Teater 1/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Jalan Panjang Mengemas Sang Maut

i
PERJALANAN menuju sang Maut sungguh panjang dan berliku. Ini terlihat dari proses penciptaan opera Kali, yang panjang dan tersendat dana. Gagasan pementasan ini muncul pertama kali setelah duo musisi Tony Prabowo dan Jarrad Powell menggarap pertunjukan Visible Religion pada 1994. Setelah berpeluh mengaduk ide dalam pementasan tersebut, Tony menyampaikan kepada koleganya itu, "Sebelum mati, saya ingin membuat pertunjukan opera."

Setahun kemudian, Powell mengirim kabar baik bagi Tony bahwa ia telah mendapatkan sponsor untuk proyeknya itu. Maka, mereka kemudian bergerak mencari cerita yang akan diangkat menjadi sebuah pertunjukan opera.

Sebagai titik awal, Powell menawarkan sebuah puisi yang ditemukan dalam bagian akhir kisah Mahabharata. "Saya tertarik dengan karakter Kali yang menolak menjadi dewa kematian," ujar Powell menjelaskan alasannya memilih cerita itu.

Proyek itu kemudian mulai dibicarakan kembali oleh Powell saat Tony berada di New York untuk pementasan lain. Mereka bersepakat mengajak Goenawan Mohamad untuk ikut dalam proyek ini. Pertimbangannya, Tony sudah beberapa kali melakukan kerja sama dengan Goenawan dan merasa cocok. Beberapa kali Tony pernah memakai puisi Goenawan dalam membuat musik.

Gayung pun bersambut. Goenawan setuju untuk terlibat dalam proyek itu. Selanjutnya, berangkat dari ide dasar yang diajukan Powell, Goenawan mulai turut dalam penggarapan libretto itu. Namun, libretto yang ditulis Goenawan amat berbeda dengan yang lazim. Libretto yang ditulisnya bukan berupa cerita, melainkan berbentuk sajak panjang, yang dituliskannya langsung dalam bahasa Inggris. Proses penulisan itu sendiri sungguh panjang, antara lain, karena Goenawan menulis langsung dalam bahasa Inggris yang sangat puitis. "Powell menyerahkan sebuah sajak tentang terciptanya maut yang berasal dari Brahma. Karena Brahma mencipta terus, ia juga menciptakan kematian, yaitu Kali. Jadi, sebenarnya, pertunjukan ini menceritakan kesewenang-wenangan para dewa," tutur Goenawan. Powell menyambut sajak panjang itu dengan sebuah pujian. "Saya pikir apa yang dilakukan Goenawan dengan menulis libretto dalam bentuk puisi merupakan hal baru," tutur Powell.

Menurut Goenawan, melalui Kali, ia ingin menunjukkan sebuah suasana kekalahan, kekejaman, dan pembunuhan massal saat (perang) Bharatayudha hampir usai. "Saya menggunakan kekalahan Kurawa sebagai pasemon dari kekejaman yang terjadi di mana-mana, terutama di Indonesia, yang terjadi pada 1965," ungkap Goenawan.

Selain menulis libretto itu, Goenawan ikut terlibat memberikan saran dalam produksi pertunjukan ini, misalnya ia mengusulkan agar kostum yang sangat berbau oriental itu diganti dengan kostum yang lebih universal.

Saat itu juga mereka mulai menentukan tim proyek ini. Mereka menyelenggarakan workshop pada akhir 1996, meski sempat terhenti karena keterbatasan dana dan baru dilanjutkan kembali dua tahun kemudian.

Sejak awal, mereka sepakat bahwa opera ini akan berbeda bentuknya dengan kebanyakan opera tradisional. Itu karena ketiga orang ini sangat tidak menyukai bentuk pementasan opera klasik yang rigid dan kaku. Mereka sepakat membuat sebuah pertunjukan opera kontemporer yang bebas dari pakem yang lazim.

Setelah itu, selama tiga tahun, mereka pun bolak-balik Indonesia-Amerika. Ini termasuk merayu penyanyi tenor Amerika terkemuka, John Duykers, yang memiliki kesibukan luar biasa, untuk ikut berpartisipasi. Sedangkan untuk penyanyi dan pemusik lainnya, mereka tetap menyelenggarakan audisi ketat.

Namun, semuanya tak selalu berjalan lancar. Semula, pementasan ini akan dilangsungkan September tahun silam. Tapi, karena terbentur soal biaya, pementasan ini baru bisa dilangsungkan Juni tahun ini. Kekurangan biaya itu pula yang menyebabkan beberapa lakon harus diperankan oleh satu orang.

John Duykers, misalnya, memerankan empat lakon sekaligus, yakni Destarata, Brahma, Balarama, dan Krishna. Sedangkan Jessika Kenney memerankan tiga lakon. Secara keseluruhan, menurut Tony, proyek ini menghabiskan biaya sekitar US$ 400 ribu.

Satu hal yang patut dicatat, ternyata honor bukan soal penting buat mereka. Bahkan, tidak semua pemain mendapat bayaran. Ini bukan karena kehidupan mereka—para seniman Amerika itu—telah mapan. Asal tahu saja, John Duykers yang penyanyi kondang itu, selama latihan dan pementasan di Seattle, rela bermalam di rumah salah satu penari. Ini memang semangat yang mengharukan.

Pendukung lainnya pun adalah seniman yang bekerja di tempat lain untuk mencari nafkah. Bakira, salah seorang penari, misalnya, mengaku menyambi menjadi pegawai di bioskop.

Kenyataan ini memberikan gambaran bahwa, seperti halnya di Indonesia, ternyata tidak mudah untuk hidup menjadi seniman di Amerika. Namun, mereka berani berkesenian meski harus menjadi miskin. Sikap para seniman yang tetap profesional selama mengikuti latihan hingga tampil dalam pertunjukan ini juga patut diacungi jempol. Sebuah pengalaman yang agaknya patut ditiru oleh seniman di negeri ini.

IB


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161865982782



Teater 1/4

Sebelumnya Selanjutnya