Teater 1/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Tuan Quixote dalam Boneka

Kelompok teater asal Spanyol, Bambalina, mementaskan lakon wayang boneka Quijote. Memperingati 400 tahun penerbitan jilid kedua novel Miguel de Cervantes.

i

Don Quixote nyaris tenggelam kalah tinggi oleh tumpukan buku yang ada di hadapannya. Seperti orang sakaw, ia lahap semua halaman. Habis selembar, ia berceracau. Dua lembar, kembali berceracau. Tak henti-henti ia berceracau, lama-lama terlihat seperti orang gila. Don Quixote dalam versi boneka kayu itu belingsatan oleh imajinasi yang muncul di kepalanya. Sumpit pun ia kira pedang dan tudung gelas ia kira perisainya. Hah...! Si kesatria jadi-jadian mengangkat pedang dan mencabik-cabik udara dengan gagahnya.

Itulah adegan pembuka lakon wayang boneka Quijote yang ditampilkan kelompok teater Bambalina dari Valencia, Spanyol, di auditorium Institut Français d'Indonésie, Jakarta, 22 Mei lalu. Lakon berdurasi satu setengah jam itu dimainkan oleh dua dalang bule, David Durán dan Ángel Fìgols. Quijote dipentaskan secara minimalis jika dibandingkan dengan karya-karya lain Bambalina. Penerangan panggung hanya bersumber dari belasan lilin yang ditaruh dan dinyalakan di ujung meja. Mereka tak memanfaatkan lampu-lampu sorot atau lampu par sebagaimana umumnya pertunjukan teater.

Pun Quixote dipentaskan tanpa ada bahasa pengantar. Puisi, epitaf, prosa, dan stanza yang bertaburan dalam novel karya Miguel de Cervantes itu diganti dengan kata-kata yang tak keruan ujung pangkalnya dari para aktor. Bambalina sengaja tak menggunakan bahasa karena lakon ini akan dipentaskan di banyak negara. "Agar semua orang bisa memahami," kata Fìgols.


Ruang gerak para aktor dan boneka pun tak lebih lebar dari meja empat meter berselubung taplak hitam. Lakon dibikin dengan asumsi penonton sudah tahu garis besar cerita yang ditulis oleh Miguel de Cervantes pada 1605 tersebut. Tak ada narasi yang memberi tahu penonton bahwa boneka kayu satu lagi adalah Sancho Panza, si petani lugu teman bertualang Don Quixote.

161895981544

Penonton juga harus menebak-nebak ketika ada boneka mungil dengan rambut pirang bergaun hijau melompat riang ke sana-kemari adalah Dulcineadel Toboso, kekasih hati si Don yang ditemuinya di sebuah kastil khayalan. Fìgols mengatakan menerjemahkan novel Cervantes sepanjang ribuan halaman ke dalam pentas wayang boneka 90 menit bukan perkara mudah. Ia tak mungkin menghadirkan cerita Don Quixote secara utuh. "Karena itu, kami ambil bagian-bagian yang penting saja," ujarnya.

Dalam teater boneka itu, kuda kesayangan Tuan Quixote, Rosinante, tampak seperti kuda yang terbuat dari sumpit. Yang menarik, tatkala adegan pertemuan Don Quixote dengan kincir angin yang ia kira adalah raksasa, para dalang yang berpakaian serba hitam juga ikut mengintervensi cerita. Durán dan Fìgols beradu akting dengan wayang boneka. Padahal wayang boneka itu mereka juga yang kendalikan.

Bambalina telah mementaskan ratusan karya sejak dibentuk pada 1991. Tur lakon Quixote ini digelar dalam rangka memperingati 400 tahun terbitnya jilid dua novel Don Quixote. Novel dengan judul asli El Ingenioso Hidalgo Don Quixote de la Mancha itu pertama kali dirilis pada 1605. Jilid pertama Don Quixote laku keras. Dalam setahun, semua cetakannya habis. Sepuluh tahun kemudian, jilid kedua dirilis. Rilisan terbaru itu pun menuai sukses serupa yang pertama. Setahun setelah jilid kedua dicetak, Cervantes wafat.

Sebelum bertandang ke Indonesia, lakon ini dipentaskan di Cina, Jepang, India, dan Filipina. "Setelah ini kami akan ke Malaysia," kata Fìgols. Sayang, promosi acara tak maksimal sehingga hadirin yang datang ke pentas di Jakarta hanya sedikit. Tak lebih dari 50 orang.

Ananda Badudu


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161895981544



Teater 1/2

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.