Wawancara 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Kami Bukan Juara Lagi

KEMENANGAN Marcus Fernaldi Gideon dan Kevin Sanjaya Sukamuljo di All England menjadi penyejuk di tengah seretnya prestasi bulu tangkis Indonesia. Tak hanya menjadi juara, mereka juga mendominasi nomor ganda putra di kejuaraan bulu tangkis tertua dunia yang berlangsung di Birmingham, Inggris, 7-12 Maret lalu, itu.

Sejak babak pertama turnamen super series paling bergengsi itu, Marcus dan Kevin hanya kehilangan satu set ketika bermain rubber game di semifinal melawan pasangan asal Denmark, Mads Conrad Petersen dan Mads Pieler Kolding. Di final, mereka menghentikan Li Junhui dan Liu Yuchen dari Cina dua set langsung, 21-19 dan 21-14. Padahal Marcus dan Kevin memasuki turnamen ini sebagai underdog, meski tahun lalu menjuarai Australia, India, dan Cina Terbuka. "Kami sering dipandang sebelah mata," kata Kevin, 21 tahun.

i

KEMENANGAN Marcus Fernaldi Gideon dan Kevin Sanjaya Sukamuljo di All England menjadi penyejuk di tengah seretnya prestasi bulu tangkis Indonesia. Tak hanya menjadi juara, mereka juga mendominasi nomor ganda putra di kejuaraan bulu tangkis tertua dunia yang berlangsung di Birmingham, Inggris, 7-12 Maret lalu, itu.

Sejak babak pertama turnamen super series paling bergengsi itu, Marcus dan Kevin hanya kehilangan satu set ketika bermain rubber game di semifinal melawan pasangan asal Denmark, Mads Conrad Petersen dan Mads Pieler Kolding. Di final, mereka menghentikan Li Junhui dan Liu Yuchen dari Cina dua set langsung, 21-19 dan 21-14. Padahal Marcus dan Kevin memasuki turnamen ini sebagai underdog, meski tahun lalu menjuarai Australia, India, dan Cina Terbuka. "Kami sering dipandang sebelah mata," kata Kevin, 21 tahun.

Menjuarai All England membuat ranking dunia mereka melambung dari peringkat kelima ke posisi puncak. "Kami membuktikan bukan sekadar beruntung saat juara sebelumnya," ujar Marcus, 26 tahun.


Kamis sore pekan lalu, di sela persiapan menghadapi India Terbuka di New Delhi pada 28 Maret-2 April nanti, Marcus dan Kevin menerima wartawan Tempo Raymundus Rikang dan Reza Maulana di Pusat Pelatihan Nasional Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia di Cipayung, Jakarta Timur. Dengan mata masih bengkak karena jetlag, keduanya bercerita tentang banyak hal, dari turnamen All England, pembinaan atlet, hingga bonus kemenangan mereka.

161835093859

Apa yang membedakan All England dengan tiga turnamen yang pernah kalian taklukkan?

Kevin: All England ini beda kasta. Jadi kami lebih bangga bisa menjadi juara di turnamen itu. Saya rasa semua pemain bulu tangkis bercita-cita menjadi juara di All England.

Setinggi apa tingkatannya dibanding turnamen lain?

Kevin: Olimpiade masih yang paling top. Diikuti Kejuaraan Dunia dan All England. Kemudian Asian Games. Kalau pebulu tangkis Indonesia bisa menjadi juara di semua turnamen itu, bisa dikatakan memiliki gelar komplet. Baru ada satu orang yang meraihnya, Hendra Setiawan. Pemain top lain belum ada yang selengkap dia. Pasti ada yang tidak diraih sampai pensiun. Misalnya Taufik Hidayat, yang belum memenangi All England.

Apakah posisi All England itu karena predikatnya sebagai turnamen yang berlangsung sejak 1899?

Kevin: Ya. Atmosfernya benar-benar beda. Lapangan di sana rasanya beda dengan lapangan di kejuaraan lain. Sewaktu masuk lapangan, hawanya beda. Susah menjelaskannya.

Marcus: All England turnamen akbar, di mana gelanggangnya-Barclaycard Arena berkapasitas 15.800 kursi-adalah yang terbesar untuk penyelenggaraan turnamen badminton. Penontonnya juga selalu penuh. Karena turnamen tertua, jadi dianggap wow kalau bisa juara di sana, meski hadiahnya masih kalah dibanding Indonesia Open.

Apa target yang diberikan pelatih di All England?

Marcus: Tidak secara personal. Coach Herry Iman Pierngadi ingin salah satu dari kami, Angga Pratama-Ricky Karanda Suwardi, atau Mohammad Ahsan yang kini berpasangan dengan Rian Agung Saputro bisa menyabet gelar di Inggris. Pelatih melihat kekuatan kami merata.

Bukankah Anda menjadi tumpuan juara karena punya peringkat lebih baik daripada mereka?

Marcus: Tidak. Kami pergi ke Inggris dengan ranking yang hampir sama dengan Angga/Ricky. Kami peringkat kelima, mereka kedelapan.

Apakah kemenangan ini sebagai tonggak untuk meraih gelar Olimpiade dan Kejuaraan Dunia?

Marcus: Kami menjawab tudingan miring bahwa di turnamen sebelumnya kami sekadar beruntung. Kami membuktikan sebagai pasangan yang bisa berprestasi di turnamen besar.

Benarkah pembuktian itu berkaitan dengan anggapan Anda sekadar pemain pelapis dan sempat diremehkan di pelatnas?

Kevin: Kami memang selalu disepelekan dan dianggap di bawah bayang-bayang Hendra Setiawan-Mohammad Ahsan dan Angga Pratama-Ricky Karanda Suwardi. Bahkan, setelah menjuarai India Open 2016, kami masih sering dipandang sebelah mata. Tapi kami tidak mau ambil pusing. Justru status itu membuat kami lebih menikmati setiap pertandingan karena tidak ada beban.

Apa yang membuat pandangan seperti itu muncul?

Marcus: Dulu ada dua kelompok latihan ganda putra di pelatnas. Ahsan-Hendra dan Angga-Ricky dilatih coach Herry, saya dan Kevin serta pemain junior lain dilatih Hafid Yusuf. Kami waktu itu sudah punya gelar super series. Di kepengurusan baru ini, berkat masukan Ricky Subagja dan Rexy Mainaky, kedua kelompok itu dilebur. Jadi kami berlatih bersama di bawah coach Herry, Mas Hafid menjadi asistennya.

Mengapa dulu dipisah?

Marcus: Lebih baik tanyakan ke kepengurusan PBSI sebelumnya. Saya bingung menjawab hal itu, ha-ha-ha....

Apa perbedaan setelah disatukan?

Marcus: Kami merasa lebih solid karena berjuang bersama-sama. Dulu rasanya seperti bermusuhan.

Siapa yang pertama kali memasangkan kalian?

Kevin: Coach Hafid, pada akhir 2014. Kami berpasangan karena tak sengaja lantaran pasangan saya, Salvanus Geh, cedera.

Apa yang dikatakan pelatih soal kecocokan Anda sebagai tim?

Kevin: Saya tipikal pemain di depan net, sementara Koh Sinyo-panggilan Marcus-cocok bermain di belakang. Pelatih melihat, meski kami bisa bertukar posisi di lapangan, karakter kami cocok dipasangkan. Selanjutnya, kami belajar beradaptasi sendiri, terutama belajar dari kekalahan dan kesalahan.

Siapa yang berperan sebagai pemimpin?

Marcus: Kevin. Karena dia berperan sebagai pemain di depan net yang cepat bergerak.

Marcus sempat bertandem dengan Hendra Setiawan. Apakah ini salah satu pengalaman yang menjadikan kalian juara?

Marcus: Saya belajar bermain bersama pemain dengan dua karakter berbeda. Koh Hendra yang sudah berumur agak berat mengejar bola tapi pandai membaca permainan dan arah pengembalian kok. Keterampilan itu diperoleh karena dia kenyang pengalaman. Sedangkan Kevin masih gesit sehingga dia bisa menjangkau bola-bola sulit.

Bagaimana Anda menularkan pengalaman itu ketika berpartner lagi dengan Kevin?

Marcus: Saya tak perlu mengajari Kevin macam-macam. Dia sudah tahu apa yang harus dilakukan. Malah saya kadang sering bertanya ke Kevin, bagaimana cara terbaik menghadapi lawan. Lagi pula Koh Hendra dan Kevin punya gaya bermain yang berbeda, tak bisa disamakan.

Kami mendengar Kevin pernah menolak dijadikan pemain ganda. Mengapa?

Kevin: Semua pemain badminton pasti awalnya ingin bermain di nomor tunggal. Sebab, nomor ini pamornya lebih tinggi. Saya pertama bermain di ganda waktu umur 13 tahun, karena permainan saya dinilai lebih cocok di ganda. Lupa siapa yang membujuk.

Setelah menjuarai All England, masih berpikir kalah pamor dari pemain tunggal?

Kevin: Tetap saja pamor ganda ada di nomor dua. Tapi sekarang pertandingan ganda putra banyak penggemarnya, karena orang bilang lebih seru.

Banyak pebulu tangkis Indonesia prestasinya melorot setelah menjuarai turnamen besar. Bagaimana kalian menghadapi kemungkinan itu?

Marcus: Kami tidak mau berpuas diri. Status juara All England disandangkan hari Ahad lalu, bukan sekarang. Jadi, menurut saya, sekarang kami sudah bukan juara lagi. Banyak turnamen yang menunggu kami.

