Teater 4/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Tragedi Desdemona, Luka Asia

Setelah dipentaskan di Munich dan Adelaide, drama Desdemona karya Ong Keng Sen, yang dipertunjukkan berdasar naskah William Shakespeare, dipentaskan di Singapore Art Festival.


i
DAN Othello pun mati. Kecupan beracun Zero, budak laki-laki Desdemona itu, mampu menewaskannya. Adegan pagutan bibir antara dua lelaki di akhir cerita itu mirip adegan percintaan homoseksual. Akibat dirasuki arwah Desdemona, Othello kemudian memandang Zero sebagai seorang perempuan cantik. Miroto, sang penari Yogya bertubuh kecil pemeran Zero itu, melumat bibir Othello—yang diperankan Madu Marghi. Adegan ciuman maut yang ekspresif.

Setelah Madu tergeletak, Miroto mendendangkan kidung kesedihan kematian Karna saat tewas di Bharatayudha, dalam bahasa Jawa: "Surem-surem dewangkara kingkin…. Lir manguswa kang layon…. Ong Keng Sen, sutradara dari Singapura ini, memang terkenal sarat gagasan multikultural. Setahun silam, ia menggebrak Indonesia dengan pertunjukan Lear—yang juga berdasarkan naskah William Shakespeare—di Teater Tanah Airku. Saat itu, Keng Sen menampilkan pertunjukan lintas-bahasa aktor opera Peking, aktor teater Noh Jepang, penari Thailand, penari Padang, dan gerongan (kor) musisi Jawa. Ini menghasilkan suatu karnaval bunyi yang menampilkan beragam cengkok dan intonasi yang dengan ajaib tetap harmonis. Kini, di gedung Victoria Theater Singapura, ia tak puas dengan semata-mata mengawinkan keragaman ekspresi tubuh dan bunyi tradisi.

"Harmoni tradisi terlalu polos," tuturnya. Dalam kehidupan nyata, terjadi kontradiksi antara tradisi dan modernitas. Dan dalam garapan terbarunya itu, ia membenturkan Miroto dengan aktor-aktor Kathakali dan Kudiyattum berbahasa Sanskerta—teater tradisi India berumur lebih dari 1.500 tahun yang konon kini bisa dimainkan hanya oleh sekitar 20 orang dari kasta pendeta. Ia juga melibatkan dalang marionette teater boneka Burma dengan instalasi virtual video canggih. Dengan iringan komposisi siter dan perkusi Korea, mereka berada dalam ruang instalasi virtual garapan kolaborasi perupa Mathew Ngui (Australia), Park Hwa, Jang Jae (Korea), selama dua jam. Medan panggung menjadi sebuah permainan ruang kosong yang dikepung oleh empat layar besar.

Naskah Othello karya William Shakespeare tampaknya hanya menjadi inspirasi karena Keng Sen cuma mengambil inti cerita, yaitu kematian. Tak ada Iago, Cassio, Emilia, Roderigo, The Duke of Venice—tokoh-tokoh Othello dalam kisah Shakespeare asli. Yang ada hanyalah Desdemona (Claire Wong dari Singapura) bersama tujuh budak laki-lakinya, dan Othello beserta imaji ibunya (Mya Krishna Rao). Halusinasi kedua tokoh ini atas kematian saling berparadoks dan berparalel dengan empat layar video yang menampilkan imaji kecemasan tubuh gadis Singapura masa kini bernama Mona.

Dari detik pertama, panggung menjadi pesta antara pertunjukan hidup dan animasi komputer. Kedua medium ini melebur batas karena tiba-tiba para perupa mendokumentasikan pertunjukan dengan handycam dan melakukan kegiatan seni rupa video di panggung. Tontonan bak suatu perkawinan antara fakta dan fiksi. "Desdemona ibarat mosaik," tutur penulis skenario, Rio Kishida.

Penyuntingan adegan yang keluar-masuk antara imaji video dan eksplorasi gerak tubuh dan suara di pementasan adalah tontonan ekstravaganza kelas tinggi. Keng Sen mampu menjaga irama agar tidak membosankan dan pandai menjaga agar kejutan berjalan mulus. Tangan dan kaki penari Mya Krishna Rao gemetar mengentak-entak dengan gerakan penari Kathakali sembari meracau dalam bahasa Hindi, meresapkan kerisauan Othello. Dia, yang baru saja membunuh Desdemona, merasa dikejar-kejar setan. Maka, imaji kita tentang tangan pembunuh itu dilecut oleh layar yang menayangkan montase sidik jari, jaringan jangat kulit.

Saat di panggung yang berkabut, Desdemona gundah bermimpi didatangi arwah ibunya, yang memberi tahu bahwa kematian bakal menjemputnya. Saat itu juga video menampilkan sekuen kecemasan Mona yang mengidap bulimia dan anorexia: suatu penyakit khas perempuan metropolis yang takut pada kegemukan, lalu melakukan diet berlebihan. Maka, layar menampilkan sebuah mulut besar berlipstik merah tebal yang terus-menerus mengunyah kapsul-kapsul kosong.

Interaksi di atas panggung terasa cerdas, misalnya saat U Zaw Min—dalang boneka Burma berumur 60 tahun—memainkan bonekanya, engsel kaki dan tangannya kemudian bergerak bak tangan dan kaki boneka yang digerakkan dengan tali. Adegan itu terasa paralel dengan tayangan surat-menyurat e-mail Desdemona dengan seorang budaknya yang mempertanyakan keterlibatannya dalam pertunjukan multikultural itu. Tidakkah, misalnya, menampilkan eksotisme merupakan suatu blunder terhadap pencarian identitas Asia? "Dearest Mona, are we simply pawns in Keng Sen's agenda? Is he our puppeteer while at the same time he is being dictated by tastes of the larger festival art market?" demikian ditulis perupa Low Kee Hong, yang memerankan seorang 0 Zero.

Keng Sen mengakui dramanya memberi porsi kepada permainan ruang. Bagi Keng Sen, inilah cerminan identitas kegamangan individu-individu Asia Tenggara pascakolonialisme, dan individu yang mengais-ngais memori tentang masa lalu Asia dan terperosok ke masa depan yang fragmentatif. Inilah tontonan mutakhir. Sementara Peter Brook sering membaca identitas Timur melalui pandangan integratif epos Mahabharata dan Musyawarah Burung-Burung karya Faridudin At'ar, Keng Sen meneropong Asia lebih dengan suatu estetika hibrida yang retak. Tragedi Desdemona adalah tragedi pencarian identitas trans-Asia. Sesungguhnya panggung adalah cermin dari rasa sakit dan pedih dalam proses melaluinya.

Seno Joko Suyono (Singapura)


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161866255937



Teater 4/4

Sebelumnya Selanjutnya