Selingan 1/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Tanah impian pemburu kerja

Diperkirakan, ada sekitar 500 orang indonesia bekerja di uni emirat arab. ahmadie thaha dari tempo meliput masyarakat indonesia di sana. pekerja indonesia memilih tempat-tempat yang baik & terhormat.

i
INI EMIRAT ARAB (UEA) memang negeri para pendatang. Dari 1,6 juta kawulanya, hanya 400 ribu yang penduduk asli. Sisanya, 1,2 juta, adalah para pendatang dari India, Iran, Muangthai, Filipina, Pakistan, Afghanistan, serta negara Arab lainnya. Mereka semua datang ke Teluk -- sebutan populer UEA -- untuk mencari uang dan kerja yang lebih baik. Apalagi upah yang dijanjikan sering lebih tinggi daripada di negeri sendiri. Belum lagi adanya ketentuan bebas pajak bagi setiap gaji, yang membuat para pendatang lebih betah tinggal di sana. Tak peduli cuaca bisa sangat panas atau keterlaluan dinginnya. Tak salah kalau UEA dianggap tanah yang dijanjikan bagi para pencari kerja. Negeri Teluk yang kaya minyak itu juga menampung tenaga kerja Indonesia. Soesyono, Dubes RI di Abu Dhabi, memperkirakan sekitar 500 orang. Mustakim Muhammad Komar, Sekretaris Dua Kedutaan Indonesia di Abu Dhabi, mengatakan mereka tak tercatat secara pasti. Konon, lebih banyak jumlah mereka yang tak terdaftar. Dibanding dengan para pekerja dari India, Bangladesh, Afghanistan, dan Pakistan, umumnya pekerja Indonesia memilih tempat-tempat yang baik dan terhormat. Misalnya, sekitar 45 tenaga ahli mesin Indonesia bekerja di badan penerbangan milik pemerintah UEA. Mereka direkrut atas kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan UEA, 1983. Kabarnya, tenaga ahli yang diminta semula berjumlah 400 orang. Karena perekonomian UEA tidak stabil, akibat harga minyak jatuh, permintaan tersebut disunat. Selain jumlah di atas, masih ada sekitar 40 warga Indonesia bekerja sebagai pelaut di Abu Dhabi. Mereka terdiri dari lima kapten dan 35 mualim, yang menguasai Union Tanker, Adnoc, Ccc, Addcap, dan Aljabar -- kapal-kapal yang dikelola oleh perusahaan minyak nasional Abu Dhabi -- semacam Pertamina-nya Indonesia. Sebagian lagi bekerja di kapal pesiar milik Presiden UEA, Syekh Zayed bin Sultan al-Nahyan. Sidabutar, misalnya. Ayah tiga anak yang berasal dari Pulau Samosir ini menjadi kapten kapal Addcap, sejak 1984. Ia termasuk seorang dari 11 perintis pelaut Indonesia yang datang ke UEA. Pada tahun 1980-an, ia sudah menjadi kapten di sebuah kapal dagang di Singapura. Ia biasa membawa barang, mengarungi Lautan Pasifik hingga Jeddah dan Kuwait. Pada 1984 perusahaan minyak UEA membeli sejumlah kapal tongkang dari Singapura. Waktu itulah Kapten Sidabutar bersama lima mualim dan seorang tukang masak diangkut bersama kapal ke Abu Dhabi. "Saya bisa menghidupi keluarga di Indonesia dengan gaji saya selama ini," kata Sidabutar, seraya terus terang menyebut angka US$ 1.800 yang diterimanya setiap bulan. Setiap hari ia bertugas mengangkut peralatan berat dari Pelabuhan Zayed, Abu Dhabi, ke Pulau Sa'diyat. Pulau itu terletah di Teluk Persia, dua mil di utara Abu Dhabi. Dipergunakan sebagai tempat penyimpanan barang-barang keperluan perusahaan. Tapi kini, volume kerjanya menurun, dari 10 trip per hari menjadi hanya enam trip. Menurut Pringadi -- kapten asal Medan yang bertugas di kapal penyelam Conco III -- semula gaji pelaut berkisar antara US$ 800 dan US$ 7.000 sebulan. Tapi tiga tahun belakangan ini gaji tidak pernah naik. Pasalnya, karena pelaut-pelaut asal Filipina dan Muangthai berani banting gaji hingga US$ 400. "Kini pelaut Filipina menguasai kapal-kapal di sini," kata ayah dua anak itu. Pringadi mengeluh tentang prosedur pengiriman tenaga kerja pelaut dari Indonesia ke UEA yang terlalu bertele-tele. "Harus pakai calo segala, hingga hanya yang punya duit bisa berangkat," katanya. Tapi masalah utama adalah soal ijazah pelaut kita, yang konon tak memberi peluang besar untuk menjadi nakhoda. Paling-paling hanya menjadi mualim alias pembantu. Padahal, pemegang ijazah perwira I Indonesia yang punya kualifikasi untuk menjadi mualim tak kalah mahir dibanding pelaut dari negara lain pemegang ijazah master alias layak jadi nakhoda. Lagi pula, ijazah keluaran sekolah pelayaran Indonesia, yang tak diterjemahkan ke bahasa Inggris, lalu dianggap berada di bawah standar organisasi Buruh Internasional PBB. Akibatnya, terbetik kabar, 400 nakhoda Indonesia di seluruh dunia terancam dipulangkan. Sementara itu, banyak pelaut Indonesia lainnya tersebar di Dubai dan Sharjah -- dua keamiran yang terletak di pantai seperti Abu Dhabi. Mereka pada umumnya menjadi kapten dan mualim untuk kapal-kapal dagang dan suplai swasta, yang berlayar mondar-mandir dari UEA ke negara Teluk lainnya. Seorang kapten asal Banjarmasin tahun lalu dipulangkan, setelah ditahan selama setahun, karena melanggar zone perminyakan lepas pantai. Tapi memang ada juga kabar baik. Dari mulut ke mulut tersiar berita tentang hidup nikmat para pelaut Indonesia yang bekerja di kapal pesiar Presiden UEA Syekh Zayed bin Sultan al-Nahyan. Jumlah mereka tak ada yang tahu secara pasti. Konon, mencapai belasan orang. "Seperti para pembantu Syekh lainnya, mereka mendapat fasilitas sangat baik," kata Sidabutar. Misalnya mereka terus digaji meskipun tak pernah berlayar selama berbulan-bulan. Begitu pula cerita beberapa tenaga kerja wanita (TKW) yang bekerja sebagai pelayan di rumah para syekh atau majikan yang-budiman. Akhir Ramadan lalu, seorang pembantu rumah tangga dari Cirebon, Jawa Barat -- sebut saja Fatimah -- tanpa pernah menduga tiba-tiba memperoleh uang Rp 10 juta dari majikannya di kawasan elite Al-Bitthin, Abu Dhabi bagian selatan. Uang itu ternyata zakat harta sang majikan, yang karena tak menemukan orang miskin di negeri kaya itu, lalu dia limpahkan kepada pembantunya. Namun, seperti pernah diributkan di Arab Saudi, kisah pahit tenaga kerja wanita dari Indonesia juga merembet ke Uni Emirat Arab. Menurut Mustakim Muhammad Komar, pernah seorang TKW asal Indonesia diperlakukan kasar oleh anggota keluarga sang majikan. Ini kemudian diperkarakan. Pengadilan kemudian memutuskan sang majikan harus membayar denda kerugian. Menurut Ali Mansur, staf Departemen Penerangan dan Kebudayaan, di sana banyak permintaan tenaga kerja. Pasarannya memang terbuka lebar. Soalnya, berbeda dari Arab Saudi, di sana para wanita tidak tabu bekerja di kantor. Contohnya di Pusat Dokumentasi dan Riset (Majma' Tsaqafi), di Diwan al-Amiri, Jalan Hamdan, Abu Dhabi, para wanita berkerudung asal Mesir dan Inggris berbaur sekantor dengan kaum lelaki. Sayangnya, agen Indonesia kurang memperhatikan mutu. "Calon tenaga kerja yang dikirim kalah saing dengan mutu tenaga kerja, misalnya, yang dari Filipina," kata Ali Mansur, yang juga menjadi Direktur PT Manaratain. Kantornya, di Gedung Menara, samping Bank Nasional Abu Dhabi, dihiasi dengan lukisan penari Bali. Masalah utama adalah kelemahan bahasa. Padahal, dibanding Arab Saudi yang hanya mengutamakan bahasa Arab, Uni Emirat Arab masih toleran terhadap bahasa Inggris. Malah bahasa Inggris, yang tak lebih sulit mempelajarinya daripada bahasa Arab, dinyatakan sebagai bahasa komunikasi sehari-hari nomor dua. Melalui perusahaan PT Manaratain, yang bergerak di bidang pengerahan tenaga kerja dan industri pariwisata, Ali Mansur telah menjalin kerja sama dengan beberapa perusahaan pengerah tenaga kerja di Indonesia. Tapi ayah tiga anak yang suka humor itu mengeluhkan sikap negatif pengusaha kita. Ia menyebut beberapa pengusaha berjanji mengirimkan sejumlah tenaga kerja, sesuai dengan permintaan. "Tapi bayangkan, saya hanya dikirimi nama calon, berikut fotokopi paspornya yang saya kira palsu. Mana bisa saya mengirimkan visa?" gerundelnya, seraya menunjukkan sebundel dokumen. Isinya daftar pengusaha Indonesia yang bekerja sama dengannya serta foto para calon TKI, yang entah terdampar di mana. Tapi Mansur tak menyerah. Secara berkala ia tetap menjaring permintaan, dengan cara memasang iklan kecil di koran pemerintah, al-Ittihad (Persatuan). Ia mengatakan, pembantu rumah tangga sering dibutuhkan oleh para keluarga UEA, yang memberi kebebasan pada kaum wanita untuk bekerja di luar rumah. Sebagian mereka membutuhkan pembantu rumah tangga full atau part time di rumah. Untuk permintaan pembantu yang bekerja hanya sejam dalam satu hari, atau yang hanya perlu datang dua hari dalam seminggu, Mansur akan memenuhinya dengan mencarikan pembantu lokal. Tapi bagi keluarga yang meminta pembantu full time, ia mengajukan pembantu asal luar negeri. Menurut Mansur, pembantu rumah tangga di Abu Dhabi dan Dubai, sebagian besar berasal dari Sri Lanka dan Filipina. Mereka direkrut oleh para agen -- perwakilannya selalu memasang iklan penawaran di koran lokal. Setiap pembantu dibayar seribu dirham atau 500 ribu rupiah per bulan, plus makan dan akomodasi penuh. Ada tambahan cuti setiap tahun lengkap dengan tiket pulang pergi. Kedutaan Indonesia di Abu Dhabi menyadari, setiap tenaga pembantu rumah tangga yang dikirim, mau tak mau, akan menjadi beban bangsa. Seperti embel-embel negatif yang sudah sempat terpotret di Arab Saudi. Karenanya, dapat dimengerti kalau Mustakim Komar bilang, "Kirimkan yang lainnya saja." Misalnya, tenaga ahli di bidang teknik, para manajer dan profesional. UEA masih tetap membutuhkan mereka meskipun proyek-proyek prasarana sudah banyak yang rampung sejak tahun lalu. Warga Indonesia yang tinggal di UEA dituntut harus kreatif. Umar, misalnya. Ayah dua anak asal Malang yang selalu memakai jubah putih khas Arab ini menjadi petani madu. Di pekarangan rumahnya di Abu Dhabi, yang tak lagi gersang seperti tahun 1940-an dulu, ia menata sekitar 35 kotak lebah. Setiap musim bunga, ia bisa menghasilkan madu sekitar 5 kg dari setiap kotak. "Ini madu Arab, lain dari madu Malang," ujar Umar menggebu. Kemudian ia menyebut khasiat madu. Katanya, madu Arab lebih manjur untuk menyembuhkan seribu satu penyakit karena lebahnya makan bunga pohon sadr yang ditanam secara masal di seluruh wilayah UEA. Pohon itu rindang berduri, tapi bunganya harum. Padahal, di dalam Quran tak dibedakan madu Arab atau madu Taman Mini Indonesia Indah. Harga sekilo madu di pasar Abu Dhabi bisa mencapai 300 dirham atau Rp 150 ribu. Konon, Syakib Jakfar Thalib -- orang Surabaya yang tinggal di Al-Ain -- bisa menjualnya di Indonesia seharga Rp 450 ribu. "Saya sendiri heran harganya setinggi itu. Mungkin karena ada kepercayaan madu Arab itu manjur," kata Syakib. UEA mengembangkan lebah sejak April 1977. Presiden Zayed bin Sultan meminta agar pertanian digalakkan, termasuk mengembangkan jenis-jenis pemasukan uang dari hasil pertanian. Syekh Thuhnun bin Muhammad al-Nahyan, Ketua Perusahaan Minyak Nasional Abu Dhabi, langsung menjabarkannya dalam bentuk peraturan pelaksanaan. Semula ia membuat proyek percontohan pengembangan madu, dengan 100 kotak lebah di Daira, Al-Ain. Ternyata, proyek itu berhasil. Akhirnya perlebahan dijadikan proyek masal. Penduduk dianjurkan memelihara lebah. Jenis lebah yang sesuai dengan UEA adalah lebah Camioli (berasal dari Pegunungan Aleppo) dan lebah Italia. Berbeda dengan Umar, Syahrial Azhari Taman memanfaatkan keahliannya di bidang olahraga karate. Ayah tiga anak ini, sejak empat tahun lalu, mendirikan National Institute of Karate Do. Untuk tempat berlatih karate, body building, sauna, pijat, slimming (penurunan berat badan), dan aerobik bagi 80 anggotanya, ia menyewa dua lantai sebuah gedung di Abu Dhabi. Di pintu masuk ke ruang latihan itu ada meja untuk terima tamu. Di atas meja telentang dua samurai warna hitam. Di dinding belakangnya dipajang lambang olahraga karate. Di ruang dalam, terdapat alat-alat olahraga untuk kesegaran tubuh yang lengkap. "Untuk mengisi waktu luang," kata Syahrial Taman. Itu sebabnya, latihan karate yang diikuti oleh laki-laki dan wanita itu, dilakukan sore dan malam hari sepulang dari berkantor di Kedutaan Indonesia. Syahrial, yang fasih berbahasa Arab itu, belajar karate saat masih mahasiswa kedokteran di Bandung. Kemudian ia melancong ke Arab Saudi, untuk mencari kerja. Mendengar ada lowongan di Kedutaan Indonesia Abu Dhabi pada 1976 ia melamar. Sejak itulah ia menetap di Abu Dhabi, sebagai staf KBRI. Ia menyewa sebuah flat ber-AC dengan tiga kamar seharga 23 ribu dirham. Biaya hidup paling mahal di Abu Dhabi adalah untuk pendidikan. Misalnya di taman kanak-kanak swasta, uang SPP-nya per bulan 300 dirham atau Rp 175 ribu. Padahal, di taman kanak-kanak, pelajaran tak berbeda dengan di Indonesia. Bahkan pelajaran bahasa Arab hanya diajarkan sekadarnya. Putra bungsu Syahrial, misalnya, hanya mampu berbahasa Inggris. Tapi pergaulan di kalangan masyarakat Indonesia di UEA tetap dalam suasana tanah air. Dalam salat Idulfitri lalu di kantor KBRI, para lelaki memakai sarung, kopiah, dan sebagian berbaju batik. Sedangkan para wanitanya memakai mukena. Mereka bersalam-salaman dan makan ketupat bersama di rumah Soesyono. Sehabis Lebaran, sementara orang-orang menyerbu taman-taman hiburan, warga Indonesia meneruskan tradisi silaturahmi, berkunjung dari rumah ke rumah. Mereka pun menyediakan masakan khas Indonesia. Misalnya rujak lengkap dengan tahu, tempe, dan kecapnya. Tahun lalu, masyarakat Indonesia bisa menikmati masakan khas tanah air di Restoran Bali Abu Dhabi yang dibuka pada 1988. Masakannya bersih dan lezat, tak kalah dengan sate madura atau nasi goreng yang tersedia di Hotel Meridien. Restoran itu tak dikelola secara profesional sehingga bangkrut dan terpaksa ditutup pada pertengahan 1989. Tapi masyarakat Indonesia bisa masak sendiri di rumah karena bahan-bahan masakan Indonesia tersedia lengkap di toko milik Mohammad Awad Ahmad. Lelaki tua asal Sudan itu menyebut tokonya yang terletak di Wilayah Klub Turis sebagai "Pusat Keju dan Acar". Pada dinding luarnya ia tulis: "Di sini tersedia bahan makanan Indonesia". Di toko itu warga Indonesia bisa mendapatkan kecap ABC ukuran 12 cc seharga empat dirham atau dua ribu rupiah. Di situ juga tersedia mi, saus tomat, buah rambutan, mangga, dan sebagainya, yang dikemas dalam kaleng yang diberi label berbahasa Arab. Semula Awad mengimpor barang-barang itu dari Jeddah. Tapi kini ia bisa mendatangkan langsung, tiap bulan satu peti kemas, dari Tanah Abang, Jakarta. Selain dari Indonesia, ia mendatangkan keju, acar, serta makanan dari Sudan dan Mesir. Tempe dan tahu memang tak tersedia di toko tersebut. Tapi warga Indonesia bisa memperolehnya dari Tien Bauzir. "Ini saya kerjakan juga untuk mengisi waktu kosong," kata ibu lima anak asal Malang ini. Sehari, untuk tempenya itu, dia menghabiskan hingga 40 kg bahan kedelai, yang dibeli dari toko Awad. Hasilnya cukup membantu penghasilan suaminya, Faisal Bahanan, yang pada awal 1970-an menjadi juru ketik jalanan di Abu Dhabi. Dengan ketekunan yang luar biasa, mereka bisa membiayai putrinya menyelesaikan kuliah kedokteran di Mesir. Dan anak lelakinya juga bisa selesai kuliah di jurusan teknik, Bandung. "Berkah juga harus kita cari," kata Nyonya Tien Bauzir, bangga. AT

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836851324



Selingan 1/2

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.