Sinyal Pasar 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Memori 2013 Kembali Menghantui

Yopie Hidayat
Kontributor Tempo

i ilustrasi: Tempo/Kuswoyo
Sinyal Pasar

SEMESTINYA baik atau buruknya kondisi pasar finansial mencerminkan kesehatan ekonomi riil. Jika ekonomi sedang tumbuh, harga berbagai aset finansial umumnya akan ikut naik dengan gembira. Kini pasar sedang menderita anomali. Pandemi Covid-19 menjungkir-balikkan alur logika itu. Pasar finansial sedunia justru sedang cemas ketika ada gelagat ekonomi akan pulih kembali.

Pangkal soal jungkir-balik logika ini adalah operasi bank sentral. Demi memerangi Covid-19, bank-bank sentral utama di dunia memompakan likuiditas tanpa batas. Niatnya baik. Langkah ini bertujuan menyelamatkan ekonomi.

Ironisnya, ekonomi riil sebetulnya tidak banyak tertolong ketika dana segar dari bank sentral mengalir deras seperti banjir bandang. Di seluruh dunia, pertumbuhan ekonomi hampir semua negara besar terpuruk ke area negatif. Ekonomi riil mengerut terpukul wabah. Bank-bank sentral gagal mencegah merosotnya ekonomi meski sudah mengguyurkan dana luar biasa.


Yang menikmati buah manis kebijakan bank sentral adalah pasar finansial. Guyuran dana yang begitu melimpah membuat harga semua aset finansial melompat gila-gilaan semenjak April tahun lalu. Ketika pertama kali pandemi melanda, pasar memang sempat terpuruk. Kondisi ini sejalan dengan logika normal tadi. Pasar finansial langsung panik, harga bertumbangan di mana-mana, karena investor mengantisipasi lesunya ekonomi akibat pandemi.

161895634864

Kenyataannya, kepanikan pasar cuma berlangsung sebentar, tak sampai sebulan. Kondisi langsung berubah begitu pemimpin bank-bank sentral negara maju, dimotori The Federal Reserve, menegaskan komitmen bahwa mereka akan melakukan apa pun, memompakan dana berapa saja. Pasar finansial langsung bergairah, tak jadi ambruk. Sementara itu, ekonomi riil tetap saja terpuruk.

Jadi bank sentral sebetulnya lebih menyelamatkan kaum pemodal, pemilik aset finansial, lembaga pengelola investasi, bukan pebisnis sektor riil yang sehari-hari mengais nafkah di jalanan. Berbagai bidang usaha justru terpuruk ketika indeks harga saham di mana-mana mencetak rekor. Pasar finansial menggelembung menjadi buih raksasa karena pompa bank sentral giat bekerja meniupkan dana tak terbatas.

Kini situasi mulai berubah dengan munculnya vaksin pencegah Covid-19. Optimisme mulai berembus dalam ekonomi riil yang sebelumnya tak banyak tertolong banjir uang dari bank sentral. Namun pada saat yang sama muncul paradoks. Ketika ekonomi riil membaik, pasar finansial justru mulai ketakutan. Sebab, jika ekonomi pulih, inflasi bisa datang. Kondisi ini akan memicu bank sentral untuk setidaknya mengurangi pasokan likuiditas. Itulah hal yang membuat pasar finansial khawatir.

Didahului rontoknya harga obligasi pada pekan terakhir Februari 2021, pasar finansial mulai meleleh. Harga saham merosot. Pasar mulai mengantisipasi: suntikan likuiditas bank sentral yang selama ini menjadi penggerak utama pasar bisa setiap saat mengendur.

Kondisi ini semestinya menjadi peringatan dini yang tak bisa diabaikan. Harga berbagai aset finansial sudah menjadi buih terlalu tebal, bak busa susu di cangkir kapucino, yang pada suatu saat tentu harus lenyap. Koreksi harga agar menjadi lebih rasional adalah keniscayaan. Pertanyaannya cuma perkara kapan.

Bagi investor di negara berkembang, situasi ini memutar kembali memori 2013. Kala itu The Federal Reserve mulai mengurangi suntikan likuiditas yang diberikan sejak 2008. Kebijakan itu menimbulkan taper tantrum, dana investasi keluar dari negara-negara berkembang secara besar-besaran. Akibatnya, muncul tekanan serius terhadap neraca pembayaran berbagai negara yang pada gilirannya membuat kurs mata uang rontok.

Rupiah salah satu yang mengalaminya. Kurs rupiah yang pada Juli 2013 masih sekitar 9.850 per dolar Amerika Serikat langsung ambles menjadi 12.200 pada Januari 2014. Nilainya merosot hampir 24 persen hanya dalam enam bulan. Jika pembalikan serupa terjadi sekarang, tak terbayangkan seberapa besar dampaknya. Sebab, suntikan likuiditas bank sentral saat ini sungguh jauh berkali-kali lipat lebih besar. Tekanan yang menimpa negara berkembang bakal jauh lebih dahsyat jika arus dana investasi saat ini kembali berbalik arah.


Reporter Tempo - profile - https://majalah.tempo.co/profile/tempo?tempo=161895634864


Covid-19 Bursa Saham Nilai Tukar Rupiah Bursa Efek Indonesia Bank Indonesia

Sinyal Pasar 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.