluaran wisatawan lebih besar dari tempat lain. Makanya Presiden bilang bangun hotel bintang empat dan lima. Kalau mau di bawah itu, ada desa wisata dan homestay. Diukur juga lama tinggalnya karena ada banyak pulau, kuliner, budaya, sehingga pengeluaran wisatawan lebih gede.

Bagaimana sikap pemerintah daerah terhadap konsep itu?

Mendukung sekali. Saya sudah bertemu dengan Gubernur Nusa Tenggara Barat dan Wakil Bupati Labuan Bajo. Mereka yakin wisata yang maju akan berdampak ke daerahnya dan masyarakat lokal.

Bagaimana dengan Mandalika?

Sedang agresif dibangun. Butuh waktu, tapi sudah menuju ke sana. Trek MotoGP, walaupun masih tanah, sudah kelihatan polanya. Begitu juga jalan dari bandar udara dan ketersediaan air bersih.

Kapan infrastruktur lima destinasi “Bali baru” rampung?

Lima prioritas itu rampung akhir 2020. Sesuai dengan pesan Presiden, akan kami promosikan setelah jadi. Jangan sampai turis kecewa dan enggak balik lagi karena datang melihat gundukan semen. Kita promosikan dengan cara yang terbaru dan relevan dengan era sekarang.

Seperti apa caranya?

Bisa melalui film. Kita dapat mengajak Hollywood memproduksi film di sini. Saya ambil contoh, film Crazy Rich Asians meningkatkan pariwisata di Singapura secara luar biasa. The Lord of the Rings, orang yang sebelumnya enggak tahu Selandia Baru sebagus itu, pergi ke sana. Puluhan tahun lalu, banyak orang pergi ke Austria hanya karena film The Sound of Music. Cara lainnya, kita menggaet influencer. Itu yang dilakukan Uni Emirat Arab. Bintang film terkenal bikin video dan syuting di sana.

Di mana peran ekonomi kreatifnya?

Dari kriya, produksi suvenir, pakaian, kuliner. Masyarakat lokal harus diberdayakan. Ekonomi kreatif harus memanfaatkan penduduk lokal dan dampaknya bisa mereka rasakan. Bukan hanya di kota. Makanya, ke depan, di lima destinasi superprioritas itu akan ada pusat kreatif untuk tempat pelatihan.

Kenaikan harga tiket pesawat masih menjadi kendala untuk menggenjot pariwisata. Tanggapan Anda?

Ada 3,2 juta wisatawan Indonesia ke Malaysia. Sebaliknya, dari Malaysia ke Indonesia 2,6 juta wisatawan. Artinya, jangan sampai wisatawan kita malah justru memilih ke negara lain. Saya sudah bicara dengan Menteri Badan Usaha Milik Negara dan Menteri Perhubungan mengenai masalah tiket ini. Bagaimana harga tiket agar bisa terjangkau. Sebab, ada wisatawan luar negeri yang menyampaikan kepada saya, “Ini kok tiket pesawat domestik mahal?”

Wisatawan dari negara mana?

Amerika. Saat terbang domestik, mereka membandingkan dengan penerbangan serupa di negara mereka. Ini salah satu tantangan kita, dan kami akan berusaha mengurangi harga tiket agar terjangkau. Jangan sampai wisatawan kita ke luar negeri dan devisa keluar. Sama saja bohong. Kita mati-matian mencari devisa, tapi dibawa keluar, kan, pusing lagi tuh.

Malaysia tahun lalu sukses menggaet 25,8 juta wisatawan luar negeri atau 10 juta lebih banyak dari Indonesia. Apa yang bisa kita pelajari dari pengelolaan pariwisata Malaysia?

Malaysia itu wisatawannya paling banyak dari Singapura. Cuma lompat pagar saja sudah dihitung wisatawan. Dari total hampir 26 juta wisatawan asing pada 2018, sebanyak 10,6 juta dari Singapura. Warga Singapura saja enggak segitu jumlahnya. Yang kedua dari Indonesia. Tahun lalu, 3,2 juta orang Indonesia ke Malaysia. Wisatawan nasional mesti kita tarik supaya enggak ke sana semua.

Apa yang membuat Malaysia menjadi daya tarik banyak turis?

