Perilaku 2/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Bila Pagar Makan Tanaman

Dalam sebulan ini terjadi tiga kasus inses di Medan. Di AS, 10-14 persen anak-anak menjadi korban inses. Apa penyebab hubungan sedarah?

i
NOVEMBER di Medan tak hanya musim hujan, tapi juga "musim" kasus incest. Setidaknya Kepolisian Wilayah Kota Besar (Polwiltabes) Medan pekan-pekan ini tengah menyidik tiga kasus hubungan seksual sedarah atau inses. Hampir semua skandal tersebut berlangsung bertahun-tahun dan tersimpan rapat di bawah atap "rahasia" rumah tangga masing-masing. Kasusnya baru diketahui polisi setelah korban berupaya melaporkannya, baik langsung maupun lewat lembaga swadaya masyarakat (LSM). Kasus Rina (bukan nama sebenarnya), misalnya. Berkas perkara menyangkut perempuan berusia 17 tahun dari suatu desa di Deliserdang itu pekan lalu dilimpahkan oleh Polwiltabes Medan ke Kejaksaan Negeri Lubukpakam, Kabupaten Deliserdang. Rina mengaku berhubungan badan secara terpaksa selama bertahun-tahun dengan ayah dan kakak kandungnya sendiri. Pemerkosaan pertama kali dilakukan oleh sang ayah, kini 42 tahun, ketika ia masih duduk di bangku kelas IV sekolah dasar. Belakangan, ketika hubungan Rina dengan ayahnya itu kepergok sang kakak, bukan perlindungan yang diperoleh Rina. Sang kakak, 18 tahun, karena terangsang oleh perzinaan itu, malah meminta jatah. Bertahun-tahun rahasia ini tersimpan rapat karena upaya korban untuk mengadu kepada ibunya ditanggapi sikap tidak percaya sang ibu. Akhirnya, ayah dan kakaknya diseret ke sel Polwiltabes atas upaya sebuah LSM di Medan yang mendapatkan pengakuan Rina. Kasus lainnya menyangkut—sebut saja namanya—Yati. Perempuan berusia 19 tahun dari suatu desa di Deliserdang itu juga menjadi korban inses ayah kandungnya, 42 tahun. Yati "digarap" sejak berusia 11 tahun. Baru Juli lalu korban berani melaporkan skandal bapaknya ke Kantor Kepolisian Sektor Tanjungmorawa. Korban lain adalah Rani, 16 tahun. Kasus perempuan yang juga tinggal di Deliserdang ini sedang dalam proses pemeriksaan di Kepolisian Sektor Medansunggal. Pelaku insesnya juga ayah kandungnya sendiri. Mereka hanyalah contoh dari beberapa kasus inses yang mencuat ke permukaan. Menurut laporan di kepolisian, sedikitnya tercatat delapan kasus serupa yang terjadi di Sumatra Utara dalam setahun ini. Sejumlah kasus inses di Sumatra Utara itu, tak urung, mencemaskan Laksana Tobing, seorang psikolog yang mengajar di Fakultas Psikologi Universitas Medan Area. Laksana yakin jumlah yang diketahui itu hanyalah sebagian kecil dari jumlah kasus sebenarnya. Baginya, hubungan tak wajar semacam itu merupakan indikasi awal bahwa kesehatan jiwa masyarakat sedang terganggu, sekaligus pertanda kemerosotan nilai agama dalam keluarga. Ketiga kasus inses yang tengah disidik polisi itu, menurut Laksana, tergolong inses panik. Jenis inses yang bagaikan pagar makan tanaman itu bersifat insidental, didorong oleh suatu keterpaksaan, dan biasanya disertai rasa penyesalan atas akibatnya. Sesal itu pula yang kini dirasakan kakak kandung Rina, yang mengaku cuma sekali menggauli sang adik. "Saya kepingin saja karena melihat Ayah dan hanya sekali melakukannya. Sudah itu, saya menyesal melakukan perbuatan ini dan berencana, kalau keluar nanti, akan mencarikan jodohnya. Saya akan tobat dan jadi ustad," katanya. Jenis hubungan semacam itu tidak separah inses yang bersifat permanen (process incest). Dalam inses yang parah ini, hubungan badan antarsaudara kandung atau antara orang tua dan anak dilakukan layaknya hubungan suami-istri. Bahkan, hubungan semacam itu bisa sampai menghasilkan keturunan. Ada beberapa faktor yang mungkin menyebabkan terjadinya hubungan inses. Boleh jadi hubungan ganjil itu terjadi karena terisolasinya sebuah keluarga dari hubungan sosial. Faktor lain adalah kepribadian yang terganggu. Mengutip penelitian Wienberg pada 1955, Laksana menunjukkan bahwa 92 persen dari 203 kasus inses yang diteliti terjadi karena gangguan kepribadian yang disebut schizo-adaptive. Ini bisa terjadi pada keluarga yang rusak parah (family disorganization) karena akar sifat narcissistic (rasa cinta dan mengagumi diri sendiri) atau karena rasa grandiose delusions (merasa bahwa keluarganya adalah titisan suci dan terhormat). Jadi, apa penyebab kasus inses di Medan itu? Hasil penelitian ilmuwan Flugel dan Parson, seperti dikutip Laksana, bisa menjelaskannya. Menurut mereka, penyebab inses adalah campuran dari berbagai aspek, antara lain tingkat kohesivitas anggota keluarga yang salah, peran anggota keluarga kacau (terutama fungsi ibu dalam melayani fungsi seksual), jumlah anggota keluarga yang terlalu banyak, dan kondisi ekonomi yang miskin. Beberapa faktor yang disebut Flugel dan Parson itu memang jelas terdapat pada keluarga tersangka. Profesi mereka—karyawan rendahan perusahaan perkebunan, agen penjual bunga, buruh tani—menunjukkan tingkat ekonomi mereka yang rendah. Keengganan istri dalam melayani kebutuhan seksual suami juga bisa menjadi penyebab inses. Faktor ini diakui oleh ayah Yati. "Kalau istri tidak mau melayani, ya, saya mendekati anak," kata pria yang pada masa kecilnya sering menerima perlakuan kejam dari orang tuanya itu. Kondisi itu diperburuk dengan kebiasaan minum minuman beralkohol dan menonton video porno di rumah tetangga. Perubahan sosial akibat modernisasi juga bisa menjadi salah satu faktor. Perubahan itu dalam bahasa Dadang Hawari, psikiater dan guru besar di Universitas Indonesia, adalah longgarnya tata norma dan moral masyarakat akibat invasi media. "Saya rasa kasus inses semakin banyak karena rangsangan lewat media semakin marak," kata Dadang. Hal itu antara lain terlihat di negara bebas semacam Amerika Serikat. Menurut catatan Dadang, di AS, pada 1988, jumlah kasus pencabulan orang tua terhadap anaknya mencapai 40 persen dari total kasus pencabulan terhadap anak. Sebelum itu, riset ilmuwan Patricia Whelehan pada 1985 mengungkapkan bahwa 10-14 persen anak-anak AS di bawah usia 18 tahun pernah menjadi korban inses. Sesungguhnya, inses bukan monopoli fenomena masyarakat modern. Bangsa Inca di Peru pernah melembagakan inses dalam bentuk tradisi keharusan penguasa mengawini saudara perempuannya. Namun, "kearifan" Inca itu tidak universal. Sebab, menurut literatur antropologi, hampir semua kelompok masyarakat di atas planet bumi menabukan inses. Kaum antropolog, karena itu, berupaya mencari penjelasan mengapa inses secara umum dianggap sebagai perilaku menjijikkan. Ternyata penjelasan dari berbagai aspek sosial, genetik, dan biologi, pendek kata, menyimpulkan bahwa inses adalah suatu hal yang menyimpang. Kelik M. Nugroho, Bambang Sudjiartono (Medan), Dwi Arjanto

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161865793153



Perilaku 2/2

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.