Festival Tubaba Lampung - Seni - majalah.tempo.co

Seni 3/3

Sebelumnya Selanjutnya
text

Penghormatan Terakhir untuk Suprapto


Festival Tubaba di Lampung menjadi perhelatan seni sekaligus tribut kepada mendiang Suprapto Suryodarmo, maestro Joget Amerta dari Solo.

Tempo

Edisi : 8 Februari 2020
i Pertunjukan Joget Amerta di Las Sengok, Tulang Bawang Barat, Lampung. Taufik Darwis
Pertunjukan Joget Amerta di Las Sengok, Tulang Bawang Barat, Lampung. Taufik Darwis

RUANGAN melingkar dengan hamparan pasir putih. Garis tak putus di amfiteater Uluan Nughik, Tulang Bawang Barat (Tubaba), Lampung, itu banyak ditemukan dalam banyak jejak kebudayaan megalitik mana pun. Sebuah tatanan tanpa awal dan tanpa akhir, saat semua hal bermuara dari yang satu dan kembali kepada yang satu.

Di ruang melingkar ini, seniman, budayawan, dan peneliti dari berbagai penjuru dunia menari bersama pada 22-26 Januari lalu. Acara ini digagas Suprapto Suryodarmo (1945-2019) dan Umar Ahmad (Bupati Tubaba). Pada mulanya, Suprapto hanya hendak meminjam Tubaba sebagai ruang latihan Joget Amerta (meditasi gerak ciptaan Suprapto) yang biasa diikuti muridnya dari seluruh dunia. Tapi Umar melihat spirit Joget Amerta memiliki kesamaan visi dengan Tubaba, yang hendak menjadikan kota yang baru berusia sebelas tahun ini sebagai kota yang semua warganya memiliki kesadaran ekologis.

Di tengah penyiapan acara ini (work in progress), pada 29 Desember 2019, maestro Suprapto Suryodarmo berpulang. Namun panitia dan para pendukung acara memutuskan terus melanjutkannya sebagai sebuah penghormatan terakhir kepada tokoh meditasi gerak ini. Suprapto banyak berlatih gerak di ruang tua, seperti candi, peninggalan keramat, dan situs megalitik.

Dalam salah satu sesi pidato pengantar sebelum melepaskan kura-kura di situs Las Sengok, Umar bercerita tentang beberapa nama makhluk halus yang ada di Lampung. Nama Las Sengok berarti Hutan Angker/Larangan, yang melarang manusia merusak hutan, sungai, dan hewan. Kata “angker” bertujuan menakuti dan mencegah perusak lingkungan. Sebuah konsep ketakutan untuk melindungi alam.

Suprapto Suryodarmo dalam acara Borobudur Writers & Cultural Festival. Dok. BWCF

Menjelang sore, para partisipan mengelilingi bebatuan raksasa di Las Sengok yang membentuk konfigurasi rasi bintang Orion—rasi yang diartikan sebagai keterbukaan terhadap berbagai budaya yang datang ke Tubaba; rasi ini juga bisa dilihat dari mana pun. Keterbukaan dan penghormatan terhadap para pendatang ini antara lain bisa kita lihat dari tarian Sigeh Pengunten, yang banyak menggunakan pola duduk dan improvisasi dari cara tangan memberi hormat kepada orang lain, sebuah upaya tubuh tradisi untuk sungguh-sungguh menghormati tamu yang dalam konteks festival adalah para undangan.

Pertunjukan Paratiwi oleh Halilintar Latief (Makassar) menarik. Halil tampil bersama Laode Abdul Gani dan Frans Yusuf Dottoro. Alih-alih menjadi pertunjukan yang memiliki struktur dramatis modern dan teknik tari yang memukau, Paratiwi lebih terlihat sebagai suatu ritual dengan properti mereka yang lengkap, seperti Busu kecil, piring gerabah, garam, gunting, pedupaan (dupa, kemenyan, dan arang), daun pisang segar, serta kain panjang dengan empat warna: hitam, kuning, merah, dan putih. Semua itu merupakan sebuah sistem tanda yang berasal dari kepercayaan arkais orang Bugis tentang penghormatan kepada alam semesta, yang menyiratkan keseimbangan antara sifat keibuan, kebersahajaan, peleburan, dan bumi.

Halil bergerak mengelilingi amfiteater dengan membawa kain empat warna, kemudian bersama Gani merespons benda-benda di dalam ruang amfiteater: batu besar di pusat panggung atau tiga batu besar di samping kiri. Mereka kadang membacakan mantra, mengembuskan asap dupa, atau membuat gerak improvisator di antara batu-batu itu. Kadang kaki-kaki mereka mengentak dengan tubuh membungkuk dan kepala tertunduk, menunjukkan penghormatan kepada dunia bawah (paratiwi). Sedangkan Frans terus memainkan belmetal, menciptakan musik yang makin menguatkan penampilan Halil dan Gani. Pada bagian akhir ritual ini, kita menyaksikan benda-benda telah menjadi artefak yang “instalatif”. Ritual paratiwi dari Bugis dan batu-batu besar milik Tubaba telah mencapai dialog yang intim.

