Ekonomi dan Bisnis 2/9

Sebelumnya Selanjutnya
text

Jika harga mulai bertingkah

Bencana alam telah mendongkrak harga di beberapa daerah. dan jurus operasi pasar hanya mampu mengendalikan sedikit komoditi. inflasi?

i
MENGADA-ADA, itulah lagak dan gaya harga-harga yang sudah melambung, bahkan sebelum Puasa. Biasanya, kenaikan itu baru terjadi pada minggu kedua atau ketiga Puasa, yang mencapai puncak pada satu atau dua hari sebelum hari raya Idulfitri. Tapi, tahun ini, harga naik lebih cepat. Telur ayam melejit dari Rp 2.000 menjadi Rp 2.900 per kg. Daging has dalam dari sekitar Rp 12.000 menjadi Rp 13.000 per kg. Selain harganya tinggi, barangnya belum tentu ada. Pekan lalu, banyak ibu di Bandung kecewa karena tak menemukan tomat di pasar. Memang ada segelintir ibu yang sempat memergoki si merah bulat ini, tapi harganya mengejutkan: Rp 1.800 per kg. Ini berarti naik sekitar 100% dibandingkan dengan harga dua pekan sebelumnya. Begitu pula harga beras. Masih di Kota Kembang, harga beras naik Rp 50 sampai Rp 200 per kg. Beras Cianjur kualitas I kini tak bisa dibeli dengan duit Rp 900, tapi harus Rp 1.100. "Musibah" seperti ini juga dialami oleh penduduk kota besar lainnya. Selain telur, daging, dan beras, tepung terigu, minyak goreng, dan sayur-mayur juga harganya terbawa naik. Bahkan cabai hijau, sejak pekan lalu, dijajakan seharga Rp 3.000 per kg (sebelumnya hanya Rp 1.000). Harga-harga di berbagai pasar di Surabaya dan Medan juga kurang lebih sama. "Masa, harga daging lembu sampai Rp 12.000," kata seorang ibu di Medan. Pokoknya, rasa gelisah dan resah kini menghinggapi hati ibu-ibu rumah tangga, terutama istri pegawai negeri golongan rendah plus para ibu dari golongan ekonomi lemah. Padahal, tahun-tahun terdahulu, harga beras biasanya paling tinggi naik Rp 100. Daging paling banter melonjak Rp 2.000. Bahwa harga-harga cepat berpacu, mungkin lantaran Imlek yang kebetulan jatuh tepat dua hari sebelum puasa. Tapi penyebab utamanya mungkin bencana alam seperti banjir, yang hingga akhir Januari lalu telah menghancurkan areal berbagai tanaman (termasuk padi, palawija, dan sayur-mayur) seluas 58.000 ha lebih. Akibatnya langsung terlihat pada harga sayuran di Jakarta. Menurut Gunawan Sumodiningrat, ekonom yang kini menjabat Kepala Biro Pembangunan Daerah Tingkat II dan Pedesaan Bappenas, bencana itu bukan hanya merusakkan lahan tanaman, tapi juga telah memutuskan jalur distribusi. Gunawan yakin, hal itulah yang menyebabkan naiknya harga sayur-mayur di Jakarta, yang sebagian kebutuhannya dipasok dari Boyolali, Jawa Tengah. Putusnya beberapa jalur distribusi ini, ujung-ujungnya telah mendongkrak indeks harga umum di beberapa ibu kota provinsi hingga di atas 1%. Dan kota-kota yang mengalami kenaikan itu rata-rata memiliki tingkat konsumsi cukup tinggi. Itulah sebabnya, kendati pada bulan Februari ini telah ada beberapa daerah yang melakukan panen, Presiden tetap menginstruksikan agar aparatnya (Bulog terutama) melakukan operasi pasar. Dan Bulog sendiri tampaknya sudah siap bergerak. Seperti dikemukakan Menteri Pangan/Kabulog Ibrahim Hasan. "Ini merupakan pekerjaan rumah yang biasa kami lakukan setiap awal tahun dan menjelang Lebaran. Jadi, kami tidak terlalu repot lagi," tambahnya. Untuk mengatasi gejolak harga beras, pada Januari lalu, Bulog telah melakukan droping sebanyak 80.000 ton. Dari jumlah ini, sebagian besar (50.000 ton) dilempar ke berbagai daerah di Jawa Timur. Ini karena, "Kami mengutamakan operasi pasar di daerah- daerah lokasi bencana yang menyangkut banyak manusia," kata Ibrahim. Selain mendistribusikan beras, Bulog mendistribusikan gula pasir, tepung terigu, dan kedelai. Bahkan tak lama lagi produsen minyak goreng, yang biasanya "bertingkah" pada saat seperti sekarang, tidak akan berkutik. Sebab, jika tetap "menarik-ulur" harga produknya, Pemerintah akan segera membanjiri pasar dengan 100.000 ton minyak goreng impor. Lantas bagaimana dengan komoditi lain yang berada di luar kekuasaan Bulog? Agak sulit untuk ditebak dengan tepat. Sebab, gejala yang tampak sering tak memberikan gambaran yang pasti. Daging sapi dan kambing, misalnya, menjelang Lebaran selalu naik (bahkan naiknya bisa setiap hari). Padahal, "Kami selalu melakukan ekstradroping agar harga tetap terkendali," kata Rustami Hatamarrasid, Direktur Produksi PT Dharma Jaya, yang mengelola pemotongan hewan di wilayah DKI Jakarta. Yang lebih sulit dikendalikan adalah sayur-mayur. Kemungkinan ini diisyaratkan oleh E. Mansur, petani sekaligus bandar besar sayuran di Lembang, Bandung. Katanya, hujan yang berkepanjangan telah menyebabkan anjloknya hasil panen hingga 50%. Selain hasil panennya anjlok, bandar sayur seperti Mansur lebih suka menjual tomatnya ke Singapura. Ini jelas lebih menguntungkan karena di negeri Lee Kuan Yew ini, sekilo tomat Lembang dihargai Rp 3.000. Namun, Pemerintah tampaknya tak perlu khawatir bahwa inflasi 1,25% sepanjang Januari lalu akan berlangsung terus. Sebab, selain harga tomat, harga bahan pokok lainnya (yang bobotnya 60% dalam perhitungan inflasi) akan terkendali. "Inflasi yang terjadi menjelang Puasa, menjelang Lebaran, dan menjelang habisnya masa anggaran (bulan Maret) itu biasa, dan tak akan bertahan lama," kata Gunawan Sumodiningrat, yakin. Mungkin pendapat ini benar. Kendati ada kenaikan harga, inflasi masih bisa dikendalikan. Tapi, berdasarkan pengalaman para ibu, harga yang telanjur naik biasanya enggan turun. Padahal, penghasilan yang dibawa pulang oleh suami mereka - terutama pegawai negeri kecil -- sudah pasti tidak naik, seperti yang bisa dicek dalam APBN 1994-1995.Budi Kusumah dan Laporan Biro-Biro

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=162091711112



Ekonomi dan Bisnis 2/9

Sebelumnya Selanjutnya