Ada senior yang kalian contoh soal menjaga konsistensi ini?

Kevin: Koh Hendra. Dia pemain yang tidak pernah puas dan wajib dicontoh.

Ayah Marcus, Kurnia Hu, mantan atlet pelatnas. Sedangkan ayah Kevin rutin berlatih bulu tangkis. Seberapa besar pengaruh orang tua pada pencapaian kalian?

Kevin: Kecintaan saya pada badminton bermula dari melihat Ayah yang sering main. Saya pertama pegang raket waktu umur 3 tahun 6 bulan. Kemudian serius berlatih pada usia 5 tahun. Saya dan Ayah harus menempuh perjalanan 100 kilometer setiap latihan, dari Banyuwangi ke Jember. Sebab, Ayah melihat pelatih bagus untuk usia dini cuma ada di Jember.

Marcus: Saya diajak lihat Ayah latihan. Lalu mulai serius menekuni olahraga ini sejak usia 8 tahun. Saya dulu sering malu kalau kalah karena disinggung sebagai anak atlet nasional, he-he-he.... Sekarang saya sedikit lebih bagus mainnya dan bisa membanggakan Ayah.

Apa komentar orang tua ketika kalian menjuarai All England?

Marcus: Mereka langsung mengirim ucapan selamat lewat WhatsApp. Isinya: "Puji Tuhan, kalian mainnya bagus sekali." Saat itu memang sudah larut malam di Jakarta dan sepertinya, begitu mengirim pesan itu, orang tua saya langsung tidur, ha-ha-ha....

Kevin: Papa langsung menelepon. Dia bangga karena saya bisa meraih prestasi level dunia.

Menurut Anda, bagaimana kontrak sponsor individu yang digagas Gita Wirjawan, Ketua Umum PBSI 2012-2016?

Marcus: Skema itu sudah lama berlaku di luar negeri, tapi baru Pak Gita yang bisa menerapkannya di Indonesia. Kontrak individu membuat saya mengetahui nilai pribadi di mata sponsor, sehingga pengurus dan pelatih tak bisa seenaknya menentukan. Pemain pun berhak menentukan klausul dalam kontrak dan bernegosiasi dengan sponsor. Tak seperti pada masa lalu ketika banyak pemain sebal terhadap pelatih karena masalah kontrak. Skema ini juga sangat transparan karena seluruh uang langsung ditransfer ke pemain, tak ada potongan apa pun. PBSI hanya bertugas mengawasi.

Kevin: Kalau mau kontrak bagus, pemain harus berprestasi. Sementara itu, kalau prestasi standar, ya, kontraknya biasa saja. Mahal-murahnya nilai kontrak bergantung pada diri sendiri sehingga pemain harus mati-matian berusaha agar sponsor mau membayar mahal.

Ada kemungkinan sponsor mengevaluasi saat kontrak berjalan?

Kevin: Tergantung klausul. Ada pemain yang isi kontraknya memungkinkan sponsor mengurangi pembayaran bila ranking-nya melorot. Begitu juga sebaliknya, sponsor wajib memberi bonus bila pemain meraih gelar juara di turnamen bergengsi.

Sejauh mana sponsorship meningkatkan kesejahteraan atlet?

Marcus: Gambarannya adalah pemain yang baru masuk pelatnas belakangan ini sudah bisa membeli mobil. Dulu pemain junior tidak seenak sekarang, serba susah.

Sudah ada yang menjanjikan bonus setelah Anda menjuarai All England?

Kevin: Bapak Imam Nahrawi, Menteri Pemuda dan Olahraga, serta PBSI. Menpora berjanji mencairkan bonus Rp 250 juta. Kami masih belum tahu mau diapakan uang itu. Mungkin ditabung saja. Kalau klub saya, PB Djarum, sudah ada kepastian pemberian bonus pada 22 Maret 2017.

Benarkah perkara bonus sering memicu keretakan pasangan berbeda klub karena nilainya berbeda?

Marcus: Saya tak pernah memikirkan bonus yang diberikan klub. Saya malah malu meminta ke PB Tangkas, klub asal saya. Sebab, kemampuan finansial setiap klub berbeda. Sampai hari ini, klub belum memberi kabar soal bonus.

Bukankah perbedaan penerimaan seperti ini bisa menjadi gesekan?

Marcus: Tak ada pengaruh sama sekali terhadap kesolidan tim. Sebab, kami cuma memikirkan cara menjadi juara, alih-alih memikirkan bonus saat di lapangan. Makanya, ketika Menpora tanya soal bonus, Selasa lalu, saya menjawab tak memikirkannya.

Apa benar banyak atlet muda mengeluh soal minimnya kesempatan bertanding ke luar negeri?

