Mengenalkan Musik Nusantara ke Dunia - Seni - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Seni 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Ubud dan Strategi World Music Nusantara

Indonesian Music Expo (IMEX) digelar untuk merespons pasar world music. Festival daring menjadi pemanasan untuk perhelatan tahun depan.

i Penampilan seniman Ayu Laksmi (tengah) saat acara Indonesian Music Expo (IMEX), 17 Oktober 2020. TEMPO/Made Argawa
Penampilan seniman Ayu Laksmi (tengah) saat acara Indonesian Music Expo (IMEX), 17 Oktober 2020. TEMPO/Made Argawa

Suara petikan alat musik penting dari seniman Ayu Laksmi menggerus kesunyian Museum Njana Tilem, Desa Mas, Ubud, Gianyar, Bali. Sabtu petang, 17 Oktober 2020, pemeran utama di film Pengabdi Setan besutan Joko Anwar itu tampil membawakan lagu “Duh, Atma” bersama dengan grup musik Svara Semesta dalam acara Indonesian Music Expo (IMEX) 2020.

Karena pandemi corona, hajatan world music—aliran musik berelemen etnis—itu dilangsungkan secara daring. Pementasan berlangsung di Museum Njana Tilem dan Puri Langon, yang sama-sama ada di Ubud. Namun kata penggagas IMEX, Franki Raden, pihaknya sudah berencana menggelar expo secara off-air tahun depan. “Rencananya 1-4 Juli 2021, berpusat di ARMA (Agung Rai Museum of Art) dan sekitarnya. Ini sekaligus peluang untuk memulihkan pariwisata Bali dan menjadikan Ubud sebagai destinasi world music,” kata komposer dan etnomusikolog itu saat ditemui pada Sabtu, 17 Oktober 2020.

Selain Ayu Laksmi, sejumlah musikus mengisi festival yang ditayangkan di Facebook dan YouTube tersebut. Mereka di antaranya Iwan Fals bersama INO Ensemble, Trie Utami, Ras Muhamad dan Noizekilla, Suarasama (Sumatera Utara), Dadendate (Sulawesi Tengah), Bona Alit (Bali), Kua Etnika (Yogyakarta), Marinuz Kevin x VJ Beats (NTT), serta musik tradisi Jegog Suar Agung (Bali).

Penampilan Iwan Fals bersama INO Ensemble menjadi salah satu daya tarik acara yang berlangsung pada 11-18 Oktober ini. Lagu “Bangun Putra-Putri Pertiwi” menjadi lebih berwarna karena diiringi sejumlah alat musik tradisional, seperti kecapi dan kendang (Sunda), taganing (Batak), pupuik (Sumatera Barat), kempul (Jawa), rebana (Betawi), dan kolintang (Manado).

Franki menjelaskan, IMEX 2020 adalah ruang promosi yang mengenalkan artis world music Nusantara ke dunia. Harapannya, pelaku industri world music melirik kemampuan musikus lokal kita dan menggandeng mereka untuk berkolaborasi. Indonesia, Franki menjelaskan, sudah punya modal kuat untuk bicara banyak di industri ini, karena kaya akan budaya dan musik tradisi. Selama ini pun sudah banyak musikus Indonesia yang konsisten berkiprah di jalur world music, walau sebagian di antaranya belum berkiprah hingga mancanegara. “Industri ini menarik karena pasarnya naik hingga 10 persen. Karena itu, banyak negara berlomba-lomba menggelar festival world music,” tuturnya.

Istilah world music awalnya hanya dikenal di kalangan peneliti dan pelaku musik etnis. Aliran itu mulai berkembang setelah sejumlah produser di Amerika Serikat dan Eropa mulai menggunakan istilah tersebut. Di level global, world music pun mulai diwadahi sejumlah pergelaran besar. Seperti World of Music, Arts, and Dance (WOMAD) yang dihelat di Inggris. Salah satu inisiatornya adalah Peter Gabriel, mantan vokalis grup rock Genesis.

Selain WOMAD, ada pula World Music Expo atau Womex yang berbasis di Berlin, Jerman. “Nah, IMEX ini menggabungkan keduanya,” ujar Franki. IMEX sendiri sudah dimasukkan ke jadwal Womax yang berlangsung pada 20-25 Oktober. “Jadi kami berharap para direktur festival atau buyer datang ke Ubud untuk belanja di IMEX.”

Franki menambahkan, IMEX tak hanya mengundang para buyer, tapi juga sejumlah jurnalis dari luar negeri, termasuk Inggris. Itu untuk menyebarluaskan informasi soal IMEX, sekaligus mempromosikan para musikus lokal. Dari festival delapan hari ini, Suar Agung dan Suarasama sudah masuk dalam Transglobal World Music Chart. “Musik mereka akan diputar oleh sejumlah radio di 50 negara Eropa,” ucapnya.

Musisi Ras Muhamad (kiri) dan NoizeKilla (kanan) tampil secara daring gelaran Indonesia Music Expo (IMEX) di Ubud, Gianyar, Bali, 19 Oktober 2020. ANTARA/Fikri Yusuf

Dari sejumlah musikus world music Tanah Air, sedikit di antaranya yang sudah menjejak ke negeri lain. Di antaranya Talago Buni asal Padang Panjang, Sumatera Barat, yang mempunyai agen di Jerman, serta grup Sambasunda asal Bandung yang agennya bermarkas di Inggris. Talago Buni mengangkat unsur tradisi dari alat musik khas Minang, seperti sampelong dan sirompak dari Payakumbuh. Sejak dibentuk pada 1998, kelompok ini juga kerap manggung di luar negeri.

Adapun Sambasunda, yang didirikan pada 1990-an, mengusung repertoar yang kental dengan unsur musik etnis. Franki merinci, bayaran untuk dua grup musik itu berkisar di angka US$ 20 ribu. Walau angkanya masih di bawah musikus world music lain, seperti Youssou N'Dour (Senegal) atau AR Rahman (India), Franki menilai rekam jejak Samba Sunda dan Talago Buni bisa menjadi pijakan yang baik. “Perlu strategi khusus, tapi pemerintah mesti mendukung,” tutur Franki.

Ayu Laksmi sendiri menilai dukungan pemerintah untuk pengembangan world music di Indonesia masih minim. Terutama dalam membuka jalan musikus lokal agar dapat menembus pasar internasional. Meski di sejumlah daerah ada festival yang menjadi pentas aliran musik ini, semisal Pesta Kesenian Bali, Ayu menilainya belum cukup kuat untuk mendorong promosi para seniman. Adapun acara seperti IMEX diharapkannya berlangsung konsisten dan berkesinambungan.

Untuk festival world music perdana tahun depan, Franki mengaku masih bekerja sendiri untuk menyeleksi musikus yang bakal diajak tampil di Ubud. Para musikus itu nantinya bakal meramaikan sekitar 20 stan, di luar jatah untuk penampil dari kampus-kampus. Namun, untuk expo berikutnya, Franki menyebut kurator dari luar negeri, baik itu Afrika maupun Eropa, akan dilibatkan.

Direktur Program IMEX 2020 Satya Wacana menambahkan, ke depannya mereka ingin agar festival ini bisa dikemas dengan konsep yang lebih menarik, baik untuk pengunjung maupun agensi. Salah satu idenya adalah menggelar festival di tengah alam Ubud. “Ini sekaligus mengadopsi pemahaman Tri Hita Kirana, yakni bagaimana menjalin hubungan dengan alam atau lingkungan sekitarnya,” ucapnya.

MADE ARGAWA (DENPASAR)

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-11-28 00:25:34

Musik

Seni 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB