Melihat Sajak Diam Goenawan - Seni - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Seni 2/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Melihat Sajak Diam Goenawan

Melihat gambar-gambar Goenawan Mohamad seolah-olah membaca tulisan. Bukan gambar itu benar yang menyapa, melainkan gagasan, dalam makna yang luas.

i

Dalam pameran "Kata, Gambar", Goenawan Moha¡©mad menggunakan garis dan sapuan media bukan untuk menciptakan suatu suasana di suatu ketika. Tak saya temukan suatu tanda ruang dan waktu kalender. Bahkan, pada satu karya berjudul Ondel-ondel Tahun50-an, sepasang ondel-ondel itu tak berkaitan dengan tarikh. Yang terlihat, ya, sepasang ondel-ondel saja, entah di mana, entah kapan.

Kesan saya, begitulah sekitar 70 karya gambar hitam-putih (beberapa karya diberi sedikit bercak warna) di dia.lo.gue artspace, Jakarta, yang direncanakan dipamerkan sampai 5 Maret nanti.

Maka gambar berlatar hitam dengan bidang hampir persegi dan hampir persis di tengah, bidang dengan warna abu-abu kecokelatan yang tak rata, lalu sebuah garis lengkung putih membentuk bulatan tak utuh, bukanlah sebuah malam terang bulan yang sendu. Ia lebih merupakan susunan bidang-bidang, dengan secleret garis putih dan lengkung yang tak utuh tadi. Empat baris tulisan putih, tulisan tangan, di bawah, adalah unsur pengisi ruang kosong, atau penyeimbang rasa, sehingga bidang gambar tidak gonjing. Memang empat baris itu bisa dibaca:


Bulan pun lamban dalam angin
abai dalam waktu/Lewat remang
dan kunang-kunang, kau lupakan
wajahku, kulupakan wajahmu

Bait penutup dalam sajak "Asmaradana" tersebut bisa saja mengantarkan kita untuk merasakan suasana bidang hitam dan lain-lain itu, tapi tidak harus, dan suasana itu pun lebih menyarankan suatu gagasan suasana, bukan mewakili suasana itu sendiri. Gambar ini-dan gambar yang lain-lain di pameran ini-saya rasakan seperti itu.

Suasana yang hadir dalam bidang gambar adalah seperti lukisan-lukisan "horizon" Srihadi Soedarsono. Lukisan Srihadi tak menyajikan gambaran kenyataan seperti terlihat mata, hanya menghadirkan esensi perpaduan antara langit dan laut-dan sesuatu yang muncul di atas garis khatulistiwa, atau bulan di langit. Seluruh bidang gambar menjelma suasana kaki langit. Bidang gambar menjadi masa lalu, yang aktual adalah lukisan. Gagasan suasana pada bidang gambar pada karya Goenawan tak mengubah bidang gambar; bidang gambar itu sekadar mewadahi gagasan. Ini seperti hubungan di antara sajak yang tertulis atau tercetak pada kertas. Kertas itu tetaplah kertas dan sajak bisa dilepaskan dan, misalnya, dideklamasikan atau dinyanyikan.

Di dinding-dinding dia.lo.gue artspace, saya tak melihat gambar, tapi melihat gagasan. Melihat karena memang ada rupa di depan saya. Dan gagasan itu bisa apa saja, tapi bukan sesuatu yang terumuskan dengan jelas, atau dengan nalar. Yang "jelas" adalah suatu susunan rupa terbentuk dari garis (termasuk tulisan) dan bidang. Pada katalog, ditulis "Gambar, atau Sajak yang Diam". Itulah yang saya tangkap pada pameran "Kata, Gambar" ini.

Marilah kita amati, misalnya Trevi. Kota kecil di Italia ini pada bidang kertas menjelma sebentuk gagasan yang mewujud garis-garis tipis membentuk kotak-kotak tersusun, tidak rapi, di sana-sini aksen torehan hitam, mengesankan jendela. Trevi mungkin hanyalah awal, atau dorongan untuk menggores, dan pada akhirnya Trevi adalah garis dan lain-lain itu tadi. Andai ini potret sebuah sudut dari Trevi, sudut ini dicungkil dari keseluruhannya, mandiri, dan "melayang-layang" tak hendak "menyatu" pada kertas, karena ini bukan rupa dari Trevi. Dan garis serta yang lain-lain itu menawarkan dengan terbuka imaji-imaji yang mungkin muncul pada mereka yang mengamatinya.

Atau kita lihat sepotong profil, berkacamata, dengan rambut seolah-olah tertiup angin dari depan. Gambar pada latar hitam ini terbagi menjadi tiga bidang; di tengah, sang profil dengan latar putih, di atas dan bawah partitur musik. Mereka yang mengenal tampang ini dan profesinya akan setuju bahwa gambar ini merupakan profil Tony Prabowo, komponis kontemporer. Namun profil ini boleh dikenal boleh tidak, yang ditawarkan adalah, bagi saya, gagasan tentang manusia dan musik lewat garis-garis tipis dan pulasan kelabu dipadukan dengan kontras garis-garis horizontal tegas serta berbagai garis kecil yang hanya garis dan yang membentuk, antara lain, angka, putih di atas hitam. Tidakkah gambar ini terasa sebagai "kata-kata" berupa garis tipis bebas dan tegas formal, aksen-aksen garis kecil, pulasan yang merdeka?

Goenawan mengaku, ketika ia masih di sekolah dasar, orang-orang mengatakan ia "pinter nggambar". Lalu ia meneruskan mencoret-coret kertas kapan saja ia suka atau bosan mengikuti sesuatu yang membosankan. Dari kegiatan inilah tampaknya tangan Goenawan memiliki pengalaman menggambar tanpa ia bercita-cita menjadi perupa.

Ada satu sumber lagi dari mana tangan itu menyimpan pengalaman menggambar, persisnya menggores: dari menulis. Yang saya tahu, sebelum ada komputer, para penulis di Tempo, majalah berita mingguan yang ia pimpin, menulis dengan mesin tik. Pemeriksa artikel kemudian menyuntingnya dengan bolpoin, dengan tulisan tangan. Salah seorang penyunting itu Goenawan. Ada artikel yang hanya perlu sedikit coretan. Namun sering kali artikel itu mesti disunting dengan akibat kertas ketikan itu menjadi sebuah "gambar". Tulisan penyunting tak hanya "lurus" mengikuti arah ketikan, tapi bisa miring, mencang-mencong ke mana-mana. Saya menduga, melihat pameran "Kata, Gambar" dan sejumlah gambar Goenawan yang tidak dipamerkan, pengalaman menulis inilah yang lebih utama memberikan pengalaman pada tangan Goenawan dalam menggambar. Kesan saya, Goenawan dalam membuat bentuk gambar-gambarnya seperti ia menulis.

Dalam menulis, kita tak membedakan huruf yang satu dengan yang lain. Kita menarik garis "b" sama saja dengan menggoreskan garis membentuk "j", "p", atau "w" juga dalam menggoreskan "?" dan tanda baca yang lain. Saya merasakan wajah Castro pada gambar Goenawan, misalnya, seperti tulisan: terasa tak ada beda dahi, hidung, kumis dan cambang, juga topi. Demikian juga pada gambar Tony Prabowo, adalah sebuah profil yang datar-garis yang membentuk profil, goresan, dan pulasan yang membentuk rambut serta kacamata, terasa sama. Itu pula yang saya rasakan pada Trevi, Mungkin Frida, Revolusi Oktober, Karnaval Venesia, Ondel-ondel Tahun 50-an, Rendra, Slamet Rahardjo, dan lain-lain. Ini terasa jelas pada gambar Senja di Pelabuhan Kecil: garis tipis perahu, sapuan-sapuan dan aksen hitam yang lebih tebal yang mungkin dimaksudkan sebagai awan terasa tak berbeda, seluruh bidang gambar datar. Juga gambar dua ikan digantung dan satu figur tergantung di bawah ikan, lalu tampak di bawah kursi serta sebuah gramofon serasa sama meski bentuk berbeda-beda. Itulah mengapa saya merasakan bahwa bidang kertas gambar tak berubah, tetap bidang kertas, tak menyatu dengan gambar atau gambar tak berpadu dengan bidang kertas. Dan sengaja atau tidak, pilihan ukuran kertas yang hanya 37 x 29,5 sentimeter sebagaimana tertera di keterangan gambar menjadikan kita melihat gambarnya seperti membaca buku, suatu kegiatan yang lebih dekat daripada melihat lukisan di dinding.

Dalam hal "menuliskan gambar" inilah, menurut saya, kekhasan gambar-gambar Goenawan. Ia terutama tak menyuguhkan suasana, seperti sudah disebutkan, ia menyuguhkan gagasan suasana-yang lepas bebas menyapa dan menyemaikan imajinasi.

Bambang Bujono
Pengamat Seni Rupa

2020-08-05 14:00:39


Seni 2/2

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.