Surat 6/13

Sebelumnya Selanjutnya
text
i

SAYA ucapkan terima kasih atas pemuatan tulisan tentang saya dalam Majalah Berita Mingguan TEMPO Edisi 8-14 November 1999. Namun, adalah kewajiban saya untuk menyampaikan kembali kepada masyarakat bagian-bagian yang saya anggap bisa menimbulkan salah paham. Berikut ini beberapa catatan saya.

  1. Hubungan dengan Keluarga Cendana. Bisa saya katakan bahwa hubungan itu adalah hubungan biasa karena saya menjadi pejabat pada saat Pak Harto menjadi presiden, dan semua pejabat pada masa itu punya hubungan seperti yang saya lakukan. Tetapi, kalau disebutkan bahwa saya terlibat dalam bisnis Keluarga Cendana, sungguh itu tidak benar. Satu-satunya jabatan yang bisa saya jelaskan adalah posisi saya sebagai Preskom PT Satelindo, yang sahamnya dimiliki oleh PT Indosat dan PT Telkom (BUMN) dan pihak asing (Jerman). Selain itu, yang juga ikut memiliki sahamnya adalah PT Bimagraha, yang sebagian sahamnya dimiliki oleh Bimantara Group. Penempatan saya di PT Satelindo (1993) adalah atas penugasan Menteri Keuangan J.B. Sumarlin sebagai wakil pemerintah/BUMN secara resmi.

  2. Sebagai bendahara yayasan Soeharto. Saya hanya terlibat sebagai wakil sekretaris di Yayasan Dana Sejahtera Mandiri (YDSM), yaitu yayasan yang menerima dana 2 persen dari keuntungan wajib pajak. Penunjukan ini berkaitan dengan posisi saya sebagai Dirjen Pajak. Karena itu, setelah dilantik menjadi Menteri Keuangan, saya segera mengundurkan diri. Jadi, tuduhan saya menjadi bendahara di beberapa yayasan Soeharto sungguh tidak betul.

  3. Hubungan dengan Bob Hasan. Saya katakan bahwa saya tidak punya hubungan apa pun dalam bisnis, yayasan, dan sejenisnya. Bahkan, pada masa saya menjadi Menteri Keuangan, 4 April 1998, BUN (Bank Umum Nasional), yang dikenal masyarakat sebagai milik Bob Hasan dan yayasan-yayasan sosial ”Cendana”, saya nyatakan diambil alih oleh BPPN.
    161836579732

  4. Pengurangan pajak di perusahaan anak Soeharto. Tuduhan itu fitnah belaka. Sebagai Dirjen Pajak, saya telah melakukan tugas sesuai dengan UU yang berlaku. Bahkan, pada zaman saya, BPPC, yang sebelumnya tidak memiliki NPWP, dengan sendirinya tidak membayar pajak, saya beri NPWP, kemudian diperiksa dan diharuskan membayar pajak. Demikian juga perusahaan-perusahaan pemilik lapangan golf milik para konglomerat yang sebelumnya bebas PPh, saya tetapkan agar membayar PPh. Demikian pula halnya perusahaan-perusahaan konglomerat yang selama bertahun-tahun bebas pemeriksaan pajak, pada 1993, saya cabut alias harus bisa diperiksa seperti perusahaan lain. Saya masih punya banyak contoh yang membuat para pembayar pajak besar merasa ”gerah” dengan kehadiran saya.

  5. Tentang Widari, Astra, CMS, dan lain-lain. Berita-berita yang berkaitan dengan Widari dan rencana kepemilikan saham Astra tidak berdasar dan spekulatif. Saya tidak terlibat dalam proses pembentukan CMS (Capital Market Society) dan juga tidak menjadi pengurusnya. TEMPO salah dengan menulis saya adalah Preskom PT BEJ yang pertama. Sebab, sebelum saya, Preskom PT BEJ adalah Sdr. Marzuki Usman. Selain itu, dapat saya informasikan bahwa Dewan Komisaris PT BEJ dipilih melalui suatu proses yang sangat demokratis dan terbuka dan jumlah komisarisnya adalah 5 orang. Dua di antaranya tidak disebutkan dalam laporan TEMPO, yaitu Sdr. Rosano Barrack (Cano) dan Sdr. Erry Ryana Harjapamengkas (sekarang Dirut PT Timah Tbk.). Ketika saya kemudian menjadi Menteri Keuangan, saya juga menyatakan bahwa saya tidak bisa lagi menjadi Preskom PT BEJ. Karena itu, tidak dapat dipahami hubungan antara BEJ, CMS, ”kabinet saya di BEJ”, dan seluruh rencana spekulatif yang ditulis TEMPO.

