Selingan 1/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Sanusi Pane: Sebuah Pleidoi untuk Bahasa Indonesia

Nama sastrawan angkatan Pujangga Baru, Sanusi Pane, tak banyak diingat dalam kajian sejarah Kongres Pemuda. Padahal, dalam kongres pertama, dia bersama Mohammad Tabrani berperan dalam mengusung istilah nahasa Indonesia ketimbang bahasa Melayu yang diusulkan Mohammad Yamin. Sanusi juga mencetuskan ide pendirian institut dan perguruan tinggi kesusastraan Indonesia dalam Kongres Bahasa Indonesia Pertama. Untuk kiprahnya itu, Sanusi Pane diusulkan menjadi pahlawan nasional.

i Sanusi Pane, 1955. Buku Kesusasteraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Essay
Sanusi Pane, 1955. Buku Kesusasteraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Essay

SANUSI Pane datang terlambat dalam rapat perumusan Ikrar Pemuda yang akan diajukan sebagai keputusan Kongres Pemuda pertama di Gedung Vrijmetselaarsloge ‘Ster Het Osten’ (Loji Bintang Timur), Jakarta, 2 Mei 1926. Tiga orang, yakni ketua panitia kongres Mohammad Tabrani, Mohammad Yamin, serta Djamaludin Adinegoro, sudah lebih dulu membahas naskah bikinan Yamin yang menjadi awal mula konsep satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa itu. Ada perdebatan sengit di antara ketiga orang ini karena poin terakhir naskah Yamin berbunyi, “Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan bahasa Melayu.”

Tabrani berpendapat istilah bahasa Indonesia lebih tepat digunakan ketimbang bahasa Melayu, tapi ia kalah suara dari Yamin dan Djamaludin. Yamin bahkan sempat menyebut Tabrani sebagai “tukang ngelamun” karena pada saat itu belum ada istilah bahasa Indonesia. Sementara itu, Tabrani, seorang jurnalis asal Madura dan tokoh organisasi Jong Java, berkeras, jikapun bahasa itu belum ada, harus diadakan karena poin 1 dan 2 ikrar tersebut telah menyebut nama Indonesia. Arah perdebatan berubah ketika Sanusi Pane datang. “Ibaratkan pertandingan sepak bola sebelum turun minum 2-1 untuk kemenangan Yamin. Setelah Sanusi Pane muncul stand berubah menjadi 2-2, sebab Sanusi Pane menyetujui saya,” kata Tabrani dalam buku autobiografinya yang berjudul Anak Nakal Banyak Akal, terbit pada 1979.

Madah Kelana

Berkat sumbangan suara Sanusi yang hadir pada kongres sebagai perwakilan Jong Batak, tim itu batal mengajukan naskah Yamin yang memuat kata Melayu sebagai kesepakatan kongres. Tim mengamanatkan agar pembahasan itu dirembukkan kembali pada kongres kedua. Yang terjadi selanjutnya sama-sama kita ketahui: kongres pemuda kedua digelar pada 1928, sidang menyetujui istilah bahasa Indonesia, dan lahirlah Sumpah Pemuda yang menjunjung bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan sebagaimana yang kita kenal sekarang.

Dukungan menentukan Sanusi kepada Tabrani jarang disebut dalam pembahasan sejarah kongres pemuda. Belakangan, peran itu digaungkan kembali saat Balai Bahasa Sumatera Utara mengusulkan nama sastrawan kelahiran Muara Sipongi, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, itu untuk menjadi pahlawan nasional. “Sosok Sanusi Pane kami munculkan untuk meneguhkan kembali kebahasaan kita,” ujar Maryanto lewat wawancara telepon, Senin, 22 Februari lalu. “Dia orang kedua setelah M. Tabrani yang menggagas bahasa Indonesia dan juga memikirkan kelembagaannya.”

Tabrani sebelumnya telah menyebut peran Sanusi Pane tatkala berceramah di Museum Sumpah Pemuda pada 26 April 1975. Salinan naskah pidatonya yang berjudul “Sejarah Satu Bangsa, Satu Nusa, dan Satu Bahasa” itu dibukukan oleh Yayasan Gedung-gedung Bersejarah Jakarta dalam 45 Tahun Sumpah Pemuda.


Manusia Baru

161893635768

Edukator Museum Sumpah Pemuda, Bakhti Ari Budiansyah, yang turut mengkaji pengusungan Sanusi Pane sebagai pahlawan nasional, mengatakan peran Sanusi Pane tak berhenti hanya pada pendukung gagasan bahasa Indonesia. Selepas kongres pemuda, Sanusi Pane semakin gencar menulis dengan menggunakan bahasa Indonesia. Jika sebelumnya dia menulis Airlangga dan Eenzame Garoedavlucht dalam bahasa Belanda, selanjutnya Sanusi tekun menulis dalam bahasa Indonesia, seperti pada naskah drama Kertajaya (1932), Sandyakala Ning Majapahit (1933), dan Manusia Baru (1940). “Sanusi Pane adalah salah satu penggagas sekaligus yang mula-mula mempopulerkan bahasa Indonesia,” tutur Bakhti melalui wawancara telepon, Jumat, 26 Februari lalu.

Patut diingat bahwa pada masa itu belum ada acuan pasti tentang bahasa Indonesia. M. Yamin mengusulkan bahasa Melayu karena berkeyakinan bahasa ini yang lambat-laun akan menjadi bahasa pergaulan dan persatuan di Indonesia. “Kebudayaan Indonesia akan diutarakan di masa depan dalam bahasa tersebut,” ujar Yamin dalam pidato “Hari Depan Bahasa-bahasa Indonesia dan Kesusasteraannya”.

Namun Tabrani menilai bahwa bahasa Melayu yang digunakan dalam pergaulan pada masa itu bukanlah bahasa Melayu murni, melainkan apa yang dia sebut dengan “Melayoe-gampang”. Dalam makalah berjudul “Jejak Pergerakan Sanusi Pane pada Masa Awal Bahasa Indonesia”, Priyantono Oemar mengutip pemaknaan Tabrani atas bahasa Indonesia. “Bahasa apa dan manakah jang oleh kita diseboetkan bahasa Indonesia itoe? Lain tidak dari bahasa Indonesia jaitoe bahasa jang oleh kita pada masa ini dianggapnja bahasa jang dipakai sebagai bahasa pergaoelan oleh bangsa kita kebanjakan. Perhimpoenan Boedi Oetomo adalah perhimpoenan hanja dari bangsa Djawa. Akan tetapi bahasa jang dipakai oleh perhimpoenan itoe ialah bahasa Indonesia (djadi boekan bahasa Melajoe, karena jang dipakai oleh BO itoe soekarlah diseboetnja bahasa Melajoe),demikian ditulis Tabrani dalam Hindia Baroe terbitan 11 Februari 1926.

Sandhyakala Ning Majapahit

Sanusi Pane mengiyakan pendapat Tabrani, bahwa kendati akarnya serupa, bahasa Indonesia dan bahasa Melayu adalah dua hal yang berbeda. Menurut Sanusi dalam ceramahnya di Taman Siswa pada 1940, bahasa persatuan Indonesia bukan tumbuh dari kesusastraan Melayu ataupun karena kuasa salah satu daerah Melayu. “Bahasa Indonesia timbul dalam lapangan pergaulan daerah yang satu dengan yang lain, golongan bangsa yang satu dengan yang lain,” ucap Sanusi. “Dasar bahasa Indonesia ialah Melayu-pasar, yaitu bahasa yang timbul di mana-mana di Indonesia.”

Maka bahasa Indonesia dalam tafsir Sanusi adalah bahasa yang menyerap berbagai kata dari semua bahasa yang berkembang di Nusantara. “Bahasa persatuan dengan begitu dipandang dari jurusan Indonesia umum, bukan dari jurusan Melayu, bukan dari jurusan Jawa, Sunda, dan sebagainya. Makin dekat bahasa seseorang kepada ukuran, perasaan Indonesia umum, makin dekat bahasanya itu kepada bahasa Indonesia,” kata Sanusi.

Priyantono Oemar menilai sikap Sanusi menarik. Sebagai orang Tapanuli Selatan yang saat itu merupakan daerah pusat perkembangan bahasa Melayu, Sanusi Pane justru memilih bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. “Sanusi berani menegaskan bahwa bahasa Indonesia tidak lahir dari karya sastra Melayu tinggi,” tutur asisten redaktur pelaksana Republika itu.

Sedjarah Indonesia

Keyakinan Sanusi akan bahasa Indonesia didukung dengan komitmen mempraktikkannya. Pada 1931, saat menjadi anggota redaksi majalah Timboel yang berbahasa Belanda, Sanusi turut menerbitkan halaman berbahasa Indonesia. Namun majalah yang menyiarkan gerakan kelompok nasionalis ini tak berumur panjang. Sanusi dan kawan-kawan menghentikan penerbitan Timboel pada 1933 karena tekanan pemerintah kolonial.

Peran paling signifikan Sanusi Pane pada pembentukan bahasa Indonesia tercetus 12 tahun setelah perdebatan tim di Jakarta. Pada 25 Juni 1938 di Gedung Societeit Habiprojo, Solo, Jawa Tengah, kaum terpelajar, sastrawan, guru, hingga wartawan berkumpul untuk menghadiri Kongres Bahasa Indonesia Pertama. Sanusi termasuk salah satu pesertanya. Kongres yang turut dihadiri M. Yamin, Sutan Takdir Alisjahbana, M. Tabrani, dan Amir Sjarifuddin itu digagas wartawan Soeara Oemoem, Soedarjo Tjokrosisworo, untuk membahas penyempurnaan bahasa Indonesia, satu dekade setelah disepakati dalam Sumpah Pemuda.

Puspa Mega

Forum ini mengusulkan sejumlah langkah yang perlu dilakukan untuk mengukuhkan bahasa baru itu, seperti menjadikannya bahasa resmi dalam setiap pertemuan Dewan Rakyat dan mata pelajaran wajib di sekolah-sekolah. Bahasa ini juga perlu diperkaya dengan menyerap kata-kata asing untuk ilmu pengetahuan, menyusun kembali gramatika, dan memperbaiki bahasa yang digunakan dalam surat kabar.

Dalam kongres ini, Sanusi melontarkan perlunya membentuk suatu institut bahasa Indonesia, yaitu lembaga yang berperan mengurusi pengembangan bahasa itu. Kongres menerima usul Sanusi dan memutuskan pembentukan sebuah komisi untuk mewujudkan institut tersebut. Komisi ini diketuai oleh Poerbatjaraka. “Gagasan besar Sanusi Pane tentang institut bahasa Indonesia itu berkembang menjadi Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa saat ini, yang salah satu unit pelaksana teknisnya adalah balai bahasa di daerah-daerah,” ujar Ketua Balai Bahasa Sumatera Utara Maryanto.

Peserta Kongres Pemuda I, berfoto sebelum pelaksanaan Kongres, di dalam gedung Vrijmetselaarsloge “Ster Het Osten”, 30 April 1926. Buku 45 tahun Sumpah Pemuda

Selain mencetuskan ide institut bahasa, Sanusi Pane bersama Sutan Takdir Alisjahbana dan M. Yamin menyarankan pendirian perguruan tinggi kesusastraan untuk penyelidikan bahasa, kesusastraan, dan kebudayaan bangsa Indonesia. Usul ini adalah cikal bakal fakultas sastra di kampus-kampus Indonesia.

Saat berceramah di Taman Siswa, dua tahun selepas kongres bahasa pertama, Sanusi Pane mengemukakan bahwa fungsi fakultas sastra adalah suatu asrama umum kesusastraan. “Suatu pusat bagi pekerjaan inventarisatie, reorganisastie, dan modernisatie,” ucap Sanusi sebagaimana dikutip Priyantono Oemar dalam makalahnya.

Sejak tahun lalu, Balai Bahasa Sumatera Utara mengumpulkan data dan menggelar sejumlah forum akademis untuk mengkaji kepatutan Sanusi Pane sebagai pahlawan nasional. Balai juga menghubungi putri Sanusi Pane, novelis Nina Pane. Mewakili keluarga, putra Nina, Andrei Aksana, bersyukur karena akhirnya peran Sanusi Pane sebagai tokoh pergerakan kemerdekaan yang banyak menulis tentang kebudayaan dan kebangsaan mendapat pengakuan. “Dari pihak keluarga dengan senang hati memberikan dukungan dan membantu memberikan informasi sebatas yang kami ketahui,” ucap penulis buku Lelaki Terindah itu lewat wawancara tertulis.

Sanusi Pane (berdiri, kedua kanan), pada acara jamuan perpisahan antara panitia dan sebagian peserta kongres pemuda Indonesia pertama, di Restoran Insulinde Jalan Petjenongan, Jakarta, 2 Mei 1926. Dok. Perpusnas

Nama Sanusi barangkali tidak sebesar Armijn Pane, adik kandungnya yang menulis novel Belenggu, ataupun pentolan Poedjangga Baru lain seperti Amir Hamzah dan Sutan Takdir Alisjahbana. “Dari segi prosa, lebih bagus Armijn Pane, dari kesusastraan puisi lebih kuat Amir Hamzah, dari segi bahasa lebih kuat Sutan Takdir Alisjahbana,” ujar kritikus sastra dan guru besar Universitas Gadjah Mada, Faruk H.T., kepada Tempo. “Tapi Sanusi Pane dikenal karena kecenderungan mistik dan filsafat ketimurannya.”

Kiprah Sanusi Pane baik dalam Kongres Pemuda Pertama maupun Kongres Bahasa Indonesia Pertama pun tak sering dibahas. “Saya tidak pernah dengar, yang saya tahu M. Yamin yang paling berjasa untuk menggalang dan menggerakkan pemuda,” ujar Faruk.

Sanusi Pane lebih jamak dikenal sebagai salah satu sastrawan angkatan Pujangga Baru, kendati sejumlah ahli menyebut karya-karya Sanusi masih diwarnai ciri angkatan Balai Pustaka karena bentuk puisi-puisi awalnya yang masih mengikuti format sonata. Sanusi menerbitkan kumpulan sajak pertamanya pada 1926, berjudul Pancaran Cinta. Karya yang disebut-sebut sebagai tonggak capaian Sanusi adalah kumpulan puisi Madah Kelana yang diterbitkan oleh Balai Pustaka pada 1931. Selain itu, Sanusi menulis naskah drama, seperti Kertajaya (1932) dan Manusia Baru (1940), serta menerjemahkan naskah Jawa kuno, yakni Arjuna Wiwaha dari versi bahasa Belanda garapan Poerbatjaraka.

Sanusi Pane (kedua kiri) saat menjadi Pemimpin Redaksi Koran Kebangoenan, bersama Armijn Pane (kedua kanan), pada 1930-an. Dok Keluarga

Menurut Faruk, di tengah polemik kebudayaan barat dan timur yang menjadi perdebatan pada masa kelahiran Republik, Sanusi Pane menawarkan jalan tengah dengan membuat sintesis antara Faust, tokoh rekaan Goethe, dan Arjuna. Dalam tulisan berjudul “Persatuan Indonesia” yang dimuat oleh Suara Umum pada 4 September 1935, Sanusi menulis, “Zaman sekarang ialah terusan zaman dahulu... Haluan yang sempurna ialah menyatukan Faust dan Arjuna, memesrakan materialisme, intelektualisme, dan individulisme dengan spiritualisme, perasaan, dan kolektivisme”.

Sanusi terlahir di keluarga seniman sekaligus aktivis. Ayahnya, Sultan Pangurabaan Pane, menulis cerita daerah berjudul Tolbok Haleoan dan pendiri Partai Gerindo cabang Sipirok, Tapanuli Selatan. Menurut cucu Sanusi Pane, Andrei Aksana, sejak kecil Sanusi telah menekuni kebudayaan Melayu karena pengaruh ayahnya. Pendidikan pertamanya adalah di Hollands Inlandse School (HIS) Padang Sidempuan dan Tanjung Balai, kemudian melanjutkan pendidikan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Padang. Sanusi merantau ke Jawa untuk melanjutkan sekolah di Algemene Middelbare School (AMS) jurusan Sastra Timur yang mengkaji sastra India, Cina, hingga Arab.

J.U. Nasution dalam buku Pudjangga Sanusi Pane menyebut karya-karya Sanusi Pane banyak diwarnai oleh pemikiran penyair India, Rabindranath Tagore. Sanusi sempat melawat ke India selama setahun pada 1929-1930. Dia mengunjungi Kota Shantiniketan dan sempat berjumpa langsung dengan Tagore. Dalam naskah drama Manusia Baru, Sanusi menjadikan Kota Madras di India sebagai latar cerita dan memasukkan nama-nama tokoh khas India, seperti Saraswati Wadia dan Gopal Chandra Sastri.

Selain mewarnai karyanya, filosofi Hindu disebut mempengaruhi keseharian Sanusi. Dia tak mementingkan materi dan hidup sesederhana mungkin. Sewaktu menjadi redaktur Balai Pustaka, Sanusi lebih memilih berjalan kaki ketimbang diantar-jemput. Dia juga tak memusingkan kenaikan pangkat sehingga sampai pensiun pangkat Sanusi masih sama.

Namun keluarga Sanusi menolak jika kesederhanaan Sanusi dihubungkan dengan nilai-nilai Hindu. Menurut cucunya, Andrei Aksana, kesederhanaan dan kebiasaan Sanusi meresapi alam tak ada relevansinya dengan Hindu. “Kesederhanaan adalah karakter dan akhlak yang merupakan ciri keluarganya yang beragama Islam,” ujar Andrei.

Salah satu adegan dalam pementasan drama “Sendyakala ning Majapahit” oleh Indonesia Muda, April 1940. Foto: Dok. Museum Sumpah Pemuda

Filosofi ketimuran yang ditekuni Sanusi pun disebut Andrei bukan melulu karena pengaruh tradisi India. “Menurut ibu saya, ketertarikan Sanusi Pane adalah pada tanah airnya sendiri, ‘Nusantara’ yang memang timur dan mendapat pengaruh dari Cina, India, Arab, dan seterusnya,” katanya.

Pulang dari India, Sanusi menjadi redaktur majalah Timboel, harian Kebangoenan, lalu redaktur Balai Pustaka pada 1941. Dia juga menjadi pembantu umum untuk majalah Poedjangga Baroe. Sanusi berpulang pada 2 Januari 1968. “Di masa tuanya beliau tinggal di Bogor dan setiap hari jalan-jalan di Kebun Raya,” ucap Andrei.

Selain Armijn Pane, Sanusi merupakan saudara kandung Lafran Pane, pendiri Himpunan Mahasiswa Islam yang telah lebih dulu ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 2017. Jika Sanusi juga berhasil mendapat gelar itu, ini akan menjadi yang pertama kali kakak-adik sama-sama masuk daftar pahlawan nasional.

MOYANG KASIH DEWIMERDEKA

Reporter Moyang Kasih Dewi Merdeka - profile - https://majalah.tempo.co/profile/moyang-kasih-dewi-merdeka?moyang-kasih-dewi-merdeka=161893635768


Sastra

Selingan 1/2

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.