Film Irishman karya Martin Scorsese - Sinema - majalah.tempo.co ‚Äč

Sinema 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Tiga Setengah Jam dari Martin Scorsese


Konon inilah film terakhir sutradara Martin Scorsese. Satu versi jawaban ke mana menghilangnya tokoh buruh Jimmy Hoffa. Memperoleh 10 nominasi Academy Awards tahun ini.

Leila S Chudori

Edisi : 18 Januari 2020
i imdb
imdb

TIGA setengah jam mendengarkan sebuah cerita yang meluncur dari mulut seorang kakek bernama Frank Sheeran (Robert De Niro) ternyata bukan sesuatu yang membosankan. Terkejut? Itulah kedahsyatan sutradara Martin Scorsese.

Dari filmografi yang begitu panjang dan pengabdian puluhan tahun di dunia film, Martin Scorsese tentu saja selalu diingat sebagai “Bapak Sinema Mob Movies”, dari Mean Streets (1973), Goodfellas (1990), Casino (1995), sampai beberapa episode awal serial HBO, Boardwalk Empire (2010).

Scorsese justru memperoleh Piala Oscar sebagai Sutradara Terbaik lewat film The Departed (2006), sebuah adaptasi dari film Hong Kong, Infernal Affairs karya Alan Mak dan Felix Chong. Dia juga sudah memperlihatkan betapa film-film “non-mob” atau “non-mafia” karyanya tak kalah luar biasa, antara lain Raging Bull (1980), The Age of Innocence (1993), Gangs of New York (2002), dan The Aviator (2004).

Pertanyaan pertama bagi para penggemar film Martin Scorsese adalah mengapa Scorsese ingin “mengulang” film semacam Goodfellas. Film The Irishman juga tentang mafia, yang lagi-lagi melibatkan Robert De Niro, satu-satunya anggota mob berdarah Irlandia di tengah keluarga besar mafia Italia. The Irishman juga melibatkan Joe Pesci, aktor langganan Scorsese yang konon sudah pensiun dari Hollywood tapi bisa dibujuk untuk bergabung dalam film Scorsese yang terpanjang ini. Baik Goodfellas maupun The Irishman sama-sama menggunakan teknik narasi dari protagonis. Goodfellas memakai suara tokoh Henry Hill (Ray Liota), yang bercerita bagaimana dia selalu kagum dan ingin bergabung dengan the wise guys alias preman alias mafia kelas bawah di kampungnya.

Tapi ternyata The Irishman sama sekali berbeda dengan Goodfellas karena beberapa hal. Salah satunya adalah film ini terinspirasi dari kisah nyata, tokoh nyata bernama Frank Sheeran yang pada awal film sudah mencapai usia senja. Robert De Niro tampil sebagai seorang kakek yang berkisah kepada kita tentang bagaimana dia pertama kali sebagai seorang pengemudi truk tak sengaja berkenalan dengan bos pelaku kriminal terkemuka, Russell Bufalino (Joe Pesci), dan hanya dalam sekejap Sheeran paham bahwa segalanya yang berlaku di Pennsylvania harus melalui restu Bufalino. Sheeran mulai bekerja serabutan, dari menjadi sopir barang selundupan hingga “mengecat dinding” (yang artinya membunuh orang, ini istilah di kalangan mafia jika sedang menyewa pembunuh bayaran yang setelah membunuh sekaligus membereskan mayat dan cipratan darah di dinding).

Begitu ahlinya Sheeran hingga ketika dia ditelepon pemimpin buruh Amerika Serikat terkemuka, Jimmy Hoffa (Al Pacino), kalimat yang pertama meluncur adalah I heard you paint houses.

Tentu saja Sheeran tak hanya menjadi orang yang “membenahi urusan” Jimmy Hoffa, yang konon mempunyai banyak musuh. Dia juga tetap menjadi anak buah Bufalino yang patuh dan setia. Apa pun yang dikerjakan untuk Hoffa pasti harus melalui restu Bufalino.

Sekali lagi, Martin Scorsese berhasil menarik kita ke dunia mafia dengan sebuah elemen baru: teori konspirasi seputar kematian James Riddle Hoffa.

