Profil Pasukan Merah, Penjaga Marwah Adat Dayak dan Hutan Kalimantan - Selingan - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Selingan 1/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Pasukan Merah Penjaga Marwah

Penangkapan Ketua Komunitas Adat Laman Kinipan, Effendi Buhing, akhir Agustus lalu membawa nama Tariu Borneo Bangkule Rajangk ke permukaan. Laskar berjulukan Pasukan Merah itu tampil membela tokoh adat asal Lamandau, Kalimantan Tengah, tersebut. Sang pemimpin, Pangalangok Jilah, mengklaim anggota pasukannya yang berkisar 50 ribu orang tersebar di penjuru Kalimantan, termasuk Malaysia dan Brunei Darussalam, dan dipimpin 91 panglima. Sementara dulu bergerak dalam pelestarian adat dan budaya, kini Pasukan Merah juga berfokus pada advokasi anggotanya yang tersangkut kasus hukum. Tempo melaporkan dari Bukit Raya Toho, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, salah satu hutan adat yang dirawat Pasukan Merah.

i Ratusan anggota Pasukan Merah Dayak berdoa di acara pembukaan Pekan Gawai Dayak (PGD) ke-34 di Rumah Radakng Pontianak, Kalimantan Barat, Mei 2019. ANTARA/Jessica Helena Wuysang
Ratusan anggota Pasukan Merah Dayak berdoa di acara pembukaan Pekan Gawai Dayak (PGD) ke-34 di Rumah Radakng Pontianak, Kalimantan Barat, Mei 2019. Antara/Jessica Helena Wuysang

AGUSTINUS merapal mantra. Aroma dupa menguar di ruangan berukuran sekitar 6 x 5 meter yang dihiasi bermacam patung dari berbagai ukuran. Di sudut lain kediaman yang berlokasi di Desa Sambora, Kalimantan Barat, itu terlihat beberapa guci keramik dan beragam senjata. Benda-benda itu milik pria 40 tahun yang menyandang gelar Pangalangok Jilah, pemimpin puluhan panglima Pasukan Merah Dayak yang tersebar di seantero Kalimantan, tersebut.

Di hadapan Agustinus terdapat beras ketan kuning yang ditaruh di atas mangkuk tembaga. Di atas beras itulah ditaruh sebatang dupa. Agustinus lalu meraup segenggam beras. Ia mendekatkan beras itu ke mulutnya, lalu berbisik dalam bahasa Dayak Kanayant. “Kami mau pergi, tolong jaga dan lindungi kami,” ucapnya, Selasa, 29 September lalu.

Perjalanan kami menuju Riam Sambora pun dimulai. Riam Sambora terletak di sebuah hutan adat yang disebut Keramat Bukit Raya. Bagi masyarakat umum, kawasan ini juga dikenal dengan julukan Bukit Raya Toho. Letaknya di Desa Sambora, Kecamatan Toho, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. Ketinggiannya sekitar 800 meter dari permukaan laut. Di Keramat Bukit Raya, ada tujuh tingkat air terjun.


Pangalongok Jilah dan ajudannya mempersiapkan diri untuk berkomunikasi dengan leluhur Kemarat Bukit Raya di Desa Samboram Toho, Mempawah, Kalimantan Barat, September 2020. Tempo/Aseanty Pahlevi

Pendakian ke Riam Sambora memerlukan waktu sekitar satu setengah jam. Sedangkan perjalanan menuju riam sendiri melewati ladang-ladang warga, padang rumput, lahan sawit masyarakat, dan sungai berair jernih. Mendekati riam, pada dua batang pohon yang terbentuk alami menyerupai gerbang, kami menanggalkan alas kaki.

Yunus, 25 tahun, ajudan Agustinus yang selama perjalanan berada paling belakang, lalu membakar dupa. Agustinus pun membuka kausnya. Ia mengenakan gelang-gelang tembaga, mengikat kakinya dengan kain merah, lalu menyandang pedangnya. “Adil ka’talino, barucamin ka’ saruga, basengat ka’ Jubata,” kata Pangalangok Jilah, membelah suara air terjun. Seruan ini mempunyai makna mendalam: adil kepada sesama manusia, becermin kepada surga, dan selalu ingat Tuhan Yang Maha Esa.

Agustinus tak begitu saja bergelar pangalangok. Semula, ia berjulukan Panglima Jilah sampai kemudian dua tahun lalu ditahbiskan sebagai pangalangok, yang membawahkan para panglima se-Borneo. Kekuasaan itu ia warisi dari ayah dan ibunya, Mustar dan Paulina, yang satu garis keturunan dari leluhur Bangkule Rajangk. Kerajaan yang eksis pada 1380-1400 itu adalah cikal-bakal Kerajaan Mempawah. Kedua orang tua Agustinus adalah keturunan Nek Jobek, Nek Bandong, Nek Singa, dan Nek Macan. “Mereka adalah panglima di tanah Dayak,” kata Agustinus.

Kerajaan itu runtuh saat pemimpinnya, Patih Gumantar, terbunuh dalam peperangan melawan suku lain. Namun beberapa keturunannya masih tersebar dan kemudian menjadi koloni Dayak di Mempawah. Wilayah kekuasaan Pangalangok Jilah diklaim meliputi seluruh Kalimantan, termasuk sebagian dari Malaysia dan Brunei Darussalam yang berlokasi di pulau tersebut.

Agustinus menikah dengan Marsiana dan mempunyai dua anak, yang sulung perempuan dan bungsu laki-laki. Anak bungsunya, Gantar Pamane, 3 tahun, yang kelak akan mewarisi gelar Pangalangok Jilah. Seperti halnya Agustinus, momen menjelang kelahiran Gantar ditandai oleh banjir dan angin ribut. Gerak alam itu serta-merta berhenti ketika Gantar, juga Agustinus dulu, lahir ke bumi.

•••

PASUKAN Merah yang dikomandoi Agustinus adalah laskar khusus dalam adat Dayak kuno. Agustinus menghidupkan kembali pasukan ini lima tahun belakangan. Semula, Pasukan Merah adalah organisasi kemasyarakatan yang peduli terhadap pelestarian adat dan budaya Dayak. Namun belakangan gerakannya berfokus pada advokasi masyarakat Dayak, terutama menyangkut kasus dengan relasi kuasa yang tak berimbang: rakyat melawan penguasa atau saat berhadapan dengan pengusaha.

Agustinus atau Pangalongok Jilah memberikan pemahaman mengenai advokasi dan pelestarian lingkungan kepada masyarakat adat dayak di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. Dokumentasi Pribadi

Secara legal formal, Pasukan Merah mempunyai nama resmi Tariu Borneo Bangkule Rajangk. Saat ini jumlah anggota pasukannya diklaim mencapai 50 ribu, yang tersebar di seluruh Kalimantan. Tugas Pasukan Merah berbeda dengan petugas Lembaga Pengawas Hutan, yang biasa dibentuk dalam perhutanan sosial. Anggota Pasukan Merah sehari-hari beraktivitas biasa, sesuai dengan profesi masing-masing. Ada guru, karyawan, seniman, cendekiawan, juga penegak hukum.

Mayoritas prajurit Pasukan Merah adalah anak muda. Anggotanya bukan hanya laki-laki. Sekitar 10 ribu di antara 50 ribu anggotanya adalah perempuan. Salah satunya Yono, 41 tahun, warga Toho, Kecamatan Landak. Warga Dayak Kanayant ini menyebutkan keberadaan Pasukan Merah tak hanya memberikan harapan terkait dengan advokasi warga, tapi juga memberi ruang pemberdayaan ekonomi. Misalnya latihan menenun, merangkai manik-manik, membudidayakan madu hutan, dan menanam pohon di lahan kritis. “Yang terakhir adalah upaya kaum muda Dayak yang ingin mengembalikan fungsi lahan,” tuturnya saat ditemui pada Selasa, 29 September lalu.

Yono yang bekerja di salah satu perusahaan sawit, misalnya, menjalankan perannya dengan terus berupaya mengadvokasi perusahaan untuk menjalankan penanaman sawit berkelanjutan. Kegiatan pemberdayaan warga ia lakukan di sela kesibukan profesinya.

Berbagai kegiatan tersebut dilakukan secara sukarela oleh Pasukan Merah. Adapun pembiayaan organisasi masih menggunakan dana pribadi panglima. Sedangkan Agustinus, sejak diangkat menjadi Pangalangok Jilah, tak lagi bekerja. “Tapi saya yakin kami sekeluarga tidak akan kelaparan,” ujarnya.

Total terdapat 91 panglima yang memegang kendali di beberapa hutan adat di Kalimantan. “Tapi siapa mereka, rahasia. Saya yang menunjuk mereka. Instruksi semua dari saya,” kata Agustinus. Koordinasi Pangalangok Jilah dengan para panglimanya dilakukan secara modern ataupun secara spiritual. Jika ada arahan untuk berkumpul, para panglima menggerakkan massanya ke tempat yang ditentukan.

Sebagai pangalangok, Agustinus memiliki sejumlah kemampuan, di antaranya berkomunikasi dengan roh para leluhur. Roh-roh itulah yang menurut Agustinus biasa memberi mereka petunjuk, termasuk dalam langkah-langkah advokasi. Jika kondisinya dipandang genting, ia akan mengeluarkan “mangkok merah”. Mangkok merah adalah semacam kode siaga I. Dalam kondisi ini, Pasukan Merah akan siap berperang.

Dulu ketika kode mangkok merah telah dikeluarkan, pasukan harus bersiap menjalankan tradisi mengayau atau memenggal kepala musuh. Dalam sebuah ritual komunikasi antara panglima dan roh leluhur, mangkok merah diedarkan kepada orang-orang tertentu, lalu diletakkan di depan rumah sebagai simbolisasi perlindungan dari musuh.

Pangalangok Jilah dalam sebuah acara Tariu Borneo Bangkule Rajangk di Sanggau, Kalimantan Barat, September 2020. Dokumentasi Pribadi

Warna merah sendiri identik dengan suku Dayak, yang secara filosofis berarti tidak kenal takut dan penuh semangat. Kini Agustinus berupaya mengembalikan semangat melindungi adat, budaya, dan alam di Kalimantan. “Tuhan tidak lagi menciptakan tanah, tapi manusia terus bertambah. Maka tanah ini harus dijaga,” ucapnya.

Agustinus melihat hutan sebagai supermarket bagi masyarakat Dayak. Di dalam hutan, mereka menggantungkan hidup. Tapi mereka tidak pernah berlebihan mengambil dari yang dibutuhkan. Jika ada yang berbuat curang, hukum adat yang dikedepankan. “Hukum adat lebih efektif. Tidak dibuat seperti aturan saat ini yang hanya mementingkan orang atau kelompok tertentu. Kalau hukum adat, semua orang sama,” katanya.

Misalnya saat mereka mengadvokasi petani yang terancam hukuman pidana atau kasus kriminalisasi Effendi Buhing. Effendi adalah Ketua Komunitas Adat Laman Kinipan yang memperjuangkan kelestarian hutan di Desa Kinipan, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah. Ia ditangkap aparat keamanan di rumahnya dengan tuduhan pencurian, pemaksaan, dan perampasan pada 26 Agustus lalu. Selain Effendi, dalam kasus itu ada lima warga adat lain yang dikriminalisasi.

Kasus ini menjadi tambahan 28 konflik agrarian berujung tindakan kriminalisasi yang terjadi di Indonesia pada rentang Maret hingga Juli 2020. Effendi akhirnya dilepaskan setelah Komisi Nasional untuk Hak Asasi Manusia dan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara turun tangan. Menurut Agustinus, investasi yang masuk ke Kalimantan selama ini tak berujung pada kesejahteraan masyarakat Dayak. Bahkan suku Dayak malah makin tergusur di kampung halamannya sendiri. “Karena itu, Pasukan Merah terus mengingatkan suku Dayak agar tak melepaskan lahan kepada korporasi,” ujarnya.

•••

SUKU Dayak selalu lekat dengan alam. Namun keinginan masyarakat adat untuk diakui secara hukum masih sukar terpenuhi. Sebab, pemerintah membebani Bumi Borneo dengan banyak izin, dari perkebunan, kehutanan, sampai tambang. “Kami sangat berharap pemerintah segera meneken undang-undang masyarakat adat. Pengakuan itu merupakan kewajiban negara agar jati diri warga tidak hilang,” tutur Yohanes S. Laon, peneliti Dayak yang juga anggota Pasukan Merah.

Tuntutan itu, menurut Yohanes, tak berarti menafikan hukum positif. Bukan berarti juga masyarakat anti-investasi. Namun pemenuhan hak-hak masyarakat adat yang hilang karena wilayah kelolanya beralih fungsi semestinya menjadi perhatian pemerintah. Ia mencontohkan kegiatan berladang masyarakat adat Dayak yang kerap disalahartikan pemerintah. Warga kerap dituduh melakukan pertanian ladang berpindah yang menyebabkan kebakaran hutan dan lahan.

Padahal selama ini pembakaran yang dilakukan masyarakat adat Dayak tak sembarangan. Berladang adalah bagian dari identitas orang Dayak. “Penggunaan api pun tak sembarangan. Api selalu dijaga, memperhatikan musim dan arah angin, serta melibatkan warga lain yang ladangnya bersebelahan,” ucap Yohanes.

Ratusan anggota Pasukan Merah Dayak mengikuti acara pembukaan Pekan Gawai Dayak (PGD) ke-34 di Rumah Radakng Pontianak, Kalimantan Barat, Mei 2019. Antara/Jessica Helena Wuysang

Sebenarnya, kata Yohanes, masyarakat Dayak bukannya melakukan ladang berpindah, melainkan ladang bergilir. Lahan yang sudah pernah dijadikan ladang akan ditinggalkan, diisi dengan tanaman buah. Masyarakat akan kembali mengupayakan lahan di ladang tersebut setelah beberapa kali siklus tanam. Secara ilmiah, kegiatan ini merupakan hal yang sangat logis agar unsur hara tanah kembali subur. Sama halnya dengan merawat hutan. Penebangan di wilayah hutan adat harus seizin pemuka adat dan hanya untuk keperluan rumah tangga atau perbaikan infrastruktur kampung.

Karena itu, Pasukan Merah pun ikut mengadvokasi peladang tradisional agar menyadari hak-haknya. Belum lama ini Pasukan Merah memberikan pengertian kepada aparat penegak hukum dan perangkat desa soal kegiatan peladang tradisional. “Kami menjamin tidak terjadi kebakaran lahan,” ujarnya. Lagi pula aparat harus menjalankan isi Peraturan Gubernur Kalimantan Barat Nomor 103 Tahun 2020 tentang Pembukaan Areal Lahan Pertanian Berbasis Kearifan Lokal. Peraturan itu diharapkan bisa menjadi solusi untuk menekan kasus kebakaran hutan dan menjadi payung hukum peladang tradisional membuka lahan.

Menurut Yohanes, semangat Pasukan Merah menjaga adat dan budaya Dayak kini mengandalkan teknologi digital. Tim peneliti di Pasukan Merah mengumpulkan berbagai macam cerita rakyat, lagu, ukiran, dan tato asli Dayak. “Budaya Dayak diturunkan secara lisan. Jadi harus ada yang membukukannya,” kata Yohanes. Hal ini dilakukan agar generasi muda mengenal adat istiadat secara utuh, terutama prinsip-prinsip melestarikan alam.

ASEANTY PAHLEVI (PONTIANAK)

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-10-25 11:33:21

Suku Adat Dayak

Selingan 1/2

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB