Teater 2/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Menggugat Kesewenangan Para Dewa

Selama empat hari, opera kontemporer berjudul Kali garapan seniman Indonesia dan Amerika Serikat penuh sesak oleh penonton. Sebuah karya eksperimental yang menggugat ketidakadilan para dewa.


i
…You want a sun remembered before dusk
But Brahma created me from his yawn
"Go and become Death," he said,
"For the earth needs a cycle."
Someone has to make willows wan, streams spent, laughter silenced.
I know he wants the grace gone, just before the burst. It his story of boredom.

(Kali kepada Gandari dalam Kali)

KALI
Libretto:Goenawan Mohamad
Musik:Jarrad Powell dan Tony Prabowo
Sutradara:Mellisa Weaver
Koreografi:Mary Sheldon Scott
Vokalis:John Duykers, Jessika Kenney
Di dalam kegelapan, Gandari menggugat. "Mereka telah membunuh anak-anakku," katanya mengadu kepada sang Maut. Kali menjawab bagaimana ia diciptakan oleh Brahma sebagai bagian dari sebuah siklus hidup; sebagai pengisi kebosanan rutinitas….

Dan air mata tumpah di Istana Kurawa. Memasuki hari ke-12 peperangan Bharata Yudha, Kurawa berada di ambang kehancuran. Setiap hari, kabar yang sampai ke telinga raja Destarata dan permaisuri Gandari hanyalah tentang kematian para prajuritnya. Jumlah mereka pun kian susut. Setelah kematian Dursasana, Durna, dan Bhisma, pasukan Kurawa tak bersisa. "Mereka telah membunuh anak-anakku," Gandari menjerit dalam duka.

"Aku adalah ibu dan saudara kandung dari penderitaan," jawab Kali, meski itu bukan sebuah penjelasan; apalagi hiburan. Kali, sang dewi kematian, sengaja diturunkan ke dunia untuk menjalankan tugas dari para dewa untuk menumpas manusia demi keseimbangan kehidupan di dunia. Brahma membangunkan Kali yang telah terlelap selama lima belas juta tahun di Dhanuka. Meski enggan, karena tak setuju dengan kemauan Brahma, dia tak bisa menolak tugas itu. Jadi, apa arti kematian 100 putra Kurawa?

Mungkin opera kontemporer berjudul Kali bisa dikatakan sebuah interpretasi baru dari kisah klasik Mahabharata. Tetapi, naskah opera ini sungguh berbeda dengan cerita yang biasa disampaikan dalam kisah pewayangan, saat Pandawa sebagai pemenang cenderung mendapat sorotan para penulis. Kali menyuguhkan sisi lain dari Mahabharata, yakni kepedihan Kurawa menjelang kekalahannya. Hal lain yang menarik, opera ini ditulis dalam bentuk puisi panjang oleh Goenawan Mohamad, lengkap dengan suluk dari wayang, puisi Inferno karya Dante dalam campuran lima bahasa—Inggris, Indonesia, Minang, Jawa, dan Italia.

Hal penting lainnya, pementasan opera ini merupakan karya orang Indonesia pertama yang dipentaskan dan dimainkan oleh artis negeri itu. Sebelumnya, W.S. Rendra dan Sardono W. Kusumo melakukan pementasan di sana dengan memboyong pemain Indonesia ke AS.

Goenawan maupun Tony mengaku tak menyukai bentuk opera tradisional yang kaku dan rigid. Itulah sebabnya pertunjukan opera Kali sangat berbeda dengan bentuk opera tradisional yang terikat pada aturan dengan naskah yang berbentuk cerita dan musik yang mengiringinya. Kali merupakan bentuk opera kontemporer yang membebaskan diri dari aturan yang membebatnya itu sekaligus memadukan berbagai unsur seperti koreografi, musik, dan teater. Musik yang dimainkannya pun bukanlah orkes musik Barat yang biasa terdapat dalam opera tradisional, melainkan musik etnik dengan menitikberatkan pada perkusi. Satu-satunya instrumen yang menghasilkan melodi adalah biola yang dimainkan Stephanie Griffin. Instrumen itu pula yang kerap menjadi patokan nada bagi para penyanyi. Sementara lirik puisi Goenawan yang ditulis dalam bahasa Inggris itu sangat mementingkan tekanan bunyi, karena, "Bagi saya puisi adalah bunyi," tutur Goenawan. Itulah sebabnya, komposisi musik Tony, Powell, dan biola Griffin kemudian menjadi ramuan yang menggebrak setelah dikawinkan dengan puisi yang menggunakan aliterasi bunyi itu.

Panggung pementasan opera ini ditata sangat minimalis. Ini juga keluar dari pakem opera yang lazim menggapai detail yang realis. Tak ada gemerlap, tak ada kemegahan istana. Panggung Kali yang dibuat Mellisa Weaver, sang sutradara, hanyalah sebuah kotak besar yang miring, sementara di bagian kiri dan kanannya, teronggok dua perangkat musik. Beberapa anyaman kawat tembaga halus bergantungan dari bagian atas panggung, yang kemudian tampak cemerlang dengan permainan lampu Meg Fox. Anyaman kawat itu berfungsi membangun suasana, yakni bisa sebagai tirai, kolam darah, atau lautan api ketika tersiram cahaya merah.

Alur cerita yang digelar pun tak lazim. Kali mengikuti pola cerita wayang, lengkap dengan goro-goro dan suluk. Tak ada alur yang runtut, misalnya kilas balik saat adegan yang mengetengahkan asal-usul Kali. Semua adegan itu meluncur tanpa jeda. Tak mengherankan, bagi penonton Seattle maupun Jakarta, pementasan ini membutuhkan tingkat konsentrasi yang tinggi.

Bagian lain yang tak lazim adalah penampilan Dewi Drupadi, yang dalam komposisi ini diperkosa oleh Dursasana. Kepada Balarama, dengan pahit Drupadi berkisah bagaimana Kurawa hanya menyaksikan nista itu; bagaimana Pandawa membisu dan bagaimana ketika senja menutup hari, ia mencium bau sperma yang membungkus tubuhnya. Saat itulah, "Saya tahu bahwa akan ada perang. Harus ada perang, karena demikiankah kehendak dewa," katanya dengan getir.

Mengapa diperkosa? Bukankah pakem yang kita kenal selendang Drupadi tak kunjung terbuka oleh Dursasana akibat perlindungan Darma? Inilah gugatan libretto Goenawan bahwa, dengan kekuasaan dewa yang tak terbatas itu, kekejaman dan kekejian toh terjadi di dunia.

Menurut peneliti tentang kebudayaan Jawa, Laurier Sears, inilah pertunjukan yang bukan hanya indah tapi sekaligus ironik, karena tema kekerasan dapat disajikan dengan bahasa yang indah dan memiliki makna yang dalam.

Di antara adegan keras itu, Goenawan ikut tampil membacakan laporan yang dicuplik dari reportase wartawan harian The Independent tentang kekerasan yang terjadi dalam perang etnik di Kalimantan Barat beberapa tahun silam. Juga peristiwa tahun 1965, saat terjadi pembantaian terhadap orang-orang Partai Komunis Indonesia. Sebuah relevansi dengan masa kini? Kekejaman dan destruksi memang tak mengenal zaman.

Yang juga perlu diperhatikan dari pertunjukan ini, kolaborasi seniman Amerika Serikat dan Indonesia ini adalah campuran berbagai warna yang berbeda dari masing-masing personelnya. Powells adalah komposer Amerika Serikat yang memiliki orientasi pada musik Timur, terutama musik gamelan. Sebaliknya, Tony Prabowo merupakan musisi Indonesia yang justru memiliki orientasi pada musik Barat.

Hasilnya, penggarapan musik ini dipenuhi dengan banyak kompromi. "Untuk mencapai kompromi itu memang berat," ujar Tony Prabowo. Ia mengaku harus berdebat panjang dengan Powells untuk menentukan musik yang akan dimainkannya.

Karena itu, tak mengherankan, pementasan ini menjadi menjadi penuh sesak dengan cuplikan bagian-bagian kecil tradisi itu. Untunglah, The New Jakarta Ensemble (NJE), yang terdiri dari Armen Suwandi, Desmal Hendri, Epi Martison, Musliwardinal, dan Anusirwan, berhasil membawakan syair dalam bahasa Minang dengan apik.

Kompromi itu, bagaimanapun, mendatangkan sebuah keindahan yang berpelangi. Hampir semua elemen pertunjukan menyatu. Secara gemilang John Duykers—pernah mendapat Grammy dan Emmy Awards pada 1987 lewat opera Nixon in China—yang memerankan empat lakon berhasil menunjukkan kelasnya sebagai tenor kelas dunia. Kekuatan vokalnya seolah tak menurun meski ia harus tampil selama 90 menit.

Yang tak kalah istimewa adalah kemampuan Jessika Kenney, yang melantunkan langgam Jawa dan Minang dengan cengkoknya yang nyaris sempurna. Lantunan suaranya tiba-tiba melempar penonton ke ranah Jawa. Dalam sebuah adegan mereka terlibat dalam permainan vokal yang cantik. Kedua menyanyikan barisan syair dengan cara kejar-mengejar hingga perpaduan duo itu terdengar sangat unik dan harmonius. Kepiawaian mereka hampir menutup penampilan pemeran utama Kathryn Weld yang berperan sebagai Kali.

Sementara pada musik, NJE dengan gemilang memainkan musik yang tidak saja mengiringi rentak empat penari, yakni Bakira, Corrina Befort, Amy O'Neal, dan Julit Waller Pruzan, tapi juga berhasil membangun suasana dari teks yang dinyanyikan para penyanyi. Demikian pula halnya dengan tari yang digarap Mary Sheldon Scott, yang berhasil menggambarkan respons terhadap teks yang ada dalam teks dengan baik.

Kali adalah sebuah perayaan kematian; dan kematian adalah pengakuan pada Kehidupan.

Irfan Budiman (Seattle)


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161866279341



Teater 2/4

Sebelumnya Selanjutnya