Seni 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Paraphernalia Meleleh di Hong Kong

Pameran seni dunia mulai bergeliat melawan Covid-19. Art Basel Hong Kong kembali digelar secara fisik, meski masih terbatas. ROH Projects Jakarta membawa proyek patung es yang meluruh.

i Companion kolaborasi dari ROH Project kolaborasi dan seniman Manila Gary-Ross Pastrana yang ditayangkan dalam bentuk video tiga chanel, daklam Art Basel Hong Kong 2021. Photo courtesy of Davy Linggar and ROH Projects
Companion dari ROH Project yang ditayangkan dalam bentuk video di Art Basel Hong Kong 2021. Photo courtesy of Davy Linggar and ROH Projects

BUNYI tetes-tetes air yang mendesak. Kabut lembut menguar dari es yang menyublim. Patung beku itu sedang meleleh dengan suara kertak-kertak. Di satu titik, balok-balok es yang saling menopang itu telah mencair terlalu banyak sehingga tak mampu lagi mempertahankan bentuknya. Brak.... Patung itu luruh sepenuhnya.

Karya berjudul Companion ini muncul dalam bentuk video tiga saluran di ruang pamer Art Basel Hong Kong, 19-23 Mei lalu. Proses patung es yang meleleh itu direkam selama tujuh jam dengan empat kamera, kemudian ditampilkan kembali dalam seri dokumentasi video. Rekaman yang dipercepat dan makin menonjolkan suara-suara natural es yang merekah terasa menghipnosis sekaligus menghadirkan tensi bagi penontonnya.

Companion menjadi satu-satunya karya fisik yang dibawa galeri ROH Projects Jakarta pada Art Basel Hong Kong tahun ini. Ini adalah proyek kolaborasi seniman Manila, Gary-Ross Pastrana, dan gabungan seniman dari ROH Projects: Tromatama dan Davy Linggar. Gary-Ross mulanya memberikan serangkaian instruksi dari Manila untuk membuat sebuah patung yang menyerupai figur manusia dari balok-balok es dan selembar selendang. “Ide dasarnya adalah sebuah figur yang dapat mengesankan adanya kehadiran. Seperti saat kita salah mengira kain di atas kursi sebagai seseorang,” demikian instruksi Gary-Ross.


Companion dari ROH Project yang ditayangkan dalam bentuk video tiga channel di Art Basel Hong Kong 2021. Photo courtesy of Davy Linggar and ROH Projects

162450197239

Gary-Ross adalah seniman yang kerap menggali nilai sentimental dalam suatu obyek sehari-hari dengan cara dekonstruksi dan rekonstruksi bentuk fisiknya. Pendekatannya cenderung puitis. Dalam salah satu karyanya yang berjudul Two Rings (2008), Gary-Ross membuat pedang mini dari dua cincin milik ibunya. Dia kemudian menusuk lengannya dengan pedang itu hingga berdarah, lalu melelehkan kembali pedang beserta tetesan darahnya untuk dibentuk ulang menjadi cincin. Setiap tahapan itu ia potret dan dokumentasikan. Sering kali proses de/rekonstruksi itu sendiri yang menjadi karyanya, bukan lagi hasil akhir dari proses tersebut. Sebagaimana dapat dilihat pada karya Companion di Art Basel Hong Kong.

Tromarama dan Davy Linggar mewujudkan ide Gary-Ross dan mendokumentasikannya. Tromarama adalah gabungan seniman Jakarta-Bandung yang terdiri atas Febie Babyrose, Herbert Hans, dan Ruddy Hatumena yang banyak berkarya dengan tema relasi antara dunia fisik dan virtual, sementara Davy Linggar dikenal sebagai seniman foto. Di Jakarta, mereka membekukan balok-balok es dan turut mencemplungkan berbagai paraphernalia atau beragam perkakas di dalamnya, seperti potongan tubuh boneka, mobil mainan, bunga kering, gantungan kunci, dan lain-lain. “Benda-benda yang dibekukan adalah koleksi pribadi saya dan Tromarama,” kata Davy Linggar lewat pesan tertulis, Kamis, 27 Mei lalu.

Balok-balok es dengan beragam paraphernalia terjebak di dalamnya itu mereka susun tinggi menyerupai sosok tubuh berkacamata. Davy mengatakan awalnya mereka kesusahan menumpuk balok es karena tak mau menempel dan selalu tergelincir. Mereka kemudian mengakalinya dengan menaburkan garam.

Seiring dengan waktu, es meleleh dan berbagai obyek di dalamnya perlahan menemukan ruang untuk bergerak. Koin tergelincir, mainan kuda terjatuh dari tangan sebuah boneka, sebuah gantungan terjuntai pada rantainya. Pergerakan itu menghasilkan suara yang membius dan membuat bergidik. Karya yang dikonsep di Manila, dibuat di Jakarta, lalu dipamerkan di Hong Kong ini diperkenalkan sebagai suatu upaya membangun kembali interaksi dan kolaborasi seniman di tengah situasi pandemi yang selama setahun ini telah membatasi berbagai relasi sosial.

Selain menampilkan Companion yang dipamerkan langsung, ROH Projects memamerkan sejumlah karya multidisiplin lain lewat fasilitas Online Viewing Room. Di antaranya Pearlodor oleh Syagini Ratna Wulan, Niskala Gora oleh Arin Dwihartanto Sunaryo, serta karya-karya Bagus Pandega, Kei Imazu, Uji Handoko, Syaiful Aulia Garibaldi, dan Aditya Novali.

Art Basel Hong Kong tahun ini mencoba format baru setelah setahun pandemi. Tahun lalu pergelaran ini menjadi salah satu perhelatan seni pertama yang terpukul dampak pandemi sehingga harus dibatalkan dan diganti sepenuhnya dengan konsep Online Viewing Room. Kali ini Art Basel mengusung konsep hibrida, memadukan pameran virtual dan pameran fisik di Hong Kong Convention and Exhibition Center. Tentu pameran fisik ini masih dengan batasan.

Companion dari ROH Project yang ditayangkan dalam bentuk video tiga chacnel di Art Basel Hong Kong 2021. Photo courtesy of Davy Linggar and ROH Projects

Art Basel Hong Kong mengenalkan sistem booth satelit untuk mengantisipasi restriksi bepergian akibat Covid-19. Dengan sistem ini, galeri yang perwakilannya tak dapat terbang langsung ke Hong Kong tetap bisa memamerkan karya lewat booth satelit yang akan dijaga oleh staf lokal yang ditunjuk Art Basel. Di antara 104 galeri dari 23 negara yang turut serta, setengah di antaranya berpartisipasi dengan konsep satelit ini. Galeri-galeri itu “mengendalikan” ruang pamer mereka di Hong Kong dari jarak jauh. Beberapa karya seniman dunia yang menjadi sorotan adalah lukisan Rirkrit Tiravanija yang dipamerkan oleh Gladstone Gallery (New York), karya Danh Vo dari Take Ninagawa (Tokyo), dan karya seniman eksperimental dari Korea periode 1970-an yang dibawa oleh Arario Gallery.

Laporan akhir pameran ini menyebutkan, kendati pandemi masih berlangsung, angka penjualan tahun ini menggembirakan di semua sektor dan segmen pasar, baik secara langsung maupun digital. Kolektor datang dari 30 negara, seperti Cina, Korea Selatan, Amerika Serikat, dan Afrika sub-Sahara.

Sejumlah galeri peserta menyatakan terasa muncul energi yang berbeda dengan adanya pameran fisik. Banyak kolektor cenderung memilih membeli karya seni secara langsung. “Ada respons luar biasa dari audiens yang jelas telah merindukan pameran langsung,” ujar Fabio Rossi dari galeri Rossi & Rossi di London dan Hong Kong, lewat siaran pers. “Kami berhasil membuat penjualan yang baik dan sebagian besar pada klien-klien baru.”

Satu lagi hal mencolok pada Art Basel Hong Kong kali ini adalah kemunculan kelompok kolektor muda. Fred Scholle dari Galerie du Monde, yang dikutip dalam laporan akhir pameran, mengamati bahwa para kolektor muda ini bersemangat dan melengkapi diri dengan riset yang kuat. Hal ini diiyakan sejumlah galeri lain. “Muncul sejumlah kolektor muda yang makin percaya diri dengan selera mereka dan membeli. Pameran ini berhasil dengan penjualan yang baik,” kata Henrietta Tsui-Leung dari Ora-Orang Hong Kong.

MOYANG KASIH DEWIMERDEKA

Reporter Moyang Kasih Dewi Merdeka - profile - https://majalah.tempo.co/profile/moyang-kasih-dewi-merdeka?moyang-kasih-dewi-merdeka=162450197239


seniman Seni Rupa Seni Kontemporer

Seni 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.