Perilaku 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Bukan anak idiot

Disertasi moerniatisoelasti berjudul "efek terapi bermain terhadap anak mental subnormal dengan gang guan psikis" di ikip yogyakarta. menyembuhkan gang guan neurosis dengan terapi bermain.

i
BANYAK orangtua keliru memperlakukan anaknya yang mengalami mental subnormal. Anak-anak ini biasanya disamakan dengan anak idiot, karena kemampuan berpikir mereka di bawah kecerdasan rata-rata (IQ di bawah 70). Padahal, mereka tidak sama dengan anak terbelakang. Anak-anak dengan mental subnormal mengidap neurosis, sehingga cemas dan mengalami depresi. Makanya, kemampuan konsentrasi, persepsi, dan daya adaptasi mereka terganggu. Gangguan neurosis ini, menurut R. Moerniatisoelasti, dapat disembuhkan. Hasil penelitian dosen IKIP Yogyakarta ini menunjukkan si anak tadi masih dapat ditingkatkan kemampuannya. Cara paling efektif dengan terapi bermain. Kesimpulan ini dikemukakan Moerniatisoelasti, 55 tahun, dalam Sidang Senat Terbuka IKIP Yogyakarta, 5 Mei 1990 lalu. Ia lulus dengan predikat memuaskan setelah mempertahankan disertasinya untuk gelar doktor Efek Terapi Bermain Terhadap Anak Mental Subnormal Dengan Gangguan Psikis. Sudah umum diketahui, anak-anak dapat mengekspresikan diri dalam bermain. Keadaan gembira, senang, susah, dan sedih, terlihat sewaktu mereka bermain. Anak-anak dengan mental subnormal sama saja. Biasanya, permainan diberikan kepada anak bermental subnormal agar terhindar dari gerakan negatif, seperti menggaruk-garuk kepala, menggigit kuku, mengulum jari. Tapi, dalam perkembangan pendidikan, terungkap bahwa dengan bermain anak-anak ini dapat juga menyalurkan kejengkelan dan amarahnya. Karena itu, terapi bermain dapat menjadi media untuk melatih anak-anak ini mengatasi kesulitan yang dihadapinya. Bahkan terapi bermain memupuk sikap obyektif, keterbukaan, dan membangkitkan kemampuan memahami alam sekitar. Di samping itu, juga mendeteksi perkembangan keterampilan, ketekunan, kemampuan asosiasi, dan kreativitas anak-anak dengan mental subnormal itu. Pada 1984 Moerniati memulai penelitiannya dengan mengamati 200 anak bermental subnormal yang dirawat di RS Dr. Sardjito dan RS Puri Nirmala, Yogya. Anak-anak malang ini berusia dari tujuh hingga sepuluh tahun. Untuk grup kontrol, Moerniati mengambil 45 siswa Sekolah Latihan Luar Biasa (SLB) Yogyakarta yang tidak diberi terapi bermain. Pada mulanya ia melakukan pemeriksaan anamnesia. Misalnya menanyakan nama, tanggal lahir, jumlah saudara, alamat rumah, nama orangtua, dan pekerjaan orangtua. "Anak dengan mental subnormal biasanya tak ingat nama lengkap orangtuanya, alamat dan nomor rumah, hari lahir, apalagi pekerjaan orangtuanya," ujar Moerniati pada R. Fadjri dari TEMPO. Langkah selanjutnya ia melakukan pemeriksaan allo anamnesis, dengan mengajukan pertanyaan pada ibu atau ayahnya. Dengan allo anamnesis, ia mencatat keadaan anak waktu lahir, keadaan ibunya waktu hamil, penyakit yang pernah diderita, perangai, dan kegemaran anak. Dengan gambaran itu, Moerniati melakukan tes kecerdasan, untuk menentukan klasifikasi yang tepat bagi setiap anak. Ia juga melakukan observasi, apakah benar anak-anak kelompok eksperimennya mengalami gangguan psikis atau tidak. Setelah semua pemeriksaan selesai, Moerniati melakukan terapi bermain dengan membiarkan anak-anak itu memilih sendiri alat mainan yang disediakan. Pada waktu mereka bermain, ia mencatat gerak-gerik serta tingkah mereka. Selain itu, ia mengobservasi perbuatan menyimpang. Alat bermain yang disediakannya mengandung nilai terapeutik. Semua alat ini dapat mengurangi gangguan psikis yang diderita anak mental subnormal, misalnya, boneka yang mencerminkan situasi kehidupan keluarga, ada ayah, ibu, dan saudara-saudara. Alat lain yang digunakan dalam penelitian Moerniati adalah tentara-tentaraan, senapan, kubus bangunan, papan bentuk, alat makan, alat dapur, tanah liat, wayang, dan alat musik. Dalam observasi itu, anak-anak tersebut menghindari alat main yang memerlukan ketekunan. Anak perempuan lebih menyukai boneka, daripada alat-alat masak. Sedang anak laki-laki lebih suka bermain tentara-tentaraan dan senjata. Kereta api, wayang, tanah liat, dan alat musik tidak mereka sentuh. Dengan melakukan observasi dan tes berulang-ulang, Moerniati dapat mengetahui, terapi bermain menghasilkan perubahan terhadap gangguan psikis mereka. Kesimpulannya: ada perbedaan peningkatan kemampuan antara anak dengan mental subnormal yang mendapat terapi bermain dan yang tidak. "Sebelum mengikuti terapi bermain, anak-anak itu sering takut melakukan sesuatu. Setelah mengikuti terapi bermain berkali-kali, mereka menjadi lebih berani," kata Moerniati. Ia juga menemukan bukti adanya korelasi antara kecerdasan dan gangguan psikis. Semakin rendah intelijensi seorang anak, semakin tinggi gangguan psikis yang dideritanya. Dan dalam penelitian itu, Moerniati juga menggali sikap orangtua. Ia menemukan tiga golongan sikap. Dari 200 pasangan orangtua, 69 orang (34,5%) menerima, 30 atau 15% menolak, dan 105 orangtua (terbanyak) bersikap melindungi anak mereka yang mental subnormal. Moerniati tidak menemukan bahwa perbedaan sikap orangtua itu ternyata tidak berpengaruh dalam mengurangi gangguan psikis. Padahal, sikap dan perhatian orang tua ini akan berbeda bila mereka mengetahui seluk-beluk mental subnormal. Prof. Dr. K.R.T. Soejono Prawirohoesodo, seorang di antara tim penguji, menilai Moerniati sangat berani dalam mengambil masalah penelitiannya. Ia menghadapi tiga problem besar dalam penelitiannya. Pertama, masalah mental subnormal. Kedua, hubungannya dengan gangguan psikis. Belum ada penelitian untuk dua hal ini. Ketiga, seleksi yang ekstra-ketat di lingkungan IKIP, yang sedang menegakkan citra. "Jadi, predikat memuaskan punya arti yang lebih dari biasa," ujar Soejono. Jim Supangkat

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836676321



Perilaku 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.