Pendidikan 2/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Berlomba Jadi Pengusaha

Beberapa perguruan tinggi menyelenggarakan pendidikan kewirausahaan bagi mahasiswanya. Tren kenaikan pengangguran sarjana harus disetop.

i

Arif Medianto dan Dharma Satriadi emoh seperti kebanyakan mahasiswa yang lulus lalu sibuk melamar pekerjaan. Mahasiswa semester enam Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini bertekad punya perusahaan sendiri. Semangat menjadi pengusaha ini makin kuat setelah mereka meraih peringkat ketiga dalam kompetisi membuat simulasi strategi bisnis tingkat internasional yang diadakan L’Oreal pada 2006.

Keduanya kemudian mencoba meniru yang dilakukan L’Oreal. Mereka menjual ide kompetisi pembuatan proposal bisnis itu ke PT H.M. Sampoerna Tbk. Tak disangka, Yudy Rizard Hakim, Manajer Public Relations Sampoerna yang mereka ajak bicara, justru ”menantang” dua anak yang masih berusia awal 20-an tahun ini. Mereka ditantang tak hanya membuat proposal, tapi juga mendirikan perusahaan yang akan menjadi penyelenggara kompetisi itu nantinya.

Arif dan Dharma rupanya tak takut terhadap tantangan. Mereka kemudian mendirikan perusahaan penyelenggara acara (event organizer) bernama Arif Dharma Corporation (ADC). Mereka juga mengajak tiga kawannya turut serta dalam perusahaan itu. Proposal pun diterima Sampoerna. Bersama Laboratorium Studi Manajemen (LSM) FE-UI, ADC menjadi penyelenggara Sampoerna Young Challenge 2007.


Lomba membuat proposal bisnis ini nanti akan diikuti mahasiswa tingkat S-1 se-Indonesia. Sejak dibuka pada 8 Maret lalu, ternyata pesertanya membludak. Pada mulanya mereka berharap peserta hanya sekitar 300 kelompok, ternyata yang mendaftar dua kali lipatnya. Dari jumlah itu, juri akan memeras menjadi 18 tim. ”Proposal yang dinilai unggul biasanya karena unik, inovatif, orisinal, dan mudah direalisasikan,” kata Fahri Ismaeni, salah satu dewan juri yang juga alumnus FE-UI.

161831023315

Ke-18 tim itu akan diundang ke Jakarta pada awal Juli nanti untuk mendapat pelatihan kewirausahaan, manajemen, dan etika bisnis. Mereka juga harus mempresentasikan proposal bisnis secara komprehensif. Nah, yang keluar menjadi pemenang, yaitu tiga kelompok, masing-masing mendapat Rp 18 juta sebagai modal usaha, plus program bimbingan usaha dari Pusat Inkubator Bisnis FE-UI selama setahun.

Keinginan Arif dan Dharma menjadi pengusaha tercapai sudah. Arif Dharma Corporation bakal mendapatkan fee dari hasil jerih payah menyelenggarakan proyek pertamanya. ”Ini starting point untuk melanjutkan bisnis ini,” kata Arif.

Menurut Ketua Departemen Manajemen FE-UI, Bambang Hermanto, mereka serius mengarahkan dan membentuk mahasiswa menjadi pengusaha karena peminatnya lumayan banyak. Menurut survei Laboratorium Studi Manajemen (LSM) FE-UI pada 2003-2004, 30 persen dari mahasiswa mereka berminat jadi wirausahawan. Karena itu, salah satu yang dilakukan laboratorium itu adalah mendorong mahasiswa yang memang punya niat jadi pebisnis.

Laboratorium ini antara lain mengajarkan praktek wirausaha kepada mahasiswa. Tidak hanya itu. Menurut Bambang, laboratoriumnya pernah memberikan modal Rp 5 juta kepada 11 kelompok mahasiswa sebagai stimulus menjalankan usaha. ”Salah satu hasilnya adalah bisnis binatu kiloan yang dijalankan Fahrul Ismaeni dan kawan-kawannya,” kata Bambang (lihat boks Dari Anak Kos Jadi Bos).

Bukan hanya UI, Institut Teknologi Bandung (ITB) ternyata sudah lebih dahulu memiliki Pusat Inkubator Bisnis (PIB) dalam kampus. Institut ini terutama mengembangkan usaha yang sesuai dengan ilmu di sana, seperti pembuatan reaktor biogas kotoran sapi, multimedia, dan pengolahan hasil makanan. ”Beberapa di antaranya diproyeksikan menghasilkan sekitar Rp 3,6 miliar setahun,” ujar Suhono Harso Supangkat, Direktur PIB.

Universitas Bina Nusantara, Jakarta Barat, juga punya Pusat Entrepreneurship. Kegiatannya melakukan pendampingan dan menggelar kompetisi bisnis. Pesertanya mahasiswa Binus yang sudah memiliki usaha lebih dari dua tahun. Mereka harus memamerkan produk usahanya di kampus. Stan favorit akan memperoleh dana tunai Rp 10 juta.

Berbagai upaya itu memang harus dilakukan. Pada 2005, pengangguran sarjana (S-1) sudah mencapai 385 ribu orang, meningkat hampir 100 ribu orang dari empat tahun sebelumnya. Jika tren ini tidak berubah, jumlah pengangguran sarjana akan makin besar. Pendeknya, kini saatnya mendidik mahasiswa dengan prinsip: muda berbisnis, tua kaya raya, mati masuk surga.

Widiarsi Agustina dan Rinny Srihartini (Bandung)


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161831023315



Pendidikan 2/2

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.