Selingan 1/5

Sebelumnya Selanjutnya
text

Bersimpuh di Kaki Everest

Catatan perjalanan wartawan Tempo Bagja Hidayat mendaki Everest di Nepal selama delapan hari. Sempat didera sakit kepala hebat akibat ketinggian, ia berhasil mencapai base camp gunung tertinggi di dunia itu.

i Everest Base Camp di Pegunungan Himalaya, Nepal. Tempo/Bagja Hidayat
Everest Base Camp di Pegunungan Himalaya, Nepal. Tempo/Bagja Hidayat

Wartawan Tempo Bagja Hidayat mendaki Everest di Nepal pada 9 November lalu. Butuh delapan hari ia tiba di kaki gunung tertinggi di dunia itu. Selain merekam eksotisme dataran tinggi Himalaya dan jalur pendakian musim kemarau, yang menyibak langit ke warna birunya yang asli, ia merekam denyut turisme Everest yang menghidupi suku-suku di tebing gunung serta bercengkerama dengan para sherpa dan porter yang menjadi tulang punggung bisnis pendakian.

***

BUKAN dingin dan trek panjang menanjak yang menjadi momok para pendaki gunung-gunung Himalaya, tapi sakit kepala. Pusing akibat ketinggian dan kekurangan oksigen ini bisa menyerang siapa saja, pendaki dengan otot liat atau mereka yang ringkih karena berat badan. Acute mountain sickness (AMS) menyerang tak pandang bulu.

AMS mengeremus saya di Dingboche, di ketinggian 4.450 meter dari permukaan laut, pada hari kelima perjalanan mendaki Gunung Everest dari Nepal lewat jalur selatan, 15 November lalu. Rumah, hotel, kafe, dan bukit-bukit yang membuat syahdu desa kecil ini menjadi terlihat ambyar. Kepala memberat, punggung seperti ditarik gravitasi, bumi serasa miring. Saya berjuang keras menata pikiran yang oleng.

Serangan kali ini berbeda dengan meriang di Phakding (2.650 meter). Pada hari pertama itu, agaknya, saya kelelahan setelah berjalan tiga jam dari Lukla. Dinihari sebelumnya, saya menempuh empat jam naik jip dari Kathmandu ke bandar udara Manthali, sambung pesawat kecil 25 menit ke Lukla. Malam sebelum naik jip, saya tak bisa tidur karena penginapan di Thamel, pusat turis di ibu kota Nepal, bersisian dengan pub yang memutar disko hingga subuh. Di Phakding, meriang dan kerigidan sendi hilang setelah saya tidur satu jam.

Everest Base Camp Tempo/Bagja Hidayat


Di Dingboche, sakit kepala saya tak hilang meski sudah rebahan serta minum pereda sakit dan segelas lemon-madu. Di kamar Khumbu Hotel, tempat saya menginap, terpacak pengumuman dan tip jika terserang AMS. Apabila minum obat tak mempan, selebaran itu menyarankan penderita turun ke tempat lebih rendah. AMS muncul karena tubuh gagal beradaptasi dengan altitud dan oksigen yang menipis.

161843337195

Tapi saya sudah di sini. Everest Base Camp, yang menjadi tujuan perjalanan ke Himalaya, tinggal dua pos lagi. Jika bisa melawan sakit kepala sialan ini, saya akan tiba di kaki puncak gunung tertinggi di planet ini untuk pertama kali dalam hidup saya yang 42 tahun, dua hari ke depan. Saya tak ingin menyerah.

Ajaib. Setelah pikiran itu melintas, tubuh saya lebih tenang, pandangan yang renyai mulai fokus, sakit kepala berangsur hilang. Benar kata Sir Edmund Hillary. Dalam buku Conquering Everest (2011), pendaki Selandia Baru ini mengatakan kepada Tenzing Norgay, sherpa yang menemaninya menjadi manusia pertama mencapai pucuk 8.848 meter pada 29 Mei 1953 itu, bahwa naik gunung adalah urusan psikologi. “Bukan gunung ini yang kita taklukkan,” ujarnya. “Tapi diri kita sendiri.”

Dingboche terlalu bagus untuk dilewatkan di ranjang penginapan. Dalam suhu 5 derajat Celsius di bawah titik beku, air sudah menjadi es, tapi matahari yang cerah membuat udara tak terlalu menusuk. Di depan hotel, ada Kafe 4410, yang punya cappuccino enak, tempat nongkrong para pendaki, sambil menonton Meru, film dokumenter yang merekam tragedi pendakian puncak Meru (6.660 meter) di Himalaya bagian India. Biasanya para pendaki singgah dua malam di desa ini karena perlu aklimatisasi sebelum naik ke Lobuche di ketinggian 4.910 meter.

Lokasi terkenal di Puncak Everest, Hillary Step, telah ambruk. Kredit: Everest Expedition/Daily Mail

Aklimatisasi adalah penyesuaian tubuh dan psikologi dengan ketinggian. Saya naik ke bukit di belakang hotel yang menjulang 5.300 meter selama tiga jam. Berdiam setengah jam dan berjalan naik-turun bakal membuat tubuh kita menyesuaikan diri jika esok akan berjalan ke ketinggian yang sama. Beberapa pendaki memilih aklimatisasi ke Chukung Ri, bukit 5.400 meter di timur Dingboche, yang memerlukan waktu tempuh empat jam.

Dingboche adalah pos keempat menuju Everest Base Camp--titik terakhir pendaki amatir diizinkan mencapainya. Pos pertama pada hari pertama adalah Lukla. Dari desa ini, para pendaki mulai berjalan kaki. Saya dan empat teman lain dari Indonesia berjalan tiga jam ke Phakding, desa terdekat berikutnya.

Agaknya Lhakpa Dorje Sherpa, pemandu yang kami sewa, sudah menghitung penyesuaian tubuh orang-orang tropis ini. Ia mengatur hari pertama rutenya pendek karena kami memulai perjalanan di ketinggian 2.800 meter--setara dengan padang edelweiss Surya Kencana di Gunung Gede, Jawa Barat--yang bisa menjadi masalah besar bagi pendaki pemula yang belum terbiasa berjalan di ketinggian.

Lukla yang menjadi gerbang Everest itu adalah sebuah desa unik. Rumah-rumah menempel di punggung gunung dengan jumlah penduduk hanya 500 kepala. Jalan utamanya satu kilometer dengan kiri-kanan toko peralatan naik gunung, kafe, dan restoran tradisional. Lukla terkenal karena punya bandar udara paling berbahaya di dunia.

Lukla Airport terletak di ketinggian 2900 meter dari permukaan laut. Dengan letak geografis yang cukup ekstrem membuat bandara ini diapit oleh jurang dan gunung yang tinggi. Bandara kecil di kota Lukla, Nepal ini cukup populer karena banyak yang menggunakannya sebagai titik awal pendakian puncak Everest. voyageparadise.com

Khusus untuk pesawat kecil, landasan pacu bandara ini berukuran 574 x 20 meter. Ujungnya jurang, tepinya tebing gunung. Pilot hanya punya waktu 30 detik membelokkan pesawat ke landasan parkir saat landing sebelum menabrak tebing atau terbang ketika take off sebelum tiba di mulut jurang. Statistik menunjukkan kecelakaan pesawat di sini terjadi tiap dua tahun akibat cuaca. Maka, di ruang tunggu atau tiket, bukan jam yang tertera sebagai jadwal penerbangan, karena cuaca yang paling diperhitungkan.

Setelah Phakding, perjalanan sesungguhnya dimulai. Dua jam dari sana tiba di Monjo, pintu masuk pertama Taman Nasional Sagarmatha. Tujuan hari kedua adalah Namche Bazar, yang menclok di ketinggian 3.400 meter. Jalurnya panjang, curam, dengan empat jembatan gantung besi yang menghubungkan punggung gunung satu ke yang lain. Sepanjang jalur, banyak batu yang diukir mantra Buddha Tibet “Om mani padme hum”. Sungai-sungainya cantik karena vegetasi gunung masih tumbuh lebat.

Namche terkenal sebagai ibu kota para sherpa. Jalannya selebar satu meter, meliuk-liuk tersusun dari batu alam. Di sini segala fasilitas ada: hotel, kafe yang melayani pembayaran kartu kredit, anjungan tunai mandiri, toko-toko peralatan naik gunung, Internet, bahkan Irish Club. Para pendaki bisa membeli voucher Internet seharga Rs 2.000 atau sekitar Rp 360 ribu untuk 10 gigabita yang menyala hingga Everest Base Camp. Atau membeli sinyal Rs 500 sehari di jaringan nirkabel penginapan.

Di puncak Namche, pemerintah Nepal membangun patung Tenzing Norgay berwarna pink, sedang tersenyum sambil mengayunkan kapak es--seperti foto yang dijepret Hillary di pucuk Everest. Ia pantas dikenang. Para sherpa selalu bermimpi seperti dia: mencapai puncak, terkenal, kaya raya.

Everest Base Camp di Pegunungan Himalaya, Nepal. Tempo/Bagja Hidayat

Sherpa adalah suku di Tibet yang bermigrasi ke Nepal lima abad lalu. Mereka menempati wilayah Khumbu di kaki Everest. Sherpa kini menjadi istilah generik yang merujuk pada arti “pemandu naik gunung”. Suku sherpa paling banyak bermukim di Desa Khumjung (3.510 meter). Setelah menaklukkan pucuk Everest, Hillary kembali ke desa ini membangun sekolah dan rumah sakit agar anak-anak sherpa bisa baca-tulis dan paham arti pengetahuan.

Berkat sekolah itu, para sherpa kini tak hanya menjadi porter, tapi juga membangun bisnis pendakian atau membuka hotel dan kafe sepanjang jalur Everest. Seperti Lhakpa Dorje. Ia bertekad tak ingin selamanya menjadi porter. Laki-laki 36 tahun dengan dua anak ini mengikuti jejak ayahnya menjadi pemanggul barang-barang para pendaki pada usia 14 tahun. Dua kali ia naik ke puncak Everest, tapi hanya sekali berhasil. “Tabung oksigen saya macet,” katanya.

Sejak Tenzing berhasil naik ke puncak itu, misteri Everest pun tersibak. Gunung ini tak lagi dianggap tempat keramat yang tak bisa dijangkau manusia dalam kepercayaan Buddha. Sejak hari bersejarah itu, turisme Everest pun terbuka. Apalagi Hillary kemudian membangun bandara Lukla pada 1964, meskipun Everest baru dibuka untuk turis umum mulai 1993.

Menurut Himalaya Database, setiap hari 500 turis naik Everest melalui bandara ini saat musim puncak mendaki pada September-November. Bandara Lukla menjadi bandara tersibuk di Nepal yang melayani 25 penerbangan sehari dari Manthali atau Kathmandu. Semua penduduk Lukla pun mengandalkan penghasilan dari turisme. Namun, karena desanya kecil dan hanya perlintasan, Lukla tak seramai Namche Bazar.

Namche adalah tempat aklimatisasi pertama. Para pendaki bermalam di sini dua hari. Para sherpa mengajak mereka naik ke ketinggian 3.810 meter dengan berjalan selama empat jam. Di sini ada Hotel Everest View, yang meja-kursi restorannya menghadap tiga gunung: Everest, Thamserku (6.623 mdpl), dan Ama Dablam (6.812 mdpl). Cuaca cerah bulan November membuat langit biru bersih dan pucuk tiga gunung terlihat jelas bertudung salju putih.

Seorang porter membawa barang-barang dan oksigen saat berada di pos keempat gunung Everest, 20 Mei 2016. Gunung Everest mempunyai ketinggian sekitar 8.850 m. Phurba Tenjing Sherpa/Handout via REUTERS

Dari Namche, perjalanan lanjut ke Thyangboche. Seperti kata Tenzing dalam buku Conquering Everest, para sherpa tak pernah mencatat nama-nama atau menuliskan sejarah mereka. Nama Thyangboche pun punya lafal dan penulisan berbeda-beda. Orang Barat biasa menyebutnya Tengboche. Di puncaknya setinggi 3.910 meter, ada kuil Buddha besar yang dibangun pada 1916 dan dihuni 60 lama.

Perjalanan ke Tengboche dari Namche sebetulnya hanya naik 150 meter. Tapi jalurnya panjang, menurun sampai hampir dasar sungai, lalu naik sama panjangnya dan menjulang di ujung. Di jalur ini, puncak Ama Dablam dan Thamserku seperti memanggil-manggil karena begitu dekat, hingga urat-urat gunungnya begitu jelas terlihat. Butuh delapan jam untuk sampai biara Tengboche, lalu turun ke Deboche selama 25 menit buat menginap.

Di Deboche tak perlu aklimatisasi karena pos hari berikutnya adalah Dingboche, di ketinggian 4.500 meter. Menurut Lhakpa, aklimatisasi di Namche dan Khumjung serta perjalanan bolak-balik selama enam jam cukup untuk bekal naik ke Dingboche. Jalur ke sana sama panjangnya, dengan pohon-pohon yang mulai berkurang. Akibatnya, di bawah suhu yang turun hingga 2 derajat Celsius, angin mendesing seperti peluru.

Seorang porter berjalan di belakang pemilik yak melintasi jembatan gantung di jalur Namche Bazar ke Tyhangbouche. Tempo/Bagja Hidayat

Jalan lempang adalah racun lain bagi pendaki. Titik tujuan yang sudah terlihat dari jarak satu jam perjalanan membuat saya jadi antusias dan tak terasa berjalan cepat di gurun batu. Saya abai pada pesan Rocky Gerung, analis politik teman perjalanan ke Everest, yang selalu mengingatkan sejak dari Monjo agar saya berjalan setengah langkah biasa ketika naik gunung agar tak cepat capek.

Antusias membuat jantung berdenyut lebih cepat sehingga aliran oksigen dalam darah yang menghasilkan energi tak terkontrol. Akibatnya, saya kelelahan 500 meter menjelang perbatasan Dingboche. Kepala berdenyut, punggung serasa ditarik entah siapa. Lhakpa menyarankan saya langsung masuk kamar Hotel Khumbu ketika Rocky dan kawan lain mampir di Kafe 4410 untuk minum teh atau kopi.

Ketika sakit kepala berkurang karena pikiran selintas agar tak menyerah, saya menyusul mereka ke kafe itu. Kafe yang hangat. Para pendaki berbincang sambil minum teh atau kopi dengan wajah kelelahan tapi rautnya gembira. Seorang perempuan bahkan membuka laptop dan serius menulis sesuatu di sana. Keadaan itu membuat semangat saya membesar.

Semangat itu pula yang membuat saya bisa naik ke ketinggian 5.100 meter ketika aklimatisasi esok paginya. Belakangan, saya paham mengapa aklimatisasi menjadi proses vital dalam pendakian gunung. Jalur Dingboche-Lebouche begitu curam dan panjang, seperti rute naik bukit di belakang Hotel Khumbu ini. Adaptasi di Dingboche membuat saya bisa menempuh perjalanan melelahkan selama tujuh jam, meski sempat jeri ketika melewati Thukla.

Di sini hanya ada satu restoran untuk makan siang, Yak Lodge. Lokasinya persis di tebing yang harus dipanjat pendaki dari arah Dingboche atau Periche. Entah kenapa, saat melihat lanskap itu, kepala saya kembali berdenyut, terutama ketika melihat antrean pendaki yang seperti semut di antara batu-batu sebesar gedung Dewan Perwakilan Rakyat. Manusia hanya noktah dalam gergasi alam. Maka, ketika istirahat makan siang, mi Korea yang panas dan seharusnya menggiurkan tak sanggup membangkitkan selera makan. Saya merasa restoran ini miring.

Sejumlah pendaki turun dari pos pertama menuju base camp di gunung Everest, Nepal, 21 Mei 2016. Phurba Tenjing Sherpa/Handout via REUTERS

Lepas dari Yak Lodge, jalur menanjak yang panjang dan curam segera menghadang. Saya ingat lagi kutipan Hillary, juga pepatah dari kebajikan lama: tak akan lari gunung didaki. Mendaki gunung pada dasarnya adalah kesendirian: hanya ada aku, napas, dan bayanganku sendiri. Saya bisa melalui tanjakan Thukla dengan resep itu hingga tiba di jalan mendatar Memorial View Point--nisan para pendaki Everest yang tewas saat berusaha mencapai puncaknya.

Ada sekitar 100 nisan yang terpacak di sini, dengan nama dan potret, terhubung satu sama lain oleh bendera mantra berwarna-warni. Di sini, puncak-puncak Himalaya menjulang putih mengelilingi lanskap yang seluruhnya batu, kontras dengan langit yang biru bersih. Tinggi, dingin, jauh.

Lebouche masih dua jam perjalanan. Jalurnya mendatar menyusuri punggung gunung. Kami tinggal di sini semalam sebelum melanjutkan perjalanan ke Gorak Shep--pos terakhir sebelum Everest Base Camp (EBC). Waktu tempuh Lebouche-Gorak Shep sekitar empat jam. Tak ada lagi tumbuhan, hanya rerumputan gurun yang menghitam.

Setelah makan siang di Gorak Shep, kami menempuh rute terakhir. Jalur ke EBC melewati dua lembah, menaiki dua bukit. Sepanjang menaikinya, hamparan es EBC terlihat, putih seluruhnya, merungkup batu-batu, membentuk bukit-bukit kecil seperti padang Arafah. Angin tambah kencang menjelang sore ketika kami beristirahat. “Slowly but continue,” ujar Lhakpa, mengulang “mantra” tiap kali kami memulai perjalanan selama delapan hari ke belakang.

Seseorang menulis di batu besar dengan cat semprot kaleng merah dan huruf kapital “Everest Base Camp 5.364”. Itulah ketinggian EBC. Bendera banyak negara yang dibawa para pendakinya, juga merek toko, terpacak di sini. Vandalisme meruyak di batu-batu.

Suhu anjlok ke minus 8. Setelah berfoto-foto sekitar 15 menit, kami segera turun untuk kembali ke Gorak Shep. Puncak Everest masih menjulang 3.500 meter. Diam, kokoh, anggun....

TRIVIA:
  • Everest gunung tertinggi di dunia, 8.848 meter dari permukaan laut.
  • Nama Everest diambil dari nama Surveyor Jenderal Inggris di India, Sir George Everest, yang diusulkan oleh penggantinya, Andrew Waugh, pada 1865, tahun ketika mereka memetakan dan menetapkan tinggi puncak gunung ini.
  • Orang Tibet menyebutnya Chomolungma (Tuhan Ibu), orang Cina menamainya Zhumulangma, orang India menyebutnya Deodungha (Gunung Suci), dan orang Nepal menamainya Sagarmatha (Dahi Langit).
  • Puncak Everest bertambah tinggi 1 sentimeter per tahun akibat tubrukan lempeng India dan Asia.
  • Gunung Everest diperkirakan berusia 60 juta tahun.
SUMBER: CONQUERING EVEREST (2011)

Reporter Bagja Hidayat - profile - https://majalah.tempo.co/profile/bagja-hidayat?bagja-hidayat=161843337195


Everest

Selingan 1/5

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.