Ada beberapa hal paling menarik dari film terbaru--dan konon terakhir--Scorsese ini. Pertama, kasus hilangnya Jimmy Hoffa yang secara resmi dinyatakan inclocusive alias tidak jelas. Tapi, dalam The Irishman, Scorsese menggunakan satu versi, yakni versi Frank Sheeran, yang memang menjadi dasar pembuatan film ini. Menurut testimoni Sheeran dalam buku biografinya, I Heard You Paint Houses, yang ditulis Charles Brandt, dialah yang membunuh Jimmy Hoffa. Sheeran begitu takjub kepada Hoffa--diperankan Pacino, yang terus-menerus menjerit kiri-kanan--menyamakan Hoffa sebesar Elvis Presley, The Beatles, dan bahkan Jenderal Patton. Bisa dibayangkan ketika akhirnya--sesuai dengan pengakuan Sheeran sendiri--dia diperintahkan untuk menghabisi tokoh terkemuka yang sudah mulai mengganggu “ketenangan” sekaligus “mengecat dinding rumahnya”. Meski pengakuan Sheeran sudah dibukukan dan diangkat ke film, tetap saja kasus menghilangnya Jimmy Hoffa sejak 30 Juli 1975 secara resmi masih dianggap tidak jelas dan dia dinyatakan tewas secara legal (artinya dia dianggap mati, meski jenazahnya tak ditemukan) pada 1982. Maka bagian ini sangat menarik karena pada akhirnya The Irishman adalah sebuah film fiksi. Sebuah cerita dari satu versi.

Hal kedua yang menarik, Scorsese menggunakan efek visual computer-generated imagery (CGI) pada wajah Robert De Niro dan Joe Pesci. Berbeda dengan kegagalan Ang Lee saat menggunakan teknologi serupa dalam film Gemini Man (2019), tampaknya Scorsese cukup berhasil untuk tak membuat proses de-aging atau “memudakan” kedua aktor sepuh itu menjadi konyol. De Niro dan Pesci “muda” tampil lumayan meyakinkan meski bahasa tubuh mereka saat berkelahi terlihat janggal. Pada saat tokoh Sheeran bernafsu karena pemilik warung mendorong Peggy, putrinya, maka adegan dia menghajar terlihat seperti seorang kakek yang lelah, sementara usianya saat itu seharusnya masih 40-an tahun. Secara umum, proses “memudakan” kedua aktor ini tetap bagus dan tak terlalu mengganggu.

Hal yang paling menarik adalah betapa panjangnya durasi film ini tapi kita tetap bisa betah menyaksikannya. Faktor bahwa kita menyaksikannya melalui saluran digital Netflix di rumah, di layar laptop, dan bukan di bioskop bisa jadi salah satu penyebabnya. Sebab, kita dapat mengambil jeda kapan saja.

Selain faktor medium tersebut, film ini digarap Scorsese dengan cerdas. Kita tak sekadar disajikan teknik kilas balik belaka. Scorsese sekaligus membingkai memoar itu dalam sebuah perjalanan Frank Sheeran dan Russell Bufalino bersama istri masing-masing dari Pennsylvania hingga Michigan. Selama perjalanan, Sheeran mengisahkan setiap momen penting yang membuat dia menjadi orang yang paling dipercayai Bufalino, di antaranya mengirim senjata untuk badan intelijen Amerika, CIA, yang saat itu tengah mencoba mendongkel pemerintah Kuba. Juga saat Jaksa Agung Robert Kennedy mengincar Hoffa untuk dijebloskan ke penjara. Tentu saja salah satu tugas Sheeran yang terpenting dan adegan yang sulit dilupakan adalah ketika Bufalino menyampaikan kepada dia bahwa para bos sudah muak dengan tingkah laku Hoffa. Sheeran ditunjuk menjadi eksekutor.

Menyaksikan film panjang yang digarap teliti dengan jalan cerita yang mengandung elemen konspirasi yang kental--meski tidak sevulgar gaya Oliver Stone--menjadi satu pencapaian baru Scorsese. Semoga ini bukan film terakhirnya.

LEILA S. CHUDORI

 


 

 

THE IRISHMAN

Sutradara: Martin Scorsese
Skenario: Steven Zaillian
Berdasarkan buku biografi Frank Sheeran I Heard You Paint Houses oleh Charles Brandt
Pemain: Robert De Niro, Al Pacino, Joe Pesci, Ray Romano

2020-02-24 09:29:10

Sinema 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.