Surat Dari Redaksi 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Antara Lantai dan Eternit Jurnalisme

SEBUAH nasihat, mungkin cerita, boleh jadi lebih membekas daripada selarik kata cinta.

i Wahyu Dhyatmika, Anton Septian, Arif Zulkifli, Jajang Jamaludin, Budi Setyarso, Setri Yasra, Philipus Parera, dan Anton Aprianto. TEMPO/ Gunawan
Wahyu Dhyatmika, Anton Septian, Arif Zulkifli, Jajang Jamaludin, Budi Setyarso, Setri Yasra, Philipus Parera, dan Anton Aprianto. TEMPO/ Gunawan

Syahdan, Goenawan Mohamad mengisahkan kesan-kesannya ketika menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Tempo sepanjang 1971-1993. “Pemimpin redaksi adalah pekerjaan 24 jam,” katanya. “Selain itu, sebagai pemimpin redaksi, saya tidak pernah benar-benar bisa punya teman. Tidak benar-benar punya musuh.”

Yang pertama adalah cerita tentang etos. Yang kedua tentang upaya menjaga independensi.

Goenawan menyampaikan cerita itu kepada Arif Zulkifli, ketika itu Redaktur Eksekutif Majalah Tempo, pada pertengahan 2013. Enam tahun kemudian, pada 28 Oktober lalu, Arif mengulang cerita tersebut kepada tujuh orang yang mulai pekan lalu didapuk menjadi pemimpin redaksi grup Tempo Media. Di antaranya Wahyu Dhyatmika (Pemimpin Redaksi Majalah Tempo, sebelumnya Pemimpin Redaksi Tempo.co), Budi Setyarso (Pemimpin Redaksi Koran Tempo), dan Setri Yasra (Pemimpin Redaksi Tempo.co, sebelumnya Redaktur Eksekutif Majalah Tempo).

Di lapis kedua ada Anton Septian, Jajang Jamaludin, dan Anton Aprianto—masing-masing redaktur eksekutif majalah Tempo, Koran Tempo, dan portal berita Tempo.co. Wahyu juga merangkap sebagai Pemimpin Redaksi Tempo English. Di sana, ia dibantu Philipus Parera sebagai redaktur eksekutif. Arif, Pemimpin Redaksi Majalah Tempo dalam enam tahun terakhir, menjadi koordinator para pemimpin redaksi sebagai Kepala Pemberitaan Korporat. Sejak 2018, Arif juga bagian dari Dewan Direksi PT Tempo Inti Media Tbk—perusahaan induk grup Tempo.

Perihal “tidak pernah benar-benar bisa punya teman” itu tampaknya menjadi perhatian betul. Intinya, demikian disampaikan Arif, wartawan seyogianya pandai meniti buih. Di satu sisi, ia harus memiliki teman di mana-mana—narasumber tempat ia menggali dan mendapatkan informasi. Di sisi lain, ia harus menyadari bahwa “teman” itu suatu ketika mungkin menjadi obyek liputannya sendiri—dalam pengertian positif atau negatif. Wartawan yang baik adalah wartawan yang menjaga jarak. Ia bekerja hanya untuk kepentingan orang ramai dan, karena itu, akan bersikap dingin manakala berhadapan dengan pelbagai konflik kepentingan. Pemimpin redaksi bertanggung jawab agar media yang dipimpinnya tidak terjerembap ke dalam vested interest.

Kebutuhan itu makin terasa karena Tempo mempraktikkan jurnalisme investigasi. Pekerjaan ini menuntut kami menelusuri fakta hingga ke serat dan teksturnya. Tanpa teman yang baik, pekerjaan itu nyaris tak bisa dilakukan. Kebutuhan untuk meneruskan kerja jurnalisme investigasi makin terasa ketika kerja penegak hukum dirasakan makin mengendur—kepolisian, kejaksaan, dan belakangan Komisi Pemberantasan Korupsi lewat revisi undang-undang korupsi.

Beruntung, teman Tempo umumnya memahami prinsip dasar itu. Esensi persahabatan kami adalah ketulusan dan sikap hormat terhadap profesi. Dalam banyak kasus, mereka senang terhadap liputan Tempo karena diberi kesempatan menjelaskan apa yang terjadi—terutama jika liputan itu menyangkut peristiwa yang melibatkan mereka atau lembaga tempat mereka bekerja.

Mengemban tugas sebagai pengabar publik, bagaimanapun, jurnalisme punya batas. One man’s ceiling is another man’s floor—demikian syair sebuah lagu balada. Eternit itu, demikian undang-undang mengatur, adalah etika. Kita sudah lama mendengar soal kewajiban media mengecek ulang sebuah kejadian, mengklarifikasinya, meliput dari dua sisi. Yang tak kalah penting: kesadaran bahwa fakta yang dikumpulkan wartawan sesungguhnya berpotensi menyimpan kekeliruan, kelemahan, sesuatu yang lancung—secermat apa pun fakta itu dikumpulkan. Dengan kata lain, wartawan bekerja dalam ruang yang bukan tanpa batas. Wartawan bekerja di atas lantai kepentingan publik dan di bawah eternit bernama etika.

 

 

SEMUA pemimpin redaksi dan redaktur eksekutif Tempo datang dari bawah.

Wahyu Dhyatmika awalnya adalah koresponden kami di Surabaya. Lahir di Bali, 41 tahun lalu, Komang—demikian Wahyu biasa disapa—menempuh studi di Universitas Airlangga, lalu University of Westminster, Inggris. Pada 2015, ia mengikuti program Nieman Fellowship di Harvard University, Amerika Serikat. Pengalaman internasional membuat Komang memiliki jaringan yang baik dengan banyak organisasi dan media asing. Komang, misalnya, berperan dalam proyek Panama Papers—kerja jurnalistik lintas negara membongkar skandal pencucian uang di negara surga pajak. Sebagai Pemimpin Redaksi Tempo.co, Komang merupakan salah satu inisiator Indonesialeaks.id, platform bersama yang membuka kasus buku merah—perusakan barang bukti dugaan perkara korupsi. Dia juga mengawali Cekfakta.com, inisiatif bersama puluhan media online untuk memeriksa disinformasi. Ketika menjadi redaktur, Komang membongkar skandal mafia batu bara di Kalimantan yang melibatkan tokoh besar yang kini masuk pentas politik nasional.

Budi Setyarso, 48 tahun, telah banyak dikenal. Ia Pemimpin Redaksi Koran Tempo sejak 2016. Sebagai wartawan, ia terlibat aktif dalam membongkar kasus kematian Munir dan penganiayaan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi, Novel Baswedan. Tulisannya berjudul “Roger, Roger, Intel Sudah Terkepung”, tentang pembunuhan Munir, memenangi Anugerah Adiwarta pada 2007. Ia juga mendapatkan tiga Mochtar Lubis Award. Pada 2010, Budi dan timnya membongkar skandal penjara mewah Artalyta Suryani, terpidana kasus suap jaksa.

Setri Yasra, 45 tahun, bergabung dengan Tempo pada 2001. Ia pernah mengepalai tiga kompartemen “berat”: politik, ekonomi, dan investigasi. Dalam perkara dunia hitam, ia adalah ensiklopedia berjalan. Ia hafal nama-nama orang yang terlibat dalam pelbagai skandal—juga jaringan dan para pelindungnya. Setri adalah wartawan yang membongkar rekening gendut jenderal polisi, Juni 2010. Ia redaktur yang meliput perkara penyelewengan tender kartu tanda penduduk elektronik dan korupsi Bendahara Umum Partai Demokrat waktu itu, M. Nazaruddin.

Di jajaran redaktur eksekutif, setali tiga uang. Anton Septian sebelumnya adalah Redaktur Pelaksana Kompartemen Politik Majalah Tempo. Pria 39 tahun ini menempuh studi di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Liputannya yang terkenal antara lain “Budak Indonesia di Kapal Taiwan”, yang mengungkap perbudakan pelaut Indonesia di kapal asing. Anton adalah wartawan pertama yang mendapatkan catatan keuangan Yulianis, bekas pegawai M. Nazaruddin. Sejumlah praktik mafia anggaran di Dewan Perwakilan Rakyat dan kementerian belakangan terungkap lewat catatan itu.

Selain Anton Septian, ada Anton Aprianto. Pria 40 tahun itu lulusan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Ia salah satu motor liputan-liputan investigasi Tempo selama ini. Liputannya yang cukup fenomenal adalah soal reklamasi Teluk Jakarta.

Di Koran Tempo ada Jajang Jamaludin. Ia menjalani dua dunia: wartawan dan aktivis. Ia pernah menjadi Sekretaris Jenderal Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia dan Ketua AJI Jakarta. Lahir 44 tahun lalu, Jajang banyak meliput isu perkotaan, lingkungan, dan hukum.

Adapun Philipus Parera malang-melintang dalam jurnalisme investigasi. Ia membongkar permainan impor minyak mentah campuran Zatapi dari Singapura. Bersama Komang, ia aktif dalam proyek Panama Papers. Philipus juga terlibat dalam kerja sama liputan dengan sejumlah organisasi kewartawanan international, seperti Finance Uncovered, Inggris; dan Free Press Unlimited, Belanda.

Bersama Arif Zulkifli, ketujuh pemimpin ini diharapkan dapat menjaga etos kerja, independensi, dan mutu produk Tempo. Apalagi saat ini jurnalisme tengah menghadapi perubahan hebat. Digitalisasi tak terhindarkan. Tantangan ke depan adalah bagaimana berdamai dengan disrupsi: menahan laju pelambatan bisnis media cetak, seraya mempercepat pertumbuhan media digital. Saat yang kami tunggu adalah ketika pelanggan digital dapat menjadi tulang punggung pemasukan perusahaan. Saat itu, media akan bertumpu pada pembiayaan publik (crowd funding)—sedikit iuran dari banyak orang. Seperti pengalaman banyak media internasional, pembiayaan publik akan membuat independensi dan mutu media makin terjaga.


Reporter Tempo - profile - https://majalah.tempo.co/profile/tempo?tempo=161871362676



Surat Dari Redaksi 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.