Surat Dari Redaksi 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Pendapat beberapa tokoh

Persiapan laput kartini. antaranya, tempo mengundang sejumlah tokoh untuk didengar pendapatnya tentang surat-surat kartini yang utuh yang segera akan diterbitkan di leiden. wawancara dengan beberapa sejarawan.

i
MENGAPA Kartini? Topik ini kami angkat jadi Laporan Utama, karena Kartini, disorot lagi Dr. Harsja Bachtiar baru-baru ini melontarkan kembali gagasannya untuk merevisi peran tokoh perluangan nasional. Di antaranya mengenai Kartini. Secara kebetulan, pekan ini di Leiden, Negeri Belanda, ada suatu peristiwa terpenting dalam hampir satu abad ini sehubungan dengan Kartini. Yakni: diterbitkannya sebuah buku, berisi surat-surat Kartini yang utuh, dan dalam jumlah lebih banyak, kepada direktur pendidikan pemerintah Hindia Belanda abad lalu, Abendanon, dan istrinya. Kami berhasil memperoleh edisi prajilid dari buku penting itu dan seorang sahabat yang tak mau disebut namanya. Segera kami putuskan bahwa kejadian ini layak jadi cerita penting yang panjang. Maka, kami pun berkonsultasi dengan sejumlah orang yang kami anggap layak didengar pendapatnya tentang surat-surat itu. Sabtu siang pekan lalu, kami mengundang Sitisoemandari Soeroto, seorang wanita yang mendedikasikan hampir seluruh hidupnya untuk menulis sebuah karya biografis besar, Biografi Kartini, yang terbit di tahun 1977. Di samping Ibu Soemandari, yang datang disertai suaminya, Soeroto, seorang sejarawan juga -- yang penelitiannya tentang Kartini dipergunakan buat diorama di Monumen Nasional, Jakarta -- kami mengundang Hyang Marahimin, sarjana sastra yang pernah mengadakan telaah tentang Kartini dalam tugasnya sebagai redaktur majalah wanita terkenal, Femina. Tak akan lengkap kiranya bila kami tak mengundang seorang penulis yang juga masih merupakan keturunan Kartini, yaitu Tini Gani, pemimpin redaksi majalah Selera. Mereka ini, semuanya fasih berbahasa Belanda, kami minta membaca bundel surat-surat Kartini yang mau diterbitkan pekan ini di Leiden. Tak cukup dengan itu, di hari Minggu pagi -- hari keluarga bagi kebanyakan orang -- Hyang Marahimin dan Tini Gani menyempatkan datang ke TEMPO untuk mendiktekan terjemahan mereka atas surat-surat yang dianggap penting. Dari TEMPO sendiri penerjemahan dilakukan juga oleh Harjoko Trisnadi. Harjoko, kini direktur keuangan TEMPO, adalah bekas wartawan Star Weekly yang terdidik dalam bahasa Belanda dan tulisannya jernih dalam bahasa Indonesia. Sementara itu, koresponden TEMPO di Negeri Belanda, Hendrix Mandagie, mengadakan wawancara antara lain dengan cucu Abendanon, yang memiliki koleksi surat-surat asli Kartini itu, dengan penyusun buku baru itu, F.G.P. Jacquet, serta Penerbit Koninklijk Instituut voor Taal-Land-en Volkenkunde, lembaga termasyhur yang menerbitkan versi asli surat-surat Kartini itu. Di Jakarta, kami juga mewawancarai beberapa sejarawan, dan tak kurang dari itu, penerjemah surat-surat Kartini yang terkenal, Sulastin Sutrisno. Bahan yang terkumpul itu, plus hasil riset perpustakaan, dirangkum oleh Amran Nasution dan Putu Setia. Susanto Pudjomartono, yang mengkoordinasikan semua proyek ini, dan memeriksa naskah terakhir, berkata kepada rekan-rekan di TEMPO, "Saya bangga kita dapat memperoleh bahan tentang Kartini itu pada saat yang tepat."

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161865554829



Surat Dari Redaksi 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.