Satu dekade kepergian Si Burung Merak - Selingan - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Selingan 1/3

Sebelumnya Selanjutnya
text

Suara Rendra Masih Bergema

Sepanjang 2019 hingga awal 2020, berbagai kelompok teater dari Yogyakarta sampai Jakarta mengenang sepuluh tahun kepergian W.S. Rendra dengan mementaskan naskah-naskah karya dan sadurannya. Suara pria berjulukan Si Burung Merak yang jasadnya dimakamkan di Bengkel Teater, Cipayung itu masih terus menginspirasi dan bergaung.

i W.S. Rendra membaca puisi dalam sebuah acara di Jakarta, 1977./Dok. TEMPO/Eddy Herwanto
W.S. Rendra membaca puisi dalam sebuah acara di Jakarta, 1977./Dok. TEMPO/Eddy Herwanto
  • 2019 adalah peringatan satu dekade kepergian penyair W.S. Rendra .
  • Berbagai kelompok memperingati berpulangnya W.S. Rendra
  • Karya Rendra masih kuat dan terus menginspirasi .

Aksara Arab terukir di nisannya. Diambil dari Surat Yasin ayat 58 yang kurang-lebih bermakna “Salam untuknya dari Yang Maha Pengasih”. Akhir Januari lalu, suasana terasa lembap di Bengkel Teater Rendra di Cipayung, Jawa Barat. Daun yang gugur banyak membusuk. Di bagian selatan lahan tiga hektare itu, ada petak terbuka berumput hijau di antara kerimbunan pohon jati, sengon, mahoni, sirsak, dan durian. Di tengah petak itu, Willibrordus Surendra Broto Rendra bin Brataatmadja dikuburkan.

Kubur Rendra diperkokoh marmer hitam berhias kerikil putih. Lebih dari sepuluh tahun setelah kematiannya pada 6 Agustus 2009, makamnya masih rutin diziarahi murid-murid Rendra dan keturunan mereka atau sekadar pengagum karyanya. “Paling ramai kalau bertepatan dengan hari lahir atau wafatnya Rendra,” ujar Ale Utsman, pengurus sehari-hari rumah almarhum Rendra di Cipayung.

Makam itu terjaga rapi. Hampir setiap hari dibersihkan. Agak berjarak di samping kubur Rendra, terdapat makam berhias salib dan patung Yesus. Di situ terbaring Isruwyasti Brataatmadja, adik Rendra yang meninggal dua tahun lebih dulu darinya. Di bagian tanah yang lebih rendah dan bersemak lebih tinggi, ada sembilan kubur lain. Di situ ada makam penata panggung Roedjito dan perupa Semsar Siahaan. Selain itu, makam musikus Urip Achmad Riyanto alias Mbah Surip, yang populer dengan lagu Tak Gendong. Mbah Surip wafat tepat dua hari sebelum Rendra.


Kematian berjarak dekat itu masih terus diingat dengan pahit oleh sahabat-sahabat Rendra. “Ratusan orang datang saat pemakaman Mbah Surip. Tapi tak ada yang ingat bahwa, pada saat yang sama, Rendra juga sedang sakit keras di Bengkel Teater. Saya menangis,” kata Emha Ainun Nadjib dalam diskusi mengenang satu dekade kepergian Rendra di Pusat Perfilman H. Usmar Ismail, awal November 2019.

W251bGwsIjIwMjAtMTEtMjggMjI6MDI6MTciXQ

Penyair W.S. Rendra berbincang dengan rekan-rekannya di Bengkel Teater, Jakarta, 1988./Dok TEMPO/Dahlan Rebo Pahing

Tak lama setelah kematian Rendra, Eep Saefulloh Fatah, pengamat politik yang juga sahabat Rendra, menulis di majalah Tempo dan bertanya, “Mengapa pentakziah (Rendra) tak semembeludak khalayak yang datang pada pemakaman Mbah Surip beberapa hari sebelumnya di tempat sama?” Eep menjawab sendiri pertanyaannya dengan menyatakan bahwa Mbah Surip meninggal sebagai seorang selebritas, sementara Rendra sebagai orang besar. “Sebagai orang besar, Rendra meninggalkan jejak yang tegas pada zaman kita,” Eep menyimpulkan.

