Televisi 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Bernyanyi dengan Terbata-bata

Yayasan Kehati membuat film tentang keanekaragaman hayati. Sayang, kemasannya terasa membosankan.

i

Desaku Bernyanyi
Sutradara dan skenario:Hermawan Rianto
Pemain:Emil Salim, Mustofa Bisri, Mohammad Sobary, Nurul Arifin, dan Marsha S. Adiyuta
DESA adalah rumah besar buat gadis kecil itu. Dia menghabiskan waktu dengan bernyanyi berkeliling kampung dan bermain bersama si Mumu, musang peliharaannya. Gadis kecil ini juga punya kebiasaan menguping obrolan (yang sebetulnya lebih mirip monolog) antara ayahnya dan teman sang ayah soal cara merawat alam. Untuk anak seusianya, ia cukup jenius menangkap tuturan orang dewasa itu. Pentingnya kesadaran akan kelestarian alam kemudian tumbuh dalam dirinya. Dia segera mengembalikan si Mumu ke habitatnya, sambil berujar, "Inilah yang bisa aku lakukan sendiri."

Betapa mudah persoalan diselesaikan. Namun, begitulah alur cerita Desaku Bernyanyi yang ditayangkan serentak di lima stasiun televisi swasta, Ahad pekan lalu. Dan, harap maklum, karena punya misi menumbuhkan kepedulian anak-anak terhadap alam, jalan cerita menjadi sekadar pembalut. Film ini memang merupakan bagian kampanye Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (Kehati), yang produksinya dilakukan Kelompok Kerja Seni Mata Air.

Awalnya, film ini sebuah tontonan yang cukup menarik, menampilkan kehidupan Desa Melikan, Pagerjurang, Klaten, Jawa Tengah, dengan kekayaan satwa seperti kucing hutan, landak, trenggiling, dan ayam hutan. Bahkan, beberapa gambar harus diambil di tempat lain, seperti Pulau Burung, Banten, dan Kalimantan. "Anak-anak bisa mengenal sesuatu yang biasanya selalu luput karena mereka hanya melihat sawah dari mobil atau vila," kata Hermawan Rianto, sutradara dan penulis skenario film ini.

Namun, kemudian, film berdurasi 48 menit ini mendadak macet. Gambar yang menarik tiba-tiba lenyap. Kamera menyorot dengan close up wajah Mustofa Bisri (berperan sebagai Kakek), Mohammad Sobary (Ayah), dan Emil Salim (teman sang Ayah). Ketimbang menonton akting yang tegang dan dipaksakan, rasanya masih lebih enak menonton para tokoh ini dalam talk show atau seminar, yang tampak wajar dan rileks.

Ketiga orang itu agaknya diharapkan bisa menjadi daya tarik. Malah, rencananya, Megawati akan ikut diajak bermain dalam sinetron ini—tapi, karena situasi politik yang makin panas kala itu, niat tersebut diurungkan. Namun, nama besar itu, di dalam film, ternyata sama sekali tidak berarti. Sebab, film cerita ataupun dokumenter membutuhkan kemampuan berakting, bukan nama besar atau ketokohan. Emil Salim sendiri merasa kerepotan menghafal dialog, sampai-sampai harus mengulang tujuh hingga sembilan kali adegan yang sama.

Kerendahan hati dalam sikap film ini juga hilang. Dialog yang meluncur dari mulut para pemain terasa menggurui. Simaklah ucapan si Ayah: "Untuk mempertahankan kawasan seperti ini, dibutuhkan sebuah sikap bangga menjadi orang desa." Ibunya tak kalah pinter: "Pemerintah harus menjadi bagian dari kegiatan." Bila tayangan ini ditujukan kepada keluarga, seperti kata sutradara dan pihak Kehati, tentu para orang tua harus menjelaskan kembali makna kalimat itu kepada anak-anaknya. Kecuali sang anak (Marsha S. Adiyuta), hampir semua tokoh dalam film ini berperan menjadi hero, termasuk Ibu Guru (Nurul Arifin).

Namun, tema keanekaragaman hayati semacam ini memang termasuk baru dalam sinema elektronik kita, meski bukan yang pertama. Setahun silam, World Wildlife Fund (WWF) dan Miles Production bekerja sama dengan RCTI memproduksi serial Bumiku Satu, sebuah serial semidokumenter yang berkisah tentang lingkungan. Seperti Desaku Bernyanyi, empat episode Bumiku Satu mengandalkan selebriti seperti artis Syahnaz Haque, fotografer Rio Helmi, dan penari Linda Hoemar. Namun, memang jenis film seperti ini bak naskah kuno, yang kaya tema tapi, karena jarang dibuka, ketika dibaca menjadi terbata-bata karena kelunya lidah. Maka, upaya menampilkan tema langka seperti itu patutlah dipuji. Terlebih, di era kapitalisme, televisi telah dibanjiri film yang cuma menjual mimpi. "Kami harap kampanye dengan media audiovisual ini jangkauan sasarannya menjadi lebih luas," tutur Emil Salim, yang ditemui saat syuting.

Cuma, di waktu mendatang, bila tayangan semacam ini makin banyak, soal kualitas juga perlu diperhatikan. "Kami evaluasi dulu baik respons publik maupun tingkat pemahaman masyarakat setelah menyaksikan film tersebut," ujar Dinar Prasetyawati, manajer program peningkatan dan kesadaran masyarakat Yayasan Kehati.

Irfan Budiman, Dwi Arjanto, L.N. Idayanie (Yogyakarta)


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836152375



Televisi 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.