Kevin: Itu zaman dulu. Kalau Anda bukan pemain muda yang luar biasa, jangan harap dikirim bertanding ke Eropa. Paling jauh Asia Tenggara, bahkan hanya sekelas sirkuit nasional di dalam negeri. Saya pernah mengalami masa itu. Namun sekarang semua pemain punya kesempatan sama bertanding ke semua turnamen, asalkan ranking-nya memenuhi. Apriani Rahayu, pemain ganda putri berusia 18 tahun yang bertanding di All England 2017, adalah contoh konkret. Dia belum lama masuk pelatnas tapi bisa langsung main di Eropa.

Kalian setuju dengan tudingan regenerasi pemain bulu tangkis Indonesia mandek?

Marcus: Kami ini bukti jalannya regenerasi pemain di pelatnas. Kalau pelatnas gagal melakukan regenerasi pemain, enggak bakal ada Kevin Sanjaya dan Marcus Gideon, he-he-he....

Kevin: Kalau mau jujur, banyak pemain junior di pelatnas sudah bisa mengimbangi kami saat latihan. Tapi mental bertanding mereka memang masih perlu diasah lagi.

Marcus: Menjadi pemain bintang mencakup talenta, semangat, fokus, jam terbang, dan keberuntungan juga. Biarpun pelatnas sudah membina, tak semua atlet punya keberuntungan menjadi pemain top. Susah mengorbitkan atlet top setiap tahun. Di Cina juga terjadi kemandekan lahirnya bintang baru bulu tangkis, meski bibit atletnya berlimpah.

Bagaimana sistem pembinaan pemain di Indonesia dibanding negara lain?

Kevin: Cina jelas luar biasa. Pemerintahnya mendukung pembinaan atlet dengan membangun kompleks olahraga terpadu berstandar internasional di hampir semua provinsi. Fasilitas pelatnas di sini kalah dibanding fasilitas olahraga kelas provinsi di Cina.

Bagaimana kalian melihat munculnya kekuatan baru, seperti Spanyol?

Marcus: Kalau mau menjadikan badminton sebagai olahraga populer, tak mungkin setiap kejuaraan pemenangnya Cina atau Indonesia saja. Saya senang sekali kekuatan bulu tangkis mulai merata. Kalau itu-itu saja yang juara, lama-lama All England akan bubar.

Kevin: Negara-negara lain berusaha keras menyamai level permainan Cina atau Indonesia. Mereka berlatih tanpa henti dan membangun fasilitas olahraga dengan kualitas terbaik di negara masing-masing.

Tidak merasa terancam?

Marcus: Justru makin banyak lawan, makin baik. Kalau enggak ada lawan, persaingan di olahraga ini akan terlihat membosankan.

Siapa lawan terberat Anda?

Marcus: Pasangan di peringkat sepuluh besar. Kemampuan kami hampir setara sehingga bisa saling mengalahkan. Tidak ada kepastian saat melawan A kita pasti menang dan melawan B kita pasti kalah.

Kevin: Ganda putra dari Cina berat, Korea Selatan susah, dan Denmark pun sering merepotkan. Makanya nomor ganda putra pada musim lalu tak ada yang dominan dalam kompetisi. Distribusi gelarnya merata.

Apa kelebihan dan kekurangan tandem Anda?

Marcus: Kevin bagus di depan net. Dia paling berani beradu pukulan. Seakan-akan tak takut lawan siapa pun. Jadinya seperti provokator di lapangan. Ada untungnya punya tandem seperti dia karena lawan bisa terpancing emosi dan susah mengendalikan permainan. Tapi, jeleknya, dia sering terburu-buru menyelesaikan pukulan di depan net.

Kevin: Marcus punya fighting spirit yang bagus. Kekuatannya juga dahsyat untuk mematikan lawan dari garis permainan di belakang. Hanya, dia kurang sabar menghadapi poin krusial. Inginnya sekali pukul mati.

Mengapa kalian dijuluki Minions?

Marcus: Kami enggak tahu siapa yang pertama kali menciptakan julukan itu-mengacu pada karakter monster kuning mungil di film Minions dan Despicable Me. Mungkin karena kami pemain badminton yang kecil-kecil, ha-ha-ha.... (Kevin bertinggi 170 sentimeter dan Marcus 167 sentimeter.)

Marcus Fernaldi Gideon

Tempat dan tanggal lahir: Jakarta, 9 Maret 1991 Klub: PB Tangkas Peringkat dunia: 1 (ganda putra)

Kevin Sanjaya Sukamuljo

Tempat dan tanggal lahir: Banyuwangi, Jawa Timur, 2 Agustus 1995 Klub: PB Djarum Peringkat dunia: 1 (ganda putra) Prestasi: Juara All England 2017, Juara Australia Terbuka 2016, Juara India Terbuka 2016, Juara Cina Terbuka 2016, Medali emas beregu SEA Games Singapura 2015


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161835093859



Wawancara 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.