Selingan 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Rusia: sama-sama bisa kaya atau miskin

Boris yeltsin dikritik pedas. kebijaksanaan ekonomi pasar dianggap membuat rusia semrawut. rusia diramalkan menjadi superpower ekonomi dengan segala dampaknya: korupsi, pelacuran, penyeludupan.

i
SEBUAH rumah sakit di Moskow mencatat, di bulan-bulan terakhir ini antara 80 dan 90 orang menyatakan tak bisa menguburkan keluarga mereka yang meninggal. Harga tanah kuburan sudah tak terjangkau oleh rata-rata warga Moskow. Maka jenazah lalu dikremasi, yang biayanya memang terjangkau. Di sisi lain, masih di Moskow, seorang lelaki berpakaian perlente dengan gagah masuk ke ruang pajang General Motors, suatu hari di pertengahan Januari lalu. Ia membeli tujuh Cadillac seharga US$ 50.000 sebuah, dan sebuah mobil lapis baja seharga US$ 300.000. Semuanya ia bayar kontan. Itulah hasil 13 bulan Rusia menjalankankan sistem ekonomi pasar. Masih jauh dari berhasil, tapi juga belum bisa divonis gagal. Memang banyak yang ''jatuh'' miskin, namun ada juga yang ''jatuh'' ke atas. Harapan masih terbentang seluas negeri itu sendiri yang hampir 17 juta km -- negara terluas di dunia sesudah Cina. Menurut The Economist, kini, dari sekitar 150 juta rakyat Rusia, sekitar 29% hidup di bawah standar minimal, berpenghasilan di bawah 3.285 rubel sebulan (menurut ukuran standar minimal yang ditetapkan di bulan November lalu), dan hanya kurang dari 1% yang berpenghasilan 10.000 rubel ke atas. Dan seperti umumnya manusia di mana saja, mereka yang mencoba mencari tambahan penghasilan (belum tentu dari mereka yang kekurangan) ada yang dengan cara lurus, ada pula yang menyimpang. Sebuah tulisan tentang penemuan barang di sebuah koran di Vladivostok belum lama ini menceritakan ditemukannya sebuah tank militer yang masih gres, lengkap dengan sistem persenjataan lasernya. Tank itu ditemukan di hutan oleh seorang pemuda berusia 15 tahun. Komando distrik militer Timur Jauh Rusia kemudian mengaku tank itu milik pasukannya. Bukan rahasia lagi, banyak senjata milik militer Rusia diselundupkan dari pangkalan-pangkalan angkatan bersenjata, dan dijual untuk kepentingan pribadi. Biasanya senjata-senjata itu dilego dalam bentuk onderdilnya berupa suku cadang. Penemuan sebuah tank yang masih utuh seperti tersebut di atas termasuk jarang. Para pelaku penyelundupan, diduga para anggota pasukan yang kurang kuat moralnya ketika menghadapi kenyataan bahwa gajinya tak lagi cukup untuk hidup. Seorang mayor pernah mengaku bahwa ia tak mungkin membeli sebuah mantel hujan lagi, karena dengan gajinya sekarang ia tiap hari merasa bangkrut. Padahal dulu, di zaman komunisme menjadi panji-panji negara, tiap hari ia bisa pesta. Yang kemudian mencemaskan Presiden Boris Yeltsin, penyelewengan itu disinyalir bukan lagi merupakan kegiatan individual. Ada tanda-tanda kegiatan mencari rezeki tambahan itu sudah menjadi kegiatan terorganisasi. Pertengahan bulan lalu Boris Yeltsin menyatakan perang habis-habisan melawan tindak kejahatan, penyuapan, dan korupsi di Rusia. ''Rusia sudah menjadi kekuatan mafia tingkat dunia,'' kata sang presiden, yang kini sedang puyeng menghadapi krisis ekonomi yang membelit negerinya, sekaligus menghadapi ancaman pendongkelan kekuasaan oleh kubu garis keras itu. Istilah mafia mungkin berlebihan untuk menyebut jaringan korupsi di Rusia. Tapi disinyalir, penyelewengan sudah melibatkan sejumlah pejabat tinggi dan beberapa kementerian penting. Lebih parah lagi karena lembaga yang seharusnya menertibkan menjadi impoten, khususnya kementerian dalam negeri dan kementerian keamanan, kata Yeltsin seperti dikutip kantor berita Itar-Tass. Bahwa sejumlah menteri terlibat korupsi bisa disimak dari pengakuan Artyom Tarasov, seperti ditulis koran AS, The Washington Post, belum lama ini. Tarasov dikenal sebagai miliuner kondang pertama dari era pasca-komunis Rusia, membuka bisnis di kawasan bisnis di London, Distrik Mayfair. Ia membuka ''perusahaan jasa untuk orang-orang kaya dari Rusia''. Bekas pengusaha minyak dan kaki tangan KGB, yang atas kemauan sendiri mengasingkan diri ke luar negeri ini, kini sedang diusut oleh pemerintah Rusia untuk tindak pidana transaksi ekspor. Tarasov menolong orang-orang Rusia berduit melarikan dananya ke luar negeri. Menurut Tarasov, para pemakai jasa perusahaannya mencakup anggota kabinet, pemimpin dari Siberia, pegawai pemerintah, dan pengusaha-pengusaha independen Rusia. Duit dari Rusia ini disalurkan dan diputar Tarasov dengan beragam cara: diparkir di bank-bank Barat, dibelikan untuk tanah dan gedung-gedung, serta dipakai sebagai modal mendirikan perusaan minyak lepas pantai. ''Bisnis ini sangat sederhana,'' kata Tarasov. ''Kami meminjam duit dari bank dalam mata uang rubel untuk mengekspor apa saja dari Rusia -- dengan izin maupun tidak dengan surat resmi-- dan menanamkan keuntungannya di luar Rusia.'' Untuk itulah Tarasov mendirikan perusahaan yang diberi nama Istok. Sebagai contoh, tahun 1990 Istok memperoleh surat izin resmi untuk membeli minyak mentah Rusia seharga 85 sen dolar AS per barel. Minyak itu kemudian dijual di luar dengan harga US$ 20 per barel, atau sekitar 23 kali lebih mahal. Transaksi ini menghasilkan laba US$ 28 juta. Tarasov kemudian meminta izin untuk menanamkan uangnya di bank di Monaco, dengan janji akan menggunakan seluruh dananya untuk membeli barang-barang keperluan petani Rusia. Permintaan ini dikabulkan. Tapi kenyataannya hingga kini tak secuil pun barang diterima petani Rusia dari Tarasov. Kasus inilah yang kini sedang diusut oleh kementerian kehakiman Rusia dengan menelusuri simpanan Tarasov dan para rekan kerjanya di bank-bank di Barat. Hukum Rusia, seperti hukum bekas negara Uni Soviet, melarang warganya memiliki mata uang asing atau mempunyai rekening di bank asing. Diperlukan izin khusus dari bank sentral untuk bisa mendapatkan pengecualian. Tapi kini ratusan pengusaha dan pedagang, dengan berbagai cara termasuk menyuap, bisa mengantongi peraturan tersebut. Dan pemerintah Moskow tak mampu menghentikannya. Mungkin berbeda dengan negeri lain, kesemrawutan di Rusia disinyalir sebagian merupakan kesengajaan dari kubu oposisi, yakni orang-orang garis keras yang merindukan kembalinya komunisme. Disebutkan misalnya, karena bank sentral Rusia merupakan salah satu instansi pemerintah yang dikuasai kubu konservatif, maka bank itu mencetak duit sebanyak-banyaknya, sehingga tingkat inflasi melangit, dan tak bisa dikendalikan lagi. Dengan kondisi ekonomi yang masih kacau itu mudah bagi banyak pihak di Rusia memanfaatkannya untuk memperkaya diri sendiri. Para pengusaha, kelompok kriminal terorganisasi, politisi daerah dan pusat, jaringan bekas para pejabat komunis, sampai para pengusaha Barat yang ingin cepat menangguk keuntungan, semuanya mencoba mengail di sistem kacau ini. Menurut Kementerian Keamanan Rusia, tiap satu dari tiga barel minyak Rusia diekspor melalui ''jalur tak resmi.'' Memang tak diketahui persis jumlah duit yang lari dari Rusia. Para bankir Barat menghitung itu berdasarkan data bank dan sumber lain. Insitut Keuangan Internasional, lembaga analis perbankan terkenal, menduga sekitar US$ 17 miliar dana yang lari dari Rusia pada tahun 1991-1992. Bila itu benar, maka dari tiap US$ 4 devisa yang diperoleh dari hasil ekspor Rusia selama dua tahun itu US$ 1 raib ke Barat. Data resmi dari pemerintah Rusia sendiri memang hanya menyebutkan angka US$ 4 miliar sampai 10 miliar selama dua tahun itu. Sebenarnya praktek menangguk untung cepat dan menyembunyikannya di bank-bank di luar negeri bukan perkara baru. Para pejabat perdagangan internasional bekas Partai Komunis Uni Soviet sudah lama menjalankannya. Menurut dokumen rahasia yang belum lama ini diungkapkan oleh Pemerintah Rusia, Kremlin menggunakan jaringan perusahaan yang disebut friendly firms (perusahaan- perusahaan bersahabat) untuk menyalurkan dana miliaran dolar ke organisasi-organisasi kiri di Eropa Barat, Asia, dan Amerika Latin selama tahun 1970 sampai 1980-an. Sebuah ''perusahaan bersahabat'' membeli bahan mentah dari Uni Soviet dengan harga rendah dan menjualnya dengan harga berlipat ganda di Barat. Hasilnya rekening gemuk partai-partai politik simpatisan Soviet di bank-bank Barat. Maka bisa dikatakan, Rusia di masa reformasi kini dan Rusia di zaman komunis sama: sebagian besar rakyat hidup kekurangan, segelintir orang bermewah-mewah. Bedanya, yang segelintir itu kini adalah orang-orang swasta yang berani ambil risiko (baik di jalan lurus maupun jalan menyimpang), dulu yang segelintir ini adalah para pemimpin partai. Karena itu Alexander Rudenko, seorang pengusaha dari St. Petersburg, menyebut yang ada di Rusia kini adalah pasar bohongan, bukan pasar sebenarnya. ''Kami menciptakan suatu kelas kapitalis komunis. Negara masih memonopoli ekspor barang- barang. Kondisi ekonomi diciptakan sedemikian rupa hingga orang yang punya koneksi punya peluang mencuri secara edan-edanan. Anda tinggal meminta 4 pejabat meneken kertas yang bertuliskan perintah mengerjakan sesuatu, dan bereslah segalanya,'' tutur Rudenko. Kalau begitu, kelirukah strategi ekonomi Boris Yeltsin? Banyak pengamat Barat berpendapat bahwa akar dari masalah ekonomi Rusia adalah kegagalan pemerintah Rusia untuk secepatnya membuka sistem ekonomi berorientasi pada kompetisi dan mengakhiri sistem subsidi. Penyelundupan merupakan masalah lain yang memusingkan pemerintah Rusia. Ketika seorang sopir truk asal Estonia ditangkap pihak Rusia atas tuduhan pembunuhan, banyak yang kaget ketika sang sopir ''bernyanyi'' soal lain: mengaku menggaet duit setengah juta dolar AS dalam kegiatan menyelundupkan bahan mentah ke luar Rusia. Selama beberapa hari Yaak Ryasa, sopir truk itu, mengunjungi Pskov, kota perdagangan Rusia yang berbatasan dengan Estonia. Dari sana ia mengangkut truk sarat nikel atau aluminium ke kota Tartu di Estonia. Tiap rit Ryaasa mengaku dibayar antara US$ 2.000 dan US$ 2.500. Semua berjalan lancar sampai September silam, ketika dua pria berseragam tentara menghadangnya. Sang sopir menawarkan uang sebesar US$ 1.000 agar tak diganggu. Tawaran ini ditampik karena para penghadang berseragam itu mau US$ 2.000. Ryasa akhirnya mencari jalan pintas, menarik pistol otomatisnya, dan menembak mati kedua orang itu. Ryasa pun masuk penjara. Salah satu cara memperkaya diri di Rusia kini memang itu: membeli bahan mentah yang murah di Rusia dan mengekspornya secara tidak sah ke Barat. Kementerian Keamanan Rusia, lembaga untuk menggantikan peran dinas intel Rusia KGB, memperkirakan perusahaan-perusahaan di negara-negara baru Baltik meraup laba sampai US$ 3 milyar pada 1992 saja, hanya dengan menyelundupkan bahan mentah dari Rusia. Seperti sudah disebutkan di atas, sebagian produksi minyak dan mineral Rusia yang diekspor ke Barat tiba melalui ''jalur tak resmi''. Penolakan pemerintah Rusia untuk membebaskan harga minyak dan bahan mentah lain menyebabkan praktek penyelundupan tumbuh subur. Alasan para pemimpin Rusia untuk tetap mengontrol harga minyak adalah bahwa liberalisasi harga bakal membuat puluhan ribu pabrik gulung tikar. Akibatnya pengangguran meningkat tajam dan akhirnya mengundang kerusuhan sosial. Tapi kebanyakan pengamat Barat berpendapat bahwa mempertahankan sistem harga lama justru berakibat lebih buruk. ''Ini menunjukkan bahwa tak mungkin melaksanakan reformasi setengah hati,'' kata seorang pejabat Bank Dunia, ''karena bakal merangsang korupsi.'' Kebanyakan perdagangan gelap itu disalurkan ke negara-negara Baltik Latvia, Estonia, dan Lithuania, yang memang secara tradisional berperan sebagai jendela Rusia ke Barat. Selama dua tahun terakhir, Latvia dan Estonia sudah menjadi negara pengekspor mineral semacam aluminium, nikel, tembaga, yang sebenarnya tak ada di bumi mereka. Itulah salah satu akibat banyaknya pabrik di Rusia mengambil jurus sederhana tapi menguntungkan: menjual bahan mentah dengan harga lebih tinggi dari harga resmi kepada pihak ketiga yang akan mengekspornya secara gelap. Bagi negara-negara bekas satelit Soviet di Eropa Timur, korupsi dan penyelundupan yang merajalela di Rusia justru menimbulkan berkah. Ketika komunisme ambrol di Uni Soviet dan sistem barter minyak dengan bahan lain diganti Moskow dengan pembayaran tunai, negara-negara bekas komunis Eropa Timur sempat panik. Sebab diduga harga minyak Rusia akan melonjak mengikuti harga pasar dunia. Kenyataannya, dengan mengalirnya minyak selundupan, perekonomian negara-negara Eropa Timur yang juga kembang-kempis tertolong. Yang justru tidak tertolong adalah perekonomian Rusia. Dan jelas, yang merasakan kondisi ekonomi mahasulit ini adalah rakyat biasa Rusia. Tapi untunglah ''Kemampuan bangsa Rusia untuk bertahan lebih besar daripada bangsa lain, '' kata Gergy Arbatov, salah seorang penasihat Boris Yeltsin. ''Orang-orang di sini sudah begitu merananya, sampai-sampai kegiatannya cuma untuk bertahan hidup.'' Bertahan untuk hidup di tengah kesulitan ekonomi yang membelit membuat hampir semua orang di Rusia harus kerja ekstra. Kalau tidak berjualan, mereka menjual jasa. Kesulitan hidup terutama dirasakan para warga lanjut usia. Hampir semua babushki alias nenek-nenek di Moskow berusaha menjual apa saja untuk bisa bertahan. Misalnya Tatiana Malkova, 84 tahun, yang berjualan susu dalam karton di pinggir jalan penuh salju di Moskow. Nenek uzur ini menjual sekarton susu seharga 40 rubel, 65% lebih mahal daripada harga resmi. Untuk itu nenek bertubuh imut-imut harus antre berjam-jam agar bisa mendapatkan beberapa kartun susu itu dengan harga murah. Tanpa perjuangan seperti itu nenek ini tak mungkin bisa bertahan hidup, karena pensiun bulanannya hanya cukup untuk hidup sepekan. ''Saya memang terlalu tua untuk berjualan. Tapi saya harus melakukannya seminggu sekali. Sekarang ini kan semua orang harus berbuat ekstra untuk bertahan,'' kata sang nenek, yang menyembunyikan karton susunya di tas yang dijinjingnya begitu seorang polisi mendekat. Yang muda dan berpendidikan tinggi pun tak terkecuali, mereka harus ''berakrobat'' untuk menambah penghasilan. Larissa Figurova, yang bergelar doktor dan dosen di Akademi Ilmu Kedokteran Rusia, salah satunya. Wanita berusia 36 tahun ini memang punya prestasi akademi, berstatus pegawai negeri terhormat. Tapi dengan penghasilan 3.600 rubel sebulan, janda dengan satu anak ini tak mungkin hidup layak. Maka Larissa kerja ekstra mengajar bahasa Inggris pada sesama profesional. Ia mendapat tambahan uang 10.000 rubel per bulan dari kegiatan itu. Di antara para muridnya terdapat dokter bahkan dokter spesialis, yang membayarnya dengan memberikan pengobatan gratis, termasuk obat-obatan, jika ia atau anaknya sakit. ''Saya kehilangan waktu luang. Kalau sekarang punya sedikit waktu luang, habis untuk mencari makanan paling murah di toko,'' ujar Larissa, setengah mengeluh. Dengan sebab yang kurang jelas, pigak Barat mencoba membantu para pensiunan perwira. Bantuan itu berupa kursus keterampilan berbagai macam. Inggris, misalnya, mengundang sekelompok bekas perwira Soviet ke Norfolk untuk dilatih sebagai pekerja sosial. Para bekas kolonel dan mayor tersebut diajak mengamati pelaksanaan jasa sosial di wilayah Timur Inggris itu. Sebelumnya pemerintah Jerman juga sudah kerap membayar biaya kursus berbagai keterampilan kepada tentara Rusia yang masih bermukim di Jerman Timur -- ketika mereka menunggu jadwal pulang. Tapi di luar suara politis dari kelompok bekas aparat Partai Komunis, betapa pun sulitnya hidup, sebenarnya tersirat optimisme. Maria Alexeyeva, misalnya. Nenek berusia 87 tahun ini yakin orang Rusia dapat hidup melewati cobaan seberat apa pun. ''Saya sudah mengalami semuanya. PD I, revolusi, PD II, dan situasi sulit kini. Kita bisa lalui itu,'' kata sang nenek. Memang, menurut pengumpulan pendapat oleh Pusat Rusia untuk Pendapat Masyarakat, masih lebih banyak orang Rusia yang optimistis bisa bertahan hidup menghadapi kesulitan ekonomi kini. Meski 40% menyatakan kehidupannya jauh memburuk, mereka mengatakan bahwa nasib yang menimpa kini masih bisa ditoleransi. Sementara itu lebih dari separuh responden (57%) menyatakan kondisi mereka ''rata-rata saja''. Dan sebuah pol pendapat yang lain hanya menemukan 15% dari respondennya yang ingin kembali ke sistem lama, sistem komunis. Yang lainnya siap mengadu nasib dalam sistem yang mereka katakan lebih demokratis karena mereka diberi hak bersuara, termasuk mengkritik pemerintah. Yang jelas, semangat untuk bersimbah peluh -- bukan hanya menunggu subsidi negara -- sudah terbentuk. Dilihat dari ini sebenarnya program pasar bebas Boris Yetlsin berhasil. Kata seorang wiraswastawan pria baru berusia 40 tahun, ''Beli saja kol, bubuhi garam, lalu jual. Jangan cuma diam berpangku tangan.'' Ekses ''jangan cuma berpangku tangan'', apa boleh buat, memang macam-macam. Selain soal penyelundupan dan korupsi, kini pelacuran di Moskow pun tumbuh. Seorang sopir taksi bernama Artyom Dobrovolsky bercerita kepada wartawan Time. Katanya, ia suatu malam mengantarkan seorang pengusaha dari Asia ke sebuah ''jalan gelap''. Di situ sudah menunggu sebuah mobil dengan tiga penumpang wanita. Setelah menentukan pilihan, sang pengusaha bersama pilihannya diantar oleh Artyom ke sebuah apartemen, untuk ''bermalam'' selama empat jam saja. Dan betapa berartinya tiap lembar rubel bagi wanita yang menemani pengusaha Asia itu: sebelum ia masuk ke apartemen ia menawari Artyom untuk mencicipi tubuhnya sebagai bayaran mengantarkan ia pulang ke rumah. Apa jawab sopir taksi yang mengaku punya hobi menulis itu? ''Wah, ya, saya pertimbangkan,'' katanya. Barangkali itulah jawabnya mengapa Boris Yeltsin yang dikritik demikian keras itu tak juga kunjung jatuh. Mengapa Rusia yang dikhawatirkan bangkrut itu tetap berjalan sebagaimana negara lazimnya. Ada yang melihat, sebenarnya kritik-kritik dan anjloknya standar hidup di Rusia sengaja diekspos ke luar oleh kelompok garis keras. Dengan kata lain, kritik-kritik dan reportase kemiskinan di Rusia lebih bersifat politis ketimbang hanya ekonomis. Ada hal-hal yang seperti sengaja diabaikan, umpamanya, seperti sudah disebutkan, rakyat Rusia sudah menerima sistem baru, ekonomi pasar bebas itu. Segi lain yang juga kurang diekspos, sebab bakal tak menguntungkan kelompok garis keras, adalah suksesnya swastanisasi BUMN. Sebanyak 6.000 BUMN besar dan menengah diprogramkan menjadi perusahaan swasta, dengan batas waktu November lalu. Banyak komentar muncul ketika program ini dicanangkan Januari tahun lalu. Mungkin saja berhasil, tapi batas waktu itu terlalu cepat, kata kritik. Seperti diketahui, kelemahan BUMN di Rusia sebab perusahaan negara ini benar-benar dikendalikan dan dikontrol dari pusat. Ini jelas sangat tidak efektif. Maka langkah pertama Boris Yeltsin adalah memerintahkan BUMN yang punya lebih dari 1.000 tenaga kerja atau punya aset lebih dari 50 juta rubel itu segera membentuk dewan direksi. Dewan direksi ini harus mewakili manajer, pekerja, dan pemerintah. Dewan inilah yang bakal berfungsi sebagai pengontrol perusahaan. Batas waktu terbentuknya dewan direksi, Juli 1992 lalu. Langkah berikutnya, memberikan dua alternatif pada BUMN-BUMN itu. Pertama, membagikan 25% saham untuk parta pekerja secara gratis. Tapi pemegang saham ini tak punya hak suara dalam rapat-rapat perusahaan. Di samping itu 10% saham berhak suara boleh dibeli oleh para pekerja, secara kelompok maupun individu, dengan harga 70% harga saham. Lalu 5% saham berhak suara dijual kepada para manajer. Sisa saham yang 60% dijual kepada publik, termasuk kepada investor asing yang berminat. Alternatif kedua, para pekerja dan manajer secara bersama-sama membeli 51% aset perusahaan seharga 1,7 kali lebih mahal menurut harga tafsiran Januari 1992. Dengan demikian secara bersama-sama pekerja dan manajer memiliki suara lebih besar seandainya sisa harga aset dibeli pihak luar. Kedua alternatif itu tampaknya bisa diterima sebagai upaya memasukkan para karyawan dan manajer sebagai ikut memiliki perusahaan. Bahkan dalam alternatif kedua, bukan saja mereka ikut memiliki perusahaan, tapi mereka pun memegang mayoritas suara. Ternyata ketika batas waktu sampai, sudah 5.600 BUMN yang berubah status menjadi swasta. Dan BUMN yang memilih alternatif pertama dan kedua sebagai proses swastanisasinya hampir sama banyaknya. Ini berarti para pekerja Rusia menyadari pentingnya kerja keras. Sebab, tanpa kerja keras, yang rugi mereka sendiri: perusahaan tak berkembang dan penghasilan mereka pun tak akan menggembirakan. Ada lagi cerita sukses yang membuktikan bahwa likuiditas dalam masyarakat ternyata cukup tinggi. Pemerintah Moskow mengeluarkan kupon barang seharga 10.000 rubel per kupon. Penjualan dimulai 1 Oktober lalu. Waktu itu suara-suara sinis mengatakan bahwa pencetakan kupon itu tak akan tepat waktu, jadi mereka tak berniat membelinya. Dugaan itu meleset. Memang benar di hari-hari pertama penjualan berlangsung lamban. Tapi dalam waktu sekitar sebulan sejuta kupon (voucher) terjual. Salah satu keistimewaan kupon Rusia ini: bisa diperjualbelikan dan bisa diuangkan. Dan memang kemudian terjadi jual-beli kupon di masyarakat. Di salah satu pusat penjualan kupon di Moskow tercatat 9.000 jual-beli kupon terjadi per harinya. Dan harga voucher bernilai 10.000 rubel per lembar itu pun meningkat, dari 4.000 rubel menjadi 7.000 rubel. Ini menunjukkan hukum ekonomi biasa mulai dipahami di Rusia, yang selama bertahun-tahun hanya mengenal sistem sentralisasi dan subsidi. Yakni hukum ekonomi yang mengatakan permintaan naik harga naik. Dari sudut inilah Rusia adalah sebuah harapan. Banyak pengamat sudah meramalkan bahwa Rusia akan bangkit kembali dan menjadi superpower ekonomi. Melihat cepatnya adaptasi rakyat Rusia pada sistem pasar bebas bisa jadi dugaan itu tak berlebihan. Dari sebuah negeri yang puluhan tahun rakyatnya tak mengenal milik pribadi, kini muncul 14.000 usaha swasta, hanya dalam waktu sekitar setahun. Jumlah itu kira-kira 11% dari jumlah toko pemerintah di zaman komunis. Benar, jumlah ini kecil dibandingkan dengan program para ahli ekonomi Rusia, yang mengharapkan munculnya sekitar 70.000 usaha swasta. Tapi tentu itu tak bisa dikatakan sebuah kegagalan, atau belum sebuah kegagalan setidaknya. Apalagi bila melihat hanya di tiga kota besar (Moskow, St. Petersburg, dan Nizhny Novgorod), mestinya para pengamat Rusia optimistis: di tiga kota itu 50% toko pemerintah sudah di tangan swasta. Dan boleh percaya atau tidak, hanya dalam waktu setahun kini di Rusia terdapat 30 juta orang berstatus sebagai pegawai swasta. Boleh jadi, mereka yang berpenghasilan lebih dari 10.000 rubel sebulan, yang jumlahnya hanya kurang dari 1%, adalah para pemilik usaha swasta itu. Mereka kapitalis-kapitalis yang baru lahir yang hidup dengan gaya miliuner Barat. Umpamanya seorang bernama Alexei Kirsanoff, 33 tahun, pengusaha yang berselera pakaian gaya Italia. Laki-laki ini biasanya berkeliling Moskow dalam mobil Lincoln-nya (dan ia sudah merencanakan ganti BMW dalam waktu dekat). Ia biasa bersantap di rumah makan Jepang atau Italia dan menghabiskan sekitar 75 dolar (AS) sekali makan. Ia biasa membeli dagangannya dengan kartu kredit, dagangannya yang sama mahal harganya dengan di New York. Dan katanya ia baru saja merenovasi apartemennya dan habis 200.000 dolar -- 15.000 kali penghasilan rata-rata orang Rusia. Dan cobalah masuk ke klub malam di Moskow, Russian Troika. Terlihat sejumlah lelaki tertawa-tawa melihat tari telanjang sambil minum. Untuk bisa begitu, mereka, tiap kepala harus membayar 40 dolar (sekitar tiga kali penghasilan rata-rata orang Rusia dalam sebulan). Orang pun lalu berbicara tentang kesenjangan kaya-miskin di negeri yang sebelumnya meneriakkan semboyan ''sama rata sama rasa'' ini. Meski dulu pun kesenjangan, seperti sudah disinggung, ada juga: antara rakyat kebanyakan dan pejabat partai yang berseliweran dengan limusin-limusin hitam dan tinggal di apartemen mewah. Tapi munculnya ribuan usaha swasta, berubahnya 5.600 BUMN menjadi perusahaan swasta, dan terjadinya jual beli voucher, menandakan bahwa pelan-pelan rakyat yang dulunya ''sama rata sama rasa'' itu pun akhirnya bisa menerima siapa kerja keras bakal memetik buahnya. Dengarlah kata salah seorang penumpang taksi milik Artyom yang sudah diceritakan tadi. Ia seorang wanita, sekitar 22 tahun, dengan jepitan rambut gemerlap, yang hendak pergi ke dekat Lapangan Merah. Artyom minta ongkos 500 rubel, akhirnya mereka setuju harga 400 rubel. Si wanita, yang dipancing berbicara tentang inflasi yang 2.200%, hanya tertawa. ''Itu benar,'' katanya, ''tapi masalahnya sederhana saja. Jika Anda mau kerja keras, Anda akan punya uang, dan Anda bisa membeli apa saja yang Anda inginkan.'' Ia benar. Salah satu yang membedakan Rusia kini dan Rusia di masa lampau adalah toko-toko penuh dagangan, apa saja -- apakah semua orang bisa membelinya atau tidak, itu soal lain. FS

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=162365770388



Selingan 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.