Sebuah Refleksi Mimpi Buruk - Seni Rupa - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Seni Rupa 1/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Sebuah Refleksi Mimpi Buruk

Seniman Amien Kamil menampilkan 21 karya dalam pameran tunggalnya di Balai Budaya Jakarta. Bentuk kegelisahannya atas persoalan dalam masyarakat.

i Nightmare karya Amien Kamil dalam “He (Art): Reflection of Nightmare” di Balai Budaya Jakarta, 3 Mei 2019. ANTARA/Dodo Karundeng
Nightmare karya Amien Kamil dalam “He (Art): Reflection of Nightmare” di Balai Budaya Jakarta, 3 Mei 2019. ANTARA/Dodo Karundeng

AMIEN Kamil menghadirkan sesuatu yang kontras pada kain kanvas berukuran 158 x 108 sentimeter. Menggunakan cat akrilik, ia melukiskan tengkorak manusia berdampingan dengan botol wine dan gelas yang setengahnya telah terisi minuman fermentasi anggur itu. Ketiganya terlihat diletakkan pada sebuah meja berwarna jingga dengan latar belakang semacam dinding berkelir dominan biru dan kuning. Ekspresi lukisan bercampur-baur antara surealisme, ekspresionisme, dan abstrak.

Dibuat pada akhir April lalu, lukisan berjudul Wine tersebut merupakan interpretasi Amien terhadap dua hal, yakni masa kini dan masa depan seorang manusia. Seniman kelahiran 1963 itu menyimbolkan masa kini dengan wine. Sedangkan masa depan dilambangkan dengan tengkorak. “Ini tafsir tentang bagaimana seseorang menikmati hidup, tapi pada akhirnya dia akan menjadi tengkorak juga,” kata Amien, Kamis, 9 Mei lalu.

Wine menjadi salah satu karya yang ditampilkan Amien Kamil dalam pameran tunggalnya bertajuk “He(Art): Reflection of Nightmare” di Balai Budaya Jakarta pada 2-9 Mei 2019. Di sana, perupa sekaligus penyair dan dramawan itu mencoba menghadirkan berbagai karya sebagai hasil refleksinya atas sejumlah persoalan sosial dan politik yang terjadi dalam masyarakat belakangan ini, terutama akibat pemilihan umum lalu. “Situasi sekarang kan hampir seperti mimpi buruk,” ujarnya.

Total ada 21 karya yang dipamerkan Amien----—terdiri atas 20 lukisan dan 1 instalasi. Delapan di antaranya karya lama (paling lama buatan 2015). Sisanya, termasuk instalasi, merupakan karya baru Amien yang ia bikin tahun ini. Selain Wine, karya yang menarik adalah lukisan berjudul Heart Attack (2019). Di situ Amien melukiskan jantung manusia berwarna merah tapi menyerupai bentuk granat tangan—lengkap dengan liang dan sumbunya. Ia menambahkan titik-titik hitam di sekeliling jantung granat sebagai pelengkap latar belakang kuning dan jingga pada kain kanvas berukuran 158 x 158 sentimeter. Lukisan itu menggambarkan kehidupan dan kehancuran sebagai satu kesatuan.


Amien Kamil. ANTARA/Dodo Karundeng

W251bGwsIjIwMjAtMTItMDEgMDQ6MTE6NDAiXQ

Ada juga lukisan berjudul Nightmare (2019) yang berbahan dasar cat akrilik pada kain kanvas berukuran 158 x 282 sentimeter. Dalam lukisan itu, Amien mencoba menampilkan berbagai simbol melalui sejumlah gambar pada latar belakang berwarna dominan merah. Misalnya gambar burung gagak, yang lekat berkaitan dengan kematian. Lalu gambar pohon dan seseorang yang memegang gunting besar sebagai simbol eksploitasi hutan oleh sekelompok orang. Yang unik, Amien meletakkan penggorengan besar di depan lukisan sebagai simbol bahwa semua yang terjadi ada hubungannya dengan “urusan perut”.

Instalasi yang dihadirkan Amien dalam pamerannya juga cukup menyedot perhatian. Berjudul Altar for Grill Ill (2019), instalasi itu disusun dari tiga material utama, yakni lukisan, pemanggang, dan altar persembahan. Lukisan menjadi mencolok lantaran bergambar seseorang yang menyodorkan pistol yang ia pegang ke kepalanya sendiri seperti adegan hendak bunuh diri. Lukisan pada kardus berukuran 100 x 200 sentimeter itu kemudian dilengkapi dengan tulisan “Grill Ill”. “Dalam instalasi itu saya ingin menggambarkan seseorang yang memanggang kesakitannya,” ucap Amien.

Kurator pameran, Radhar Panca Dahana, mengatakan berbagai karya itu merupakan hasil upaya Amien Kamil dalam meresapi kehidupan di sekitarnya belakangan ini yang dipenuhi sejumlah masalah. Menurut Radhar, berbagai masalah itu merupakan mimpi buruk dari realitas sosial yang Amien coba refleksikan. “Secara eksplisit dan implisit, ini juga bentuk kritik seorang Amien Kamil,” kata sastrawan sekaligus budayawan itu.

PRIHANDOKO

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-12-01 04:11:40

Pameran

Seni Rupa 1/2

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB