Seni 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Tiga Kudeta dan Lain-lain

Lawangwangi Creative Space, Bandung, menyajikan pameran karya Patriot Mukmin. Ia menyajikan anyaman foto wajah tokoh seperti Nyoto dan para jenderal. Gagasan cerdik.

i

Bagi seniman muda Patriot Mukmin, politisasi penulisan sejarah nasional Indonesia tidak hanya menawarkan kebingungan, tapi juga sarat ironi. Sejak duduk di sekolah dasar, pria 28 tahun ini mengagumi kepahlawanan Presiden Soeharto hingga kemudian peristiwa Reformasi 1998 meletus. Keadaan pun berbalik. Khalayak ramai-ramai menghujat dan bernafsu mengadilinya. Patriot cilik ketika itu tak habis pikir. Ia bertanya-tanya kenapa seorang tokoh besar seperti Soeharto bisa mendadak terpuruk dan menjadi sosok antagonis. Mengapa peristiwa sejarah selalu berulang dengan aktor berbeda?

Seakan-akan mewakili generasi kelahiran akhir 1980-an yang baru tumbuh dewasa ketika Orde Baru sudah tumbang, Patriot ingin mendiskusikan pertanyaan itu melalui belasan karya anyaman kertas dengan tajuk "KUP: Titik Silang Kuasa '66-'98", dipamerkan di Lawangwangi Creative Space, Bandung, mulai 21 Mei hingga 29 Juni. Anyaman kertas layaknya tikar itu memanfaatkan dokumen serta foto peristiwa dan tokoh yang menghias halaman sejarah nasional kita. Anyaman itu pun berkelindan sebagai metafor.

Cara terbaik untuk mengawali alur pameran ini adalah dengan mengamati karya Titik Silang Kuasa '66-'98 yang menjukstaposisikan dua dokumen bersejarah. Tiga lembar naskah dalam satu bingkai yang memuat pernyataan mundur Soeharto sebagai presiden dan pernah ia bacakan pada 21 Mei 1998 di hadapan khalayak itu sekilas terlihat biasa. Namun, pada sepetak bagian akhir, kita temukan efek yang mengaburkan mata. Patriot memotong-motong bagian itu, lalu menganyamnya dengan potongan lain yang ia ambil dari Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar). Hasilnya, naskah Soeharto dan Sukarno saling menganyam ironi. Sayangnya, karya ini terpojok di sudut dan gagal menjadi awalan. Bukankah narasi Orba bermula dari situ?


Di ruang pamer dengan kontur lantai berterasering itu, mata kita segera tertumbuk pada karya Tiga Kudeta, yang tampil cukup memukau dan gagah. Bidang-bidang kecil memuat 30 foto mereka yang "terlibat" dalam peristiwa 1965, baik sebagai "korban" maupun yang "dikorbankan". Tampak, misalnya, potret wajah tujuh jenderal hingga Nyoto. Susunan rampak foto-foto itu menyiratkan tahun peristiwa (6 foto untuk ukuran lebar dan 5 foto untuk panjang, boleh dibaca: 65). Samar-samar tampak Sukarno tertunduk lesu tak berdaya melatari karya ini.

161896070765

Tiga Kudeta, yang dihasilkan dari anyaman foto Sukarno beserta 30 wajah pelaku sejarah lainnya, berhasil menyuguhkan kemelut mereka dalam satu peristiwa. Bila kita mengamati Tiga Kudeta dengan lebih menonjolkan perhatian ke sosok Sukarno, karya itu akan memunculkan makna berbeda dibanding kita tempatkan sang proklamator hanya sebagai latar. Karya ini sebenarnya layak didekatkan dengan Titik Silang Kuasa '66-'98 agar narasi sejarah mudah dibaca khalayak.

Pola yang sama dilakukan Patriot pada seri karya Monoloyalitas, yang berhadap-hadapan dengan Tiga Kudeta. Samar-samar tampak wajah orang-orang biasa dengan latar potret resmi Presiden Soeharto. Karya ini cukup kentara hendak mengingatkan kita pada suatu masa ketika di Orde Baru, Golkar sangat berpengaruh dalam birokrasi. Warna kuning dalam Monoloyalitas jelas menyiratkan warna khas Golkar, yang terus-menerus menang saban pemilihan umum pada masa itu. Dan loyalitas para pegawai negeri hanya bisa dibuktikan apabila sudah memilih warna itu.

Lalu karya berukuran besar, Pancasila Sakti dan Teror Putih, tampil lebih angker dan menyita perhatian karena mengisi dinding utama galeri. Kesan tembok kokoh segera menundukkan persepsi kita akan peristiwa sejarah. Namun mata akan menemukan adegan penangkapan suatu kaum yang terdakwa komunis. Adegan itu teranyam dengan patung tujuh jenderal di Monumen Pancasila Sakti. Para korban itu seakan-akan bercakap-cakap menyilang untuk bersama-sama menuntut pertanggungjawaban sejarah.

Sejak lulus dari Seni Lukis Institut Teknologi Bandung (2010), Patriot mengeksplorasi minatnya pada "sudut pandang". Misalkan ia melukis posisi orang salat dari sudut pandang pelakunya (tampak atas)—mengingatkan kita pada lukisan kontroversial Salvador Dali yang melukis Yesus tersalib dilihat dari atas. Ihwal ketidaklaziman sudut pandang ini membuat lukisan Patriot bergerak ke arah lain. Ketika melanjutkan kuliah ke tingkat magister di almamaternya dan lulus pada 2013, ia melukis ilusi optik dengan lukisan yang bisa dinikmati dari arah tertentu. Di situ, Patriot menggabungkan dua imaji dalam satu tampilan sekaligus. Berbekal pengalaman itu, Patriot mulai menjelajahi teknik anyam ini, yang dalam beberapa hal lebih konseptual dibanding periode karya sebelumnya. Anyaman, dokumen, dan foto sebenarnya terbuka luas menjadi kekuatan baru di dunia seni rupa.

Pameran "KUP: Titik Silang Kuasa '66-'98" menyandang alur yang melompat-lompat. Gagasannya mencair ke mana-mana. Kekerabatan antarkarya tidak terjaga, malah terpisah-pisah. Adapun penempatan karya di dalam ruang pamer tidak menunjang bangkitnya imajinasi akan sejarah dan berbagai lekuk masalahnya. Tapi Patriot masih akan berkembang dari satu pencapaian ke pencapaian lain. Dengan muatan khusus dan kecerdikan tertentu, tampilan yang memanfaatkan teknik dalam kesenian tradisi ini semestinya berpeluang besar di kancah seni rupa kontemporer Tanah Air.

Aminudin T.H. Siregar, Dosen Seni Rupa ITB


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161896070765



Seni 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.