Dan, 10 tahun setelah kepergian Rendra, kita melihat jejak tegas itu masih membekas terus hingga kini. Di mana-mana, untuk memperingati 10 tahun wafatnya Rendra, ada pementasan naskah-naskah Rendra, baik pementasan kecil maupun besar, dan acara pembacaan puisi-puisi Rendra. “Dari awal triwulan kedua tahun lalu, banyak sekali naskah Rendra ditampilkan di seluruh Indonesia. Naskah paling besar, saya kira, Kisah Perjuangan Suku Naga oleh mahasiswa di Jember dan Perampok oleh komunitas Jakarta,” ujar Ken Zuraida, istri terakhir Rendra, saat ditemui di Cipayung, pekan lalu. Yang terbaru, Ken Zuraida terlibat sebagai konsultan dalam pentas Panembahan Reso di Ciputra Artpreneur, Jakarta, Sabtu terakhir Januari 2020.

Zak Sorga, sutradara pentas Perampok, yang ditampilkan pada 26-27 Desember 2019 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, memilih naskah yang ditulis Rendra pada 1976 itu karena menganggapnya masih sangat relevan dengan situasi sekarang. Perampok berkisah tentang Adipati Lumajang, Raden Legowo, yang mencoba mengkritik pemimpin tertinggi, Sultan Agung di Mataram. Kekritisan itu membuatnya dikejar-kejar pasukan kerajaan hingga harus mundur ke hutan, lalu bertahan hidup sebagai perampok. Bukan sembarang perampok, melainkan yang seperti Robin Hood. Sementara itu, kursi adipati yang kosong disabot oleh adik Legowo, Raden Sudrajat, dengan menyebar berita palsu. “Rendra sudah bicara tentang hoax dan risiko menjadi aktivis,” kata Zak, yang aktif di Teater Kanvas.

Bengkel Teater Rendra, Cipayung, Kota Depok, Jawa Barat, 30 Januari 2020./TEMPO/M Taufan Rengganis,

Dari aspek teatrikal, Zak mengagumi naskah Perampok yang mampu menampilkan karakter tokoh sangat variatif. Ada 14 karakter utama dan semuanya mendapat kesempatan untuk muncul. Naskah Perampok juga sangat solid berkat pemilihan kata-kata yang kuat. “Ada seorang pemain teater senior yang menonton. Dia buta, tapi dia bilang sepanjang pertunjukan dia seolah-olah bisa melihat karena kuatnya dialog naskah ini,” ujar Zak. Dalam dua hari pertunjukan di Taman Ismail Marzuki, Zak menyebutkan sekitar 60 persen kursi terisi. “Ada 600 penonton per hari,” ucapnya.

Teks Perampok yang ditulis Rendra pada 1976 disebut sebagai saduran dari naskah The Robber ciptaan dramawan Jerman, Friedrich Schiller. Namun Ken Zuraida mengatakan imbuhan saduran dipakai hanya sebagai alibi agar naskah ini lolos sensor Orde Baru dan boleh dipentaskan. Sesungguhnya, kata Ken, 99 persen naskah Perampok adalah asli ciptaan Rendra. Dia membuatnya dengan cara mendiktekan naskah yang tercipta dalam kepalanya kepada teman-teman di Bengkel Teater yang harus siaga 24 jam di depan mesin tik. “Pengetik utamanya Edy Haryono (anggota Bengkel Teater). Dia sampai ketiduran di depan mesin tik, tapi dibangunkan lagi, lalu didiktekan naskah lagi,” perempuan 65 tahun itu mengenang.

 

•••

Di Taman Budaya Yogyakarta, pertengahan Januari lalu, sahabat Rendra, Azwar A.N., yang kini sudah 83 tahun dan berjalan ke panggung dengan cara dipapah, mementaskan karya Sophocles, Oedipus Rex, naskah tragedi Yunani yang dalam bahasa Indonesia pertama kali diterjemahkan dan dipentaskan Rendra di Yogyakarta pada 1960-an. Azwar, pendiri Bengkel Teater bersama Rendra dan Moorti Poernomo pada 1967, melibatkan aktor-aktor tua dari Teater Alam untuk memperingati 48 tahun perjalanan Teater Alam, yang didirikan Azwar setelah keluar dari Bengkel Teater.

Oedipus Rex atau Oedipus Sang Raja berkisah tentang lakon kelam Raja Thebes, Oedipus. Dalam pentas Azwar, Oedipus diperankan Gege Hang Andhika, yang bergabung dengan Bengkel Teater pada 1971-1975. Dikisahkan malapetaka terus-menerus menimpa masyarakat Thebes. Oedipus mengutus Creon (dimainkan Daning Hudoyo), adik iparnya, untuk memohon penyelamatan Dewa Apollo. Sang dewa memberi isyarat bahwa semua bencana terjadi akibat pembunuhan Laius, Raja Thebes terdahulu, yang belum terungkap dan menurut kabar dibunuh sekawanan perampok dalam sebuah perjalanan.

Makam Almarhum WS Rendra di Bengkel Teater Rendra, Cipayung, Depok, Jawa Barat, 30 Januari 2020./TEMPO/M Taufan Rengganis,

Pendeta sepuh Tiresias (dimainkan Meritz Hindra), yang dipanggil ke istana, mengatakan pembunuhan Laius itu ada hubungannya dengan Oedipus. Oedipus, putra mahkota Kerajaan Corintha yang kemudian menjadi Raja Thebes, mengenang, pada masa mudanya, di persimpangan jalan menuju Delphi, secara tak sengaja ia membunuh seorang laki-laki tua yang menaiki kereta yang menghadangnya. Saksi kunci, seorang gembala yang menyaksikan peristiwa tersebut, dihadirkan di istana. Dari uraian saksi kunci itu tersingkaplah bahwa lelaki tua yang dibunuh Oedipus adalah Laius, yang sebenarnya adalah ayah Oedipus sendiri. Dan Jocasta (dimainkan Anastasia), istri Laius yang kemudian dikawini Oedipus dan melahirkan anak-anaknya, Antigone dan Ismene, sesungguhnya adalah ibunya sendiri. Di pengujung pertunjukan, Oedipus menusukkan benda tajam ke dua bola matanya. Darah mengucur dari dua bola matanya hingga membasahi sebagian bajunya. Oedipus meminta agar dia dibuang ke luar istana.

Azwar tidak memberi tafsir baru terhadap pemanggungan Oedipus Rex yang pertama kali disajikan Rendra pada 1967. Ini disengaja Azwar. Dia hanya menghilangkan unsur kor dalam pertunjukan teater yang dipentaskan selama dua jam itu. Para pemain Teater Alam juga tidak mengenakan topeng sebagaimana Rendra mementaskan Oedipus Rex. “Enggak ada tafsir baru. Ini terjemahan dari Rendra yang saya hormati,” tutur Azwar seusai pentas. Menurut Azwar, Oedipus Rex merupakan karya tafsiran Rendra paling fenomenal. Dibanding karya lain, seperti Hamlet dan Macbeth ciptaan William Shakespeare, kata Azwar, Rendra paling suka Oedipus Rex. Rendra menafsirkan Oedipus pertama kali pada 1967. Karya ini tidak pernah digubah seniman teater lain pasca-kematian Rendra.

Pada 6 Juni 1987, Rendra menulis tentang riwayat tafsir Oedipus di majalah Tempo. Bulan Juli pada tahun yang sama, dia mementaskan ulang Oedipus Sang Raja di Balai Sidang Senayan, Jakarta. Rendra mengisahkan pertemuannya dengan karya Sophocles itu. Dia pernah mengalami krisis hidup yang berat. Pada 1961, ia termasuk seniman yang diganyang Partai Komunis Indonesia, mendapat tuduhan tidak kooperatif dengan revolusi dari rezim Sukarno. Pengganyangan politik itu mempengaruhi kelancarannya mencari nafkah sebagai penyair dan penulis bebas. Suatu ketika, dia membaca kembali buku-buku filsafat Yunani koleksinya masa remaja saat di Solo. Dia menemukan Oedipus Rex karya pujangga purba Yunani, Sophocles (496-406 Sebelum Masehi). Naskah ini terjemahan dari bahasa Inggris oleh J.T. Sheppard dalam buku antologi Eight Great Tragedies yang diterbitkan Mentor Book. Buku itu Rendra dapatkan pada 1957 dari D.S. Mulyanto, penulis seangkatannya sewaktu di Solo. “Jiwa saya tenggelam dalam bacaan itu,” tulis Rendra di majalah Tempo.

Selesai membaca Oedipus Rex, Rendra menyebutkan ia merasa mendapatkan kekuatan diri kembali. Kabut pikirannya musnah. Frustrasi menyingkir. Lalu ia bertekad menerjemahkan drama itu. Azwar menilai Oedipus Rex adalah naskah yang kuat. “Orang yang mau main teater belajarlah tentang kisah Oedipus,” ucap Azwar.

 

•••

 Satu lagi pentas yang digelar sebagai peringatan satu dekade kepergian Rendra adalah Panembahan Reso. Pentas ini boleh disebut berskala paling luas karena melibatkan seniman dan kru lintas kota. Salah satu penggagasnya adalah Edi Haryono, anggota senior Bengkel Teater. Sutradara teater Hanindawan dari Solo dan aktor-aktor teater Solo kemudian diajak menjadi jantung pementasan ini mengingat riwayat Rendra yang lahir di Solo dan pada masa akhir hidupnya juga acap menetap di kota itu. Aktor Whani Darmawan dari Yogyakarta dan Sha Ine Febriyanti dari Jakarta menjadi pemain utama berperan sebagai Panji Reso dan Ratu Dara. Aktor Gigok Anurogo dari Solo menjadi Raja Tua. Jamaludin Latif dari Yogyakarta menjadi Pangeran Rebo. Latihan dipusatkan di Taman Budaya Jawa Tengah, Solo, tapi pentasnya digelar di Ciputra Artpreneur, Jakarta.

Panembahan Reso pertama naik pentas pada 1986. Tahun itu adalah tahun saat Rendra kembali boleh mementaskan pertunjukan teater setelah sekian lama dilarang. Dalam sebuah artikel panjang mengenai proses kreatifnya yang belum diterbitkan dan kini disimpan Edi Haryono, Rendra menulis:

Pada tahun 1985, setelah Jendral Ali Murtopo tidak lagi berpengaruh di dalam pemerintahan, sensor agak mengendur, bahkan lalu terjadi politik ‘keterbukaan’. Tapi batas ‘keterbukaan’ itu tak ada undang-undangnya yang jelas. Jadi semuanya tergantung suasana perasaan penguasa semata. Masyarakat hanya bisa menebak-nebak saja batas keterbukaan itu.

Saya tidak suka permainan semacam itu. Jadi lebih baik saya membebaskan diri sejauh-jauhnya, sampai membentur batas toleransi rezim. Kalau memang ada konflik, saya lebih suka konflik yang jelas. Saya tidak suka konflik yang disamar-samarkan, sehingga tak jelas rumusannya. Akhirnya toh semua harus menyadari bahwa soal kebebasan itu adalah soal perjuangan, bukannya hadiah dari penguasa.

Teater Alam mementaskan Oedipus Rex di Taman Budaya Yogyakarta./.TEMPO/Shinta Maharani

Pada 1985, Rendra mendapat kesempatan untuk membacakan sajak-sajaknya di Plaza Ancol. Momentum itu dia anggap merupakan sebuah uji coba untuk mengetes seberapa jauh pemerintah Orde Baru memberikan keleluasaan baginya . Dia menulis:

Inilah saat bagi saya untuk menguji batas ‘keterbukaan’ itu. Lebih dulu saya minta honorarium yang sangat besar, agar kalau terjadi penahanan terhadap diri saya, keluarga dan Bengkel Teater punya cukup dana untuk bertahan. Sajak-sajak yang dulu menjadi bahan interogasi dan menyebabkan saya ditahan di tahun 1978, semua saya baca. Ternyata selamat. Alhamdulillah! 5.000 orang penonton dan saya sendiri mensyukuri peristiwa itu.

Acara itu diulang lagi di TIM dengan dibiayai oleh Jopie Handaja. Kali ini saya tambah dengan sajak-sajak baru sebab ini acara tunggal dengan durasi waktu dua jam. Karcis terjual habis. Semua berjalan lancar, aman, dan sejahtera, serta dana untuk menghidupi Bengkel Teater makin menebal....

Kesuksesan dua pembacaan puisi itu membuat Rendra ingin maju lebih ke depan mengetes keterbukaan Orde Baru dengan mementaskan sebuah naskah drama yang bercerita tentang suksesi berdarah dalam sebuah pemerintahan totaliter. Itulah naskah Panembahan Reso. Menurut Rendra dalam Panembahan Reso, rakyat dianggap tidak ada dan semua perubahan politik hanyalah permainan antarelite politik. Tidak ada sangkut-pautnya dengan aspirasi masyarakat. Pada masa itu, berbicara mengenai suksesi adalah sesuatu yang tabu. Rendra menulis:

Sudah jelas lembaga sensor kekuasaan tercengang dengan tema sandiwara semacam itu. Apalagi saat itu berbicara masalah suksesi kekuasaan adalah tabu. Tetapi terhadap mereka saya berargumen bahwa dalam seni wayang masalah itu adalah masalah yang sangat biasa dibicarakan dan sandiwara saya pun sebenarnya juga wayang orang belaka. Pendeknya saya menolak pemotongan satu patah kata pun dari sandiwara itu. Inilah tantangan saya untuk ujian ‘keterbukaan’ yang toh dicanangkan oleh pemerintah sendiri. Diizinkan atau tidak, itulah soalnya. Tawar-menawar yang lain tak bisa saya terima.

Akhirnya pada bulan Agustus 1986 saya mendapat izin untuk pementasan Panembahan Reso secara utuh, dengan syarat: kalau terjadi kerusuhan, saya akan ditangkap. Syarat itu saya terima karena hanya menyangkut resiko dan tidak menyangkut sensor. Untunglah selama latihan-latihan rutin semua berjalan baik. Secara pribadi dan secara grup, saya menambah intensitas ibadah dan meditasi. Ini penting untuk menge-nol-kan diri kembali. Situasi nol. Kemurnian kalbu….

Pentas Perampok pada 26-27 Desember 2019 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta./Dok Instagram Zak Sorga

Menurut Naomi Srikandi, putri Rendra dengan Sitoresmi Prabuningrat, pentas Panembahan Reso pada 1986 bersejarah karena merupakan upaya untuk menghidupkan kembali Bengkel Teater setelah pindah dari Yogyakarta ke Depok, Jawa Barat. “Panembahan Reso salah satu karya orisinal Rendra. Karya-karya lain mengadaptasi lakon-lakon teater Barat,” kata Naomi, yang menonton Panembahan Reso versi 2020 baik saat geladiresik di Teater Besar Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta maupun di Ciputra Artpreneur. Naskah Panembahan Reso yang asli mencapai 242 halaman dan ketika dipentaskan di Istora Senayan memakan waktu hampir tujuh jam. Sutradara Hanindawan memadatkan naskah panjang itu menjadi sekitar 60 halaman dengan durasi pentas tiga jam. “Saya menghilangkan repetisi adegan dan banyak monolog serta solilokui Rendra. Tapi tak ada tokoh yang hilang,” ujar Hanindawan.

Menurut Hanindawan, Panembahan Reso adalah naskah yang menonjol karena kuat dalam detail, alur, dan dialog. Ia menyebutnya sebagai naskah dengaran. “Naskah yang dengan didengarkan saja sudah menarik,” ucapnya. Pemimpin produksi Panembahan Reso 2020, Yessy Apriati, menyatakan pertunjukan satu malam itu dihadiri hampir seribu penonton. Pertunjukan ini tak hanya menarik minat mereka yang pernah menonton Panembahan Reso 1986, tapi juga penonton baru. “Penonton sangat beragam. Dari penonton umum, komunitas teater, hingga pejabat turut hadir,” ujar Yessy.

Bagi pendiri Teater Koma, Nano Riantiarno, yang menonton di Istora pada 1986, Panembahan Reso adalah pentas penting dalam kariernya. Nano dulu datang menonton bersama kru Teater Koma membawa tikar dan rantang sendiri. “Pentas Panembahan Reso seperti eksperimen sangat penting dalam teater terkait dengan stamina aktor. Pentas itu membuat saya yakin bahwa teater adalah jalan yang tepat buat saya,” kata Nano.

Setelah menonton lagi hampir 34 tahun kemudian, Nano kembali terpukau akan kekuatan naskah Rendra yang ditafsirkan dengan gaya baru. Dia memuji tafsir dan editing naskah Hanindawan yang mengalir, juga akting Whani Darmawan sebagai Panembahan Reso yang cemerlang. “Pentas kemarin membuat saya sadar bahwa kita bisa punya aktor yang sama bagusnya dengan Rendra,” ujar Nano.

MOYANG KASIH DEWIMERDEKA, SHINTA MAHARANI (YOGYAKARTA)

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-11-28 22:02:17

W.S. Rendra

Selingan 1/3

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB