Teater 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Shakuntala: Ilusi dan Alusi Kelamin

Teater Garasi menggelar lakon Shakuntala. Sosok yang meyakini tubuh tak kalah spiritual ketimbang bukan tubuh. Juga perempuan dan lelaki hidup bersama dalam satu diri.

i

Namaku Shakuntala. Ayahku menyebutku sundal. Sebab aku telah tidur dengan beberapa laki-laki dan beberapa perempuan. Meski tidak menarik bayaran….

Begitulah perempuan itu menjelaskan dirinya. Ungkapan yang padat, berdaya tenung kuat, tak hanya cukup untuk menandai diri, tapi juga mengisyaratkan betapa pengalaman hidupnya diwarnai sengkarut persoalan. Naomi Srikandi mengawali paparan pertunjukannya, Shakuntala, dengan kutipan itu. Penonton yang belum membaca Saman dan Larung, dua novel Ayu Utami yang menjadi induk lakon itu, mungkin terhenyak lalu bersiaga dengan debar dada, menduga-duga sensasi yang barangkali bakal beruntun menyusulnya.

Sebelum kata-kata berlepasan dari mulut perempuan ”sundal” itu, mungkin kita sudah bisa tahu bahwa di selingkup ruang hidupnya tengah berkecamuk sejumlah masalah seksualitas. Set garapan Titarubi, dengan pilihan bentuk dan corak minimalis, ditambah tata cahaya arahan Johan Didik, seakan dirancang untuk menghadirkan citraan dualisme seksualitas: feminin dan maskulin.


Orang bisa menafsir tata artistik seperti itu sebagai pewujudan atas gagasan tentang keseimbangan, semakna yin-yang dalam Taoisme, di mana sifat lelaki dan perempuan saling mengisi, melengkapi. Namun, jika diperhatikan detailnya, akan terbaca bahwa keberbedaan kelamin di sana bukanlah entitas yang tenteram berdampingan. Lihat, misalnya, di tengah ruang itu bercokol sebuah lemari berbentuk palus, keempat kakinya yang serupa keris menghunjam bantal besar merah darah.

161830662090

Shakuntala memang bertutur juga tentang trauma seksual yang dialami temannya atau orang lain. Tapi ia sendiri luput dari limburan masalah psikologis seperti itu. Ia, yang meyakini tubuh tak kalah spiritual ketimbang yang bukan tubuh, cenderung menghayati hubungan kelamin sebagai bagian dari cara merayakan hidup. Perbedaan bukan masalah baginya, sebab ia menyadari bahwa setiap manusia tidak terdiri atas satu pribadi. Dalam diri setiap orang berdiam pribadi lain, meski keberadaannya tak selalu disadari.

Melalui psikoanalisis kita mengenal Anima—”jiwa” yang terisolasi di dasar ruang bawah sadar. Ada kalanya ia bangkit menyeruak ke permukaan, seakan hendak menegaskan bahwa ia ada. Tapi kesadaran pikiran dan pancaindra kita senantiasa gagap merumuskannya. Barangkali ia lelaki di dalam diri perempuan, atau ia perempuan di dalam diri lelaki. Barangkali ia jenis lain, sebagaimana keyakinan Shakuntala tentang adanya kelamin lain yang bahkan tak dikenal oleh para peletak dasar bangunan citra seksualitas kita, para orang tua.

Perempuan dan lelaki hidup bersama dalam diri Shakuntala. Karena itu, ia bisa nyaman tidur dengan keduanya. Kekuatan teks Ayu Utami itu, selain kaya permainan makna yang tangkas, adalah muatannya yang sarat ambiguitas. Dan Naomi Srikandi, selaku sutradara dan pemeran Shakuntala, mampu menghidupkan teks dan karakter yang kompleks itu, meski pada beberapa ruas terasa masih belum luwes.

Dalam repertoar produksi Teater Garasi berdurasi sekitar 60 menit yang digelar di Lembaga Indonesia-Prancis, Yogyakarta, 18-19 Mei lalu, Naomi sekaligus memerankan hampir semua karakter—kecuali tokoh Yasmin dan Cok, yang dibawakan secara wajar dan segar oleh Citra Pratiwi dan Sri Qadariatin. Ada cameo lain, seorang pengamat masalah perempuan, diperankan Alia Swastika. Tokoh ini tak ada dalam naskah asli. Ditayangkan dalam format talk show, di mana Naomi menjadi seorang presenter televisi. Sebagai teks tambahan, bagian ini sesungguhnya tidak memperkaya. Tema yang dibicarakan hanya mengulang persoalan yang telah dipaparkan Ayu, bahkan hanya selintasan dan tidak mendalam.

Ambiguitas kelamin dalam diri Shakuntala, juga pola pikirnya yang cenderung ekstrem dan beda, juga ditegaskan secara cerdas oleh video art karya Ifa Isfansyah. Yang kurang tanak tentu musik kelompok Airport Radio. Irama yang diangankan sebagai pop jazz, dengan gebukan drum dan tiupan flute yang kadang melebihi porsi, terasa meleset dari tafsir dan mengusik harmoni pertunjukan yang kontemplatif: set yang klinis dan puitis, tata cahaya yang sesekali mewakili ”dunia dalam”, dan video art yang tidak hanya menggambarkan perjalanan tubuh, tapi bahkan cara pandang dan ilusi-ilusi Shakuntala.

Sebagai buah penyutradaraan pertama Naomi, pertunjukan itu ibarat langkah awal yang nyaris tanpa aral. Sejumlah kelemahan pada akting dan mise en scene bisa menjadi bekal berharga bagi perjalanan selanjutnya. Ketaksempurnaan mendorong kita berintrospeksi. Sebagaimana dikatakan Shakuntala, ”Karena itu aku selalu kembali ke ruang dalam diriku sendiri.”

Sitok Srengenge


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161830662090



Teater 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.