Wawancara 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Mohammad Nuh, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan:
Pendidikan Kita Lemah di Etika

Dua bulan belakangan, rencana perubahan kurikulum sekolah dasar membuat sebagian orang tua siswa dan guru cemas. Para orang tua tidak sreg dengan penghapusan bahasa Inggris karena khawatir anak mereka kesulitan go international bila tak belajar bahasa asing sejak dini. Para guru tak kalah gundah. Peleburan ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan sosial dan ke dalam pelajaran bahasa Indonesia cukup membingungkan.

i

Dua bulan belakangan, rencana perubahan kurikulum sekolah dasar membuat sebagian orang tua siswa dan guru cemas. Para orang tua tidak sreg dengan penghapusan bahasa Inggris karena khawatir anak mereka kesulitan go international bila tak belajar bahasa asing sejak dini. Para guru tak kalah gundah. Peleburan ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan sosial dan ke dalam pelajaran bahasa Indonesia cukup membingungkan.

Ya, mulai tahun ajaran yang akan datang, anak SD akan mendapat menu belajar baru, yang lebih sederhana dibanding Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang berlaku sejak 2006. Saat ini, pembahasan kurikulum sedang berlangsung di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dari sebelas mata pelajaran yang ada di kurikulum sekarang, diperkirakan hanya lima hingga tujuh yang tersisa. "Berapa jumlah pastinya belum ditentukan," kata Menteri Mohammad Nuh.

Kendati memicu banyak kontroversi, penyederhanaan kurikulum boleh dianggap sebagai kabar baik. Ini jawaban atas keluhan beratnya beban yang harus dipikul anak-anak sekolah dasar. Selain mengikuti kurikulum nasional, anak-anak harus menelan muatan lokal berupa bahasa dan kebudayaan daerah setempat, plus sejumlah pelajaran agama bila belajar di sekolah berbasis agama. Tak mengherankan, tas sekolah anak SD menyamai ukuran ransel para backpacker.


Selain lebih sederhana, kurikulum baru diharapkan menumbuhkan kreativitas siswa serta cita rasa terhadap seni dan budaya. Karena itu, dalam pembahasannya, Kementerian melibatkan sejumlah sastrawan dan budayawan. "Agar ada sentuhan estetis," kata Menteri Pendidikan. Ia optimistis kurikulum baru bisa dirampungkan di pengujung tahun ini. Publik pun berkesempatan mengkritik draf kurikulum yang akan diunggah ke situs Internet Kementerian.

161833503932

Senin petang dua pekan lalu, Adek Media Roza dan Mitra Tarigan menemui Nuh di kantornya di Senayan, Jakarta, untuk sebuah wawancara khusus tentang pendidikan, terutama soal kurikulum baru tersebut.

Ada kesan, tiap ganti menteri, ada pergantian kurikulum.

Sebenarnya kesan itu hendak saya hindari. Tapi, kalau tidak diganti, nanti orang bilang kok kurikulum kayak begitu tetap dipakai. Saya cenderung memakai kata lebih halus, yaitu penataan dan penyempurnaan kurikulum. Salah satu butir kontrak kerja saya sebagai menteri adalah penyempurnaan kurikulum. Yang pertama dilakukan sebelum mengubahnya adalah review terhadap kurikulum saat ini.

Apa hasil review itu?

Beberapa titik perlu diperkuat, yaitu pendidikan karakter dan pendidikan empat pilar (belajar untuk mengetahui, belajar untuk berbuat, belajar untuk menjadi seseorang, dan belajar hidup bersama).

Banyak yang beranggapan kurikulum saat ini sangat membebani siswa. Anda setuju?

Soal beban memang harus ditinjau ulang. Bukan hanya beban belajar, tapi juga beban biaya. Di gedung ini (kantor Menteri) ada lukisan seorang siswa SD membawa pikulan berisi tumpukan buku dan uang. Itu simbol bahwa pendidikan kita berat sekali dari sisi uang dan materi pelajaran.

Kalau harus diubah, seperti apa kurikulum baru itu nanti?

Itu belum dapat saya sampaikan karena mungkin saja ada yang berubah kelak. Sampai hari ini, semua masih dalam pembahasan internal yang melibatkan tokoh-tokoh dari berbagai bidang, seperti Goenawan Mohamad, Taufik Abdullah, Anies Baswedan, dan Yohanes Surya. Dalam hitungan minggu kami rampungkan dan siap dilaporkan ke Wakil Presiden.