Di tengah hamparan bebatuan tersebut, beberapa seniman kemudian mulai memasuki sesi “Ngolet”, istilah khas yang digunakan Suprapto saat peristiwa merespons ruang/lanskap lingkungan mulai berlangsung. Horizon batu-batu tersebut lantas tiba-tiba berubah. Satu per satu tubuh mulai memasuki tegangan yang tipis antara bergerak dan menari—Suprapto mengistilahkannya seperti memasuki kolam cahaya”—yang terjadi begitu saja, tanpa penyutradaraan, tanpa koreografi. Katsura Kan, penari butoh dari Jepang, dalam satu sesi wicara mengatakan sesungguhnya Suprapto lebih banyak berbicara kepada leluhur lawan bicaranya, seperti mengetuk rahasia lain atas ruang. Bukan hanya kita sendiri yang sedang mendiami ruang, tapi ada juga leluhur di semua tempat yang kita tinggali. Tradisi butoh Katsura, misalnya, menggunakan tubuh yang lambat sebagai manifes tindakan membawa leluhur.

Saat tampil, Katsura lebih banyak bergerak dalam garis lurus dan putus, tajam dan tegas, menandai titik berangkat dan titik berhenti dalam ruangan—dengan menutup dan membuka kipas. Akan halnya Ari Rudenko bersejingkat perlahan dengan pergelangan kaki dan lengan menyerupai sayap hewan dari zaman prasejarah. Melalui sesi Ngolet ini, kita bisa melihat Joget Amerta yang diciptakan Suprapto bukanlah sebuah gerakan teknik baku. Ia serupa ruang kosong yang bebas dimasuki siapa pun, oleh teknik tubuh mana pun.

Sesi lokakarya lain, yang digagas Anna Thu Schmidt, menekankan mata sebagai kontak pertama tubuh. Momen pertemuan mata dan tubuh menjadi penting karena, melalui mata, konsep kesadaran dalam Joget Amerta dibuka. Joget Amerta diperagakan untuk menjaga tubuh terus-menerus sadar dan awas. Sementara “mata” dalam lokakarya Anna Thu Schmidt adalah mata yang menjaga ketegangan di antara dua orang yang saling menatap, mata yang digunakan dalam lokakarya butoh oleh Katsura Kan seperti ditempatkan pada telapak kaki. Sebab, butoh mengharuskan mata kita menatap hal-hal yang ada di bawah dengan lutut ditekuk dan ditekan, lalu berjalan menyeret dengan perlahan, menyapa semua yang ada di bawah kaki.

Pertunjukan tari nenemo saat pembukaan Megalithic Millennium Art di Tulang Bawang Barat. Taufik Darwis

Bagaimana cara mewariskan kepekaan animistik kepada anak-anak. Bettina Mainz memasukinya melalui khazanah permainan. Dia membawa anak-anak berkenalan dengan pohon dan bebatuan. Dengan cara yang lebih jenaka, dia memberikan keterangan “karena batu merasakan tubuh kita, kita juga harus merasakan tubuh batu”—dengan cara berpindah-pindah dari satu batu ke batu lain, dengan tantangan tubuh tidak boleh lebih tinggi daripada batu. Terlihat pertunjukan mereka seperti suatu piknik keluarga yang hangat dan bahagia. Sebuah balon biru besar, permainan yoyo, dan baju-baju berwarna cerah membuat sore di Uluan Nughik menjadi lebih segar dan cair.

Akan halnya penari Riyanto di balik batu besar di Berugo Cottage bergerak perlahan, menggerakkan tubuh untuk mengalami udara dengan persendian lengannya, menciptakan tubuh yang terus mengalir. Riyanto menggunakan pantulan gambar dari permukaan air kolam di Berugo Cottage sebagai kembaran dirinya, yang menari di atas dan di bawah kolam. Segala hal berpantulan dari permukaan kolam tersebut. Batu, pohon, juga tubuh Riyanto menjadi fotografi bayangan. Adegan ini mengingatkan pada ikon Narcissus yang sedang menatap wajahnya di kolam sebelum akhirnya terperosok dan tenggelam dalam bayangan sendiri, terperosok jauh ke dasar sungai.

Riyanto menghayati dan menekuni pantulan tubuhnya. Matanya lurus mengamati cahaya tubuhnya. Dia memasuki kolam dengan pantulan gambar diri sendiri, dengan kaki yang terbenam perlahan. Tubuh Riyanto menjadi kunci yang mengalami pergaulan dengan setiap sudut obyek alam: air, tanah, rumput, udara, batu, pohon. Melati Suryodarmo (putri mendiang Suprapto Suryodarmo) pelan-pelan berjalan dari belakang—peristiwa berjalan dengan timbunan batang kayu, mengalami mengangkat kayu sebagai tindakan menerima berat kayu dan melepasnya. Riyanto kemudian perlahan naik ke batu raksasa dengan Moris Sakaia di ujung batu kedua. Sebuah batang kayu yang terbentang di atas dua kepala tersebut menyambungkan dua batu besar. Kedua tubuh harus bergerak tapi juga mesti tetap menjaga keseimbangan sebelum akhirnya Melati menggigit satu batang kayu, menatap luas penonton, dan meninggalkan dua batu besar serta dua tubuh yang terhubung oleh ranting kayu tersebut.

RIYADHUS SHALIHIN, PEMERHATI SENI 
2020-02-24 09:13:38

Seni 3/3

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.