Seni Rupa 2/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Patung-Patung Negeri Bahagia

Enam belas pematung Belanda menggelar 38 karyanya di Erasmus Huis. Memancarkan kebahagiaan hidup.

i

Seni Patung Modern Belanda oleh 16 Pematung
Tempat:Erasmus Huis, Jakarta
PERNAH seorang tokoh nasional bertemu dengan Presiden Ronald Reagan di Amerika. Sebagai salah seorang raja humor, beliau melontarkan teka-teki kepada presiden adikuasa tersebut. Pertanyaannya: mengapa para perupa selalu membikin patung wanita nude (telanjang) tanpa tangan? Sang Presiden angkat tangan, tak bisa menjawab. Lalu, tokoh nasional itu menjawabkannya, "Supaya tak bisa melawan." Mendengar jawaban ini, Presiden Reagan terbahak-bahak. Setidaknya humor itu punya kaitan dengan patung karya Eja Siepman van den Berg, Torso, meisje (Torso, gadis). Patung gadis itu memang bugil tapi tak bertangan—dipamerkan di Erasmus Huis, Jakarta, melengkapi 38 karya dari 16 pematung. Tentu ada saja yang melanjutkan tafsir atas patung itu yang cocok dengan situasi Tanah Air: martabat perempuan yang terpuruk.

Tapi tunggu dulu. Dalam benak Eja, tak sejauh itu yang dimaksud patungnya.Bahkan sebaliknya. Negeri Belanda yang stabil—ekonomi, sosial, dan politiknya—sangat memengaruhi citra karya-karya senimannya. Apalagi, di sana, penganggur mendapat santunan sosial yang dapat menjamin hidupnya. Dengan demikian, para pematung itu menyuarakan kesuksesan negerinya: negeri bahagia. Hal itu tampak dari ekspresi karya-karya mereka. Di mana pun para seniman berada, tentu mencita-citakan sebuah negeri yang warganya mendapat keadilan, kemakmuran, dan kebenaran. Wim Steins, Evert den Hartog, Alma Polane, Cocky Duijvensteijn, Maja va Hal, Rini Dado, Tjikkie Kreuger, Elly van den Broek, Roel van Dieren, Hanneke de Munck, Paul de Swaaf, Kiny Copinga, Karin Beek, Peter Petersen, dan Renee van Leusden, itulah para pematung yang berbahagia hidup di sebuah negeri yang juga dapat membantu negeri-negeri lain dengan keuangannya.

Patung yang dipamerkan rata-rata berukuran kecil dan karena itu dapat ditenteng dalam genggaman sebelah tangan. Patung dengan gaya realis ataupun yang abstrak dikerjakan dengan cermat dan dengan perhitungan estetik yang memadai. Merrie met Boxer (Kuda Betina dengan Seekor Anjing) karya Cocky Duijvensteijn, misalnya, bercerita tentang seekor anjing yang menyapa seekor kuda. Caranya, anjing itu menggigit kain yang menutup tubuh kuda itu. Karya ini lucu, lembut, dan menyentuh. Ritme (Irama) karya Renee van Leusden, Twee Vrouwen (Dua Wanita) karya Alma Polane, serta Wachters (Penjaga) karya Tjikkie Kreuger berbicara tentang keharmonisan yang secara simultan menghidupi warga. Kita membutuhkan waktu 100 tahun, insya Allah, untuk bisa mengejar kesejahteraan setaraf Belanda sekarang.

Danarto


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836583953



Seni Rupa 2/2

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.