Teater 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Mengupas Lagi Identitas

Literature and Ideas Festival 2019 mengusung tema identitas dan sejarah. Seniman Indonesia dan Belanda berkolaborasi sebagai penampil.

i Samudra oleh Robin Block di Teater Salihara, Jakarta, 13 Oktober 2019. Salihara/Witjak Widhi Cahya
Samudra oleh Robin Block di Teater Salihara, Jakarta, 13 Oktober 2019. Salihara/Witjak Widhi Cahya

TAK banyak bekal yang dibawa Robin Block di Teater Salihara, Jakarta, Ahad, 13 Oktober lalu. Di antaranya botol hijau kecil minyak kayu putih dan penanak nasi. Tapi lewat peranti seadanya itulah pria asal Amsterdam, Belanda, ini menarik perhatian ratusan penonton. Siang itu, Block menggiring penonton masuk ke dunianya. Ia mendongeng, juga sesekali bernyanyi dan unjuk kemampuan pencak silatnya, dalam pentas berjudul Samudra.

Awalnya, Block berusaha menunjukkan kemampuannya berbahasa Indonesia sebagai bukti bahwa ada seulas gen pribumi dalam darahnya. Namun kemudian ia tergelak sendiri, seolah-olah menertawai betapa kacau bahasanya, sampai kemudian memilih berbahasa Inggris saja.

Botol minyak kayu putih itu pun menjadi medium atraktif yang mendekatkan penonton kepada Block. Saat ia menunjukkan botol itu, riuh tawa seketika menggema menimpali anekdotnya. “Saya senang melihat reaksi penonton melihat botol minyak kayu putih. Mungkin karena benda itu punya keterikatan dengan budaya masyarakat di sini, juga keturunan Belanda-Indonesia seperti saya,” ujarnya.

Dengan minyak kayu putih, Block membuka kisahnya. Ia bercerita, minyak itu mengingatkannya pada masa kanak-kanak, pada bau kakek dan nenek buyutnya, Michael dan Samina, saat mereka mendekapnya. Michael orang Belanda, bos perkebunan tembakau di Blitar, Jawa Timur. Tapi sosok Samina, yang asli Jawa, tak banyak diketahui anak-cucunya. Hanya sedikit kenangan tentang keduanya yang tertinggal di benak Block. Salah satunya saat Michael dan Samina muda berlayar ke Belanda dan sempat menetap di sana.


Block menempuh arah berlawanan dengan terbang ke Indonesia beberapa tahun lalu. Ia menyeberangi benua, melintasi negara, budaya, juga identitas. Perjalanan itu menjadi alasannya menyematkan judul Samudra untuk pentas ini. “Identitas adalah hal yang cair buat saya karena bisa tumbuh, berubah, dan melebur dengan apa pun, menyesuaikan diri dengan sekitarnya baik secara politik maupun personal,” kata Block, yang menulis buku puisi In Between, di Antara bersama penulis asal Indonesia, Angelina Enny.

162113464127

Kegelisahan akan identitas inilah yang membimbing Block menyusuri kelanjutan nasib Michael dan Samina, yang pada masa tuanya kembali ke Indonesia. Ceritanya pada titik tertentu mencapai klimaks sampai membuat sebagian penonton menangis sesenggukan karena tersentuh. Terutama saat ia membaurkan ujung takdir Michael di Indonesia dengan pengalaman sang kakek buyut sebagai bagian dari kolonialisme yang memarut luka warga negeri ini.

Block menuturkan kisahnya tak hanya lewat narasi. Ia juga bernyanyi dalam berbagai bahasa dan jumpalitan memamerkan jurus-jurus pencak silat. Block mulai mempelajati bela diri khas Indonesia ini tujuh tahun lalu di Belanda dengan aliran Setia Hati Anoman. “Lewat Samudra, saya berusaha menyembuhkan luka-luka lama. Tak hanya dengan menengok kembali masa lampau, tapi juga masa kini dengan mencari lagi keluarga saya di Blitar, serta bekerja sama dengan seniman Indonesia,” tutur Block, yang mendirikan kelompok teater Project Wildemen.

Sebelum dipentaskan di Salihara, Samudra naik panggung di Belanda tahun lalu. Untuk dua pementasan ini, Block bersandar pada naskah dan elemen yang sama. Di Salihara, Samudra menjadi salah satu bagian Literature and Ideas Festival (LIFEs) yang berlangsung pada 12-20 Oktober 2019. Dua belas seniman lintas disiplin dari Indonesia dan Belanda terlibat menjadi penampil, juga sebagai pembicara berbagai acara diskusi, dalam festival bertema “My Story, Shared History” ini.

Salah satunya Indonesia Dramatic Reading Festival, yang menyuguhkan Plunge. Untuk lakon empat babak ini, Indonesia Dramatic Reading Festival diwakili kelompok dari Yogyakarta, Kandang Jaran. Plunge sejatinya naskah teater yang dikerjakan pakar ekonomi sekaligus seniman teater asal Singapura, Jean Tay. Karya Tay pernah dipentaskan di Amerika Serikat, Inggris, juga Italia, dan empat kali menjadi nomine naskah terbaik Life! Theatre Awards.

Oleh Muhammad Abe dari Kandang Jaran, naskah Tay diracik dengan formula baru yang lebih kental unsur lokal. Ia membubuhkan celetukan seperti “buzzer”, “komunis”, dan “antek”, yang belakangan kerap dibicarakan. Menurut Abe, Tay, yang juga hadir di LIFEs sebagai pemateri diskusi, sudah merestui naskah itu sedikit dibumbui tanpa membuang “dagingnya”.

Format dramatic reading atau pembacaan dramatis menjadi pekerjaan yang menantang buat Abe. Sebagai penerjemah, ia memilih mengulik naskah lawas Plunge ketimbang versi baru yang direvisi Tay berjudul Boom. “Saya katakan pada Jean bahwa naskah ini penting untuk Indonesia, apalagi belum pernah dipentaskan di sini,” ucap Abe. Naskah Plunge dinilai Abe menarik karena Tay membicarakan terjun bebasnya perekonomian Asia Tenggara pada akhir 1990-an dan “Tragedi 1998” di Indonesia dengan cara yang unik. “Apalagi ia seorang ekonom.”

Plunge terbagi menjadi empat babak dengan empat penampil, yakni Alex Suhendra (sebagai lelaki A), Ficky Tri Sanjaya (lelaki B), Irfanuddien Ghozali (lelaki C), serta Nilam Hamid Syaiful (memerankan Isabel dan Ina). Untuk drama yang berlangsung selama lebih dari satu jam ini, keempatnya berbagi tugas. Ghozali merangkap sebagai narator, Ficky menjadi semacam gudang yang menggelontorkan efek suara-suara aneh, sementara Alex ibarat beo yang mudah saja menirukan berbagai macam suara dan gaya bicara. “Ketiganya adalah representasi ‘suara’, dan kadang juga mewakili maskulinitas,” ujar Abe.

Plunge oleh Indonesia Dramatic Reading Festival di Teater Salihara, Jakarta. Salihara/Witjak Widhi Cahya

Pilihan Abe mengolah Plunge dengan formula baru menjadikan drama ini lebih segar. Walau tema yang diusung lumayan “berat”, dan keempat penampil hanya berdiri sambil membacakan naskahnya, mereka mampu menggiring penonton ke masa yang menjadi latar waktu dan tempat. Imajinasi penonton dimainkan lewat intonasi dan kalimat-kalimat deskriptif. Misalnya saat Ghozali menerangkan soal lanskap gedung pencakar langit berwarna perak berkilauan di Singapura. Juga soal Isabel, perempuan 20-an tahun pembaca berita di Singapura yang berwajah menawan tanpa cela. Serta soal Ina alias Ai Nah, perempuan Jakarta keturunan Cina yang seumur dengan Isabel.

Berlatar 2 Juli 1997 hingga Juni 1998, Plunge secara selang-seling menyorot Ina dan Isabel. Bagian Isabel diisi dengan narasi yang ia bawakan saat tampil membacakan berita layar kaca. Ia berceloteh tanpa emosi, seperti kebanyakan pembaca berita televisi, tentang nilai tukar mata uang berbagai negara yang anjlok. Kemudian cahaya bergantian menyorot lelaki A, B, dan C. Narasi yang dibawakan ketiganya amat jenaka dan usil sehingga membuat penonton tertawa melulu.

Kadang kekonyolan tiga lelaki itu terdengar sarkastis, seperti saat mengomentari curhat Ina mengenai bapaknya yang melarang apa pun yang berbau Cina ada di rumah mereka. Dalam Plunge, kritik terhadap rasisme dan ketidakadilan berkelindan. Ada kemarahan atas asimilasi, pelarangan praktik keagamaan pada era Orde Baru, juga paranoia terhadap aksara Cina.

Materi itu silih berganti dengan keberisikan tiga penampil pria. Alex sangat bersinar dengan kelihaiannya bersalin suara dan memainkan gestur. Pada satu waktu, ia memerankan ilmuwan yang berceloteh tanpa jeda seperti komentator pertandingan sepak bola. Di lain waktu, ia menjadi pengamat ekonomi yang cadel dan centil berbicara. Saking luwesnya cara Alex bertutur dan bergerak, narasi apa pun yang dibawakannya hampir selalu membuat penonton terbahak.

Tawa penonton lenyap saat cahaya yang menyorot Isabel di panggung surut. Gantinya Ina yang ringkih, marah, meratapi pemerkosaan terhadap perempuan-perempuan keturunan Cina dalam kerusuhan. Di sudut lain di Singapura, Isabel “menyerah”, tak bisa lagi pasrah sekadar menyuarakan teks berita. Hatinya kalut membayangkan Ina dan perempuan Tionghoa lain memendam luka. Ia berjalan ke antara bangku penonton, lalu terdiam. “Aku selama ini tidak mendengar apa-apa. Hanya ada bising suara penyejuk udara,” ujarnya, kemudian menangis. Dan, malam itu, penonton ikut menangis bersamanya.

ISMA SAVITRI

Reporter Isma Savitri - profile - https://majalah.tempo.co/profile/isma-savitri?isma-savitri=162113464127



Teater 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.