Malaysia membangun pariwisata secara konsisten dan bertahap. Mereka membangun Tioman Island pada 1990-an, lalu Pantai Langkawi. Jadi bukan cuma Legoland dan Petronas. Belum lagi Genting Highlands dibikin atraksi tersendiri. Mereka mengklaim Tioman Island the most beautiful island in the world. Pas saya ke sana ternyata biasa saja. Tapi kan saya akhirnya tertarik ke sana. Jadi artinya promosinya oke. Kalau mau lebih, belajar lagi dari Thailand.

Mengapa Thailand?

Mereka membangun pariwisata sejak akhir 1980-an. Mereka secara masif membangun restoran-restoran Thailand yang berkelas di seluruh dunia. Kalau kita ke Boston, New York, Los Angeles, Sydney, restoran Thailand selalu ada.

Apa istimewanya restoran Thailand itu?

Semuanya didukung pemerintah Thailand. Bahkan bahan baku dan bumbunya dikirim dengan maskapai Thai Airways. Ini bukan masalah dagang, tapi mengenalkan Thailand ke dunia. Selain melalui promosi konvensional, cara mereka lewat makanan, sehingga ke mana pun kita pergi ada restoran Thailand. Vietnam kini mengikuti cara yang sama. Sekarang di mana saja ada restoran Vietnam, pho (mi khas Vietnam) itu.

Wishnutama Kusubandio (kanan) saat pembukaan kegiatan Indonesia Tourism Outlook 2020 di Nusa Dua, Bali, 22 November 2019. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf

Apa yang bisa kita pelajari dari situ?

Ini sebuah strategi. Thailand, contohnya. Kalau kita ke restoran Thailand di mana pun di dunia, ada yang premium. Tidak ada itu spanduk-spanduk “Visit Thailand”. Mereka benar-benar jual makanan, suasana, kerajinan tangan, semua dikelola baik. Saya pernah tinggal di kota kecil Framingham, sekitar satu setengah jam dari Boston, Massachusetts. Di sana ada restoran Thailand berkelas dan ramai. Itu 1990-an.

Pembelinya kebanyakan orang mana?

Semua saya lihat orang bule, bukan orang Thailand. Dan yang paling menyedihkan, rendang, sate, dan nasi goreng itu menu standar di semua restoran Thailand. Jadi, kalau dulu ada mahasiswa Indonesia kangen makanan Indonesia, perginya ke restoran Thailand. Artinya, apa yang dibangun itu ada masterplan.

Apa dampak rencana induk terhadap meningkatnya jumlah turis di suatu negara?

Awareness. Misalnya Jepang. Banyak orang datang ke Jepang karena mau ma­­­­kan ramen dan makanan Jepang lain. Itu menjadi daya tarik. Dalam hal restoran Thailand, itu yang dulu dise­but “The Win­dow of Thailand”.  Jadi mempro­mosi­kan pariwisata itu bisa dengan cara keras dan lunak. Cara keras lewat iklan. Tapi biasanya cara lunak yang lebih mengena.

Apakah Indonesia tidak memiliki rencana induk seperti itu?

Sejak menjadi menteri, saya mencari-cari masterplan pariwisata Indonesia. Sejak zamannya Pak Joop Ave (Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi 1993-1998) sampai sekarang, ternyata Indonesia belum punya masterplan pariwisata. Adanya per wilayah, tapi rencana besarnya enggak ada. Nah, ini salah satu yang hendak kami buat ke depan, termasuk ekonomi kreatif. Harus ada rencana besarnya.

Mengapa rencana induk sangat penting?

Ibaratnya begini. Kalau orang bikin real estate, semua direncanakan secara besar dulu. Kluster rumah, pengairan, listrik, diatur lokasinya. Kluster awal laku dulu, kalau sudah penuh, pindah membangun kluster baru. Lalu ada kluster untuk orang kaya, medium, atau kelas ekonomi. Tapi apa yang terjadi dengan lokasi wisata di Indonesia? Jika ada yang bagus, dikeroyok. Tidak ada masterplan yang komprehensif.

Bagaimana dengan program Visit Wonderful Indonesia?

Itu kan promosi. Belum bicara soal masterplan. Thailand, Malaysia, dan Uni Emirat Arab saja punya masterplan dari 5, 10, sampai 40 tahun ke depan.

Apakah segmentasi wisatawan masuk rencana induk?

Dari masterplan, baru kita tentukan turunannya. Ada pariwisata yang superpremium, medium, ekonomi, atau MICE. Pembangunan infrastrukturnya mengikuti itu. Setelahnya baru dipasarkan. Kita tidak bisa hanya menargetkan milenial. Ada keluarga juga. Cara promosinya harus beda, lewat platform digital dengan microtargeting.

Belum lama ini sempat ramai isu Bali dijadikan destinasi wisata halal atau lebih ramah wisatawan muslim. Sebetulnya bagaimana konsep wisata halal Anda?

Janganlah kita membesar-besarkan berita negatif. Bali selalu menjadi pilihan utama banyak wisatawan mancanegara. Hal itu terbukti salah satunya dari hal yang membuat Indonesia meraih penghargaan destinasi terbaik nomor satu di dunia dari Condé Nast Traveler (majalah perjalanan dan gaya hidup yang terbit di Amerika Serikat). Bali menjadi faktor pertimbangan utama dalam penilaian mereka. Selama ini Bali dikunjungi karena budaya dan alamnya. Dan semua wisatawan yang pernah ke Bali pasti merasakan hal itu.

Media Fodor’s Travel memasukkan Bali dan Pulau Komodo ke daftar tempat yang tak layak dikunjungi pada 2020, antara lain karena persoalan sampah dan ancaman terhadap kelestarian hewan langka. Tanggapan Anda?

Kami tidak hanya peduli persoalan sampah, tapi juga lingkungan hidup. Kami berupaya memaksimalkan koordinasi dengan semua pemerintah daerah karena penanganan kebersihan, termasuk di destinasi wisata, berada di tangan mereka. Peran masyarakat lokal melalui kelompok sadar wisata juga perlu kita berdayakan.

Badan Ekonomi Kreatif dilebur ke Kementerian Pariwisata. Tanggapan Anda?

Di negara lain, ekonomi kreatif biasanya digabung. Di Inggris digabung dengan ekonomi digital. Selain itu, ketika berada di level kementerian, ekonomi kreatif bisa bikin kebijakan dan regulasi yang punya dampak, jadi bukan sekadar rekomendasi. Kami akan merombak struktur organisasi secara besar-besaran pada awal Januari mendatang agar lebih efektif dan tangkas.

Saat menjadi badan terpisah, ekonomi kreatif menyumbang produk domestik bruto lebih dari Rp 1.000 triliun tahun lalu.

Kementerian dan Bekraf masing-masing menyumbang tinggi terhadap PDB. Kalau digabung, justru akan lebih produktif. Enggak bisa lagi ego sektoral, tapi kolaborasi dan bekerja sama. Pariwisata sekarang penghasil devisa terbesar kedua di Indonesia. Dengan penggabungan dua institusi ini, kami ingin pariwisata dapat menjadi penghasil devisa nomor satu.

 


 

Wishnutama Kusubandio

Tempat dan tanggal lahir: Jayapura, 4 Mei 1970

Pendidikan: Kooral­byn International School, Queensland, Australia; Interna­tional School of Singapore, Singapura; Norwich University-The Military College of Vermont, Amerika Serikat; Jurusan Liberal Arts, Mount Ida College, Boston, Amerika Serikat; Jurusan Komunikasi di Emerson College, Boston

Karier: Asisten Produksi New England Cable News, Amerika Serikat; Assistant Director On Air Promotion WHDH-TV, Amerika Serikat (1993-1994); Direktur Utama PT Duta Visual Nusantara Tivi Tujuh (2006-2008); Direktur Utama PT Televisi Transformasi Indonesia (2008-2012); Direktur PT Agranet (2011-2012); Komisaris PT Televisi Anak Spacetoon (2012-2014); Presiden Direktur PT Net Mediatama Televisi (2013-2018); Komisaris Kumparan.com (2017-2019); Komisaris Utama NET. (2019); Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (2019-sekarang)


Reporter Tempo - profile - https://majalah.tempo.co/profile/tempo?tempo=161843467821



Wawancara 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.