Tukang Bolos itu ke Polandia - Pendidikan - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Pendidikan 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Tukang Bolos itu ke Polandia

Septinus George Saa meraih emas lomba riset fisika sedunia. Langkah awal meraih Nobel.

i

PARA dewa fisika kehabisan argumen. Paper yang masuk lewat surat elektronik di hari terakhir lomba "First Step to Nobel Prize in Physics" itu begitu mengagumkan. Tanpa menunggu selesainya penilaian ratusan paper dari 73 negara yang masuk, hasil riset Septinus George Saa dipastikan meraih medali emas, Sabtu dua pekan lalu. Dahsyat!

Profesor fisika dari 30 negara hanya membutuhkan waktu tiga hari untuk menentukan pemuda 17 tahun asal Jayapura, Papua, ini meraih emas dari tiga minggu waktu penjurian. Bahkan, hingga Rabu pekan lalu, nama-nama peraih medali lainnya belum diumumkan.

Paper bertajuk Infinite Triangle and Hexagonal Lattice Networks of Identical Resistor itu memenuhi semua syarat: kreatif, jelas, menyelesaikan masalah, dan yang terpenting idenya orisinal. George, yang biasa dipanggil Oge, memaparkan cara menghitung hambatan dari dua titik sembarang pada suatu jaring-jaring resistor yang membentuk segi tiga yang jumlahnya tak terhingga.


Menurut Ketua Yayasan Tim Olimpiade Fisika Indonesia, Profesor Yohanes Surya, Oge mengerjakan dengan hasil yang luar biasa dan akurat. "Formula ini harusnya disebut George Saa Formula, karena dia yang memperkenalkan," usul Yohanes. Lima tahun lalu, I Made Agus Wirawan dari Bali juga meraih emas pada kompetisi serupa.

W251bGwsIjIwMjAtMTEtMjggMjE6MzU6NDMiXQ

Sebagai peraih emas, George diberi kesempatan belajar riset di Polish Academy of Science di Polandia selama sebulan di bawah gemblengan para fisikawan jempolan. Namun, sebelumnya Oge harus mempresentasi hasil risetnya di depan para ilmuwan di Polandia, November nanti. Ini untuk memastikan karya itu murni buatannya.

Prestasi membanggakan bangsa ini bisa lepas kalau saja Oge tidak main kucing-kucingan dengan mamanya. Saat itu ia mendapat beasiswa ke Jakarta dari Pemerintah Daerah Papua setelah menjuarai Olimpiade Kimia tingkat daerah. Frangky Albert Saa, kakak tertuanya, membantu pelarian "anak mama" ini ke Jakarta, Juli tahun lalu. Mereka yakin sang mama pasti akan melarang si bungsu pergi dari rumah. Pas menjelang George naik pesawat, baru ibunya dikabari. "Mama menangis selama dua minggu," kata Frangky.

Oge memang berotak encer sejak kecil. Selama SD hingga SMP ia selalu meraih peringkat satu, padahal sering bolos sekolah. "Kalau tak ada uang 'taksi', saya tidak bisa ke sekolah," ujarnya. Ayahnya, yang hanya pegawai rendahan di Dinas Kehutanan, sering tak punya uang untuk ongkos angkutan umum?ya 'taksi' itu?meski cuma Rp 1.000. Dia juga harus membantu ayahnya berkebun agar mereka lima bersaudara terhidupi.

Tentu saja buku cetak barang langka bagi George. Beruntung, otaknya yang cerdas mampu meng-"kopi" penjelasan guru di kelas. Saat di kelas empat, gurunya menawari dia ikut ebtanas layaknya siswa kelas enam. Lagi, mamanya melarang karena kakaknya, Agustinus, saat itu duduk di kelas enam. "Sabar, tak usah sama-sama dengan Agus, biar Oge ujian sesuai dengan umurnya," pesan ibunya saat itu.

Masa sulit itu berangsur susut setelah ia berhasil masuk SMA Negeri 3 Buper di Jayapura. Sekolah unggulan milik pemerintah daerah itu menjamin semua kebutuhan siswa, dari asrama, seragam, hingga uang saku. Di sekolah ini George terpilih menjadi Ketua OSIS. Saat itu prestasinya sempat jatuh ke peringkat dua.

George juga dikenal sebagai playmaker andal di lapangan basket. Pemain basket Amerika, Allen Iverson dari Philadelphia 76'ers, merupakan bintang pujaannya. "Dia (Allen) hampir selalu bisa mengeblok lemparan lawan," tuturnya bak komentator.

Wajar jika akhirnya George begitu populer di sekolah. Namun, yang paling ditunggu teman-temannya ialah jika ia memberi trik-trik rumus yang lebih mudah dipahami ketimbang teori dari guru. "Oge anaknya baik, sopan, dan tidak sombong," kata Yohana Awi, teman sekelas Oge, malu-malu. Lo, kok tersipu?

Ternyata gadis manis itu pernah berpacaran dengan si genius. "Saat itu dia menyatakan cintanya di dalam kelas," kenang Hana, yang mengaku kagum pada kecerdasan George. Kini bukan hanya gadis-gadis Papua yang mengaguminya. Para dewa fisika pun mengakui potensinya. Selamat, Oge!

Agung Rulianto, Ucok Ritonga, Cunding Levi (Jayapura)

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-11-28 21:35:43


Pendidikan 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB