Kolom: Imbas Gejolak Politik Amerika terhadap Perekonomian Dunia - Sinyal Pasar - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Sinyal Pasar 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Tercekam Gejolak Politik di Amerika

Yopie Hidayat
Kontributor Tempo

i Ilustrasi: Tempo/rudy asrori
Sinyal Pasar

PEMILIHAN presiden di Amerika Serikat kian dekat. Tapi perhatian pasar bukan cuma tertuju pada persaingan Donald Trump dengan Joe Biden. Ada satu perundingan sengit yang juga menarik perhatian para analis. Hasil negosiasi itu akan sangat menentukan pergerakan pasar, naik-turunnya harga saham, imbal hasil obligasi, juga nilai mata uang di seluruh dunia hari-hari ini.

Perundingan itu tentang kelanjutan program stimulus ekonomi Amerika. Partai Republik dan Partai Demokrat tengah bergelut untuk mendapatkan keputusan yang paling menguntungkan partai masing-masing. Isunya memang sangat kompleks. Sebab, selain berkompetisi dalam pemilihan presiden, kedua partai mempertaruhkan posisi mayoritas di Kongres ataupun Senat pada pemilihan 3 November nanti. Rincian program pemberian stimulus itu pun menjadi perdebatan sengit di setiap butirnya. Demokrat, misalnya, menginginkan pemberian stimulus lebih besar bagi negara-negara bagian dan pemerintah kota. Partai Republik habis-habisan menentang rencana itu, yang sepertinya dapat menambah jumlah suara bagi Demokrat.

Begitulah politik. Pergulatan itu seolah-olah tak mempedulikan nasib jutaan penerima stimulus yang sebagian besar sedang kehilangan sumber nafkah dan sangat bergantung pada stimulus pemerintah. Jika nasib warga negara sendiri saja sekadar menjadi bargaining chips, jangan harap para politikus itu menimbang nasib pasar finansial di seluruh dunia yang kini terombang-ambing di tengah ketidakpastian.


Padahal pasar sangat berharap kedua partai bisa menyepakati mengalirnya stimulus senilai sekitar US$ 2 triliun sebelum pemilihan umum. Ini bukan jumlah main-main—lebih dari dua kali lipat produk domestik bruto Indonesia selama setahun. Jika tak ada kesepakatan sebelum pemilu, sangat besar kemungkinan peluncuran stimulus ini akan macet sama sekali, setidaknya hingga Februari tahun depan. Terutama jika Trump kalah dan Republik kehilangan posisi mayoritas di Senat. Berbagai jajak pendapat memprediksi itulah hasil pemilu Amerika kali ini.

W251bGwsIjIwMjAtMTEtMjggMDA6NDM6MTIiXQ

Macetnya stimulus buat ekonomi Amerika akan berdampak sangat besar. Harga minyak, misalnya, bisa kembali jatuh. Demikian pula dolar Amerika, yang sudah beberapa pekan ini nilainya terus merosot. Hal itu tampak dari terpangkasnya indeks dolar, yang mencerminkan pergerakan dolar terhadap enam mata uang utama dunia. Hanya dalam sepekan terakhir hingga Jumat, 23 Oktober lalu, indeks dolar merosot 0,93 persen. Hingga tengah hari itu waktu Amerika, memang belum ada pertanda kesepakatan soal stimulus bisa tercapai. Sebaliknya, makin kuat sinyal bahwa pengucurannya bakal tertunda.

Ruwetnya situasi politik di Amerika ini membuat banyak manajer investasi memilih berhenti sejenak, tak berani membuat keputusan besar untuk jangka pendek. Ada trauma yang masih menghantui mereka karena kejutan besar yang terjadi pada pemilu 2016. Ketika itu, Trump, yang menurut jajak pendapat bakal kalah, ternyata berhasil menduduki kursi presiden. Banyak manajer investasi juga gagal mengantisipasi kenaikan harga-harga saham tak lama setelah Trump menang karena program pemangkasan pajaknya menguntungkan korporasi.

Kekhawatiran lain yang juga membuat pasar cemas kali ini adalah sengketa hukum yang bakal terjadi jika Trump dinyatakan kalah. Berkali-kali Trump melempar sinyal tak akan menyerah begitu saja jika kalah dalam pemilu. Kemelut politik dan krisis konstitusional di ekonomi terbesar di dunia tentu akan berpengaruh besar pada upaya revitalisasi ekonomi di seluruh dunia.

Bagi Indonesia, untungnya, ada sedikit berkah dari kekacauan di Amerika kali ini. Penurunan nilai dolar Amerika setidaknya membuat rupiah terlihat kuat. Jadi, kendati sentimen pada rupiah sedang negatif karena pasar cemas akan hilangnya independensi Bank Indonesia, nilai rupiah tidak melorot. Dalam sebulan terakhir, nilai rupiah malah menguat hampir 1 persen terhadap dolar.

Apa pun hasilnya, keputusan mengenai stimulus di Amerika ini akan mendominasi pergerakan pasar dalam sepekan mendatang. Demikian juga hasil pemilu Amerika—ada kejutan ataupun tidak—pada pekan berikutnya.

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-11-28 00:43:12

Resesi Amerika Serikat Pemilu Amerika Amerika Serikat

Sinyal Pasar 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB