Seni Rupa 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Keterampilan tanpa sikap

Karya-karya asli willem dooijeward dipamerkan. pelukis ini memperlihatkan gaya yang mendasari awal perkembangan seni lukis indonesia.

i
NAMA pelukis Willem Dooijeward sudah lama beredar di kalangan kolektor lukisan di Indonesia. Karyanya diperjualbelikan dengan harga yang cukup mencengangkan mencapai Rp 200 juta. Tidak pernah jelas mengapa harga lukisan Dooijeward (1892-1990) menjadi begitu tinggi. Dari segi seni lukis kualitas, reputasi kesenimanan, dan kategorisasi lukisan-lukisan ini belum pernah dimasalahkan. Namun, kecenderungan mengoleksi lukisan seniman Belanda yang berkarya di Indonesia sejak 1930-an ini sudah berlangsung cukup lama, jauh sebelum boom lukisan yang berlangsung sejak beberapa tahun lalu. Dalam album koleksi Sukarno -- yang menjadi standar para kolektor -- terdapat beberapa lukisan Dooijeward. Bulan ini, sketsa, gambar, dan lukisan Dooijeward dipamerkan di Duta Fine Art Gallery, Jakarta. Pameran itu akan berakhir 28 Mei mendatang. Semua karya, berjumlah 112 buah, karya asli, sebagian milik janda Willem Dooijeward yang kini masih hidup dan tinggal di rumah jompo di Belanda. Cukup mengejutkan, harga semua lukisan Dooijeward yang dipamerkan jauh di bawah harga penawaran biasanya. Sebuah sketsa pena, misalnya, dijual US$ 260, sebuah grafis (etsa) ditawarkan US$ 350. Hanya tiga karya dipasang dengan harga tinggi. Dua lukisan yang dibuat di Bali, berjudul Danau Batur dan Penari Legong, masing-masing ditawarkan US$ 45.000 (terjual), dan sebuah lukisan yang dibuat di Maroko, Marocco Dancer, berharga US$ 19.000. Balaibalai lelang di Inggris dan Amerika akan sulit memahami tingkat harga Dooijeward di Indonesia yang ratusan ribu dolar itu. Sebagai pelukis Belanda, nama Dooijeward tak masuk garis perkembangan seni lukis modern (dunia). Lukisan dan sketsanya sebenarnya menampilkan spirit modernisme, misalnya semangat menjelajahi dunia Timur seperti yang diperlihatkan lukisan Paul Gauguin pada akhir abad ke-19. Namun, teknik, tema, dan sikap kesenimanan Dooijeward tidak tampil jelas. Ekspresinya tidak menunjukkan keunikan -- hal yang utama pada awal modernisme. Daya tarik karya-karya Dooijeward, keterampilan tinggi dalam "menggambar". Ini kekhasan pelukis-pelukis Belanda, yang menandakan bahwa di negeri itu pendidikan menggambar basis melukis -- mampu menemukan metode pengajaran yang efektif. Keterampilan ini diperlihatkan pula oleh seniman Belanda seperti Van Gogh dan Jan Toorop, yang namanya tercatat dalam perkembangan seni lukis modern dunia. Namun, pada seniman-seniman ini keterampilan berkembang menjadi manifestasi seni lukis yang khas dan individual. Sketsa-skesta Van Gogh (yang sangat realistis), misalnya, jauh berbeda dari "susunan sapuan kuas" pada lukisan-lukisannya. Bagi Dooijeward, keterampilan menggambar secara realistis menjadi seluruh masalahnya dalam berkarya. Ia tak mengembangkannya ke teknik melukis yang khas. Keadaan ini yang membuat posisinya tak masuk hitungan perkembangan seni rupa modern. Ketika tahun 1930-an Dooijeward melahirkan karya-karya pentingnya berupa lukisan realistis -- perkembangan seni rupa modern sudah meloncat jauh. Pelukis Belanda Piet Mondrian, misalnya, sedang mencoba membuat lukisan abstrak berupa susunan garis-garis geometrik. Maka, keutamaan Dooijeward yang paling berharga adalah karena ia melukis di Indonesia. Corak lukisan, sketsa, dan gambar-gambarnya mungkin bisa menjelaskan bagaimana sebenarnya seni lukis modern lahir di Indonesia. Kecenderungan mengutamakan keterampilan -- dan terikat pada obyek yang dilukis -- seperti yang ditunjukkan lukisan-lukisannya, ternyata terlihat pula pada hampir semua pelukis Eropa yang berkarya di Indonesia (Rudolf Bonnet, Walter Spies, Immandt, Jan Frank, Charles Sayers, Rolland Strasser, Romualdo Locatelli, dan sejumlah nama lagi). Masih perlu diteliti, apa latar belakang sikap yang terlihat pasif itu. Apakah karena para pelukis tidak akrab dengan perkembangan seni lukis modern di negerinya? Apakah karena mereka tergolong pelukis hobi? Atau karena obyek yang dilukis mendominasi imajinasi mereka? Yang pasti, kecenderungan ini diturunkan ke pelukis Indonesia seperti Abdullah Soeriosoebroto, Wakidi, Mas Pirngadi, Mas Soebanto, Henk Ngantung, Soedjojono, Lee Man Fong, dan Oei Tiang Oen. Dalam pendidikan seni rupa masa kini, tekanan menghormati keterampilan ini juga masih terlihat. Jim Supangkat

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=162052073614



Seni Rupa 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.