  6. Tentang Rini Soewandi. TEMPO mengatakan pada halaman 79 bahwa saya menyebut nama Rini M.S. Soewandi sebagai calon pengganti Glenn Yusuf. Saya tidak pernah mengatakan itu. TEMPO harus menjelaskan, informasi itu dari siapa. Bahkan, setahu saya, Glennlah yang mengucapkan kata-kata itu sejak semula. Mungkin TEMPO hanya meneruskan pesan Glenn untuk menyebut nama Rini karena Rini, yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Kepala BPPN, memang paling potensial menggantikan Glenn, dan Glenn takut, lalu membuat isu duluan.

  7. Tentang hubungan dengan Amien Rais dan Presiden K.H. Abdurrahman Wahid. Saya adalah orang yang gemar bersilaturahmi. Karena itu, saya memiliki hubungan baik dengan banyak orang. Dengan Pak Amien, selain satu almamater (UGM), saya selalu melakukan kontak sejak dulu sampai sekarang. Sebagai keluarga Muhammadiyah, saya sering ada acara bersama dengan beliau. Demikian pula dengan Gus Dur. Saya kenal beliau jauh sebelum ada pikiran tentang Poros Tengah. Tetapi Poros Tengah yang kemudian melibatkan saya secara intens adalah wujud harapan banyak orang agar dua tokoh ini bersatu. Saya tahu sekali betapa sulitnya meyakinkan orang di sekitar Gus Dur tentang niat mulia Poros Tengah ini. Dari mereka yang katanya secara kultural sama dengan Gus Dur saja, banyak yang menentang. Karena itu, saya sangat tidak mengerti dituduh seolah-olah ujug-ujug ingin dekat dengan kedua tokoh ini, pada detik-detik terakhir.

  8. Tentang orang Orde Baru. TEMPO menulis seolah-olah saya sedang mengegolkan orang Orde Baru di kabinet Gus Dur. Saya juga tidak mengerti dan jelas itu tidak benar. Kalau TEMPO punya data, lebih baik diumumkan saja kepada publik siapa orang Orde Baru yang saya perjuangkan itu. Tetapi, kalau yang dimaksud adalah Sarwono Kusumaatmadja (mantan Sekjen Golkar itu), TEMPO keliru besar. Saya tidak tahu siapa yang mencalonkannya.

  9. Tentang Steve Hanke guru saya. Ini berita dari mana? Setahu saya, Steve bukan dosen di University of Maryland tempat saya belajar, melainkan dosen di John Hopkins University. Dia juga tidak pernah mengajar saya.

  10. Tentang tuduhan saya membayar Kiai Langitan. Lebih baik TEMPO tidak usah terlibat dalam menganggap remeh para ulama yang kita segani itu, seolah-olah mereka bisa dibeli. Lagi pula, para kiai itu sudah terbiasa bertemu, dari satu tempat ke tempat lain, dan mereka mampu menanggung biaya transportasinya. Tegasnya, para kiai datang ke Jakarta dengan biaya mereka sendiri.

Demikianlah pelurusan berita ini. Sebenarnya masih banyak yang harus dikoreksi. Tetapi izinkan saya untuk membuat penilaian umum kepada TEMPO, terutama ketika saya membaca kalimat di halaman 75 kolom ke-3 alinea ke-3: ”….Benarkah sepak terjang Fuad adalah untuk menjaga kepentingan bisnis Pak Harto? Terlalu gampang untuk membeberkan beberapa petunjuk ke arah itu, tapi sekaligus terlalu sulit untuk membuktikannya....” Menurut saya, kalimat ini memberikan gambaran yang jelas tentang betapa absurdnya penulisan berita yang dilakukan TEMPO, dengan tanpa data dan sumber yang jelas, akhirnya hanya melepas tangan dengan mengatakan semua itu terlalu sulit dibuktikan.

Karena itu, saya menggunakan kewajiban dan sekaligus hak saya untuk membantah. Saya sungguh melakukan ini karena kesadaran bahwa hak publik untuk mendapatkan berita yang benar harus dijunjung tinggi. Semoga TEMPO tetap berpegang pada kearifan dalam usia yang semakin matang.

FUAD BAWAZIER
Jakarta


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836579732



Surat 6/13

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.