Dengan adanya kurikulum baru, apakah sekolah masih bisa memasukkan muatan lokal?

Tentu saja ada kesempatan bagi daerah untuk mengembangkan kekhasan di wilayahnya. Sebab, kalau tidak, dikhawatirkan akan ada penyeragaman. Muatan lokal dan local wisdom harus tetap ada, sehingga ada sumbu nasionalnya dan ada cabang-cabang kekhasan daerahnya. Tapi tetap kita batasi muatan lokal, jangan sampai yang nasional kita turunkan tapi muatan daerah dinaikkan, yang akan membebani anak-anak lagi.

Apa betul akan ada penyederhanaan sebelas mata pelajaran menjadi tujuh?

Kecenderungannya dikurangi, tapi pembahasan belum selesai. Kami memang lebih memilih siswa bisa mendalami beberapa pelajaran daripada ngecer-ngecer, tahu banyak hal tapi hanya sedikit-sedikit. Berapa jumlahnya, ini belum ditentukan.

Informasi beredar bahwa mata pelajaran IPA, IPS, dan bahasa Inggris akan dihilangkan.

Masyarakat tidak usah gelisah bahwa nanti IPA dan IPS hilang, juga bahasa Inggris. Pada saatnya akan kami sampaikan drafnya ke publik. Silakan menilai dan memberi masukan. Kami menghargai pendapat masyarakat yang ingin tetap ada pelajaran bahasa Inggris atau sebaliknya dengan alasan anak SD masih terlalu kecil. Semua kami catat.

Para guru yang mata pelajarannya akan dihapus atau diintegrasikan ke mata pelajaran lain tentu khawatir. Apalagi ada ketentuan guru harus mengajar minimal 24 jam per minggu untuk mendapat tunjangan.

Untuk guru sekolah dasar, tidak jadi masalah karena mereka adalah guru kelas dan mengajarkan hampir semua mata pelajaran. Nah, ke depan, untuk guru sekolah menengah pertama, kami ingin mendorong guru itu memiliki kompetensi mayor dan minor. Kalau guru hanya mengajarkan satu mata pelajaran mayor, dia bisa juga mengajarkan mata pelajaran lain sebagai minor. Dengan model itu, urusan 24 jam pelajaran bisa teratasi, termasuk dengan menambah lama dia di sekolah.

Berarti bisa menekan jumlah guru juga?

Betul, sistem mayor-minor itu bisa mengurangi populasi guru, yang sudah mencapai 2,9 juta, termasuk yang berstatus pegawai negeri sipil, honorer, dan swasta.

Ada rencana pengurangan mata pelajaran, tapi akan ada penambahan jam belajar. Apakah ini tidak kontradiktif?

Begini, dulu, ketika anak-anak pulang sekolah, di rumah ada ibu atau bapaknya. Lingkungan pun amat kondusif. Sekarang berbeda. Anak pulang sekolah, siapa yang ngopeni (menjaga)? Bapak-ibunya bekerja, kegiatan anak juga enggak jelas. Maka kami perpanjang waktu mereka di sekolah. Mereka lama di sekolah itu bukan berarti pelajaran matematikanya ditambah dari tiga jam menjadi tujuh jam. Tapi pengembangan talenta dan potensi bisa dilakukan di sekolah sehingga bisa dipertanggungjawabkan. Kegiatan ekstrakurikuler bisa ditambahkan di situ.

Maksud Anda, ini menjadi semacam pengganti kursus?

Kenapa anak itu ikut kursus atau bimbingan belajar? Karena ada gap antara ekspektasi di sekolah dan tuntutan di luar. Orang merasa enggak cukup kalau hanya belajar di sekolah. Lalu dengan pandainya lembaga-lembaga kursus mempromosikan "mana cukup kalau kamu hanya belajar di sekolah?". Padahal dulu saya enggak ikut kursus enggak apa-apa. Kalau kursus, kan, harus bayar lagi, tapi mendapat pelajaran tambahan di sekolah enggak bayar. Penambahan jam di sekolah bisa diisi dengan materi tambahan sehingga bisa mengurangi biaya.

Selama ini kurikulum kita dianggap kurang memacu kreativitas siswa. Contohnya, siswa lebih sering dipaksa menghafal dan menyelesaikan soal sesuai dengan cara yang ditentukan guru atau buku. Apakah kurikulum baru bisa membuat siswa menjadi kreatif?

Di kurikulum baru ini kami lebih mendorong anak melakukan observasi. Kami ingin anak memiliki intellectual curiosity. Ini akar kreativitas dan inovasi. Anak dirangsang untuk bertanya dan ingin tahu kenapa. Jadi, laboratoriumnya pun enggak di ruangan saja, tapi bisa di luar. Kenapa bunga warnanya merah? Kenapa daun ini hijau?

Ada ide apa saja untuk membuat siswa mencintai seni dan budaya?

Melalui pendidikan ini, kita membangun peradaban, yang merupakan paduan cipta, rasa, dan karsa. Rasa biasanya mendorong ke urusan seni dan budaya. Karena itu, kami mengundang ahli-ahli seni dan budaya untuk terlibat dalam pembahasan kurikulum. Kami ingin kehadiran mereka memberi sentuhan estetika, selain logika dan etika. Nah, yang berat kan soal etika. Kita lemah di sini.

Bagaimana skenario implementasi kurikulum baru? Langsung atau bertahap?

Kami berharap kurikulum ini bisa digunakan pada tahun ajaran 2013/2014. Implementasinya sudah kami susun. Apakah dimulai di kelas I sampai VI secara serempak di seluruh Indonesia, atau bisa bertahap, kelas I sampai III dulu, kemudian kelas IV sampai VI. Tapi tidak mungkin kita ubah langsung semuanya. Nanti pada bingung semua. Soal implementasi masih dibahas.

Apakah akan ada uji publik?

Ya, ada tiga cara uji publik. Pertama, uji publik pasif, yaitu akan di-upload di website Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sehingga semua bisa mengakses. Kedua, membentuk focus group discussion dengan berbagai organisasi dan perwakilan orang tua untuk memberi masukan. Ketiga, mengadakan seminar-seminar.

Apakah para guru siap dengan tuntutan kurikulum baru ini?

Tentu guru sangat penting karena merekalah yang akan melaksanakan kurikulum baru ini. Kami akan mengundang para guru untuk sosialisasi.

Sebagus apa pun kurikulumnya, sulit diimplementasikan bila kualitas guru tak diperbaiki….

Ya, banyak yang bilang, percuma kalau cuma kurikulum yang diperbaiki. Maka kualitas guru harus ditingkatkan. Karena itu, ada uji kompetensi guru dan sertifikasi. Juga ada pelatihan untuk melaksanakan kurikulum baru.

Uji kompetensi banyak menuai kritik, bahkan ada judicial review terhadap peraturan Menteri Pendidikan tentang uji kompetensi guru.

Uji kompetensi guru merupakan harga mati sehingga terus dilakukan secara bertahap. Kenapa kompetensi guru harus terjamin? Kalau dokter enggak profesional, yang terjadi adalah malpraktek dan paling banter pasien meninggal. Tapi, kalau guru tidak profesional, yang akan terjadi adalah "mal-mengajar". Kalau "mal-mengajar", yang mati itu akal dan hati. Kalau itu terjadi pada seseorang, sepanjang hidupnya ia akan menjadi beban masyarakat.

Adakah perlakuan khusus untuk perbaikan kualitas guru di daerah tertinggal, seperti Papua?

Papua, karena daerah khusus, kami kirim guru ke sana, juga ke Nusa Tenggara Timur. Kami mengirim lebih dari seribu guru, yang kami seleksi dari 8.000-an pendaftar. Mereka kami gaji, tapi bukan sebagai pegawai negeri sipil. Mereka punya kesempatan ikut pelatihan menjadi guru, sehingga dari situ bisa melamar jadi pegawai negeri.

Mohammad Nuh,
Surabaya, 17 Juni 1959

Pendidikan:

  • Sarjana, Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, 1983
  • Master, Universite Science et Technique du Languedoc, Montpellier, Prancis, 1987
  • Doktor, Universite Science et Technique du Languedoc, Montpellier, Prancis 1990

    Karier:

  • Dosen Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, mulai 1984
  • Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, 2003-2007
  • Menteri Komunikasi dan Informatika, 2007-2009
  • Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, 2009 -2014


    Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161833503932



  • Wawancara 1/1

    Sebelumnya Selanjutnya

    Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

    4 artikel gratis setelah Register.